
“Ibunda, apa yang terjadi di sini?” tanya seorang pemuda berumur tujuh belas tahunan pada Ibu Suri. Pemuda itu begitu tampan dengan kulit putih yang dibalut dalam busana biru muda dari kain sutera bersulam benang perak.
Sosok Murong Qin berdiri di belakang pemuda itu. Tubuhnya yang tinggi dan tegap tidak mampu tertutupi oleh orang di depannya, sehingga tatapan matanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhadapan langsung dengannya. Itulah sebabnya Permaisuri Yi langsung membatu ketika matanya bertemu pandang dengan mata tajam nan dingin milik Murong Qin.
Dia menatap tajam pada kedua wanita yang berdiri di depannya. Tatapan itu menggelap, berubah menjadi sebuah kemarahan tertahan. Bahkan tanpa dikatakan pun, semua orang akan tahu kalau Murong Qin sedang marah. Sesekali dia menatap ke arah wanita yang sedang berbaring telungkup di papan hukuman.
“Yan’er,” ucap Ibu Suri pelan. Sinar di matanya tiba-tiba meredup seperti api yang tersiram air hujan. Sosok pemuda tampan tersebut adalah Murong Yan, Pangeran Yan, adik dari Murong Qin. Dia baru tiba di istana beberapa saat yang lalu. Dia memiliki paras rupawan.
Kehormatannya sangat tinggi karena dia adalah putra sah Kaisar sebelumnya namun tidak bisa mewarisi takhta. Tubuhnya tegap dengan otot kuat di badannya. Kulitnya yang putih biasa terbungkus kain mahal. Murong Yan memiliki hobi belajar dan membaca buku, hingga dia sering pergi ke luar kota hanya untuk mengunjungi akademi-akademi atau perguruan-perguruan yang bisa memuaskan dahaga ilmunya.
Murong Yan tidak seperti pangeran kerajaan pada umumnya. Dia memiliki keinginan untuk tidak terikat dengan aturan meskipun dia lahir di keluarga kerajaan. Murong Yan tidak manja dan tidak mengandalkan kekuasaan, padahal dengan statusnya ditambah dengan kekuasaan Ibu Suri yang begitu besar, dia bisa menjadi sosok paling berpengaruh setelah Kaisar Mingzhu.
Sayangnya, Murong Yan menyukai kebebasan. Dia memilih menjadi pangeran pengangguran yang bebas berkelana ke mana saja, menuruti kata hati dan menjejali hari, melangkahkan kaki ke tanah manapun yang dia kehendaki. Murong Yan sering menyamar seperti kakaknya. Dia sering berkunjung ke kota-kota kecil, namun tidak pernah menetap lama.
Beberapa orang berkata bahwa Ibu Suri sering memberinya pengajaran mengenai cara menjadi pangeran terhormat dan ditakuti. Ibunya itu juga sering menasehatinya agar belajar menjadi orang yang berhati keras dan berambisi, tujuannya mungkin ingin membentuk pengaruh dan menggalang dukungan agar dia bisa duduk di atas takhta. Akan tetapi, semua itu tidak pernah digubris oleh Murong Yan.
“Ibunda, aku baru saja pulang. Mengapa kau sudah menghukum orang?”
Murong Yan menatap ibunya dengan kecewa. Sudah dua tahun dia tidak berjumpa dengannya, namun sifatnya sama sekali tidak pernah berubah. Ibu kandungnya masih suka menyiksa para selir dan menindas wanita yang tidak patuh dan tunduk kepadanya. Api di matanya bahkan tetap menyala seperti dahulu, seperti saat tahun-tahun dia hidup di bawah asuhannya.
Tatapan redup Ibu Suri membuat Permaisuri Yi menundukkan kepala. Sejak enam tahun lalu, cerita mengenai Ibu Suri dan Pangeran Yan sudah menjadi rahasia umum di seluruh keluarga kerajaan.
Hubungan ibu dan anak tersebut memang baik, tetapi keduanya memiliki pemahaman berbeda tentang kekuasaan. Ibu Suri menginginkan putra kandungnya naik takhta, tetapi Murong Yan justru menolak dan memilih menjadi pengelana yang bebas seperti burung yang terbang di udara.
“Pangeran, selir ini melanggar aturan. Jadi, aku membantu Yang Mulia menghukumnya,” ucap Permaisuri Yi. Murong Yan berbalik, menatap kakaknya yang terdiam menyaksikan percakapan antara adiknya dengan ibu tiri dan istri sahnya.
“Kakak, apa selir ini milikmu?”
Murong Qin tidak menjawab. Wei Linglong yang sudah kehabisan tenaga hanya terdiam menyaksikan pertunjukan keluarga kerajaan yang sedang berlangsung di depannya. Dia juga mendecih ketika Murong Yan bertanya pada Murong Qin. Dia tidak sudi disamakan dengan barang yang bisa memiliki hak milik.
Wei Linglong lalu berpura-pura pingsan. Dia memejamkan matanya, tidak ingin melihat drama keluarga yang sering terjadi akibat alasan klise yang itu-itu saja. Seluruh tubuhnya sakit, dia bahkan tidak punya tenaga hanya untuk sekadar menggerakkan jari tangannya. Napasnya yang semula terasa sesak kini agak sedikit lega.
“Permaisuri Yi, katakan apa kesalahan selir ini hingga kau menghukumnya?”
Permaisuri Yi membisu. Murong Yan bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana benar dan mana yang salah. Jika dia mengatakan alasan atas hukuman Wei Linglong, dia hanya akan ditertawakan karena dia tahu Murong Yan akan membalikkan seluruh perkataannya dan membuatnya terjebak. Lagipula, alasan atas hukuman Wei Linglong sebenarnya kurang masuk akal.
Alih-alih menunggu jawaban dari Permaisuri Yi, Murong Qin justru berjalan mendekat ke papan hukuman. Dia berjongkok, melihat wajah pucat Wei Linglong yang tampak sangat mengkhawatirkan. Dia dihukum di siang hari yang terik, tubuhnya pasti mengalami dehidrasi. Peluh yang bercucuran menandakan bahwa wanita ini sudah kehabisan tenaga, menahan rasa sakit dari pukulan keras di tubuhnya. Tiba-tiba, kemarahannya memuncak seketika.
Wei Linglong membuka matanya sedikit. Dia tampak terkejut ketika wajah Murong Qin berada sangat dekat dengannya. Murong Qin sepertinya tahu kalau dia membuka matanya, kemudian menghela napas. Dia melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Wei Linglong. Tanpa diduga, Murong Qin langsung menggendong tubuh Wei Linglong dari papan hukuman. Dia berjalan keluar dari halaman Istana Tian Yue dengan kemarahan tertahan.
Permaisuri Yi, melihat perlakuan Murong Qin yang begitu lembut pada Wei Linglong langsung sakit hatinya. Selama ini, pria itu bahkan tidak pernah mau menatap wajahnya lebih dari tiga detik. Selain tatapan jijik, tidak ada tatapan lain yang pernah dia lihat dari Murong Qin. Berjuta penolakan sudah dia terima dan telah melukai harga dirinya sebagai wanita. Tapi apa yang dia lihat hari ini? Murong Qin malah bersikap begitu lembut dan berbeda pada Wei Linglong, selir kecil yang jelas-jelas jauh lebih lemah dari dirinya!
“Yang Mulia….” ucap Permaisuri Yi tidak terima.
Murong Qin berhenti sejenak.
“Gagak dan perkutut sama saja!” sarkasnya tanpa berbalik. Setelah itu, dia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Murong Yan, Ibu Suri dan Permaisuri Yi.
Murong Yan menghela napas. Rasa kecewanya begitu besar. Dia menatap Ibu Suri yang matanya mulai meredup. Tidak dipungkiri, Murong Yan begitu tahu seberapa besar kasih sayang yang diberikan oleh ibu kandungnya itu.
Akan tetapi, bukan kasih sayang yang membuatnya buta dan membuat hatinya gelap yang dia inginkan. Murong Yan menginginkan kasih sayang yang murni dari seorang ibu, bukan kasih sayang yang dibungkus dengan embel-embel kekuasaan dari seorang Ibu Suri negara kepada putra kandungnya yang sudah tidak memiliki hak untuk menjadi penerus takhta.
“Permaisuri Yi, tolong antarkan Ibunda kembali ke dalam istananya,” pinta Murong Yan pada kakak iparnya. Permaisuri Yi tidak punya pilihan lain selain mengangguk menyetujui permintaan adik iparnya.
“Yan’er,” panggil Ibu Suri lagi.
“Jika Ibunda ingin membujukku untuk merebut takhta kakakku lagi, lebih baik kita tidak berjumpa sampai akhir hidup. Semoga Ibunda selalu sehat.”
Betapa besar rasa sakit yang diterima Ibu Suri ketika putranya sendiri menolaknya seperti itu. Selama berpuluh-puluh tahun, dia sudah berusaha dan mempertaruhkan segalanya agar dia bisa mempertahankan otoritasnya dan memberikan posisi tinggi untuk Murong Yan. Ibu Suri sudah mengorbankan darah banyak orang untuk membuka jalan bagi Murong Yan, tetapi putranya sendiri bahkan tidak ingin melihatnya.
Akan tetapi, Ibu Suri tidak ingin terlihat lemah. Orang bisa menemukan celah jika mereka menemukan kelemahannya. Ibu Suri segera menata hati dan pikirannya, merubah perangainya kembali ke semula, kepada sifat seorang Ibu Suri Dinasti Yuan yang berhati keras dan kejam.
Hidup seperti ini sepertinya lebih baik daripada tersiksa oleh perilaku seorang putra yang tidak mau dia bantu. Apa yang dia usahakan selama ini tidak boleh sia-sia. Sekalipun Murong Yan tidak menginginkan takhta, dia akan berusaha merebut kembali posisi itu dari Murong Qin, bahkan jika dia harus mengorbankan putra dan keluarganya.
Murong Yan meninggalkan Istana Tian Yue. Dia melangkahkan kakinya menuju Perpustakaan Kerajaan, menenangkan pikirannya yang dipenuhi prasangka kepada ibunya sendiri. Dia juga ingin menata hatinya dan menghilangkan perasaan kecewa yang begitu besar. Seandainya saja Ibu Suri bisa menerima takdir, hubungannya dengan dirinya pun tidak akan seperti ini. Mereka berdua bisa menjadi pasangan ibu dan anak yang harmonis.
“Paman Pangeran,” panggil seseorang ketika Murong Yan berjalan melewati taman di komplek Istana Dalam.
“Pangeran Sulung?”
Murong Yu berlari ke arah Murong Yan. Bocah kecil itu langsung memeluk Murong Yan dengan erat. Sudah dua tahun keduanya tidak bertemu. Murong Yan tersenyum ramah. Keponakan kecilnya begitu manis dan lucu. Wajahnya yang lugu merupakan percampuran antara wajah Murong Qin dan Permaisuri Hong. Ada aura yang istimewa yang dia rasakan dari Murong Yu.
“Paman, apa bibi selir terluka parah?”
“Kau melihatnya?”
Murong Yu mengangguk.
“Tenang saja. Ayahmu sudah membawanya. Dia pasti akan baik-baik saja.”
“Apa Ayahanda Kaisar memarahi Paman Pangeran lagi?”
“Tidak. Ayahmu tidak marah. Dia hanya kesal istrinya dihukum oleh istri sah dan ibu tirinya.”
“Tapi, nenek itu ibu Paman Pangeran.”
“A-Yu, apakah kau tidak rindu pada Paman Pangeran?”
“Tentu saja rindu!”
“Kalau begitu, ayo ikut Paman Pangeran. Paman Pangeran akan membacakan banyak buku untuk A-Yu.”
Murong Yan menggamit tangan kecil Murong Yu dan membawanya menuju Perpustakaan Istana. Anak sekecil dirinya tidak sepatutnya menyaksikan adegan kejam di tempat yang disebut rumah besar ini. Murong Yu sudah kehilangan ibunya, dia seharusnya melewati masa kecil dengan bahagia. Murong Yan tidak ingin keponakan kecilnya dimanfaatkan orang.
Ya, karena dia adalah seorang Murong Yan, Pangeran Kedua yang bebas seperti burung.
...***...
...Hayoo siapa yang udah punya pemikiran lain sama Murong Yan? Kalau dilihat dari perilakunya, dia kayaknya nggak kayak ibunya ya. Kita tunggu aja kelanjutannya. Oh ya, kemarin otor nggak bisa update karena jadwalnya padat, hari ini juga mungkin updatenya nggak kayak sebelumnya. Tapi, jangan tinggalin ceritanya dulu ya! ...