The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 47: PERINGATAN KECIL



“Maksudmu, pencuri itu adalah pelayan pria dari Istana Dalam?”


“Benar, Nyonya. Salah seorang temanku di Istana Dalam memberitahu kalau ada pelayan pria yang dihukum pukul karena gagal menjalankan tugas.”


“Apa dia sudah mati?”


“Tidak. Permaisuri Yi menyelamatkan hidupnya.”


“Apa Kaisar mengetahuinya?”


“Sepertinya belum, Nyonya. Yang Mulia sibuk di pengadilan istana pagi ini.”


Wei Linglong menggeram kesal hingga gunting tanaman yang ada di tangannya terlempar. Dia mendapat laporan dari Xiaolan ketika dia sedang memangkas bunga-bunga mahalnya. Rupanya, pencuri dan pembunuh itu adalah pelayan pria dari kediaman Permaisuri Yi.


“Baiklah, gagak betina. Aku akan menemani kalian bermain!”


Xiaolan lebih pintar dari Xiaotan. Pelayan barunya itu memiliki banyak koneksi di istana karena dia sudah bekerja lebih lama dari Xiaotan. Xiaolan seorang yatim piatu yang menjadi pelayan setelah mengalami berbagai rintangan dan beberapa kali pindah majikan. Setiap kali mendapat majikan baru, dia tidak bisa bertahan lama karena mereka sangat kejam dan menyebalkan.


Sejak Xiaolan datang ke istananya beberapa hari lalu, Wei Linglong langsung tahu kalau pelayan itu bisa diandalkan. Kebetulan, dia juga membutuhkan seseorang yang bisa memberinya banyak informasi. Xiaolan akan menjadi mata dan telinganya untuk memperoleh informasi dan situasi dari luar, sementara Xiaotan akan tetap menjadi pelayan pribadinya yang mengurusi keperluannya.


“Apa yang akan nyonya lakukan?”


“Aku? Tentu saja membalas mereka.”


“Nyonya ingin bagaimana membalas mereka?”


“Aku punya caraku sendiri. Karena orang itu adalah Permaisuri Yi, di belakangnya pasti ada Ibu Suri. Aku akan memberikan kejutan kepada mereka berdua.”


Wei Linglong menyerahkan pekerjaannya pada Xiaolan.


“Lanjutkan. Ingat, jangan memotong bagian yang bisa merusak keindahannya.”


“Nyonya mau ke mana?”


“Istana Dingin.”


Meski tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh majikannya, Xiaolan hanya bisa membiarkannya pergi. Wei Linglong bergegas ke Istana Dingin disusul oleh Xiaotan. Sepasang majikan-pelayan itu berjalan sangat cepat seperti dikejar hantu. Jembatan Danau Dongting dilewati secepat kilat, kemudian berbelok ke arah kiri.


Setelah melewati empat taman besar dan tiga istana, keduanya sampai di pintu gerbang yang tertutup. Sudah beberapa bulan sejak dia dipaksa keluar dari tempat ini, dia belum mendatanginya lagi. Gerbang hitam itu tampak mengerikan seolah-olah sesuatu yang menyeramkan sedang menanti di dalam sana.


Begitu gerbang dibuka, Kasim Du sedang malas-malasan di koridor. Kasim sialan itu langsung berdiri, menyambut kedatangan Wei Linglong dengan terburu-buru. Wei Linglong berdiri di halaman, kemudian langsung menyambar kerah baju Kasim Du hingga tubuh kasim itu sedikit terangkat.


“Nyo-nyonya, ada apa?” tanyanya takut.


“Kasim sialan! Beraninya kau menjadi mata-mata gagak dan perkutut betina itu!”


“Hamba-hamba tidak mengerti maksud nyonya Chun.”


“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau melaporkan semuanya kepada Ibu Suri dan Permaisuri Yi?”


“Ampuni kasim kecil ini, Nyonya. Aku hanya menjalankan perintah.”


Wei Linglong menghembuskan napasnya dengan kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Kasim Du menunduk, merasa bersalah pada nyonya yang memperlakukannya dengan baik selama berada di dalam Istana Dingin. Sungguh, dia tidak berniat mengkhianati Wei Linglong, tetapi dia diancam oleh Permaisuri Yi dan Ibu Suri hingga dia tidak punya pilihan.


“Kalau kau ingin aku mengampunimu, cepat bersihkan kebunku! Kau membiarkannya terbengkalai setelah aku pergi, bahkan di musim dingin kau juga mengabaikannya. Tanam kembali semua tanaman yang sudah mati, lalu masukkan yang masih tersisa ke dalam keranjang dan kirimkan ke Istana Dalam!”


Kasim Du terkejut. Dia tidak mengerti maksud perkataan dari Selir Chun ini.


“Katakan pada majikanmu, ini adalah hadiah dariku!”


Kasim Du menuruti perintah. Dia segera pergi ke area belakang Istana Dingin dan meminta beberapa bawahannya untuk membantunya. Masih ada beberapa sayuran seperti wortel dan lobak yang masih tersisa setelah musim dingin sambil diawasi Wei Linglong.


“Nyonya, semuanya sudah selesai.”


“Baik. Kirimkan ke Istana Dalam sekarang! Kalian, bersihkan kebunku dan tanam kembali!”


Kasim Du mengendong sekeranjang wortel dan lobak, membawanya menuju Istana Dalam. Salahnya sendiri karena telah menjadi mata-mata. Pelajaran yang diberikan oleh Selir Chun lebih menakutkan daripada ancaman wanita pemilik kursi tertinggi istana itu. Selir Chun lebih berkemampuan untuk mengacaukan segalanya hanya dalam satu kali tindakan.


Setelah Kasim Du pergi, Wei Linglong mengunjungi danau kecil yang jernih di belakang Istana Dingin. Di bawah sinar matahari yang hangat, dia bisa mengenang kembali kehidupan pertamanya saat datang kemari. Wei Linglong menertawakan dirinya sendiri yang bodoh karena berpikir untuk bunuh diri di sana, kemudian berakhir dengan menjual akar teratai yang mempertemukannya dengan Murong Qin. Danau dangkal itu adalah salah satu bagian sejarah hidupnya.


Suasana hati Wei Linglong yang semula buruk perlahan membaik. Udara di Istana Dingin cukup segar. Walau suasananya sepi, tetapi momen tersebut begitu cocok untuk menenangkan suasana hati yang sedang kacau diliputi kemarahan. Istana Fenghuang sebenarnya tak kalah damai meskipun kedatangan beberapa orang, hanya saja di sini, Wei Linglong baru benar-benar merasa tenang.


“Nyonya, apa Xiaotan perlu mengambil beberapa akar teratai lagi untuk dijual?” tanya Xiaotan dengan polos.


“Tidak. Aku tidak mau bertemu Murong Qin yang kedua atau ketiga.”


Xiaotan hanya mengangguk.


...***...


“Apa? Yang Mulia yang menyelamatkannya?”


Seorang pelayan wanita mengangguk ketakutan. Permaisuri Yi melemparkan satu set peralatan teh di mejanya hingga pecah. Wajahnya yang cantik dipolesi bedak menjadi merah. Suaranya meninggi, dadanya naik turun menahan amarah. Mahkota permaisuri di kepalanya bergoyang.


Dia marah, sangat marah. Orang yang menyelamatkan Wei Linglong ternyata Kaisar sendiri. Selama tujuh tahun, Permaisuri Yi hanya melihat kalau pria itu begitu kejam dan dingin. Orang kecil yang bertindak kurang ajar atau tidak penting tidak pernah dia pedulikan.


Bahkan, dia sebagai istri sahnya saja selalu diabaikan. Selama tujuh tahun menjadi permaisuri, wanita bernama lengkap Xuan Suyi itu hanya tiga kali masuk ke dalam Istana Yanxi, itu pun dengan memaksa dan mempertaruhkan nyawa. Kaisar yang menjadi suaminya tidak pernah ingin berbicara banyak kepadanya, menutup diri dari harem dan mengabaikan semua istrinya.


Berbincang seperlunya di saat perjamuan penting dan duduk di sampingnya sebagai formalitas sungguh menyakitkan hati. Permaisuri Yi mati-matian berjuang naik ke dalam posisinya, bekerja sama dengan Ibu Suri hanya agar Murong Qin bisa memandangnya. Dia berpikir bahwa jika dia menguasai harem dengan baik, Murong Qin akan mengetahui hatinya.


Siapa yang tahu kalau pria itu malah menganggapnya tak pernah ada. Penolakan menyakitkan itu berulang selama tujuh tahun. Hanya dengan bersikap kejam, dia baru bisa menyadarkan diri untuk tidak terbuai dengan sesuatu yang hanya menjadi bayangan dan angan-angan saja.


Atas dasar apa Murong Qin menyelamatkan wanita itu?


Setelah mendengar laporan dari pelayannya, Permaisuri Yi merasa kalau tindakan pelayan prianya tempo hari adalah benar. Seharusnya dia menyuruh pelayan prianya untuk sekalian membakar Istana Fenghuang saja. Atau, dia bisa langsung turun tangan sendiri jika dia tidak percaya.


“Di mana Mo Jin sekarang?”


“Mo Jin sedang memulihkan diri di kamarnya, Permaisuri.”


Permaisuri Yi mengusap wajahnya dengan kasar. Dia baru saja menyelamatkan Mo Jin, pelayan prianya itu dari kematian. Ibu Suri menghukumnya dengan pukulan sebanyak tiga puluh kali sebagai balasan karena tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. Seandainya Mo Jin lebih berhati-hati dan tidak mengambil buku laporan yang salah, Permaisuri Yi juga tidak perlu sakit kepala seperti ini.


Segalanya menjadi tambah runyam sekarang. Kalau sampai Kaisar tahu, seluruh istana harem akan berada dalam masalah. Permaisuri Yi seribu kali lebih khawatir setelah tahu penyelamat Wei Linglong adalah Kaisar sendiri. Dengan temperamennya itu, dia yakin kalau Murong Qin akan menyelidikinya sampai jelas.


Dia sudah marah karena tertipu, khawatir ketahuan, sekarang harus marah lagi karena berita wanita itu selamat!


Tidak bisa, dia tidak bisa menyerah sekarang. Permaisuri Yi masih harus mempertahankan posisinya di kursi tertinggi. Selir Chun, sebenarnya bukan apa-apa. Dia akan mencari cara lain untuk menyingkirkannya lain hari. Kebencian di dalam hatinya entah sudah tumbuh sejak kapan.


“Permaisuri, Kasim Du dari Istana Dingin memohon untuk melapor.”


“Ada apa?”


“Dia berkata dia membawa hadiah dari seseorang, sekarang menunggu di depan istana.”


Permaisuri Yi meskipun enggan, tetap akan menemui kasim itu. Namun, dia malah semakin marah saat melihat sekeranjang wortel dan lobak busuk yang dipersembahkan kepadanya. Seluruh darahnya sudah mendidih.


“Selir Chun! Dia ingin membuatku mati berdiri!”


...***...


...Panas, Permaisuri Yi panas tuh! ...