The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 86: MALAM KELAM



Situasi di markas utama pasukan militer relative stabil. Para prajurit yang ditugaskan oleh Wei Linglong bersama para jenderal muda sebagian sudah kembali ke markas dengan selamat. Namun, mereka tampak kelelahan karena tugas berat tersebut memakan waktu hingga berminggu-minggu, ditambah medan yang terjal dan sukar dilalui. Meski begitu, mereka tidak mengeluh sedikitpun. Sebaliknya, di wajah lelah tersebut, ada sebuah kebanggaan yang tersimpan di dalamnya.


Melihat para prajurit begitu rela mengorbankan diri, semangat Wei Linglong semakin menggelora. Dia bersumpah akan melindungi dataran Yuan dengan baik sampai titik darah penghabisan. Semangat heroiknya datang dari hatinya yang tersentuh ketika melihat perjuangan para prajurit, juga lahir karena sifat patriotis yang mungkin selama ini tersembunyi di dalam dirinya.


Perang ini harus segera usai, pikirnya. Entah itu dengan perjanjian perdamaian atau salah satu pihak kehilangan nyawa, perang mengerikan ini harus segera diakhiri. Musim gugur tidak boleh dilalui dengan peperangan yang menggugurkan ribuan nyawa tak berdosa. Kekaisaran harus tetap utuh, tidak boleh goyah hanya karena serangan dari invasi negara lain.


Di tenda yang paling besar itu, Wei Linglong dan Jenderal Yang serta Jenderal Sui dan Jenderal Cui sedang menyelesaikan diskusi mereka. Jenderal Jin tidak kembali karena harus menjaga gerbang kota Jiangzhou dan rakyat bersama pasukannya. Jenderal Fu masih belum kembali, namun seorang prajurit utusan sudah datang lebih dulu untuk mengabari kalau pekerjaan sudah diselesaikan dengan baik. Malam ini, diskusi tentang strategi baru peperangan dibahas sedikit demi sedikit.


Berdasarkan hasil diskusi, ketika perang besar tidak dapat dihindari, mereka akan berperang di tanah lapang yang terletak lima puluh kilometer dari markas ke utara. Wei Linglong menerangkan beberapa kemungkinan yang terjadi ketika perang besar terjadi. Untuk mengantisipasi kehilangan kendali pasukan, wanita itu memberikan sebuah informasi yang mengejutkan.


Wei Linglong memberitahu perihal formasi perang yang bisa digunakan untuk membentuk pertahanan dan penyerangan prajurit di medan perang. Formasi tersebut terinspirasi dari sebuah drama kolosal dunia persilatan yang dibintangi aktor tampan Yang Yang dan aktris cantik nan imut Zhao Lusi. Wei Linglong memodifikasinya hingga penggunaannya menjadi lebih praktis dan mudah, namun sukar ditembus karena basis pertahanan menjadi kekuatan utama.


Dia juga menggambar bentuk formasi ketika selesai dibentuk. Bentuknya menyerupai seekor burung phoenix raksasa. Lalu, dia juga membuat semacam kode rahasia yang berfungsi sebagai tanda pembentuk dan pengganti formasi. Selesai dengan satu formasi, dia beralih menerangkan formasi lainnya. Semuanya diterangkan dengan pelan dan hati-hati, sampai informasinya benar-benar sampai dan terserap. Dengan begitu, pengendalian prajurit di medan perang bisa lebih mudah dan musuh bisa dikalahkan tanpa harus menumpahkan terlalu banyak darah.


“Bentuk phoenix ini disebut formasi Fengming. Kekuatan utamanya terletak pada bentuk sayap di kedua sisi dan ekornya. Bagian tengahnya adalah basis pertahanan yang digunakan setelah pertahanan di sisi kanan dan kiri melemah. Kekuatan tengah ini juga berfungsi sebagai penyerang,” terang wanita itu sembari menunjuk pada gambar di sebuah kertas besar.


“Bentuk teratai ini disebut formasi Chaihua. Formasi ini digunakan kalau musuh lebih sedikit dari jumlah pasukan. Pergerakannya ringan dan mudah, tidak terlalu banyak memerlukan pertahanan. Asalkan penyerangannya efektif, maka formasi ini bisa menjadi formasi kedua,” tambahnya.


“Lalu, ini adalah formasi Tapal Kuda. Seperti namanya, formasi ini mengarahkan prajurit membentuk sebuah barisan berbentuk tapal kuda. Gunanya untuk mengepung musuh dan memusnahkan mereka. Formasi ini bisa dijadikan formasi utama kedua setelah formasi Fengyun. Tergantung pada situasi perang dan jumlah prajurit musuh, kapan kita bisa menggunakan formasi ini.”


Lalu, dia menerangkan formasi lain yang lebih sederhana dan lebih praktis. Kunci utama dalam peperangan kali ini adalah kekompakan prajurit dan daya ingat serta daya fokus mereka. Para prajurit akan dilatih membentuk formasi hingga mereka hafal posisi masing-masing. Mungkin memerlukan sedikit tenaga, namun hasil yang diperoleh tidak akan mengkhianati usaha yang dilakukan.


Jenderal Yang begitu mengagumi sosok Wei Linglong. Ternyata, selain Jenderal Yun, masih ada orang yang sangat cerdas dalam peperangan. Selama hidupnya di dunia militer, dia hanya menjumpai dua orang hebar di peperangan, yakni Jenderal Yun dan Kaisar Mingzhu. Namun, sekarang justru hadir seorang wanita, yang bahkan lebih hebat dari keduanya.


Sang jenderal optimis menang. Dengan jebakan dan strategi sebelumnya, kekuatan mereka meningkat dua kali lipat. Apalagi, pasukan bantuan dari Jenderal Yongning sudah tiba beberapa hari yang lalu. Kekuatan pasukan tantara Yuan bertambah berkali-kali lipat. Dengan begini, peperangan ini akan selesai dalam waktu cepat.


“Nyonya, apakah Jenderal Yun yang mengajari Anda?” tanya Jenderal Yang ketika diskusi selesai.


“Bukan,” jawab wanita itu. Bukan Jenderal Yun, tapi sebuah drama kolosal yang mengajariku, ucapnya dalam hati.


Tekad yang kuat, keyakinan yang besar, kekuatan yang cukup, itu sudah menjadi modal yang cukup untuk membangkitkan semangat para pasukan. Jenderal Sui dan Jenderal Cui juga sangat puas dengan pemaparan formasi darinya. Di benak mereka, seorang Wei Linglong sekarang jauh lebih berharga daripada puluhan orang jenderal yang kebanyakan hanya mengandalkan atasan untuk bertindak dan mencontoh.


Malam semakin larut ketika seorang prajurit berlari kencang dari arah pintu gerbang memasuki tenda utama. Sang prajurit langsung melapor dengan kepanikan yang luar biasa.


“Jenderal, pasukan Mongolia terlihat dari jarak sejauh satu kilometer menuju kemari,” ucap sang prajurit.


Tak ayal, Jenderal Yang, Jenderal Sui, Jenderal Cui dan Wei Linglong seketika berubah air mukanya. Satu kilometer?


“Gawat! Mereka menyerang di malam hari!” seru Jenderal Cui.


“Lalu bagaimana dengan Jenderal Fu dan pasukannya?” tanya Wei Linglong.


“Jika melihat dari waktu kedatangan mereka, kemungkinan ketika Jenderal Fu menyusup ke markas musuh, pasukan ini sudah lebih dulu bergerak, Nyonya,” jawab sang prajurit.


“Bukankah artinya Jenderal Fu dalam bahaya?” tanyanya kembali.


Tetap saja itu tidak menghilangkan kepanikan Wei Linglong. Jika pasukan musuh sudah berjarak satu kilometer, maka hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai mereka tiba di depan gerbang markas utama pasukan Yuan. Serangan tiba-tiba seperti ini lupa Wei Linglong perhitungkan. Sekarang, situasinya benar-benar gawat.


“Nyonya, kami menunggu arahan Anda,” ucap Jendral Yang.


Wei Linglong masih terkejut. Medan perang nyata! Dia harus bertemu musuh lebih cepat dari perkiraannya!


“Jenderal Yang, kendali pasukan aku serahkan padamu. Aku akan memimpin di barisan depan!” seru Wei Linglong.


Namun, hal tersebut mendapat pertentangan dari ketiga jenderal. Bagaimana mungkin mereka membiarkan wanita raja berada di garis depan?


“Nyonya, sebaiknya Anda berlindung ke tempat yang aman. Pasukan tidak boleh tanpa pemimpin. Harap nyonya mencari tempat yang tersembunyi!” pinta Jenderal Sui.


“Tidak! Keadaannya genting! Aku harus maju!” tolak Wei Linglong dengan tegas.


“Nyonya, Anda adalah satu-satunya harapan kami! Nyonya adalah milik Yang Mulia, nyonya tidak boleh dalam bahaya!” ucap Jenderal Cui.


Tetap saja, Wei Linglong menolak. Kedatangannya ke sini memang untuk bertaruh nyawa, menyelamatkan wilayah dan rakyat tak berdosa. Apalagi yang harus ditakutkan? Jika dia mati malam ini, biar budinya kepada Murong Qin dibalas di kehidupan lain saja!


Setelah beberapa lama, akhirnya ketiga jenderal mengizinkan Wei Linglong berada di garis depan. Jenderal Yang ada di barisan kedua, memimpin beberapa ribu prajurit. Jenderal Sui membawa sisa pasukan wilayah lain untuk cadangan. Peralatan perang dan segala keperluan pangan sebagian diungsikan ke wilayah yang sama dipimpin oleh Jenderal Cui. Jadi, hanya tersisa Jenderal Yang dan Wei Linglong yang ada di markas utama.


Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kekalahan. Para prajurit bantuan Jenderal Yongning masih terlalu lelah setelah perjalanan jauh, tidak bisa langsung turun berperang. Mereka ikut bersama pasukan pimpinan Jenderal Sui ke tempat aman.


Satu jam kemudian, pasukan musuh melesatkan ribuan anak panah ke markas utama. Beberapa prajurit yang tidak sempat menghindar langsung tertembak dan tumbang di tempat. Kemudian, suara kaki kuda yang terdengar sangat ramai perlahan mendekat bersama api-api dari obor yang dibawa oleh masing-masing, diiringi teriakan yang terus menerus bergema di udara.


“Serang!”


Wei Linglong mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Pasukan musuh berhasil menerobos pintu masuk markas utama. Basis pertahanan markas diterobos setelah satu jam dipertahankan. Darah mengalir dari tubuh prajurit kedua belah pihak. Api menyebar di mana-mana, membakar setiap objek yang ada. Karena sedang musim gugur, rerumputan dan tanah di sana kering hingga api menyebar lebih cepat. Selain lautan darah, markas utama pasukan Yuan juga menjadi lautan api yang dipenuhi bau menyengat dari tubuh dan objek yang terbakar.


“Hati-hati! Panahnya beracun!” seru Wei Linglong.


Saat ini, dia sedang berada dua ratus meter dari gerbang yang berhasil diterobos. Pasukannya terus mengayunkan pedang dan menyerang, membunuh lawan dengan ganas. Mata mereka memancarkan kemarahan yang menggelora, yang lebih besar dan lebih panas dari api yang membakar. Malam yang seharusnya dilalui dengan tenang berubah menjadi pertarungan hidup dan mati dua pasukan dari dua negara yang berbeda.


Jenderal Yang ada di garda belakang. Pasukan musuh berhasil menerobos masuk. Pasukannya bertarung mati-matian mempertahankan harga diri dan markas. Pasukan musuh menyerang dengan brutal, tidak peduli siapapun yang ada di hadapannya, maka pedang tajam akan menyasar kepala dan tubuh mereka. Ratusan prajurit mulai berjatuhan. Tanah yang kering berubah menjadi abu yang dialiri sungai darah.


Kekuatan kedua belah pihak seimbang. Baik pasukan Yuan maupun pasukan musuh, semuanya sama-sama kuat. Pertarungan sudah berlangsung selama berjam-jam, namun siapa yang kalah belum terlihat sama sekali. Suara pertarungan yang bergema menjadi seperti suara petir yang menyambar-nyambar. Pedang saling beradu, panah saling melesat.


Wei Linglong mundur ke belakang. Dia berusaha membantu Jenderal Yang yang tengah kewalahan menghadapi pasukan musuh. Pasukannya yang kuat menyerang lagi secara membabi buta. Nyala api yang membara membuat asap berkepul ke udara, mengotori cahaya bulan purnama yang tengah menggantung dengan indah menyaksikan pertarungan di bawah sana.


Pundak Wei Linglong terkena sabetan perang dan berdarah. Namun dengan sigap dia merobek sebagian pakaiannya dan mengikatnya sambil terus menangkis serangan dan mengayunkan pedang. Tidak, dia tidak bisa tumbang malam ini. Dia harus membantu Jenderal Yang memukul mundur pasukan musuh yang datang tiba-tiba.


...***...


Waduh, Linglong terdesak nih! Duh, Author nggak tega kalau dia harus terluka!