The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 77: KENCAN MUSIM PANAS



Kota Yongji yang cerah tengah disinari cahaya matahari. Siang ini, para penduduk kota tampak sibuk mempersiapkan sebuah festival musim panas yang rutin diadakan setiap tahun. Mereka berlalu-lalang dari utara ke selatan, dari selatan ke utara. Ada beberapa pedagang dari luar negeri, ada juga pedagang lokal yang tengah bernegosiasi dengan calon pembelinya.


Adegan itu membuat Wei Linglong mengingat momen ketika dirinya menjual akar teratai saat baru tiba di sini. Dia tersenyum kala otaknya memutar ulang kejadian saat dia menipu Murong Qin dengan bualannya, yang telah memberinya dua juta dolar. Kejadian itulah yang mengantarkan dia pada pria itu sekarang, pria yang telah membuatnya melabuhkan hatinya di negeri asing ini.


Wei Linglong menikmati sesi jalan-jalannya bersama Murong Qin. Pakaian musim panasnya berkibar tertiup angin, rambutnya terbang. Sosoknya yang ramping dengan tinggi semampai membuat Wei Linglong benar-benar tampak seperti seorang dewi dari langit yang turun di tengah musim panas. Dia berjalan ke sana kemari, melihat-lihat beberapa perhiasan dan aksesoris yang dijual di pinggir jalan.


Murong Qin mengikutinya dari belakang. Terakhir kali, dia dipanggil paman oleh wanita itu. Itu adalah momen beberapa bulan ke belakang, ketika mereka baru pulang menziarahi makam Tuan Bai sang penasihat pribadi Murong Qin yang baik hati. Kala itu, Murong Qin sedang dilanda kebingungan, beruntung dia bertemu dengan Wei Linglong hingga dia bisa mengendalikan kesedihannya dengan menempatkan wanita itu di sisinya. Saat itu, dia belum tahu kalau dia telah jatuh cinta kepadanya.


"Yang Mulia!" panggil Wei Linglong.


"Panggil aku Tuan Muda atau nama. Ini di luar istana, kau tidak boleh membocorkan identitas jika ingin berjalan-jalan dengan santai," tukas Murong Qin pelan.


"Oh, benar. Aku hampir lupa."


Wei Linglong memintanya membelikan sebuah tusuk rambut berwarna perak dari seorang pedagang. Tusuk rambut perak tersebut dihargai sebanyak dua tael, harga yang cukup mahal untuk sebuah tusuk rambut pada umumnya. Ada ukiran bunga azalea di ujungnya, lalu di ujung tersebut juga terdapat untaian panjang yang menjulur dengan warna serupa. Indah, mempesona, tampak elegan ketika dipasangkan dengan beberapa aksesoris kepala yang lain.


"Di istana, ada banyak tusuk rambu seperti ini. Bahkan lebih bagus, lebih mahal, dan lebih berkualitas. Untuk apa kau membelinya dari luar?" tanya Murong Qin.


"Barang-barang di istana memang bagus. Tetapi aku tidak pernah memiliki rasa suka yang begitu besar seperti pada tusuk rambut ini. Yang Mulia, apa kau tahu mengapa?"


Murong Qin menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang membuat wanita ini begitu menyukai tusuk rambut perak dari jalanan itu. Wei Linglong meraih sebuah tusuk rambut pria sederhana yang tampak elegan, lalu memakaikannya ke kepala Murong Qin.


"Sangat cocok!" ujarnya kegirangan.


"Wah, selera nona memang bagus. Tusuk rambut ini baru datang dari wilayah utara, memang sangat cocok dengan perawakan tuan muda," ucap si pedagang yang bergembira karena sepertinya seorang nona muda kaya akan membeli dagangannya.


"Daerah utara? Maksudmu, Jiangzhou?" tanya Wei Linglong.


"Haiya, nona. Saya tidak tahu apa itu Jiangzhou. Tapi tusuk rambut ini memang berasal dari utara," si pedagang menambahkan.


Wei Linglong menghadapkan tubuhnya ke Murong Qin, lalu tangannya meminta sesuatu. Seperti yang ia duga, wanita ini pasti sengaja tidak membawa uang. Murong Qin mengeluarkan satu keping uang perak, yang membuat si pedagang membelalakkan mata.


"Tuan, ini terlalu banyak."


Murong Qin mengangkat tangannya tanda bahwa pedagang itu tidak boleh protes. Karena istrinya menyukainya, harga sekecil itu bukan masalah. Tusuk rambut di istana yang mahal juga kalah dengan tusuk rambut seharga dua sen pemberian Wei Linglong.


"Mengapa daerah utara bisa menghasilkan tusuk rambut? Bukankah mayoritas penduduknya adalah petani?" tanya Wei Linglong ketika keduanya kembali berjalan menyusuri kota.


"Aku tidak tahu," ucap Murong Qin. Sebenarnya, dia juga merasa aneh.


Namun, saat ini mereka sedang menikmati waktu berdua. Tidak mau ada hal-hal yang mengganggu, keduanya memutuskan membuang jauh dan menunda segala pikiran yang berkaitan dengan pemerintahan. Seumur hidup ini tidak banyak hari yang bisa dinikmati bersama orang yang dicintai. Jika itu sudah tiba, maka sebaiknya menikmatinya sebagai sebuah kesempatan langka yang berharga.


Di tahun ini, usia Murong Qin genap dua puluh sembilan tahun. Usia muda yang sedang berada dalam puncak keperkasaan. Apalagi, dia seorang kaisar. Tubuhnya saja begitu dijaga, apalagi kemampuannya. Semua yang ada di diri Murong Qin adalah harta Yuan yang tidak tertandingi.


Siapa yang mengira kalau naga emas milik Yuan itu sekarang jatuh ke tangan seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang tampak biasa namun memiliki kemampuan istimewa. Bahkan, seorang permaisuri pun kalah bersaing.


Ya, karena cinta sejatinya tak pernah memandang status.


Setinggi apapun status Permaisuri Yi, di mata Murong Qin dia hanyalah seorang wanita biasa yang licik dan naif. Tetapi Wei Linglong, biarpun memakai pakaian sederhana, akan tampak begitu istimewa di matanya.


Sepasang suami istri itu mampir di sebuah restoran bertingkat yang paling terkenal. Setelah memesan ruangan, keduanya duduk berhadapan. Pemandangan dari atas sini mengarah langsung ke danau, yang ditumbuhi lotus dan teratai. Alunan musik dari lantai bawah terdengar mengalun merdu.


"A-Ling, apa tubuhmu tidak merasa sakit?" tanya Murong Qin.


"Tidak. Mengapa kau bertanya?"


Murong Qin tampak gugup. Bicaranya gelagapan.


"Itu... Aku takut terlalu kasar padamu semalam..."


Percaya atau tidak, sekarang wajah Wei Linglong memerah. Dia malu, baginya pembicaraan hubungan keintiman adalah hal tabu meskipun mereka sama-sama melakukannya dengan sukarela.


"Ssttt.. Yang Mulia, jangan bicara!"


"Tapi, apa kau benar-benar baik-baik saja? Orang bilang wanita akan merasa sakit-"


"Berhenti bicara!"


Wei Linglong terpaksa membungkam mulut suaminya dengan tangan. Sudah dikatakan bahwa dia baik-baik saja, untuk apa Murong Qin terus bertanya. Semalam adalah momen pertamanya, membicarakannya di siang bolong begini hanya membuatnya seperti gadis remaja yang baru memasuki masa pubertas.


Murong Qin tiba-tiba menarik tangan Wei Linglong. Wanita itu kehilangan keseimbangan, lalu Murong Qin menangkapnya. Wei Linglong jatuh di pangkuan sang kaisar, pandangan mereka beradu.


"Yang Mulia, lepaskan aku," mohon Wei Linglong. Namun, tubuhnya terkunci.


"Aku rasa semalam kita terlalu terburu-buru. Maukah kau mengulangi ciumannya sekali lagi?"


Alih-alih menjawab, Wei Linglong memukul dada pria itu, lalu memalingkan wajah ke samping. Rona merah di pipinya semakin menyebar ke telinga. Murong Qin gemas, dia ingin terus menggoda wanitanya.


"A-Ling," panggil Murong Qin.


Wei Linglong seketika menoleh.


Pandangan mereka kembali bertemu. Ada sengatan listrik yang terhantar lewat bola mata yang saling beradu tatap itu. Perlahan, Murong Qin mendekatkan wajahnya ke wajah Wei Linglong. Keduanya mulai memejamkan mata, namun....


"Tuan, pesanan Anda sudah da-Ah ya ampun!"


Pelayan pengantar pesanan seketika membalikkan tubu saat melihat adegan dua sejoli yang hampir menautkan bibir. Dia tahu ini ruang pribadi, tapi bisakah mereka menguncinya terlebih dahulu agar seseorang tidak masuk sembarangan karena tidak tahu?


Wei Linglong dan Murong Qin salah tingkah. Pria itu berdehem, sementara Wei Linglong kembali ke kursinya. Absurd. Suasananya benar-benar canggung baik bagi Murong Qin, Wei Linglong, maupun pelayan pengantar pesanan.


"Ehemm... Antarkan makanannya kemari," ucap Murong Qin setelah berusaha tenang.


"Baik, Tuan." Pelayan itu baru berani membalikkan tubuh kembali. Lalu, dia menata meja dengan piring-piring berisi makanan lezat yang menggoda selera.


Saat pelayan itu hendak pergi, Murong Qin berseru,


"Kau tidak lihat apapun hari ini!"


Pelayan itu hanya mengangguk lalu pergi.


...***...


...Hei, kangen nggak sama Author? Hehehe.... Beberapa hari ini frekuensi up-nya memang agak kurang karena Author lagi-lagi ketiban sibuk di dunia nyata. So, jangan pergi dulu ya. Nanti Author balik lagi kok! ...