
Murong Qin bersiap menyambut kepulangan Wei Linglong dan pasukannya. Sejak pagi buta, pria itu sudah bersiap dan sibuk sendiri. Dia memerintahkan semua pelayan menyiapkan makanan dan minuman, memberikan perjamuan terbaik untuk semua prajurit yang telah berjuang selama berbulan-bulan.
Istana Yanzhi dipenuhi para menteri dan pejabat lain. Murong Qin menyuruh menteri-menterinya mengundang para bawahannya untuk datang sekaligus merayakan kemenangan Yuan atas peperangan di perbatasan utara.
"Apa mereka sudah sampai?"
Murong Qin sudah menanyakan itu berulangkali. Ini kali pertamanya dia bersikap tidak sabar di hadapan menteri-menterinya selama menjabat sebagai Kaisar Mingzhu. Dia tidak peduli.
Murong Qin hanya ingin mereka cepat tiba. Dia paling ingin Wei Linglong cepat sampai. Sudah terlalu lama dia berpisah dengan wanita itu. Kerinduannya seperti sebuah gunung tinggi yang hendak meletus.
Betapa tidak, wanita tercintanya itu pergi selama berbulan-bulan dan sama sekali tidak pernah mengirim surat padanya. Murong Qin sudah tidak tahan ingin bertemu dengan satu-satunya wanita yang dicintainya.
"Yang Mulia, Anda tidak boleh tidak sabar," Liu Ting mencoba memperingatkan atasannya. Sang kasim khawatir wibawa kaisarnya akan berkurang.
Namun, Murong Qin malah membalasnya dengan perkataan yang cukup mengancam. Dia mengatakan, "Jangan sampai aku mendengar peringatan kedua darimu!" sembari melirik tajam pada kasimnya.
Permaisuri Yi dan Ibu Suri juga datang. Kedua wanita itu tampak begitu tenang dan santai, tidak mempedulikan tingkah Kaisar Mingzhu yang sudah seperti cacing kepanasan.
Mereka datang bukan untuk menyambut, tetapi ingin meramaikan suasana. Lebihnya, mereka hanya ingin tahu bagaimana reaksi Murong Qin jika tahu bahwa wanita tercintanya pulang ke ibukota dalam keadaan tak bernyawa atau hilang. Ibu Suri dan Permaisuri Yi hanya ingin menertawakan pria itu.
Semua orang tengah menunggu di depan Istana Yanzhi. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang. Tiba-tiba, seorang pengawal berlari menuju pelataran istana tempat Kaisar dan menteri-menterinya berada.
"Apa mereka sudah sampai? Cepat, bawa aku ke sana!" ucap Murong Qin karena berpikir pengawal itu pasti datang membawa kabar kedatangan Wei Linglong dan Murong Yan.
Si pengawal tampak ragu.
"Katakan! Di mana Selir Chun dan Pangeran Kedua?" tanya sang kaisar.
"Yang Mulia, Selir Chun mengalami penyergapan di tengah perjalanan dan...menghilang."
Otak Murong Qin mengalami bug sesaat. Apa katanya tadi? Selir Chun hilang?
Murong Qin tampak seperti orang bodoh. Ekspresi itu membuat Permaisuri Yi dan Ibu Suri tertawa kecil di tempat mereka. Tampaknya, misi yang diberikan untuk melenyapkan Selir Chun sudah berhasil dilaksanakan. Sekarang, mereka tinggal bersiap menikmati pertunjukan.
"Tidak mungkin! Kau, katakan sekali lagi! Di mana Selir Chun?"
"Yang Mulia, pasukan penjemput menemukan kereta Selir Chun sudah hancur."
Murong Qin limbung. Liu Ting membantunya menahan, sementara para menteri menunjukkan keterkejutan mereka. Di siang hari yang terik itu, suasana bukan hanya panas dari luar, tetapi dari dalam.
"Aku tidak percaya! Aku sendiri yang akan menjemputnya!"
Murong Qin langsung pergi meninggalkan Istana Yanzhi. Hatinya kacau. Kabar itu berhasil mengacaukan segalanya. Tidak, dia tidak percaya. Bagaimana mungkin wanitanya hilang tanpa jejak?
Ketika dia sampai di Istana Yanxi, Murong Qin bertemu dengan Murong Yu yang tengah bermain di halaman istana bersama Bu Guanxi. Melihat ayahnya terburu-buru, dia kemudian bertanya, "Ayahanda, kau mau ke mana?"
"Aku mau menjemput ibumu. Putraku, tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana!"
Bocah kecil itu malah berdiri, lalu menarik-narik jubah ayahnya.
"Ayahanda, ibu ada di Istana Fenghuang. Dia sudah pulang. Ayahanda mau menjemputnya ke mana? Kenapa dia harus dijemput?"
Sontak saja Murong Qin membelalakkan mata. Tanpa menghiraukan rengekan putranya, dia langsung berlari ke Istana Fenghuang. Setelah melewati jembatan, Murong Qin langsung menerobos masuk ke dalam istana.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok wanita berjubah perang tengah berdiri menghadap jendela, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Murong Qin terpaku.
"A-Ling...."
Sosok itu berbalik. Murong Qin hampir menangis. Itu adalah dia! Dia benar-benar ada di sini!
Wei Linglong tersenyum menawan.
"Yang Mulia, lama tidak bertemu."
Dia sangat mengkhawatirkannya, merindukannya dan sangat ingin bertemu dengannya lagi.
"Apa yang terjadi? Mengapa mereka bilang kau hilang? Di mana adikku" tanya Murong Qin sambil tak melepaskan pelukannya.
"Aku bertukar tempat dengannya. Kami pulang lewat jalan berbeda. Mungkin mereka berpikir aku ada di dalam kereta itu. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Ah Yan tidak apa-apa. Kami sudah bertemu di pos dekat benteng kota. Mungkin, sebentar lagi dia datang."
Murong Qin menghembuskan napas lega. Syukurlah, istri dan adiknya baik-baik saja.
"Yang Mulia, apa kau ingin melewatkan pertunjukan menarik?"
"Oh? Apa yang kau persiapkan?"
"Ayo, kembali ke Istana Yanzhi!"
Sepasang suami istri yang telah lama berpisah berjalan melewati Danau Dongting, Istana Yanxi, juga beberapa istana lain. Sepuluh menit kemudian, keduanya sampai di pelataran Istana Yanzhi.
Wei Linglong berhenti sejenak. Di depan sana, semua orang tengah berkumpul. Tidak ada yang tenang. Mungkin, kabar tadi membuat mereka semua terkejut dan panik.
Lalu, pandangannya tertuju pada dua wanita yang duduk dengan tenang, tidak seperti yang lain. Wei Linglong menyeringai misterius. Sangat seru jika melihat kedua wanita itu terkejut setengah mati.
"Yang Mulia, mari berikan kejutan untuk istri dan ibu kekaisaranmu."
Murong Qin mengangguk mengerti. Dia berjalan lebih dulu. Kembalinya Kaisar Mingzhu setelah pergi membuat para menteri bertanya-tanya. Mungkinkah kaisar mereka tidak jadi bersedih karena selir tercintanya hilang?
"Yang Mulia, Anda kembali. Apa yang terjadi?" tanya Menteri Lan, ayah Permaisuri Yi.
"Oh, aku lupa memberitahu kalian. Ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan kalian."
Murong Qin kemudian mengarahkan pandangannya ke arah samping Istana Yanzhi. Semua orang menunggu siapakah yang akan muncul dari balik tembok itu.
"Keluarlah," titah Murong Qin.
Kemudian, Wei Linglong berjalan tegas menghampiri semua orang.
"Selir Chun?"
Dapat dilihat bahwa semua orang terkejut, terutama Ibu Suri dan Permaisuri Yi. Kedua wanita itu sampai berdiri untuk memastikan bahwa orang yang berjalan dengan langkah tegap itu adalah Selir Chun atau bukan.
Bagaimana mungkin?
Dengan wajah tengilnya, Wei Linglong melambaikan tangan pada semua orang bak selebriti di atas panggung. Ya, dia selebritinya hari ini. Dia menjadi pusat perhatian karena muncul di samping Istana Yanzhi dan berdiri di samping Kaisar Mingzhu.
"Apa kalian terkejut? Ah, aku lupa. Aku dan Pangeran Kedua telah bertukar tempat. Jadi, kami telah bertukar kereta," ujar wanita itu.
Ibu Suri berdiri lagi. Dia seketika panik. Bertukar kereta? Jadi, yang ada di dalam kereta yang disergap itu adalah putranya, bukan Selir Chun? Ibu Suri langsung lemas. Permaisuri Yi wajahnya pias.
"Kudengar Pangeran Kedua disergap," lanjut Wei Linglong. Dia sangat ingin tertawa ketika melihat wajah Ibu Suri dan menantunya.
"Tapi, aku sudah bertemu dengannya," tambahnya lagi.
"Lalu, di mana Pangeran Kedua sekarang, Selir Chun?" Wei Shiji yang berada di tengah-tengah mereka menambahkan improvisasi.
"Aku di sini!"
Tiba-tiba, semua orang menoleh ke asal suara. Murong Yan melompat turun dari atap Istana Yanzhi. Tingkahnya membuat semua orang tidak bisa berhenti berbicara. Sang Pangeran Kedua langsung menghampiri kakaknya, lalu menunduk memberi hormat.
"Halo, kakak ipar. Kita bertemu lagi," ucap Murong Yan ketika melihat Wei Linglong. Sedari tadi, dia memang sengaja diam di atas atap untuk menyaksikan pertunjukan kedua kakaknya.
Ibu Suri dan Permaisuri Yi tidak bisa berkata-kata. Lidah mereka menjadi kelu karena terkejut. Di hadapan semua orang, keduanya seperti lelucon. Duduk mematung namun tidak tenang.
...***...