
“Bagaimana menurut Yang Mulia?”
Permaisuri Yi berdiri angkuh di depan meja kerja Murong Qin. Tangannya bersilang di dada. Sang permaisuri menatap sang kaisar sambil tersenyum seperti biasa, senyum menyeramkan yang menyembunyikan pedang di baliknya.
“Apa Permaisuri sedang bernegosiasi dengan Zhen?”
Murong Qin balas menatap permaisurinya dengan tajam. Sang permaisuri tiba-tiba masuk ke istananya ketika dia sedang membaca laporan lain dari hasil pengawasan menteri pengawas. Rupanya, Permaisuri Yi menggunakan taktik dengan melumpuhkan semua penjaga dan pelayan di Istana Yanxi, termasuk kasimnya hingga semuanya tidak sadarkan diri.
Murong Qin menyembunyikan amarahnya. Permaisurinya tetap memperhatikannya, seolah-olah dia adalah objek yang mudah menghilang. Murong Qin mungkin tidak tahu kalau Permaisuri Yi sudah menempatkan mata-mata di Istana Yanxi sehingga dia dengan mudah masuk ke sana tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk melumpuhkan para penjaga.
“Aku hanya menawarkan bantuan. Jika Yang Mulia berkata ya, aku bisa memberikan apapun yang membuatmu menjadi satu-satunya kaisar terkuat di Yuan,” ucap Permaisuri Yi.
Murong Qin tertawa sumbang. Dia tidak percaya pada wanita itu. Di matanya, Permaisuri Yi tidak lebih daripada sebuah boneka mainan Ibu Suri, yang melakukan apapun agar posisinya tetap aman. Sudah banyak perbuatan buruk yang dilakukan oleh wanita itu, termasuk menyakiti orang-orang di sekitarnya. Murong Qin membencinya bukan tanpa alasan.
Dulu, dia berpikir kalau permaisuri barunya akan berpihak kepadanya. Namun, Murong Qin dihancurkan oleh ekspektasinya sendiri. Wanita itu memilih berjalan bersama Ibu Suri. Kini, ketika wanita itu memintanya untuk mempertimbangkannya, Murong Qin tentu saja tidak akan menerimanya. Semua tawarannya tidak berlaku untuknya.
“Begitukah? Lalu, aku akan menjadi kaisar boneka yang kau kendalikan,” ujar Murong Qin.
“Apakah Yang Mulia akan terus salah paham terhadapku?”
Permaisuri Yi sekali lagi menanyakan hal itu, pertanyaan yang terus berulang selama tujuh tahun ini. Seandainya pria itu mengerti, seandainya pria itu mau memandangnya sekali saja. Dia hanya memberikan tawaran sekali, jika pria itu menolaknya sekarang maka tidak akan ada jalan untuk kembali. Permaisuri Yi sudah berusaha tegar dan mengeraskan hati terkait apapun jawaban yang akan dia terima nanti.
“Permaisuriku, apa kau tahu? Kau mengatakan semuanya ketika aku sudah kehilangan kepercayaanku terhadapmu. Kau masih menginginkan aku memahamimu dan menyelesaikan kesalahpahaman ini?”
Betapa menyakitkannya itu bagi Permaisuri Yi. Dia tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak bersalah sejak awal. Permaisuri Yi terus menekankan bahwa pilihan yang diambilnya adalah benar. Semua perkataan Murong Qin begitu menyakitkan, namun dia tidak bisa menjadi rapuh.
“Tampaknya Yang Mulia tidak menerima tawaranku,” ucap Permaisuri Yi sambil tersenyum. Aura di dalam Istana Yanxi begitu mengerikan ketika sepasang suami istri dan sepasang kaisar dengan permaisurinya tengah berdialog dengan tajam.
Sementara itu, Wei Linglong baru saja sampai di depan gerbang Istana Yanxi. Dia terhenyak ketika melihat para penjaga dan beberapa pelayan jatuh pingsan di sepanjang jalan. Dia memeriksanya dan menemukan aroma obat bius dalam tubuh mereka. Ini pasti trik Permaisuri Yi!
Wei Linglong berjalan menuju pintu masuk Istana Yanxi. Sayup-sayup dia mendengar percakapan antara Murong Qin dan Permaisuri Yi. Dia terdiam sesaat untuk mencerna percakapan kedua orang itu. Hatinya sedikit tercubit ketika Permaisuri Yi mengatakan bahwa apakah Murong Qin akan terus salah paham terhadapnya.
Tidak dipungkiri kalau Wei Linglong merasa kasihan kepadanya. Seandainya Permaisuri Yi baik sejak awal dan tidak salah mengambil pilihan, Murong Qin mungkin bisa menerimanya. Sebagai seorang wanita, Wei Linglong juga tahu bagaimana rasanya dianggap tidak pernah ada oleh orang yang dicintai. Namun, Wei Linglong juga tidak bisa bersimpati karena Permaisuri Yi tetap tidak sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan.
Wei Linglong kemudian mendobrak pintu istana. Kedua orang yang sedang berdialog seketika menoleh. Wei Linglong berjalan mengahampiri keduanya dengan tatapan tajam. Dia marah karena Permaisuri Yi mencuri kesempatan di saat dirinya sedang bertugas!
“Apa Permaisuri Yi sudah melupakan aturan?” tanya Wei Linglong.
“Bukankah Permaisuri sedang dihukum kurungan di istana? Mengapa Anda ada sini?” tanyanya lagi.
Permaisuri Yi tidak menjawab. Mengapa Selir Chun bisa kembali secepat ini?
“Memangnya kenapa? Apakah kini seorang permaisuri juga tidak boleh mengunjungi kaisarnya sendiri?” tanya Permaisuri Yi.
“Tidak. Hanya saja momen kedatanganmu tidak tepat. Anda masih berada dalam masa kurungan, Yang Mulia,” jawab Wei Linglong.
“Apa sekarang seorang selir juga bisa mengatur seorang permaisuri? Yang Mulia, inikah wanita yang kau sayangi itu?”
Permaisuri Yi beralih menatap Murong Qin. Murong Qin balik menatapnya namun tidak berbicara apa-apa. Murong Qin memilih diam. Dia ingin membiarkan wanita itu bicara dengan sesamanya.
“Selir Chun, jangan lupa bahwa aku adalah Permaisuri Yi, istri resmi Kaisar Mingzhu, permaisuri bangsa ini!” tegas Permaisuri Yi.
Wei Linglong menggeram kesal. Wanita ini benar-benar keras kepala! Dia sengaja memprovokasi dirinya dengan menekankan bahwa Wei Linglong hanyalah seorang selir, yang posisinya lebih rendah darinya. Permaisuri Yi sengaja menciptakan jarak dari status dan kedudukan tersebut.
“Persetan dengan istri sah atau tidak, aku akan menikahinya sekarang juga!” seru Wei Linglong dengan tegas dan spontan.
Pernyataan itu membuat Murong Qin dan Permaisuri Yi terkejut. Tidak bisa dipercaya! Wei Linglong kemudian menarik lengan Murong Qin, lalu memegangnya dengan erat seolah-olah dia adalah benda yang sangat berharga. Perlakuannya membuat darah Permaisuri Yi memanas hingga wajahnya memerah.
Menikahi kaisar? Apa wanita itu sudah gila?
“Komandan Bu!” panggil Wei Linglong. Bu Guanxi yang baru tiba langsung masuk.
“Antarkan Permaisuri Yi kembali ke istananya. Biarkan dia menjalani sisa hukuman kurungannya!” perintah Wei Linglong.
“Wei Linglong, berani kau!”
Namun, Permaisuri Yi tidak bisa melawan. Sia-sia dia datang ke sini jika pada akhirnya dia harus kembali tanpa membawa hasil apapun. Sang permaisuri marah, namun ditahan karena komandan pengawal istana milik kaisar ada di sampingnya. Kalau Permaisuri Yi tetap melawan, masalah akan jadi lebih besar.
Bu Guanxi mengantarnya keluar dari Istana Yanxi. Di depan gerbang istana, mereka berjumpa dengan Ibu Suri yang baru sampai ke sana. Ibu Suri menyusul Permaisuri Yi ketika Xiaoyao memberitahunya kalau Permaisuri Yi keluar dari istananya diam-diam untuk menemui Kaisar Mingzhu.
Ibu Suri sangat marah. Mengapa menantunya ini begitu bodoh dan tidak sabaran? Ibu Suri telah membuat pengaturan untuknya, namun gara-gara kebodohan Permaisuri Yi sendiri, semua pengaturannya sia-sia. Permaisuri sudah mengacaukan segalanya.
“Biar aku yang mengantarnya kembali,” ucap Ibu Suri.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Bu Guanxi.
Permaisuri Yi berjalan di belakang Ibu Suri dengan kepala tertunduk. Dia merasa dirinya memang bodoh karena bertindak tanpa pertimbangan yang matang. Ibu Suri pasti sangat marah karena dia bodoh. Permaisuri Yi tidak berani menengadahkan kepala sampai mereka tiba di istana permaisuri.
“Yang Mulia, aku sudah bersalah!”
Permaisuri Yi langsung berlutut di hadapan Ibu Suri. Sungguh, dia sangat ketakutan ketika melihat ekspresi Ibu Suri ketika marah.
“Mengapa kau sangat bodoh? Apa kau tidak bisa duduk diam dan menunggu sampai hukumanmu selesai? Kau pikir kau hebat?” tanya Ibu Suri bertubi-tubi.
Permaisuri Yi menunduk dalam.
“Bukankah aku sudah bilang kalau kau tidak boleh bertindak ceroboh? Apa kau tidak mengerti juga?”
“Yang Mulia, aku sudah bersalah. Tolong maafkan aku.”
Ibu Suri menepiskan tangannya. Dia benar-benar marah.
“Permaisuri Yi, aku bisa memberikan segalanya kepadamu. Aku juga bisa mengambil semuanya kembali. Jangan pernah berpikir kalau kau bisa membodohiku. Apa kau mencoba untuk mengkhianatiku?”
“Aku tidak berani! Yang Mulia, aku tidak berani!”
Ibu Suri menghembuskan napas kasar. Selama tujuh tahun ini, baru kali ini dia melihat permaisuri yang dia didik bertindak ceroboh sampai sejauh ini. Seharusnya permaisuri bisa menahan diri sampai semua rencana mereka berhasil. Seharusnya wanita itu bisa bersabar sampai semuanya selesai. Seharusnya, wanita itu tidak terikat terlalu erat dengan perasaannya sendiri.
“Sudahlah. Kali ini aku akan melepaskanmu. Jika kau bertindak ceroboh lagi, aku tidak bisa melindungimu lagi.”
Usai mengatakannya, Ibu Suri langsung keluar. Di dalam istana, Permaisuri Yi mematung sesaat, lalu tertawa seperti orang gila. Tawanya begitu sumbang. Dia menertawakan dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan hatinya. Padahal, dia sudah berusaha dengan keras.
“Baik, karena kalian yang memulainya, maka aku akan menjalaninya sampai akhir! Kalian tunggu saja!”
Mulai sekarang, Permaisuri Yi tidak akan ragu lagi.
...***...
Di Istana Yanxi.
“A-Ling, apa kau serius?”
Murong Qin bertanya dengan serius pada wanita yang kini menggenggam erat tangannya.
“Apa?” tanya wanita itu.
“Apa kau serius dengan perkataanmu?”
“Tentu saja! Sejak kapan aku suka bercanda dengan kata-kataku?”
Antara percaya dan tidak percaya, Murong Qin tidak bisa memastikannya. Kalau wanita itu serius, itu mungkin akan menjadi sebuah kebahagiaan yang tiada tara untuknya. Murong Qin benar-benar seperti sedang bermimpi!
“Kelak bukan hanya Lan Shiyi saja yang menjadi istri sahmu! Aku juga istri sahmu!”
Setelah mengatakan itu, Wei Linglong membangunkan Liu Ting dan beberapa pelayan. Dia juga memanggil Bu Guanxi untuk masuk. Hanya dengan mengenakan pakaian istana biasa, Wei Linglong mengadakan upacara kecil pernikahannya dengan Murong Qin. Mereka yang hadir di dalam aula istana adalah para saksi atas berlangsungnya pernikahan mendadak tersebut.
Menunduk pada langit dan bumi sebagai surga dan orang tua, menunduk pada pasangan, hari ini adalah kelahiran sepasang suami istri baru di Dinasti Yuan yang agung.
...***...
...Linglong bener-bener hebat ya! Bisa-bisanya dia nikahin kaisar secepat itu! BTW, kalau ada yang mau ikut ke kondangan pernikahan mereka, bilang ya di komentar! Entar Author kasih tumpangan gratis!...