The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 100: MENUAI KARMA



Malam itu, Selir Chun dinyatakan meninggal dunia.


Dia mengalami keguguran yang menyebabkan pendarahan hebat di rahimnya. Pukulan keras di perutnya memutuskan syaraf-syaraf hingga setengah badannya lumpuh. Selain itu, obat pengugur kandungan tersebut juga berdampak buruk pada tubuhnya, merusak organ dalamnya.


Tidak ada yang tidak sedih. Murong Qin, sang Kaisar Mingzhu yang agung, tidak pernah berhenti menangis sejak kejadian malam tersebut. Baginya, kematian Wei Linglong adalah pukulan terkeras dan tusukan tertajam dalam hidupnya, yang lebih menyakitkan dari apapun.


Kepergian wanita tercintanya membuatnya marah pada setiap orang yang terlibat malam tersebut. Murong Qin bersumpah akan menghukum keras mereka yang ikut dalam upaya pemberontakan dan pembunuhan Selir Chun.


Wei Shiji yang kehilangan adiknya meneteskan air mata tanpa suara. Sekeras apapun dia berusaha, akhir yang tragis tetap menghampiri setiap wanita dari keluarganya yang masuk ke istana. Dulu Wei Hongxue, sekarang Wei Linglong. Tidak dapat dibayangkan betapa sedihnya dan terpukulnya ayah dan ibunya, kehilangan putri satu-satunya.


Murong Yan kehilangan kakak ipar yang menjadi motivasinya. Dia bertekad dan bersumpah di depan jasad Wei Linglong, di hadapan Murong Qin, Ibu Suri, Wei Shiji dan orang-orang Istana Fenghuang, bahwa dia tidak akan pernah merebut takhta kaisar sampai kapanpun dan melarang keturunannya kelak untuk memberontak. Ini dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.


Jenazah Wei Linglong ditidurkan di ranjangnya. Semua pelayan Istana Fenghuang menangis, Xiaolan dan Xiaotan bahkan pingsan beberapa kali. Orang-orang Istana Yanxi juga datang dan ikut menangis.


Murong Yu sudah berhasil diselamatkan, namun belum sadar. Nyawa bocah kecil itu berhasil diselamatkan dengan menukarkan nyawa Wei Linglong dan bayinya. Entah bagaimana reaksinya jika esok dia tersadar dan mendapati ibunya telah terbujur kaku dan siap dimakamkan.


Pagi-pagi sekali, pihak istana mengumumkan berita kematian Selir Chun, sang Nyonya Permata kepada dunia. Rakyat Yuan di seluruh penjuru ikut menangis. Mereka turut merasakan kesedihan dan kehilangan yang sangat dalam atas kepergian satu-satunya wanita hebat pada masa itu.


Di akhir musim gugur, seorang wanita kehilangan nyawa demi menyelamatkan putra mahkota negeri ini. Di sepanjang jalan dan perempatan, para penduduk berjajar, berbaris rapi untuk mengantarkan jenazah sang legenda ke tempat terakhirnya di makam keluarga kerajaan.


Jasad Wei Linglong tidak disemayamkan di istana karena Murong Qin tahu wanita itu tidak akan menyukai istana kotor yang sudah membunuh dia dan bayinya. Terlebih, wanita itu tidak akan suka melihatnya menangis setiap hari karena kepergiannya.


Di hadapan rakyatnya, Murong Qin berusaha tegar meskipun hatinya remuk redam. Sang kaisar tidak bisa menangis di hadapan rakyat, tidak bisa membuat mereka khawatir. Meski hancur sehancur-hancurnya, Murong Qin masih harus menjalankan perannya sendiri.


Jenazah Wei Linglong dimakamkan di makam keluarga kerajaan dengan peti terbaik dan tempat terluas. Selain itu, Murong Qin juga memerintahkan membangun sebuah altar persembahan yang megah untuk mendiang istrinya.


Usai pemakaman, dengan langkah gontai dan tidak seimbang, Murong Qin kembali ke Istana Fenghuang. Darah Wei Linglong sudah dibersihkan. Di sana, Murong Qin langsung terduduk lesu dengan kepala tertunduk. Tangannya erat memeluk pakaian Wei Linglong yang masih menyisakan aroma tubuhnya yang wangi.


Dia bahkan tidak punya waktu lama untuk menemaninya atau sekadar duduk di sampingnya. Dulu, Wei Linglong pernah berpesan kalau dia mati, dia ingin dimakamkan pada hari yang sama. Itulah sebabnya Murong Qin terburu-buru, hanya sebatas ingin memenuhi keinginan wanita tercintanya.


"A-Ling...."


Bahu Murong Qin yang tegap tertutup jubah duka bergetar hebat. Di dalam kamar Wei Linglong, dia menangis seorang diri. Murong Qin ingin menangis dengan mengenang setiap momen pertemuannya dengan Wei Linglong, mengenang kembali waktu-waktu yang dilewati bersama dengan wanita itu.


Murong Qin benar-benar tidak rela. Sepanjang hidupnya, inilah rasa sakit akan kehilangan yang paling besar. Dia tidak menginginkan akhir seperti ini, namun pada akhirnya itu tetap terjadi, bukan?


Seandainya saja dia bisa mengendalikan emosi, seandainya dia bisa lebih peka terhadap situasi, seandainya dia tidak menunda banyak waktu, wanitanya mungkin masih hidup, berayun di ayunan kayu dengan senyum sumringahnya yang khas dan jenaka.


Murong Qin hanya bisa menyesalinya, menyesalinya selama-lamanya


...***...


"Shiyi..."


Di dalam penjara rahasia yang pengap dan lembab, sesosok pria bertubuh jangkung dan gagah, tampan dan cantik di waktu bersamaan, berambut panjang dan berjubah khas pejabat istana tengah berdiri di depan selnya sembari menatapnya.


"Kau menuai karmamu sendiri."


Wei Shiji, sosok jangkung itu, sengaja menyempatkan diri untuk melihat pelaku kejahatan sempurna yang menggemparkan dunia. Dia datang bukan dengan status pejabat atau kakak korban pembunuhan wanita yang dibunuh Lan Shiyi, tetapi sebagai teman lama yang entah sudah berapa lama tidak pernah bersua begitu akrab.


"Dulu, kau memilih masuk istana dan meninggalkanku, mengkhianatiku. Kau berjuang, menjadi pesuruh orang lain, menjadi boneka yang dikendalikan orang lain demi posisimu sendiri. Apa akhir yang kau dapatkan?"


"Kau datang untuk menertawakanku?"


Wei Shiji menggeleng.


"Shiyi, kau sudah terlalu banyak membunuh orang. Tanganmu sudah berlumur banyak darah orang tidak berdosa."


Wei Shiji melihat Lan Shiyi dengan tatapan berbeda. Dia senang karena orang yang membunuh adiknya, yang sejak awal ingin dia tangkap, sekarang mendapatkan karmanya sendiri. Namun, dia juga merasa iba karena wanita itu, Lan Shiyi, berakhir sama tragisnya dengan adiknya.


Ada kisah yang tidak pernah diketahui siapapun selain oleh kedua orang itu sendiri. Wei Shiji menyayangkan keputusan Lan Shiyi yang saat itu memilih mengkhianatinya, masuk ke istana dan melakukan terlalu banyak kejahatan.


Wei Shiji menatap tubuh Lan Shiyi yang menjadi sangat kurus dan tak terawat dalam semalam. Kaki wanita itu diperban dan pendek sebelah. Sabetan pedang Lanhua yang dilemparkan Wei Linglong membuatnya harus kehilangan kaki kanannya, membuatnya menjadi orang cacat yang berjalan pincang.


"Aku tidak pernah menyesali keputusanku!" Lan Shiyi berteriak, lalu tertawa layaknya orang gila. Wei Shiji menghela napas. Sifat kerasnya tidak berubah sejak dulu.


"Lan Shiyi, kau menyedihkan."


Wei Shiji lantas meninggalkan penjara rahasia, meninggalkan Lan Shiyi tanpa pernah menemuinya lagi. Akhir sudah ditentukan. Lan Shiyi menuai apa yang dia tanam sejak dulu.


Setelah Wei Shiji pergi, Liu Ting datang membawa dekret dari Kaisar Mingzhu. Lan Shiyi menjemputnya dengan ekspresi datar, tanpa menyesali semua perbuatannya. Liu Ting membacakan dekret dengan suara lantang hingga tahanan lain bisa mendengarnya.


"Permaisuri Yi, Lan Shiyi, tidak berbudi dan tidak bermoral. Dia telah membunuh keturunan kerajaan, meracuni pangeran dan melalukan pemberontakan serta kejahatan keji lain. Untuk menghormati hukum langit, gelarnya dihapuskan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga kerajaan, seluruh keluarganya menjadi budak. Dia diberikan kain sutera, racun dan pisau untuk membunuh dirinya sendiri, setelah lima tahun dikurung di Istana Dingin. Dekret selesai."


Lan Shiyi diboyong ke Istana Dingin dan dikurung di sana selama lima tahun ke depan. Setelah lima tahun, dia harus membunuh dirinya sendiri menggunakan kain sutera, meminum racun atau menusuk jantungnya dengan pisau. Lan Shiyi dibebaskan memilih cara dirinya mati, namun tidak diperkenankan mati sebelum lima tahun kurungan berakhir.


Sementara itu, dekret lain juga diturunkan untuk Ibu Suri. Karena dia adalah otak dari semua kejahatan Lan Shiyi, Ibu Suri dihukum pengasingan dengan memindahkannya ke Istana Barat, istana yang sangat mengerikan dan tidak diperbolehkan keluar atau dijenguk siapapun sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Para wanita yang diculik sudah ditemukan. Pihak istana memberi mereka kompensasi dan membersihkan nama baik mereka. Untuk prajurit yang berasal dari kalangan muda yang dicuci otaknya, Kaisar Mingzhu memberinya waktu pembinaan dan memberikan masa untuk hukuman mereka.


Semua orang mendapatkan karmanya sendiri. Hanya dia, Wei Linglong, satu-satunya orang yang telah pergi meninggalkan keharuman untuk istana kekaisaran sepanjang masa.


...-TAMAT-...


...Yeay! Akhirnya ceritanya selesai sampai di sini! Author sengaja membuat ending yang seperti ini, karen memang rencana awalnya seperti ini. Terima kasih yang tidak terhingga terhaturkan kepada kalian yang sudah setia dari awal sampai akhir. Sampai jumpa di cerita yang lainnya! ...