
Istana Fenghuang, satu minggu kemudian.
Musim semi di Yuan sudah mulai menaiki puncak. Ada banyak bunga yang bermekaran di taman-taman istana, ada banyak pepohonan yang menumbuhkan daun muda di ujung ranting mereka. Harum aroma bunga-bunga itu menyambangi hidung setiap hari, dari pagi hingga malam hari.
Semua keindahan ada pada tempatnya.
Istana Fenghuang hanya salah satunya. Halaman istana yang luas dihiasi berbagai tanaman dan bunga-bunga yang indah sebagai hasil jerih payah pemiliknya selama beberapa bulan ini. Di sepanjang jalan menuju pintu masuk bangunan istana, pot-pot tanah liat dan keramik menjadi pagar hidup yang berjajar hingga ke bagian tepi.
Sang pemilik istana tampak sedang menikmati hari di atas ayunan kayu. Udara segar memanjakan organ pernapasannya, melegakan paru-paru dan membugarkan tubuhnya. Metabolisme sempurna tengah berlangsung di dalam tubuhnya, menghasilkan tenaga melalui respirasi sel yang berlangsung setiap saat.
Wei Linglong meraba lengan kanannya yang masih terbungkus kain kasa. Luka jahitan sudah mengering, namun belum sepenuhnya sembuh. Rasa sakit seperti ngilu seringkali datang setiap kali Xiaotan menaburkan obat dan mengganti kain kasanya dengan yang baru.
Setiap hari, dia akan menghabiskan harinya di taman ini sampai sore. Upacara pembajakan musim semi sudah berakhir dengan pembagian bibit tanaman tiga hari setelah hari penyerangan.
Dengan kata lain, tugasnya sebagai
penanggungjawab sudah selesai. Wei Linglong hanya perlu beristirahat untuk memulihkan diri.
Setiap hari pula, Murong Qin akan menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Setiap kali berkunjung, pria dua puluh delapan—dua puluh sembilan tahun tersebut akan bertanya kondisinya dan apakah ada sesuatu yang dia inginkan. Pria itu juga sering membawa hadiah untuknya.
Dalam beberapa bulan, pria itu sudah berubah. Orang yang semula begitu dingin bagaikan es kini menjadi lebih hangat. Mulutnya yang kejam sudah jarang mengeluarkan kata-kata tajam. Sebaliknya, sekarang dia sedikit berubah jadi pembicara yang manis.
Tetapi, itu hanya bisa dilihat ketika dia berinteraksi dengan Wei Linglong saja. Saat di luar Istana Fenghuang, dia akan kembali menjadi dirinya sebagai Kaisar Mingzhu yang dingin dan berhati keras.
Wei Linglong masih tidak mengerti apa yang menyebabkan perubahan sebesar itu. Kehadirannya di dunia ini telah merubah banyak hal. Dia seperti variabel luar yang mempengaruhi variabel internal.
Jika hidupnya dibarengi dengan dunia sistem, Wei Linglong mungkin bisa menjadi pemain terkuat yang mampu menaklukan seorang objek Kaisar dalam waktu enam bulan.
“Nyonya, Pangeran Sulung hari ini belajar bersama Perdana Menteri Xu,” ucap Xiaolan sembari mengantarkan camilan.
“Mengapa? Perdana Menteri Xu itu selalu bertentangan dengan ayahku dulu. Aku takut Xiao Yu mendapat pengaruh buruk darinya.”
“Perdana Menteri Xu tidak akan berani lagi. Beberapa minggu yang lalu Yang Mulia Kaisar memarahinya dengan melemparkan buku laporan yang nyonya tulis ke depannya. Nyonya tahu, semua menteri kekaisaran juga ikut melihat laporan tersebut.”
“Ah, laporan itu ya. Aku bahkan tidak tahu kalau Murong Qin akan menunjukkannya di pengadilan. Laporan jurnal ilmiahku jelas-jelas lebih bagus dari laporan itu!”
Xiaolan hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah berada di sisi Wei Linglong selama beberapa minggu, tetapi sudah merasa sangat nyaman karena majikan barunya itu begitu terbuka dan tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Tidak ada kedok yang dipakai di wajahnya, dalam artian Xiaolan tahu kalau Wei Linglong tidaklah bermuka dua seperti selir lain. Dia bisa sepenuh hati bekerja untuknya.
“Jangan terlalu emosi,” ucap seseorang.
Murong Qin datang bersama Liu Ting. Seperti biasa, pria itu akan mengunjunginya setiap siang hari seusai pengadilan istana selesai. Meskipun berkali-kali melihatnya, Wei Linglong selalu merasa kalau Murong Qin tetap menawan dalam tampilannya.
“Yang Mulia, kau di sini?”
“Aku yang menyuruh Perdana Menteri Xu untuk mengajarinya.”
“Mengapa?”
“Dia sudah saatnya belajar banyak hal.”
Ada yang aneh dari perkataannya ini. Usia Murong Yu baru tujuh tahun dan baru akan memasuki usia delapan tahun. Usia ini tidak bisa dipakai untuk memaksakan berbagai ilmu masuk ke dalam otaknya, karena anak ini bisa saja tertekan.
Bukan pelajarannya yang bersarang, bisa jadi dia hanya mendengarkan dengan telinganya saja tanpa memasukannya ke dalam hati.
Tetapi, Wei Linglong lupa kalau ini adalah zaman tujuh ratus dua puluh satu tahun dari zamannya. Pendidikan anak, terutama keluarga bangsawan dan kerajaan, selalu dimulai lebih awal. Pihak keluarga sering mengirim anak laki-laki mereka ke akademi atau mengundang seorang guru untuk mengajarinya secara pribadi.
Murong Yu juga tidak masuk dalam pengecualian. Jika dipikirkan lebih matang, latar belakangnya begitu mulia. Terlebih lagi, dia seorang pangeran, anak pertama dari seorang kaisar. Tanggung jawabnya yang berat bersarang di pundaknya yang kecil.
Bisa jadi sebelum Wei Linglong datang ke sini, bocah kecil itu sudah mendapat banyak pengajaran dari orang lain. Cara bicaranya yang seperti orang dewasa, sikap angkuhnya, serta pemikirannya yang tajam menunjukkan bahwa di otaknya telah tersimpan memori mengenai kehidupan ini. Entah berapa banyak buku yang sudah dia baca di usianya yang masih sangat belia ini.
“Yang Mulia ingin menjadikannya penerus takhta?” tanya Wei Linglong setelah lama berpikir.
“Masih terlalu dini untuk mengangkat seorang putra mahkota.”
Benar juga. Usia Murong Qin masih muda, umur pemerintahannya juga masih seumur jagung. Mengangkat seorang calon penerus takhta memerlukan banyak pertimbangan. Putra mahkota bukanlah sesuatu yang bisa diangkat hanya karena seorang kaisar menginginkannya. Terlalu dini menunjuk penerus takhta juga bukan hal baik.
“Dengan tempramen Yang Mulia ini, aku yakin kau tidak akan punya kandidat lain,” seloroh Wei Linglong sambil menikmati camilannya.
“Mengapa kau begitu yakin?”
“Karena tidak mungkin muncul pangeran lain dalam era ini. Kecuali jika Yang Mulia mengangkat kerabat, tapi tidak mungkin juga.”
Murong Qin tersenyum kecil. Perkataan selirnya benar. Dia tidak punya kandidat lain selain Murong Yu ketika dia hendak menentukan calon penerus takhta. Tidak akan pernah ada pangeran lain yang lahir dari rahim Permaisuri Yi maupun dari rahim para penghuni harem. Semua orang tahu akan hal itu.
“Benarkah? Bagaimana jika ada pangeran yang lahir dari rahimmu?”
Wei Linglong tersedak perkataan Murong Qin. Dia terbatuk-batuk sampai menumpahkan makanan yang masuk ke mulutnya. Apa pria ini sudah gila? Apa kepalanya terlalu banyak memikirkan urusan negara hingga syaraf otaknya bermasalah?
“Bagaimana bisa ada pangeran dari rahimku? Yang Mulia sepertinya terlalu banyak memikirkan urusan negara hingga otakmu sedikit bermasalah.”
“A-Ling, aku serius!”
“Liu Ting, Yang Mulia sepertinya kelelahan. Kau lihat, bicaranya sudah melantur!”
Liu Ting hanya terdiam sambil tersenyum. Perkataan kaisarnya tidak seperti sebuah candaan. Lagipula, perkataan seorang Kaisar mana ada yang tidak serius.
“Lagipula, jika aku melahirkan, aku akan melahirkan bayi perempuan!”
“A-Ling, aku benar-benar serius!”
Wei Linglong mulai kebingungan. Murong Qin menatapnya lekat-lekat seperti sedang mencari sesuatu di wajahnya. Pria ini sedang tidak bercanda. Perkataannya terdengar sangat serius. Saking seriusnya, Wei Linglong sampai tidak tahu harus menjawab apa.
“Apa kau belum memahami maksudku? A-Ling, aku menyukaimu!”
Frasa terakhir yang dikatakan oleh pria itu seperti sebuah sambaran petir di siang bolong. Wei Linglong terpaku, tatapannya kosong dalam seketika. Kata-kata yang paling ingin dia hindari selama ini akhirnya terlontar juga. Jika itu menimpa wanita lain, itu merupakan sebuah kebahagiaan. Tetapi bagi Wei Linglong, itu adalah sebuah bencana.
“Yang Mulia tidak sedang bercanda denganku, kan?”
“Aku serius!”
“Tapi, aku tidak menyukaimu. Apa mungkin Yang Mulia sedang linglung?”
“Aku selalu tahu perasaan dan hatiku sendiri. A-Ling, aku benar-benar menyukaimu.”
“Lalu aku harus apa? Apa Yang Mulia akan membunuhku?”
Murong Qin tersenyum tulus. Sejak dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima semua kemungkinan yang terjadi, termasuk jika wanita itu menolaknya. Murong Qin sudah menduga kalau Wei Linglong pasti akan menolak pernyataannya. Jadi, dia sudah bersiap jika dia harus menelan kekecewaan.
Di dunia ini siapa yang tidak menginginkan hati seorang Kaisar Mingzhu. Mendapatkan hati Kaisar sama seperti mendapatkan dunia. Itu berlaku bagi siapapun, baik pria maupun wanita di segala usia. Sekarang, seorang wanita telah menempati takhta itu, tetapi tidak mau mendapatkan dunia yang ada di genggamannya.
“Apa dengan membunuhmu perasaanku bisa terbalas?”
“Yang Mulia tidak marah?”
“A-Ling, kau juga tahu kalau aku bukanlah orang yang berpikiran sempit. Lagipula, perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku tidak akan menuntutmu untuk membalasku, tetapi aku akan berusaha semampuku. Aku akan memahami dirimu, kau juga bisa belajar memahamiku. Pada saatnya nanti, kau harus punya jawaban yang aku inginkan.”
Wei Linglong belum bisa meraba hatinya sendiri setelah Murong Qin mengatakan kalimat terpanjang dari seluruh pembicaraannya selama ini. Dia masih bimbang dengan perasaannya. Selama ini, dia hanya menganggap Murong Qin sebagai teman, sebagai satu-satunya pria dewasa yang dia percaya. Dia memang merasa nyaman dan aman di dekat pria itu, tetapi perihal rasa suka, dia belum bisa mendapatkan jawabannya saat ini.
Daripada memberinya harapan palsu, lebih baik Wei Linglong memberinya penegasan sekaligus. Anehnya, dia tidak melihat kesedihan di wajah pria itu. Penolakannya seperti suatu hal yang sudah biasa dia hadapi. Wei Linglong sedikit merasa bersalah, tetapi dia tidak mampu mengungkapkan apapun.
“Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja pelan-pelan.”
“Yang Mulia, aku-”
“Sudah kubilang aku tidak akan menuntutmu. Kau bisa hidup sesuai dengan yang kau inginkan di sini. Jadi, jangan jadikan pernyataanku sebagai beban pikiran.”
“Yang Mulia, terima kasih karena kau sudah mau mengerti.”
“Tidak apa-apa. Aku akan pergi dulu, masih ada urusan yang harus aku tangani.”
Wei Linglong masih bergeming bahkan setelah Murong Qin pergi meninggalkan istananya. Di satu sisi, dia bersyukur karena pria itu tidak memaksakan kehendaknya, tetapi di sisi lain dia merasa bersalah karena menolak seorang Kaisar Mingzhu.
“Xiaolan, Yang Mulia romantis sekali! Dia mengungkapkan cintanya pada nyonya!” ucap Xiaotan yang diam-diam memperhatikan majikan mereka beberapa saat yang lalu.
“Sayang sekali, nyonya tidak mengenali hatinya sendiri. Hanya bisa menunggu waktu sampai dia benar-benar menyadari perasaannya.”
“Nyonyaku yang malang ini akhirnya memiliki seorang pria yang mencintainya. Keberuntungannya sangat bagus.”
Kedua pelayan itu kemudian meninggalkan majikan mereka, membiarkannya menikmati hati sambil bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri.
Benar-benar pelayan yang perhatian!
...***...
...Yeay akhirnya Murong Qin udah bucin nih sama Linglong! Tapi sayang, dia ditolak sama doinya. Nah, di episode berikutnya, Linglong bakal dapat kejutan lain dari Murong Qin. Stay tune terus para kesayangan Author! ...