The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 33: TIDAK BISA TENANG



Lu San mengantar kepergian Kaisar dan selirnya dengan ucapan terima kasih yang tidak terhingga. Di gerbang perbatasan desa yang gelap gulita itu, dia melihat kereta pengantar menghilang di dalam pekatnya malam. Seulas senyum yang sumringah terukir di wajah mudanya yang sedikit hitam terbakar matahari.


Salju turun kembali. Murong Qin dan Wei Linglong pergi diam-diam dari Desa Jiazhu pada malam hari ketika para penduduk tengah terlelap dalam tidur mereka. Murong Qin berkata bahwa tujuannya datang kemari adalah untuk membantu rakyatnya, bukan ingin mengejutkan mereka. Dia sengaja menyembunyikan identitasnya agar dia dapat bergerak leluasa, meskipun pada akhirnya tetap ketahuan juga.


Para penduduk sudah cukup terkejut dan ketakutan hari ini. Murong Qin tidak ingin para penduduk desa mengalami ketakutan dan kecanggungan yang sama di hari berikutnya. Selain itu, perjalanannya juga masih panjang. Dua minggu menetap di Desa Jiazhu sudah menyita waktu, dia masih harus pergi ke desa-desa lain yang ada di sepanjang aliran sungai.


Murong Qin menyerahkan pembangunan benteng yang sedikit lagi selesai kepada Lu San. Dengan ini, tanggungjawab pembangunan kini berpindah tangan kepada Lu San.


Murong Qin menyerahkan salinan rancangan kepadanya karena rancangan aslinya akan digunakan di desa lain. Dia juga meminta pada Lu San agar para penduduk tidak khawatir dan tidak boleh memberitahukan kepada orang di desa lain kalau dia datang.


Lu San sangat berterima kasih. Tidak disangka, desa yang dia kelola akan didatangi orang terpenting di dinasti ini. Lu San sama sekali tidak menyangka kalau Kaisar akan turun tangan sendiri untuk mengatasi bencana.


Dia rela mengotori tangannya dan membuang tenaganya untuk membantu para penduduk di sini. Bahkan, tidak bertindak apapun ketika para penduduk bersikap tidak sopan kepadanya.


Rumor ternyata hanya sekadar rumor. Orang bilang kalau Kaisar Mingzhu kejam dan sombong, tidak suka berbaur dengan masyarakat dan hanya menikmati posisi untuk dirinya sendiri. Setelah melihat kenyataannya, rumor itu seketika sirna. Kaisar Mingzhu ternyata adalah orang yang sederhana dan baik hati, serta memiliki kemampuan pengendalian diri yang luar biasa.


Memang layak menjadi seorang Kaisar yang agung.


Di dalam kereta, Murong Qin dan Wei Linglong duduk berhadapan. Wanita itu menekuk wajahnya. Dia kelelahan karena seharian ini belum beristirahat sama sekali. Wei Linglong sempat protes dan ingin menunda keberangkatan hingga esok pagi, tetapi Murong Qin menolaknya dengan tegas.


“Kita tidak punya banyak waktu. Masih banyak tempat dan banyak hal yang harus diselesaikan.”


Wei Linglong hanya cemberut ketika Murong Qin berbicara seperti itu. Perkataannya sama sekali bukan untuk menghibur dirinya. Emosinya yang labil telah membuatnya lelah. Suami Kaisarnya malah bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


“Kalau kau lelah, tidurlah. Esok mungkin kita akan sampai di desa berikutnya.”


Tidak ada tanggapan. Wei Linglong membalikkan tubuhnya, membelakangi Murong Qin dengan wajah ditekuk dan menggelap. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah merasa dimanfaatkan orang seperti ini. Saat dia menjadi relawan pun, dia punya waktu istirahat yang cukup. Orang ini malah menganggapnya seperti robot yang terbuat dari mesin.


Baru saja Wei Linglong memejamkan mata, suara gemuruh yang aneh tiba-tiba terdengar. Setelah gemuruh, tiba-tiba tanah bergetar. Tanah seperti digoncangkan dengan hebat. Suara gemuruh kemudian terdengar kembali, disusul oleh suara lain seperti suara batu-batu yang terjatuh.


Murong Qin juga merasakan hal yang sama. Dia berpegangan pada badan kereta, mencoba bersikap tenang dan menganalisis kemungkinan yang terjadi. Kusir kuda yang duduk di depan kereta tiba-tiba berteriak panik.


“Yang Mulia! Tebing ini akan longsor!”


Wei Linglong dan Murong Qin mengintip lewat jendela kereta. Mereka tengah berada di sebuah jalan sempit yang dikelilingi tebing yang tinggi. Di sisi lain, ada jurang yang sangat besar dan dalam. Malam gelap gulita menjadi mencekam. Hujan salju yang turun sama sekali tidak memberikan ketenangan.


Kusir itu mencoba mengendalikan kuda agar berlari lebih cepat. Sebisa mungkin, dia berusaha menghindari reruntuhan tebing yang hendak menimpa mereka. Jalan yang tertutup salju sedikit menghambat pergerakan roda kereta. Keringat dingin mengucur di tubuh kusir itu. Tampak jelas bahwa dia sedang berusaha menahan takut.


Situasi saat itu begitu sulit. Kereta kuda lain, yang ditumpangi oleh Xiaotan juga sedang berusaha menyelamatkan diri. Keempat orang itu sedang bertaruh antara hidup dan mati. Reruntuhan tebing mulai berjatuhan lagi, menimbulkan suara gemuruh yang menggelegar di malam yang sunyi.


“A-Ling, lompat!”


Murong Qin mendorong Wei Linglong keluar dari kereta dengan tenaga dalamnya. Wanita itu terbang, terpental cukup jauh dari lokasi reruntuhan tebing bersalju. Murong Qin kemudian mendorong kusir, lalu melompat keluar dari kereta.


Dia menarik kuda kereta di belakangnya, kemudian mengirim Xiaotan dan kusir lainnya ke tempat yang sama dengan Wei Linglong. Setelah memastika semuanya aman, dia menggunakan ilmu meringankan tubuh dan terbang menyusul yang lainnya.


Tebing bersalju yang tinggi telah runtuh. Batu-batu besar dan longsoran tanah menimpa dua kereta beserta kudanya. Jalan menuju Desa Jiazhu terputus begitu saja. Murong Qin menghampiri Wei Linglong yang sedang telungkup di atas tumpukan salju, kemudian Xiaotan datang membantu wanita itu berdiri.


Wajah Wei Linglong dipenuhi dengan butiran salju. Alisnya bahkan memutih karena butiran-butiran es itu tersangkut di sana. Bekas tempat dia terjatuh meninggalkan jejak seperti gambar yang agak berantakan. Wei Linglong membersihkan wajahnya, kemudian mendelik pada Murong Qin.


“Kau mendorongku terlalu keras!”


“Kau baik-baik saja?”


“Kalau aku tidak mendorongmu, kita mungkin sudah tertimbun reruntuhan salju!”


Wei Linglong mendengus. Sekarang, kereta beserta kudanya sudah tertimbun. Hari juga sudah sangat larut. Selain itu, hujan salju terus turun tanpa henti. Suhu udara menjadi sangat dingin. Mereka tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tengah hujan salju malam dengan keadaan seperti ini.


Aneh, mengapa tebing ini tiba-tiba runtuh? Padahal, hanya hujan salju saja, tidak sampai disertai dengan badai atau gempa bumi. Kalaupun tebingnya tidak mampu menahan beratnya tumpukan salju, mungkin hanya akan terjadi longsoran kecil saja, tidak sampai runtuh seperti itu.


Penasaran dengan hal tersebut, Wei Linglong kemudian menatap puncak tebing yang masih tersisa. Di tengah kegelapan malam yang gulita, dia melihat beberapa cahaya bergerak-gerak menjauh dengan terburu-buru. Cahaya itu dinamis, sepertinya adalah api dari obor yang dibawa beberapa orang.


“Yang Mulia, lihat ke sana!” tunjuk Wei Linglong.


Murong Qin langsung tahu bahwa cahaya itu adalah obor yang dibawa orang. Seketika, wajahnya berubah dingin dan menakutkan. Sial, ternyata ada orang yang sengaja meruntuhkan tebing ini!


Ada orang yang ingin mencelakainya, sengaja ingin menguburnya hidup-hidup. Kalau dia mati, maka orang itu akan selamat karena yang lainnya akan menganggap bahwa semua itu disebabkan oleh bencana tebing longsor, padahal jelas-jelas merupakan sebuah upaya pembunuhan.


Untunglah, bela dirinya tinggi hingga dia dapat mengirim semua orang yang ikut bersamanya ke tempat yang aman. Murong Qin marah, dia ingin sekali membunuh orang-orang itu dengan pedangnya. Namun, sekarang menyelamatkan diri adalah hal yang terpenting. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena dia ceroboh sesaat hingga kewaspadaannya sedikit berkurang.


“Lebih baik mencari tempat untuk berteduh,” ucap Murong Qin kemudian. Saat ini, menjaga ketenangan pikiran dan tindakan perlu dilakukan agar orang-orang yang ada di dekatnya tidak panik.


Tidak jauh dari tempat mereka berkumpul, sebuah gua yang terbentuk alami dari bebatuan terlihat. Cahaya dari obor kecil yang dinyalakan dua kusir kuda menerangi jalan menuju tempat itu. Syukurlah, setidaknya mereka tidak akan kedinginan malam ini. Dengan langkah cepat dan hati-hati, Murong Qin membawa mereka masuk ke dalam gua.


Setelah itu, dia menyuruh dua kusir menyalakan api untuk menghangatkan tubuh. Rerumputan kering yang ada di sana dikumpulkan, kemudian dibentuk dan difungsikan sebagai alas tidur. Sepertinya, gua ini adalah tempat yang sering digunakan untuk berlindung dan singgah.


Murong Qin keluar sebentar. Di depan pintu masuk gua, dia mengeluarkan suatu benda yang panjangnya satu jengkal, kemudian mengeluarkan benang yang berfungsi sebagai sumbu. Api dari pemantik bambu membakar sumbu tersebut. Tidak lama kemudian, sebuah cahaya terang melesat dari dalam benda tersebut dan meledak di udara.


Beberapa orang berseragam khusus yang sedang berteduh di bawah pohon langsung berdiri saat mereka melihat suar yang menyala di udara. Mereka segera bersiap karena sinyal darurat telah dinyalakan oleh atasan mereka. Dalam sekejap, orang-orang itu sudah menghilang di kegelapan malam seperti bayangan yang melesat secepat kilat.


Wei Shiji baru saja sampai ke penginapan di pinggir hutan ketika dia mendapatkan kabar dari seorang bawahan kepercayaannya. Di kamar yang sempat ditempati Murong Qin beberapa minggu lalu, Wei Shiji berdiri membelakangi bawahannya. Dia menghadap jendela yang terbuka, yang menampilkan pemandangan gelapnya hutan dan salju yang turun dengan lebat.


“Tuan, Yang Mulia dan Selir Chun mengalami kendala. Tebing yang mereka lewati runtuh.”


“Apa mereka baik-baik saja?”


“Ya, Tuan. Yang Mulia mendorong Selir Chun dan tiga orang lainnya ke tempat yang jauh dari reruntuhan tebing.”


“Hm. Aku mengerti. Apa ada hal yang lainnya?”


“Itu…itu…”


“Katakan dengan jelas!”


“Ada beberapa orang tidak dikenal berlarian di atas tebing. Sepertinya mereka yang telah membuat tebing tersebut runtuh.”


“Baiklah. Urus orang-orang itu, jangan sisakan satu orang pun!”


“Baik, Tuan.”


Setelah bawahannya pergi, Wei Shiji menghembuskan napas kesal. Sial, ternyata ada orang yang mau membunuh adik dan adik iparnya. Meskipun hubungannya dengan Murong Qin tidak terlalu baik, tetapi pria itu adalah pria yang telah menyelamatkan adiknya dari kehancuran dan mau menerimanya sebagai selir meskipun harus mengorbankan pekerjaan ayahnya.


Tampaknya, ada orang yang tidak bisa duduk dengan tenang melihat keberhasilan Murong Qin dan Wei Linglong di Desa Jiazhu. Baiklah, biarkan mereka menyelesaikan urusan kenegaraannya. Wei Shiji akan dengan senang hati bermain-main dengan orang-orang tidak tahu malu yang hendak mencelakai mereka. Dia akan kembali bertindak di belakang layar.


...***...