The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 46: TIDAK BISA MENUTUP MATA



Keesokan harinya, Wei Linglong baru terbangun.


Setelah membersihkan dirinya, dia lalu bercerita kepada Murong Qin perihal kejadian hari kemarin. Orang yang mendorongnya sepertinya seorang pria karena langkah kakinya besar. Tenaganya juga lumayan kuat hingga mampu mendorong dia ke dalam danau padahal saat itu, Wei Linglong memusatkan tenaganya untuk menjaga keseimbangan tubuh.


Jika Murong Qin tidak datang tepat waktu, sekarang dia mungkin sudah menjadi mayat yang malang. Wei Linglong mungkin sudah berada dalam peti mati dan siap dikuburkan. Langit masih mengasihaninya, mengirimkan seorang penolong untuk menyelamatkan hidupnya.


“Jadi, di mana laporan itu sekarang?” tanya Murong Qin usai Wei Linglong bercerita.


“Aku menyuruh Xiao Yu menyimpannya. Kau bisa mengambilnya jika kau mau,” jawab Wei Linglong.


“Lantas, buku apa yang diambil pencuri itu?”


“Buku daftar sayuran dan bunga yang kutanam di Istana Dingin.”


“Kau memang cerdas.”


Wei Linglong tahu kalau laporan perjalanan yang dia tulis pasti akan dicuri. Sebelumnya, orang-orang yang menyerang pos peristirahatan saat mereka hendak kembali ke ibukota juga kemungkinan mengincar buku laporan tersebut. Isi laporan yang berupa gambaran dan sketsa pembangunan benteng sungai sangat penting. Kalau disalahgunakan, maka hanya ada bencana saja yang akan datang.


Untuk itulah dia membuat persiapan. Saat masih berada di pos, Wei Linglong menulis empat buku, dua buku berisi laporan perjalanan Jiangzhou, dua buku lagi adalah daftar lain yang ditujukan untuk mengelabui pencuri yang hendak mengambilnya.


Dia pikir, tidak aman menyimpan laporan asli di istananya. Orang jahat yang tidak tahu malu pasti akan datang bagaimanapun caranya. Hanya dengan memberikannya pada orang lain, buku laporan itu baru akan aman. Akan tetapi, para pencuri itu tidak akan mengira kalau buku laporan aslinya ada pada Murong Yu. Ya, bagaimana mungkin mereka tahu kalau anak sekecil itu diberi titipan yang begitu penting.


Murong Qin memuji kecerdikan Wei Linglong. Lain kali, dia harus lebih cerdik dari wanita ini. Putranya sudah membantunya menyelamatkan buku laporan asli, kelak dia harus bersikap baik kepadanya. Bersikap baik? Ah, selama ini terlalu banyak sikap buruk yang dia berikan kepada putranya itu. Tujuh tahun setelah kelahiran, Murong Qin belum pernah berbicara banyak padanya.


Dia belum menunjukkan sikap seorang ayah yang sesungguhnya. Murong Yu masih kecil, belum mengerti banyak hal. Setelah Wei Linglong masuk istana, bocah itu lebih banyak tertawa. Tampaknya, dia sudah menemukan sosok ibu pengganti yang baik meskipun dia tidak mengetauinya atau menyadarinya.


“Aku akan menyelidikinya.”


“Tentu saja harus. Aku hampir mati, kalau pelakunya sudah ketemu, aku akan mengulitinya dan melemparnya ke Danau Dongting agar dimakan ikan. Enak saja, dia membunuhku di wilayahku, memangnya siapa tuan dia?”


“Kau tahu sesuatu?”


Wei Linglong menggelengkan kepala.


“Bagaimana dengan matamu?”


“Sudah sembuh. Tampaknya air Danau Dongting berkhasiat, tidak perlu minum obat atau ditutupi kain lagi.”


Setelah berbincang cukup lama seperti sepasang suami istri yang saling menyapa di pagi hari, Wei Linglong memohon diri, kembali ke Istana Fenghuang. Sesampainya di sana, dia dikejutkan dengan banyaknya pelayan wanita dan penjaga yang kekar badannya, menyambutnya dengan senyuman dan penghormatan.


Pelayan-pelayan wanitanya masih berusia muda, mungkin sekitar 17-18 tahun. Penjaga pria berusia lebih dewasa, mungkin sekitar 24-25 tahun. Mereka semua berkumpul di halaman Istana Fenghuang, menyambut tuan baru mereka. Para pelayan itu akan menjadi bawahan Wei Linglong mulai hari ini dan seterusnya.


“Nyonya, kami adalah pelayan yang diutus Yang Mulia,” ucap salah seorang pelayan wanita yang tampak paling menonjol.


“Kaisar yang mengutus kalian?”


“Benar, Nyonya. Saya Xiaolan, mulai sekarang akan menjadi pelayan kedua nyonya.”


Xiaolan tersenyum manis. Tuan barunya terasa unik, berbincang sebentar saja dia langsung merasa nyaman. Majikan-majikan sebelumnya begitu angkuh dan sombong, ketika pelayan baru datang, mereka berbicara tidak manusiawi dan menyakiti hati, memandang rendah dan berlaku semena-mena.


Berbeda sekali dengan majikan yang satu ini. Xiaolan memandang Xiaotan yang ada di samping Wei Linglong. Tubuhnya tidak terlalu kurus dan tidak gemuk, kulitnya bagus, pakaiannya bagus, wajahnya juga mulus. Bisa dipastikan kalau Xiaotan hidup dengan baik di sisi Wei Linglong. Majikan itu pasti memperlakukan pelayan pribadinya seperti saudara sendiri.


“Xiaolan, Xiaotan. Cukup mirip juga. Baguslah, istana ini tidak akan sepi lagi.”


“Nyonya, ini adalag daftar nama pelayan yang baru. Nyonya bisa memeriksanya dan mengahapalnya.”


“Aku percaya pada kalian. Kelak, tidak perlu sungkan seperti ini. Ada beberapa aturan yang harus kalian patuhi jika kalian mau tinggal di sisiku.”


“Pertama, tidak perlu bicara formal. Aku tidak suka orang yang bertele-tele dan tidak suka pembicara yang manis. Kalian boleh bicara seperti biasa, tertawa, menangis, tapi tidak boleh melewati batas. Kedua, tidak boleh merahasiakan apapun dariku. Aku tidak suka orang yang misterius dan pembohong. Ketiga, kalian tidak boleh malas, harus bekerja dengan giat. Kalau lelah boleh istirahat. Keempat, tidak boleh berkeliaran sembarangan, nanti kalian bisa tersesat. Kelima, jangan mencuri. Mencuri tidak baik, kalian bisa masuk penjara. Barang-barang berkilau di Istana Fenghuang diberikan oleh Kaisar, tidak boleh ada yang hilang satu pun. Keenam, aku akan membagi tugas untuk kalian. Apa kalian sudah paham?”


“Nyonya, apakah Yang Mulia tidak akan marah?”


“Sejak dia mengutus kalian ke sini, kalian adalah bawahanku. Aku akan memarahinya jika dia berani memarahi kalian.”


“Kami melaksanakan perintah.”


Para pelayan itu kemudian membubarkan diri. Wei Linglong duduk di ayunan kesukaannya, menikmati pagi yang begitu menenangkan. Istana ruby yang sebelumnya sepi dan hanya dihuni dua orang sekarang tampak lebih ramai. Baguslah, istana ini tidak akan sepi lagi.


Wei Linglong tahu kalau Murong Qin sengaja mengirimkan mereka untuk menjaganya. Usai kejadian hari kemarin, ada perubahan sikap yang tampak di diri pria itu. Tatapannya tidak lagi setajam dulu, ekspresinya juga tidak sedingin dulu. Setiap kali mereka berbicara, Murong Qin akan menatap matanya, keningnya tidak lagi berkerut karena kesal.


Pria itu bisa saja merasa bersalah karena memperlakukan istrinya dengan tidak baik. Bayangkan saja, seorang selir raja, meskipun sangat rendah tingkatannya, selalu punya beberapa pelayan dan penjaga yang menjaga istananya. Tetapi dia, Selir Chun yang diangkat langsung olehnya, bahkan hanya memiliki satu pelayan di sisinya sementara istananya begitu luas. Penjaga pintu gerbang pun tidak ada. Ini sedikit tidak adil.


“Tampaknya, Kaisar menyebalkan itu sudah menyadari kesalahannya.”


Wei Linglong menatap angkasa yang jernih. Musim semi masih terlalu awal. Bayangan kejadian kemarin tiba-tiba melintas kembali di benaknya. Dia sangat penasaran pada pelaku. Andai dia punya CCTV, dia mungkin bisa tahu siapakah orang yang sudah mencuri dan mencoba membunuhnya.


Pengecut, pikir Wei Linglong. Orang itu berani masuk ke istana yang dilarang raja tanpa izin, lalu mencoba membunuh pemiliknya saat pemiliknya sedang tidak berdaya. Murong Qin terlalu banyak musuh hingga Wei Linglong tidak bisa menebak musuh mana yang beraksi kali ini.


Namun, mengingat bahwa barang yang dicuri bukan buku laporan, Wei Linglong langsung tertawa ringan. Tidak bisa dibayangkan betapa marahnya tuan pencuri itu ketika tahu sesuatu yang dia inginkan berubah menjadi daftar nama sayuran dan bunga. Wajah orang itu pasti merah. Dia pasti lebih marah kalau tahu orang yang hendak dia lenyapkan malah selamat dan semakin sehat.


“Sepertinya, aku tidak bisa menutup mata lagi. Anlan, kau benar. Hidup di dalam istana sama seperti medan perang. Aku bisa mati kalau aku tidak cerdas.”


Dikurung di Istana Dingin, dihukum pukul, diserang dan terkena racun kemudian didorong ke dalam danau telah membuat Wei Linglong sadar betapa berbahayanya istana. Semua kejadian yang menimpanya pasti berasal dari istana. Ada orang yang tidak ingin hidupnya tenang. Jika dia mencoba kabur seperti terakhir kali, tidak mati oleh orang istana pun dia pasti akan mati oleh orang luar. Apalagi, Murong Qin pasti tidak akan membiarkannya. Pria itu lambat laun pasti akan mengikatnya di sisinya. Tidak ada jalan untuk kembali ke belakang, tetapi jalan yang harus dipijak di depan pun dipenuhi marabahaya.


Apakah dia akan tetap diam saja?


Tidak! Wei Linglong bersumpah mulai hari ini dia akan menjadi orang yang kuat. Dia bersumpah akan menjadi wanita tangguh seperti Li Anlan, yang berdiri kukuh di atas kakinya sendiri. Wei Linglong akan terlahir kembali. Dia tidak akan menjadi wanita yang ceroboh dan berpikiran sempit lagi. Dia bersumpah pada langit.


“Tapi, bagaimana caraku melakukannya? Ibu Suri dan Permaisuri Yi adalah musuh utamaku. Dengan kemampuanku ini, apa mereka bisa tetap diam? Haish, menyebalkan!”


“Tunggu dulu! Aku ini seorang mahasiswa yang sering menghadapi dosen killer, untuk apa aku mundur? Aku akan melawan semua musuhku mulai sekarang!”


Xiaotan berdiri di dekat majikannya. Melihat majikannya berbicara dengan diri sendiri membuat dia keheranan. Lantas, dia pun bertanya,


“Nyonya mau melawan siapa?”


“Xiaotan, mari terlahir kembali.”


“Hah? Terlahir kembali?”


“Bagaimana dengan serigala berbulu domba?”


“Memangnya serigala punya bulu domba?”


“Xiaotan, bisakah kau tidak membalik pertanyaanku?”


“Oh.”


Wei Linglong kesal. Pelayan pribadinya masih perlu diajari. Dia harus mengubah Xiaotan menjadi pelayan yang bisa membantunya melakukan banyak hal. Ini adalah langkah pertamanya dalam menentukan nasibnya sendiri. Sebelum melanjutkan ke yang lain, Wei Linglong harus menyelesaikan beberapa persoalan terlebih dulu agar dia bisa bergerak leluasa.


“Xiaotan, ambil buku laporan dari istana Xiao Yu. Lalu, kirimkan ke Istana Yanxi."


...***...