
Satu minggu kemudian, rombongan Murong Qin dan Wei Linglong tiba di perbatasan antara Yongji dengan kota luar. Di pos peristirahatan, mereka berhenti sejenak untuk makan dan merenggangkan sendi-sendi yang telah kaku akibat perjalanan jauh dari Jiangzhou.
Beberapa pengawal yang datang entah dari mana tiba-tiba muncul dan bergabung ke dalam rombongan hingga jumlah orang yang ada menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
Musim dingin sudah berakhir. Salju bulan Februari sudah mulai mencair. Tanah-tanah yang semula memutih perlahan mendapatkan warna aslinya.
Tumbuh-tumbuhan, pepohonan dan bunga-bunga mulai menumbuhkan pucuk dan kuncup. Udara tak lagi sedingin beberapa bulan lalu.
Tidak ada yang tahu bahwa selama musim dingin, Kaisar Mingzhu dan Selir Chun telah menghilang dari istana. Mereka telah menjadi sepasang nona dan tuan yang berkelana menyusuri desa-desa kecil, membangun benteng, mengajarkan keterampilan bertahan hidup, juga menangkap penjahat. Selain beberapa orang kepercayaan, yang lainnya hanya mendapatkan rumor.
Seharusnya, sungai beku di Jiangzhou juga mulai mencair. Kini, penduduk di desa-desa sepanjang aliran sungai tidak perlu khawatir rumah dan ladang mereka terendam lagi, karena benteng yang dibangun cukup kuat dan tinggi, juga dilengkapi mekanisme.
Si penjahat Gubernur Qian juga sudah ditangkap, hanya tinggal diadili di penjara Polisi Rahasia Kerajaan yang bertugas menangangi pejabat korup secara khusus.
Wei Linglong merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang terletak di halaman pos peristirahatan. Perjalanan menuju istana hanya memerlukan waktu setengah hari lagi, tetapi tubuhnya benar-benar kelelahan.
Musim dingin pertamanya dihabiskan dengan kegiatan pengabdian, yang tanpa dia sadari telah membuat Murong Qin berkali-kali menahan keterkejutannya.
Saat di desa terakhir, Murong Qin pernah bertanya mengapa Wei Linglong begitu terampil dalam ilmu mengolah makanan dan pertanian, terutama pertanian di musim dingin.
Setahunya, putri Jenderal Yun hanyalah wanita biasa yang sehari-hari diam di rumah, kalau keluar pun hanya bermain-main dan membuat beberapa orang marah. Dia sungguh tidak tahu kalau Wei Linglong mempunyai keterampilan khusus.
Wei Linglong kebingungan harus menjawab apa. Dia kemudian memutar otaknya, lalu mengatakan bahwa setiap orang punya rahasia. Tidak semua yang terlihat oleh mata adalah kebenaran dan tidak semua yang terdengar oleh telinga adalah kebenaran.
Apa yang menjadi kenyataan adalah tindakan yang disaksikan langsung, dinilai saat itu juga. Mendapat jawaban yang begitu bijaksana, Murong Qin langsung terdiam dan tidak bertanya lagi.
“Nyonya,” panggil Xiaotan.
“Em?”
“Kali ini kita kembali bersama Yang Mulia. Bagaimana jika Istana Dalam mengetahui kepergian kita? Permaisuri Yi pasti marah dan tidak akan tinggal diam. Nyonya secara tidak langsung telah melanggar peraturan wanita istana dan keluar tanpa izin.”
“Apa kau pernah melihat aku mematuhi aturan? Aturan mana yang tidak aku langgar?”
Xiaotan menghela napas. Sambil memijit pundak majikannya, dia memandang langit yang terang. Xiaotan begitu khawatir hingga dia berteriak dalam hati: Oh, Dewa di langit, bisakah kalian mendengarkanku? Nyonyaku sudah bertindak seperti ini, bantulah agar dia selamat dari kecaman Istana Dalam!
Tidak apa-apa jika hanya diam-diam keluar untuk berjalan-jalan di ibukota. Akan tetapi, kali ini nyonyanya telah keluar istana dan berkelana di Jiangzhou selama musim dingin. Bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi perbuatannya bisa menimbulkan kecemburuan selir lain yang mungkin bisa mendatangkan bencana di masa depan!
“Xiaotan, aku keluar bukan untuk bermain-main. Aku keluar untuk membantu Yang Mulia, memecahkan masalahnya dan membantu rakyat. Apa itu bukan perbuatan terpuji? Setidaknya, kesalahanku bisa ditukar dengan jasa.”
“Benar juga. Pengadilan begitu menghargai orang yang berjasa.”
Murong Qin memperhatikan Wei Linglong dari tangga taman. Percakapan kedua wanita itu masih dapat didengar olehnya. Diam-diam, Murong Qin kemudian tersenyum sangat kecil. Dia melangkah, berjalan menghampiri kedua wanita itu dengan langkah anggun. Jubah bulu rubahnya berkibar diterpa angin awal musim semi yang hangat.
“A-Ling.”
Wei Linglong langsung bangkit ketika namanya dipanggil. Oh, panggilan itu lagi. Dia menyembunyikan rona merah di wajahnya, kemudian menunduk di hadapan Murong Qin. Murong Qin tahu tundukan itu bukan tanda hormat, melainkan sebuah cara untuk menghindari tatapannya.
“Tidak perlu mengkhawatirkan Istana Dalam. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi.”
“Benarkah?”
“Orang yang berjasa selalu dihargai. Kau sudah membantuku sangat banyak. Seluruh desa di Jiangzhou bisa selamat berkat rancanganmu. Aku… Berhutang ribuan nyawa padamu.”
“Aku tahu kau akan melindungiku. Yang Mulia, karena kau sudah berkata seperti itu, maka jangan lupa bayarkan gajiku selama enam bulan ini!”
Wei Linglong tiba-tiba teringat pada gaji selirnya yang belum dibayarkan sejak dia diangkat. Ditambah dengan musim dingin, maka sudah enam bulan pihak istana belum memberinya uang dan tunjangan. Hadiah yang diberikan oleh Murong Qin usah perjamuan ulang tahun Ibu Suri tidak termasuk.
Wajah Murong Qin tiba-tiba merengut. Masalah kecil seperti pengaturan gaji selir tidak mungkin diurus olehnya. Pengaturan seperti itu diurus oleh Istana Dalam, dalam hal ini oleh Permaisuri Yi yang bekerja sama dengan Biro Administrasi dan Biro Kesejahteraan Istana.
Nama Wei Linglong mungkin belum tercatat sebagai selir hingga gajinya belum diberikan, tetapi bisa juga karena Permaisuri Yi. Dendam di antara mereka berdua tampaknya berimbas pada hal ini.
Dia bahkan tidak tahu kalau Wei Linglong belum diberikan tunjangan selama itu. Tetapi karena wanita ini sudah berbicara padanya, Murong Qin pasti akan menyelesaikan masalah ini begitu tiba di istana.
Walau dia tidak suka wanita istana, tetapi keadilan perihal pemberian tunjangan tetap harus dilakukan dengan adil. Jika masalah sekecil ini terjadi, wibawanya sebagai Kaisar bisa hilang.
“Baik. Selesaikan dulu laporannya untukku.”
“Laporan? Laporan apa?”
“Laporan perjalanan dan penangkapa Gubernur Qian. Selesaikan malam ini, baru bisa kembali ke istana.”
“Hei, aku bukan sekretarismu!”
“Sek..Sekretaris?”
“Juru tulis!”
“Pokoknya selesaikan malam ini. Masalah gajimu, aku akan mengurusnya.”
Setelah itu, Murong Qin langsung pergi. Masih ada urusan lain yang harus dia tangani. Ketika dia baru saja turun dari tangga, Komandan Bu tiba-tiba datang ingin memberikan laporan. Murong Qin langsung mengurungkan langkahnya. Dia menerima seberkas buku kecil berwarna kuning keemasan, kemudian membaca tulisannya.
“Pemberitahuan apa ini, Yang Mulia?”
“Kedatangan tamu dari negara tetangga.”
“Ah? Memangnya masih ada negara lain selain yang kau pimpin?”
“Tentu saja ada.”
“Tapi, mengapa kau mengerutkan kening? Apa terjadi masalah?”
“Bukan. Hanya saja waktu kemunculannya terlalu cepat. Kita bahkan belum kembali ke istana.”
“Benar juga. Menyambut tamu dari negeri lain memerlukan persiapan yang banyak. Perjamuannya juga tidak bisa sederhana. Yang Mulia, apa tujuan mereka datang ke sini?”
“Kunjungan kenegaraan.”
“Oh.”
“Selesaikan laporannya! Kita harus segera kembali ke istana!”
Wei Linglong merengut. Dominasi Murong Qin tidak bisa dia lawan. Tidak bisakah pria itu membiarkannya beristirahat sejenak? Wei Linglong bahkan belum mengisi perutnya dengan makanan apapun. Tubuhnya masih kelelahan. Wei Linglong hendak protes, tetapi melihat ekspresi Murong Qin yang sangat serius membuatnya menelan bulat-bulat keluhannya.
“Tulis dengan tanganmu sendiri. Tidak boleh diwakili orang lain!”
“Tapi….”
“Tidak ada tapi.”
Sepeninggal Murong Qin, Wei Linglong langsung menggarap laporan yang ditugaskan kepadanya. Xiaotan membantunya menggiling tinta sambil berusaha menghiburnya.
Sayang sekali, Wei Linglong justru semakin kesal. Kuas yang baru dicelupkan tidak diatur dengan baik, dia malah sengaja mencipratkannya ke udara hingga tinta hitam itu mengenai benda-benda di sekelilingnya.
Tinta itu bahkan mengenai wajahnya dan wajah Xiaotan. Tidak ingin membuang waktu, dia segera menulis laporan sesuai dengan arahan Murong Qin dengan cepat dan emosi. Kertas-kertas laporan menjadi korban pelampiasan emosinya. Untung saja kertas-kertas ini memiliki kualitas yang sangat bagus hingga tidak robek saat Wei Linglong menekannya berkali-kali.
Malam harinya, dia langsung menyerahkan dua buah berkas laporan kepada Murong Qin. Di dalam tempat peristirahatannya, Murong Qin membaca berkas tersebut sekilas, kemudian mengembalikannya kepada Wei Linglong.
Dia meminta wanita itu untuk menyimpannya hingga mereka sampai ke istana. Meskipun kesal karena merasa dipermainkan, Wei Linglong tetap mematuhi perintah Murong Qin dan pergi ke kamarnya.
Murong Qin menatap langit yang dipenuhi bintang musim semi. Dia mengerutkan keningnya begitu dalam hingga kedua alisnya hampir menyatu. Laporan yang diberikan oleh Wei Linglong beberapa saat lalu sangat detail dan rinci.
Dia tidak menyangka kalau wanita itu bisa menulis semua yang sudah mereka lakukan secara rinci. Tulisannya juga sangat bagus, bahkan lebih bagus daripada tulisan orang-orang di Biro Administrasi Negara yang ditugaskan menulis semua bentuk laporan dan catatan.
Rancangan benteng yang diaplikasikan di desa-desa sepanjang aliran sungai Jiangzhou juga dia gambar dengan detail meskipun hasilnya tidak sebagus Murong Qin. Aneh, padahal jelas-jelas wanita itu bisa menggambar, tetapi mengapa saat di Jiazhu dia berkata kalau dia tidak mampu? Sekali lagi, Murong Qin dibuat terkejut oleh wanita itu.
Dia sengaja meminta Wei Linglong menyimpan laporan tersebut untuk berjaga-jaga. Setiap pulang dari dinas, selalu ada orang yang ingin mengacaukan segalanya dengan berbagai cara.
Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang karena dia yakin, sesuatu pasti akan terjadi. Untuk itulah, saat wanita itu sedang menulis laporan siang tadi, dia pergi ke kamp rahasia dan menyuruh prajurit elitnya untuk berjaga-jaga di sekitar pos peristirahatan.
Baru saja dia hendak menutup jendela, sayup-sayup terdengar bunyi dentangan pedang yang beradu, berbaur dengan suara binatang malam yang mengalun seperti lagu yang mengiringi kesunyian. Suara itu berasal dari gerbang depan dan belakang. Telinga Murong Qin langsung menajam, menganalisa arah pergerakan pertarungan yang sedang berlangsung belum lama ini.
Murong Qin melompat keluar dari jendela dan mendarat di taman. Tidak disangka, beberapa orang berpakaian hitam dan berpenutup wajah sudah menyambutnya dengan acungan pedang dan senjata tajam lainnya. Jubah Murong Qin berkibar seperti awan hitam yang pekat, melambai diterpa angin. Wajah dinginnya menatap tajam para pria yang tengah bersiap untuk menyerangnya.
Kemudian, pertarungan sengit pun terjadi. Murong Qin mengayunkan pedangnya ke sana kemari, menyasar tubuh lawan dengan gerakan secepat kilat. Tebas satu kali, tumbang dua orang. Hempas satu kali, tumbang tiga orang. Lima orang berbaju hitam sudah terkapar di tanah dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Komandan Bu yang baru saja menyelesaikan lawan di garis depan melompat ke tengah pertarungan, membantu menangkis serangan yang hendak diarahkan kepada rajanya. Kedua orang itu kemudian bertarung melawan pasukan jahat yang terus datang tanpa henti.
Suara ribut pertarungan membuat Wei Linglong terkejut. Dia dan Xiaotan kemudian keluar dari kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika dia membuka pintu, matanya langsung terbelalak melihat dua orang pria yang sama-sama gagah sedang menghadapi puluhan orang berbaju hitam.
Darah merah mengalir dari mayat-mayat yang terkapar di tanah. Wei Linglong langsung terdiam. Tatapannya menjadi kosong. Adegan saling membunuh di hadapannya membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Ini sungguhan? Apa ini adalah perkelahian yang mempertaruhkan nyawa?
“Habisi! Rebut laporannya!” teriak pimpinan musuh.
“Heh, ingin menghabisiku? Kau pikir aku adalah anjing yang lemah?” tempas Murong Qin dengan nada mengejek. Aura seorang Dewa Perang yang telah lama terpendam langsung keluar, membuat udara yang ada di sekitar taman menjadi lebih dingin dari musim salju.
Menakutkan. Murong Qin berubah menjadi monster pembunuh yang kejam dan berdarah dingin. Dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang jauh dari sebelumnya hingga sekali tebas, lima orang langsung tumbang.
“A-Ling, tutup matamu!”
Wei Linglong menutup matanya. Dia berusaha mendoktrin dirinya bahwa apa yang sedang dia saksikan hanyalah sebuah adegan pembunuhan di dalam film yang tidak nyata. Mereka hanya sedang bermain pedang-pedangan saja, tidak sungguhan saling membunuh.
Murong Qin seperti kesetanan, menebas ke sana kemari. Kini, musuh yang tersisa hanya tinggal beberapa orang. Orang-orang jahat itu mengalami luka berat berupa luka tusukan dan sabetan pedang di sekujur tubuhnya. Pakaian mereka juga sudah compang-camping menjadi kain perca yang sobek di sana-sini.
Wei Linglong langsung membuka mata ketika seseorang berteriak. Di hadapannya, Murong Qin kembali menyerang secara membabi buta. Lengan kirinya sudah berdarah, jubahnya juga sudah robek. Tepat saat dia hendak membuka mulut, para penjahat yang sudah sedari tadi menunggunya terkecoh langsung menebarkan serbuk putih yang pekat.
Saat serbuk putih itu menghilang menyatu dengan udara, Murong Qin mendapati kalau Wei Linglong sedang duduk bersimpuh memegangi kedua matanya yang tertutup. Xiaotan di sampingnya sudah tidak sadarkan diri. Para penjahat telah menghilang melarikan diri.
“A-Ling!”
...***...