
Istana Kekaisaran.
Satu bulan telah berlalu semenjak Murong Qin mengirim Wei Linglong pergi ke perbatasan utara. Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir mereka, dia tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.
Entah kabar kemenangan atau kekalahan, belum ada utusan yang melapor ke istana. Itu membuat Murong Qin begitu tersiksa. Setiap malam, dia dihantui kekhawatiran dan rasa takut yang sangat dahsyat.
Namun, bukankah tidak ada kabar itu lebih baik?
Setidaknya, Murong Qin bisa menganggap bahwa keadaan wanita itu baik-baik saja. Wei Linglong begitu cerdas, dia hebat dalam segala hal. Dengan akalnya yang mulus itu, seharusnya situasinya masih terkendali.
Situasi di dalam pengadilan istana perlahan terkendali. Kembalinya Adipati Jing atau Wei Shiji ke pengadilan membuat beberapa menteri yang menjadi provokator menciut nyalinya. Di hadapan Wei Shiji, pendapat mereka yang biasanya memusingkan berubah seperti debu yang terbawa angin.
Setiap sidang pengadilan di Istana Yanzhi selesai, Murong Qin akan menghabiskan waktu di Istana Yanxi bersama Murong Yu. Sang kaisar mengajari putranya banyak hal hingga dalam waktu singkat, Murong Yu sudah menjadi anak yang berpengetahuan luas.
"Ayahanda, kapan ibu akan kembali?" tanya Murong Yu pada saat mereka sedang bermain di taman Istana Yanxi.
Namun, Murong Qin tidak menjawabnya karena dia sendiri tidak tahu kapan Wei Linglong akan pulang. Kepergian wanita itu ke medan perang membuat sepasang ayah-anak tersebut terjebak kerinduan sedalam samudera.
Ini pertama kalinya bagi Murong Qin ditinggal jauh oleh wanita yang dia cintai. Jika bukan karena situasi mendesak, Murong Qin mana mungkin mengizinkan Wei Linglong pergi. Dia justru ingin mengurungnya di istananya sepanjang hari.
"Eh, Xiao Yu. Ibumu pasti pulang. Kau harus bersabar!" ucap Wei Shiji, yang kebetulan sedang ada di Istana Yanxi usai berdiskusi dengan Murong Qin.
"Paman, apa ibu sedang berkelahi? Ayahanda, berapa banyak pasukan yang dipimpin oleh ibu?"
"Mungkin sembilan puluh ribu pasukan."
Murong Yu berdecak. Wei Shiji tertawa karena tingkah keponakannya yang lucu dan menggemaskan. Usianya memang kecil, namun isi kepalanya melebihi kapasitas berpikir orang dewasa. Terkadang, orang-orang di sekitar Murong Yu seringkali terjebak oleh ucapannya.
Liu Ting datang dari arah luar istana. Kasim tersebut berjalan tegopoh-gopoh seolah sedang membawa sesuatu yang penting.
"Yang Mulia, sudah saatnya Pangeran Sulung memulai pelajarannya," ucap kasim ketika sampai di depan Murong Qin dan Wei Shiji.
Murong Qin mengangguk. Dia menurunkan putranya dari pangkuannya, lalu memegang bahunya.
"Putraku, pergilah. Belajar yang benar," ujarnya.
"Ya, ayahanda."
Liu Ting mengantar sang pangeran ke istana tempat belajar Murong Yu. Setiap matahari sudah sedikit naik, maka itulah waktunya bagi Murong Yu untuk menimba ilmunya bersama Perdana Menteri Xu dan beberapa guru lain yang sering datang ke istana secara bergantian.
"A-Ling memang tidak pernah salah memilih," Murong Qin tiba-tiba berkata pada Wei Shiji.
"Oh? Benarkah? Memangnya apa yang dia katakan pada Yang Mulia?" tanya Wei Shiji dengan wajah jenakanya.
"Sebelum pergi, dia memintaku memanggilmu kembali ke pengadilan untuk membantuku mengatasi kekacauan."
Wei Shiji tersenyum bangga. Semua keturunan keluarga Wei adalah orang berbakat!
"Aih, aku juga sudah jengah dengan para penjilat itu. Kalau memukul orang di aula tidak dilarang, mereka pasti sudah kubuat babak belur."
Murong Qin berpikir, apakah anak-anak keluarga Wei adalah orang sembrono semua? Tidak Wei Linglong, tidak Wei Shiji, semuanya suka berkata tanpa berhati-hati. Apa yang ingin mereka katakan, maka dikatakan secara langsung.
"Yang membantu pasukanku membunuh penjahat di tebing hari itu, juga bawahanmu bukan?"
Mendapat pertanyaan ini dari Murong Qin, Wei Shiji seketika terdiam sejenak. Sungguh dia sudah melupakan kejadian berbulan-bulan lalu itu. Rupanya, sejak hari itu, sang kaisar melakukan penyelidikan. Kini, dia bahkan tahu kalau orang-orang yang membantu memburu para penjahat pembuat tebing longsor adalah bawahan Adipati Jing.
"Ah, aku hanya mendengar kabar dari burung. Selain itu, mana mungkin aku membiarkan pembunuh adikku lolos begitu saja. Jadi, apakah Yang Mulia sudah menemukan siapa tuan mereka?" ucap Wei Shiji.
"Ya. Aku menemukannya."
Murong Qin tertegun. Ya, dalangnya memang orang di dalam istana. Dua wanita itu. Pelakunya ada di antara dua wanita itu. Selama berbulan-bulan ini, dia terus melakukan penyelidikan rahasia bersama para pengawal rahasianya. Hasilnya, semua petunjuk mengarah pada orang di Istana Dalam.
"Yang menyerang di hutan saat pembajakan musim semi juga orang istana, bukan?" Wei Shiji kembali bertanya.
Murong Qin mengangguk. Memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari keluarga Wei. Karena selain dirinya yang menyelidiki, Wei Shiji juga mencari tahu dengan caranya sendiri. Kendati pun dia hanya seorang adipati, namun kemampuannya begitu luar biasa. Dia akan berusaha untuk mencari keadilan bagi keluarganya.
"Lalu apa rencana Yang Mulia?"
"Aku tentu saja ingin menangkapnya. Namun, bukti yang kukumpulkan belum cukup," ucap Murong Qin. Dari nada bicaranya, dia begitu pesimis.
Wei Shiji tidak memaksa Murong Qin untuk menangkap pelaku pembunuhan adiknya secepat mungkin. Dia tahu resiko yang diambil terlalu besar. Jika orang-orang itu ditangkap, pengadilan akan goyah dan pergolakan politik semakin sengit. Apalagi di situasi perang seperti saat ini, yang dibutuhkan oleh rakyat adalah kestabilan dan kekuatan dari kekaisaran yang bisa menguatkan hati dan melindungi mereka.
Murong Qin bukan ingin menunda. Dia hanya perlu waktu untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dan situasi dalam kendali. Sungguh, dia tidak mengharapkan para penjahat itu hidup tenang di dalam istana sementara wanitanya berjuang mempertaruhkan nyawa di medan perang.
"Aku mengerti. Tapi, aku hanya berharap adikku mendapatkan keadilan."
"A-Ling adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku tidak akan membiarkan siapapun menindasnya dan mengancamnya. Setelah perang ini mereda, ada banyak kesempatan untuk menangkap mereka."
Hening sesaat. Wei Shiji dan Murong Qin larut dalam pikiran masing-masing. Dalam situasi yang kacau seperti ini, saling membantu dan bahu membahu mengatasi kekacauan adalah sesuatu yang sangat penting. Jika mereka memaksakan kehendak untuk keinginan pribadi, maka sungguh tidak bijaksana.
Itu semua karena takdir. Mereka ditakdirkan di keluarga bangsawan yang selamanya terikat satu sama lain. Murong Qin lahir sebagai kaisar Dinasti Yuan, tak heran jika dia lebih mementingkan kepentingan kekaisaran dibandingkan menghukum seorang istri dan ibu tiri yang tidak patuh.
Wei Shiji dan Wei Linglong lahir di keluarga bangsawan besar yang telah mengabdi selama ratusan tahun pada kekaisaran. Mereka juga lebih mementingkan rakyat daripada memaksakan kehendak mencari manusia berdosa yang telah mencelakai hidup salah satu dari mereka.
Karena semuanya berjalan dalam takdir sendiri-sendiri.
"Apa ada pergerakan?" tanya Wei Shiji.
"Tidak. Mereka tidak melakukan apapun," jawab Murong Qin.
"Aneh. Itu bukan gaya mereka."
"Negara dalam masa krisis. Kedua wanita itu tidak akan berani mengambil kesempatan dalam situasi yang membahayakan kekaisaran seperti ini."
Wei Shiji mengangguk. Baguslah jika kedua wanita itu sadar akan situasi. Yuan saat ini sedang goyah, di dalam dan di luar. Memaksakan kehendak hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri.
"Yang Mulia, aku menemukan petunjuk terkait kasus penculikan para wanita di ibukota," kata Wei Shiji setelah terdiam beberapa saat.
Kemudian, dia mengeluarkan sebuah surat rahasia yang dia dapat dari bawahannya. Sebelum pergi, Wei Linglong sempat mengiriminya surat agar dia membantunya menyelidiki kasus penculikan yang akhir-akhir ini marak terjadi di ibukota.
Para bawahannya menemukan bahwa wanita yang kebanyakan berasal dari kaum bangsawan dibawa ke suatu tempat di daerah terpencil. Ada beberapa kereta misterius yang kerap melintas di malam hari dan setelah ditelusuri, isinya adalah para wanita.
Para bawahannya tidak berani menjelajah lebih jauh karena para wanita itu menghilang di kegelapan. Petunjuknya terputus karena jejak mereka langsung menghilang. Namun, Wei Shiji yakin kalau para wanita itu dipaksa melakukan sesuatu yang kotor.
Raut wajah Murong Qin berubah merah. Siapapun pelaku penculikan ini, dia akan menghukumnya dengan berat.
"Apa ada informasi lain?" tanya Murong Qin.
Wei Shiji menggelengkan kepala. Bawahannya tidak cukup jika bergerak sendiri.
"Bawahanku tidak akan mampu menelusuri lebih jauh. Apa Yang Mulia punya solusi?"
"Pasukan sudah dikerahkan semua ke medan perang. Petugas di istana banyak yang tidak becus. Adipati Jing, pergilah ke Kementrian Kehakiman, minta beberapa orang untuk bekerja sama," ucap Murong Qin. Dia tidak mungkin mengerahkan pasukan rahasianya karena sebagian besar sudah dia kirim bersama Wei Linglong. Jika melakukan gerakan lagi, mungkin orang akan curiga kalau kaisar telah membentuk pasukannya sendiri.
"Baik, Yang Mulia."
...***...