
Sesuai kesepakatan, Wei Linglong dan Murong Yan bertukar tempat. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada penduduk Kota Jiangzhou, rombongan militer berangkat meninggalkan kota menuju ibukota. Jenderal Yang, Jenderal Jin dan Jenderal Sui berangkat bersama Wei Linglong, sementara Jenderal Cui ikut bersama rombongan Murong Yan. Jenderal Kong dan Jenderal Fu tidak ikut pergi karena mereka harus menjaga perbatasan sampai rekan-rekan jenderalnya kembali.
Mereka yang tidak pergi akan mendapat penghargaan yang diantarkan lewat utusan hari-hari nanti.
Pada siang hari itu, Murong Yan dan Wei Linglong berpisah jalan di sebuah persimpangan. Murong Yan melewati jalur resmi yang menjadi jalan utama ke ibukota, sementara Wei Linglong melewati jalur rahasia yang ditunjukkan oleh pasukan elit milik Murong Qin. Hal tersebut dilakukan untuk menguji sekaligus mengetahui jebakan apa yang sudah disiapkan untuk mencegahnya kembali ke ibukota.
"Kakak ipar, sampai jumpa di istana!"
"Ya. Sampai jumpa di istana, Ah Yan!"
Kereta kuda yang ditempati Murong Yan sudah sampai di sebuah lembah. Pepohonan di sekitar sudah gundul karena daunnya berguguran. Sang pangeran asyik memainkan sebuah kotak rubik yang entah didapat dari mana. Di tangannya, komando Kavaleri Huang diserahkan kembali oleh Wei Linglong. Pasukan Kerajaan Dongling tersebut mungkin juga akan menerima penghargaan dari Kaisar Mingzhu setibanya di ibukota nanti.
Murong Yan tidak pernah sesenang ini. Setelah berkelana selama bertahun-tahun, dia seperti menemukan sesuatu yang selama ini dia cari. Bukan, bukan takhta kaisar yang dia inginkan. Kebebasan yang dimilikinya selama ini mengantarkan dia pada jati diri bahwa dia adalah seorang pangeran yang tetap harus mengabdi, menjadi prajurit yang siap membela tanah kelahirannya mati-matian.
Di Dongling, dia banyak mendapat pengajaran dari Ratu Li dan Raja Long. Berkat kedua orang itu, Murong Yan sadar akan tanggungjawabnya. Sebagai seorang pangeran, dia memang tidak bisa terus hidup seperti itu. Tidak peduli apakah ibunya begitu ambisius terhadap takhta atau dia yang harus berjuang melawan ibunya sendiri, Murong Yan tidak bisa berpangku tangan.
Dia melihat sendiri kegigihan kakak iparnya. Wei Linglong, sejak pertama kali dia melihatnya, dia sudah yakin kalau wanita itu berbeda. Di dunia ini, wanita mana yang ingin mempertaruhkan nyawa mereka di medan perang setelah menjalani hidup yang nyaman dan damai di istana? Wanita mana yang rela melepaskan semua kemewahannya dan bergabung bersama prajurit yang semangatnya tidak pernah padam?
Semua itu ada di diri Wei Linglong. Tidak heran jika kakak kaisarnya sampai tergila-gila. Wei Linglong adalah cerminan wanita cerdas yang kuat dan berani. Murong Yan bahkan tidak memiliki setengah dari kekuatan wanita itu.
"Hm, tampaknya aku harus berguru pada kakak ipar!" gumamnya seorang diri.
Kereta tiba-tiba terhenti ketika melewati sebuah hutan maple yang gundul. Murong Yan yang tidak siap seketika terhunyung ke depan, namun tidak jatuh karena dia langsung menjaga keseimbangan tubuhnya. Kotak rubiknya terlempar ke luar kereta.
"Ada apa?" tanyanya pada prajurit di luar.
"Pangeran, ada penyergapan!"
Murong Yan seketika terkejut, lalu tertawa sumbang.
"Ternyata kakak ipar benar. Seseorang tidak ingin dia kembali ke ibukota."
Kemudian, terdengar suara pedang beradu di luar. Sekelompok orang berbaju hitam dan tertutup wajahnya datang dari segala penjuru dalam jumlah yang banyak. Mereka mungkin pembunuh bayaran yang diutus oleh seseorang untuk mencegah seseorang kembali ke istana. Murong Yan mengintip lewat jendela, menyaksikan pasukan berzirah bertarung bersama sekelompok pembunuh.
Gerakan para pembunuh itu tampak berbeda. Mereka seperti telah terlatih dan sangat gesit. Sekali tebasan bisa melukai bagian vital lawan. Serangannya tidak brutal, namun begitu cepat dan sulit diprediksi. Pasukan Kavaleri Huang ingin maju, namun Murong Yan melarang. Dia ingin melihat apakah para pembunuh ini dapat bertahan melawan pasukan kekaisaran yang dipimpin oleh Jenderal Cui atau tidak.
"Pembunuh bayangan?" tanyanya.
Dia pernah mendengar bahwa ada sekelompok orang yang dinamai pembunuh bayangan. Para pembunuh ini bukan pembunuh biasa, melainkan pembunuh profesional yang telah dilatih dengan sangat baik. Sembilan dari sepuluh target korban yang mereka incar biasanya mati mengenaskan. Pembunuh bayangan adalah pembunuh yang membunuh tanpa berkedip. Mereka tidak berbelas kasih.
Orang yang menyaksikan atau mengetahui mereka akan langsung dibunuh tanpa ampun. Cara mereka membungkam korban dan saksi sangat terlatih hingga tidak meninggalkan bukti yang nyata untuk diselidiki. Karena mereka adalah pembunuh profesional, maka orang yang membayar mereka pastilah orang yang sangat kaya atau berkuasa, karena untuk menyewa mereka tentu memerlukan biaya yang sangat besar.
Melihat pasukan kekaisaran kewalahan, Murong Yan baru memerintahkan pasukan Kavaleri Huang garis depan untuk maju. Pertarungan sengit terjadi di siang hari itu. Perjalanan menuju ibukota tertunda akibat sergapan kali ini. Di tengah hutan tersebut, darah bercucuran mengenai daun-daun kering. Batang pepohonan yang berwarna cokelat tua juga terciprat darah.
Mata para pembunuh yang terlihat sepertinya terkejut.
"Pangeran Kedua? Mengapa malah jadi dia?" tanya salah satu pembunuh.
"Tidak peduli dia Pangeran Kedua atau bukan, siapapun yang ada di dalam kereta harus mati!" ucap temannya. Si pembunuh lalu menyerang Murong Yan.
Murong Yan melawan. Dari perkataan para pembunuh tadi, dia akhirnya tahu bahwa dalang di balik ini semua memang orang yang berkuasa dan kaya. Mereka bahkan mengetahui identitasnya. Pikirannya langsung tertuju pada dua wanita dengan takhta tertinggi di Istana Dalam, yang selama ini selalu memaksanya. Hanya mereka yang bermusuhan dengan kakak iparnya dan ingin menyingkirkannya.
"Kakak besar, apa kau akan tetap membunuhnya meskipun dia Pangeran Kedua? Tuan hanya menyuruh kita membunuh Selir Chun, bagaimana jika terjadi kesalahan?" tanya pembunuh tadi.
"Apa kau bodoh? Kalau Tuan tahu kita tidak berhasil membunuhnya, apa dia akan membiarkan kita hidup? Daripada mencari yang lain, lebih baik lenyapkan saja yang ada!" bentak pembunuh yang disebut kakak besar.
Murong Yan mendecih. Pembunuh bayangan memang setia pada tuan yang membayar mereka. Dari sini, dia juga tahu bahwa para pembunuh ini tidak akan menyerah sebelum misi mereka berhasil atau mereka mati. Tampaknya, perjalanan menuju ibukota benar-benar akan tertunda beberapa saat.
Dia harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu.
...***...
Di situasi yang berbeda, kereta kuda yang ditumpangi Wei Linglong melaju melewati desa-desa kecil dan hutan yang melingkari sebuah perbukitan kecil. Suasana di sekitarnya sangat indah dan asri.
Ada perkebunan teh yang terletak di dekat pedesaan. Ketika Wei Linglong mengintip lewat tirai jendela kecilnya, dia melihat para penduduknya tengah memetik teh sambil berbincang.
Tiba-tiba, dia teringat akan dunia modern. Dunia yang dia tinggalkan selama hampir satu tahun membuatnya rindu. Wei Linglong pernah berkunjung ke sebuah perkebunan teh milik pemerintah bersama dosen dan teman-temannya. Suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana di sini.
"Nyonya, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Jenderal Jin. Wajah wanita itu tampak murung.
"Ah, tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya merindukan kampung halaman," jawabnya. Jenderal Jin berpikir bahwa kampung halaman yang dimaksud mungkin kampung halaman ayah dan ibunya.
Wei Linglong kembali menikmati pemandangan selagi kereta melaju di jalan berbatu. Di depan sana, pasukan elit milik Kaisar Mingzhu yang menyamar menjadi prajurit biasa tengah memimpin jalan.
"Di sini sangat ramai. Oh, apakah Ah Yan baik-baik saja?" gumamnya.
"Pangeran Kedua pasti baik-baik saja. Ada Kavaleri Huang dan Jenderal Cui yang mengawalnya. Anda tidak perlu khawatir, Nyonya." Jenderal Sui mencoba menerangkan.
Rombongan pasukan tersebut melewati pedesaan yang tidak terlalu padat namun cukup ramai. Menurut informasi, pedesaan-pedesaan di sini sudah masuk ke prefektur lain di luar Jiangzhou. Jarak menuju ibukota melewati tempat ini bisa lebih cepat jika cuaca sedang bersahabat. Mungkin, pasukan elit rahasia pernah melewati jalan ini bersama Murong Qin.
"Semoga Ah Yan baik-baik saja."
...***...
...Halooo kesayangan Author! Apa kabar? Mohon maaf Author baru bisa up hari ini setelah berhari-hari absen. FYI, ini adalah episode-episode puncak menuju akhir. Apa yang akan terjadi? Stay tune terus ya! Sampai jumpa di episode berikutnya! ...