The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 21: BERPIKIR



Siang ini, Wei Linglong kembali bersantai di halaman utara Istana Fenghuang. Hidupnya seperti berjalan tanpa kekhawatiran, padahal jelas-jelas semalam dia tertangkap basah dan hari ini seharusnya menerima hukuman dari Murong Qin.


Buku peraturan istana mengatakan kalau seorang selir keluar istana tanpa izin, apalagi sampai berniat melarikan diri, akan dihukum setidaknya hukuman pukul dua puluh kali. Hukuman ini adalah hukuman paling ringan. Hukuman paling beratnya adalah diasingkan ke Istana Dingin atau dicopot gelarnya.


Wei Linglong berpikir kalau Murong Qin tidak punya waktu untuk memikirkan hukuman untuknya. Sebelum memutuskan hukuman, pria itu sudah pasti disibukkan dengan hal lain. Dia menebak kalau sekarang Murong Qin sedang berusaha melawan para pejabatnya di pengadilan istana, berusaha keras menjawab semua pertanyaan dan memberikan alasan perihal kejadian semalam. Dia mendengar dari Xiaotan kalau Paviliun Baihua adalah rumah bordil paling terkenal di ibukota.


Tempat terkenal seperti itu tiba-tiba hilang dalam semalam, tentu saja aneh!


Dia memejamkan matanya. Matahari musim gugur tidak terlalu terik. Pilar kayu penutup ayunan sudah cukup meneduhkan pandangannya. Lihat, betapa indahnya suasana seperti ini. Seandainya semalam Murong Qin tidak menemukannya, Wei Linglong tidak akan bisa menikmati ketenangan seperti ini lagi. Dia mungkin sudah menjadi wanita penghibur yang menyajikan alkohol dan menjadi pelayan nafsu lelaki hidung belang.


Dia hanya merasa sedikit bersyukur saja.


Dari pintu gerbang, Xiaotan datang bersama Murong Yu. Wajah polos putih karena jarang terkena sinar matahari itu seperti bersinar. Tangannya menggaet jari kecil Murong Yu yang imut. Linglong bangun dari posisinya, kemudian bersiap menyambut Murong Yu dengan pelukan. Bocah kecil itu langsung berlari kepadanya.


Wei Linglong mencapit pipi kenyal Murong Yu dengan kedua tangannya hingga bibir bocah itu mengerucut. Beberapa hari tidak bertemu, Murong Yu malah terlihat lebih kurus. Matanya yang jernih tetap bersinar, namun seperti ada sensasi yang berbeda.


“Xiao Yu, ada apa?” tanya Wei Linglong.


“Bibi, pengasuh bilang Paman Pangeran akan pulang.”


Wei Linglong mengernyit sejenak. Dia melirik Xiaotan, kemudian pelayan itu menggelengkan kepalanya. Paman Pangeran? Siapa? Siapa yang dimaksud bocah kecil ini? Mengapa tatapan matanya yang jernih seperti sedang memendam sebuah kekhawatiran yang tidak seharusnya dialami oleh anak sekecil dirinya?


Murong Yu yang pintar tampaknya mengerti situasi. Bibi selirnya ini baru memasuki istana selama beberapa bulan terakhir, jadi dia mungkin tidak tahu persis setiap situasi di istana secara persis dan detail. Tetapi jika bibi selirnya ini pintar, dia seharusnya tahu siapa orang yang dimaksud tanpa harus dijelaskan.


“Adik Ayahanda Kaisar.”


Wei Linglong mengangguk canggung. Oh, ini dia. Paman Pangeran yang dimaksud Xiao Yu-nya mungkin adalah putra Ibu Suri yang lahir setelah Murong Qin dimahkotai sebagai Putra Mahkota. Murong Yu bilang Paman Pangerannya akan pulang, itu berarti selama ini Wei Linglong tidak tahu kalau adik Murong Qin tidak berada di istana kekaisaran. Oh, Wei Linglong tiba-tiba merasa menjadi katak dalam tempurung!


“Apa yang Xiao Yu khawatirkan?”


“Bibi, setiap kali Paman Pangeran ada di istana, suasana hati Ayahanda Kaisar sering buruk. Walaupun Paman Pangeran baik, tetapi dia tidak terlalu disukai oleh Ayahanda Kaisar. Dua tahun yang lalu, Ayahanda Kaisar marah karena Paman Pangeran menganggunya di Istana Yanxi, kemudian menghukum semua pelayan dan penjaga. Paman Pangeran juga dihukum menyalin kitab di perpustakaan.”


“Apa kau juga kena hukuman?”


Murong Yu menggelengkan kepala.


“Lalu kenapa takut? Xiao Yu tidak perlu khawatir. Lebih baik, Xiao Yu bermain dan bersenang-senang, ya?”


“Em,” ucap Murong Yu disertai anggukan kepala.


Wei Linglong tidak peduli konflik apa yang terjadi antara Murong Qin dan adiknya atau dengan Ibu Suri. Meskipun dia tahu, dia juga tidak berminat ikut campur. Wei Linglong bukan wanita yang berpendirian kuat, dia bukan seorang wanita yang suka mencampuri masalah keluarga orang lain. Orang lain? Ya, bagi Wei Linglong, Murong Qin masih dianggap sebagai orang lain.


Masalah keluarga kerajaan bisa menjadi masalah politik. Sejak awal dia sudah bertekad tidak terlibat dalam hal apapun. Balas dendamnya pada Ibu Suri yang telah mengurungnya sudah terbalaskan, jadi untuk apa dia mencari masalah untuk menggali kuburannya sendiri? Yang dia pedulikan hanyalah dirinya sendiri, Xiaotan dan Murong Yu. Keponakannya tidak bisa dibiarkan terhanyut dalam permasalahan internal keluarga kerajaan meskipun dia seorang Pangeran Sulung sekalipun. Masa depannya harus cerah, tidak boleh gelap gulita.


“Bibi, apa kau tidak kasihan pada ayahanda?”


“Kenapa aku harus merasa kasihan?”


“Kasim-kasim bilang hari ini ayahanda dipersulit menteri-menterinya.”


“Hal apa yang tidak bisa dia atasi?”


Wei Linglong tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kabar memang selalu menyebar lebih cepat daripada angin. Sudah ia duga, Murong Qin pasti sedang sibuk membantah pejabat-pejabatnya. Bagaimanapun, kejadian semalam berhubungan dengan martabatnya sebagai seorang suami dan seorang Kaisar. Murong Qin pasti tidak ingin nama baik dan wajahnya tercoreng.


Dia tiba-tiba teringat pada seorang wanita penghibur di Paviliun Baihua yang mendandaninya sebelum Nyonya Wang memamerkannya pada para tamu. Wanita itu berusia sekitar delapan belas tahun, memiliki kulit sepucat susu dan wajah oriental khas Asia Tenggara. Bibirnya sedikit berisi, tampak merah menyala dengan olesan lipstick.


Dadanya sedikit besar dari miliknya. Wanita itu seperti sebuah pualam. Orang yang tidak menyebutkan namanya tersebut langsung memperkenalkan diri dengan menceritakan kisah hidupnya dan mengapa dia bisa sampai di tempat tersebut. Dia adalah wanita yang lahir di keluarga petani kecil di wilayah utara. Sawah tempat menopang hidup keluarganya tidak bisa dipanen karena bencana kekeringan yang melanda sebagian wilayah tersebut.


Tidak hanya keluarganya, keluarga lain pun mengalami hal yang sama. Paceklik tiba-tiba melanda, para rakyat mulai kehabisan persediaan pangan. Orang terkaya di wilayahnya sampai menjual semua aset milik keluarga untuk menutupi kekurangan pangan, lalu bagaimana dengan mereka yang miskin? Keluarganya dan keluarga miskin lain seperti dicekik sampai mati oleh keadaan.


Wanita itu kemudian memberitahu Wei Linglong kalau dia pergi sendirian ke ibukota untuk mencari uang. Tidak peduli apapun pekerjaannya, selama dia bisa mempunyai penghasilan dan bisa mengirimi kedua orang tuanya uang di wilayah utara, dia akan melakukannya. Kemudian, dia berjumpa dengan Nyonya Wang yang memberinya pekerjaan ini. Dengan sedikit pelatihan selama beberapa minggu, wanita tanpa nama tersebut sudah resmi menjadi wanita penghibur yang menawan. Dia sering kedatangan tamu pejabat atau bangsawan, hingga penghasilannya terkadang lebih tinggi daripada wanita yang lain.


Wei Linglong yang saat itu belum tahu kalau tempat tersebut adalah rumah bordil hanya mengangguk sebagai bentuk penghargaannya. Sebenarnya, dia tidak terlalu tertarik dengan kisah hidup orang lain. Jika dipikirkan kembali, hidup di zaman kerajaan yang belum memiliki teknologi canggih memang sulit. Wanita itu juga berkata kalau dirinya sering mendapatkan penyiksaan setiap kali melakukan kesalahan hingga gajinya tidak diberikan.


Nasibnya hanya lebih beruntung dari wanita penghibur tersebut. Seandainya saja jiwa Wei Linglong masuk ke tubuh salah satu dari mereka, hidupnya mungkin akan sulit. Wei Linglong memiliki nilai lebih karena jiwanya masuk ke dalam tubuh seorang putri jenderal besar dari keluarga bangsawan yang kebetulan memiliki nama dan wajah yang sama dengannya.


Meskipun permulaannya kurang bagus, poin plus lainnya adalah bahwa dia baru saja masuk istana. Jika saja Wei Linglong masuk ke tubuh salah satu selir atau Nona Kekaisaran, dia mungkin tidak akan hidup sampai pada hari ini. Atau jika jiwanya masuk ke tubuh Ibu Suri atau Permaisuri Yi, akibat dari semua itu sungguh sulit dibayangkan. Wei Linglong kemungkinan harus menanggung kebencian besar dari Kaisar Mingzhu, keluarga Wei, serta beberapa yang lain. Dia yang tidak pintar berpolitik sudah pasti akan mati dijebak.


Sampai pada tahap ini, seharusnya dia bersyukur.


Wei Linglong harus bersyukur karena masih ada orang yang membantunya menghadapi tuduhan yang tidak masuk akal. Walaupun orang itu adalah orang yang berstatus sebagai Kaisar, tetapi dia mempunyai kewajiban untuk melindungi sebagai seorang suami. Wei Linglong benar-benar harus berterima kasih kepada Murong Qin yang tidak hanya menolongnya dari bencana, tetapi juga telah membantunya terhindar dari fitnah yang sangat kejam.


Wei Linglong akui kalau dirinya tidak seberani tokoh-tokoh wanita istana seperti di dalam drama. Dia tidak punya keberanian yang lebih. Wei Linglong hanya mampu memusuhi dan membalas dendam pada orang yang telah menganggunya, tetapi dia tidak punya kemampuan atau siasat licik untuk mendapatkan kekuasaan dan kepercayaan orang lain. Wei Linglong tidak pandai berkata-kata, tidak bisa menjilat orang lain untuk keuntungan dirinya sendiri.


Dia hanya seorang mahasiswa biasa yang kebetulan mengalami nasib sial. Dia bukan mafia atau pembunuh hebat yang bertransmigrasi ke masa lalu kemudian menciptakan dunia yang baru. Satu-satunya tujuan hidup yang dia punya sekarang adalah hidup damai tanpa gangguan.


Tetapi, jika seperti itu terus menerus, bukankah lama kelamaan dia yang akan mati? Di istana ini, selain orang-orang terdekat Murong Qin, tidak ada lagi yang baik dan tidak ada yang dia kenal. Ketika Murong Qin tidak ada, Wei Linglong tidak dapat menjamin kalau hidupnya akan aman. Kelak, dia bisa diinjak-injak oleh pelayan jika dia tidak punya kemampuan.


“Xiao Yu, apa yang biasanya dilakukan istri-istri ayahmu ketika mereka berada dalam masalah?” tanya Wei Linglong pada Murong Yu.


“Mereka biasanya akan meminta bantuan keluarga, atau berlutut di depan Istana Tian Yue sampai nenek dan Permaisuri Yi  memaafkan mereka.”


“Berapa lama mereka berlutut?”


“Hm, biasanya satu hari satu malam. Pelayan yang ada di sisi mereka juga harus ikut berlutut.”


Wei Linglong meringis. Berlutut selama satu hari satu malam? Sungguh tidak masuk akal. Tulang lutut manusia, apalagi wanita, tidak terlalu kuat. Jika digunakan untuk berlutut selama sehari semalam, tulang lututnya mungkin akan mengalami dislokasi atau sendinya kaku. Kalau sampai parah, seseorang bisa saja berakhir lumpuh atau berjalan tidak normal.


“Bibi, apa kau berniat meniru cara mereka?”


“Tidak. Aku tidak suka tunduk pada siapapun.”


“Kalau begitu, baguslah. Kalau bibi menjadi seperti mereka, aku mungkin tidak akan punya teman lagi.”


Wei Linglong mendekap Murong Yu dengan erat. Murong Yu sudah kehilangan ibu kandungnya, tidak seharusnya dia membiarkan pangeran kecil ini kesepian lagi.


...***...


...Wah, Linglong mulai kebingungan nih! Ada yang mau bantu Linglong pikirkan solusi buat kehidupan ke depannya nggak? Kalau ada, tulis di bawah ya! ...