The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 43: SAMPAI JUMPA LAGI



Li Anlan dan Long Ji Man menteap di Yuan selama dua minggu. Selama itu pula, semua kejadian di dalam istana begitu aneh. Li Anlan sebagai Ratu Li tidak pernah berbicara perihal keadaan negeri kepada Permaisuri Yi atau Ibu Suri dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Wei Linglong di Istana Fenghuang.


Kedua wanita itu lebih banyak bersenang-senang. Merasa ada teman sekampung, keduanya melakukan kebiasaan dan kegiatan yang sering dilakukan manusia modern di sini, karena rasanya sudah sangat lama mereka tidak melakukannya. Spa, belanja, bernyanyi bersama, berolahraga hingga bakar-bakar dilakukan dari hari ke hari. Si Kembar Long dan Murong Yu juga bermain bersama setiap hari.


Saat kedua wanita itu sibuk sendiri, Murong Qin dan Long Ji Man justru merasa kesal. Bagaimana tidak, istri mereka bertingkah seperti dunia hanya milik mereka saja. Long Ji Man yang paling cemburu karena Li Anlan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Wei Linglong ketimbang dirinya. Padahal, alasan dia mengajak wanita itu ke Yuan adalah untuk menikmati waku berdua, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau dia justru dicampakkan


Murong Qin yang paling kesal. Sebagai seorang Kaisar, dia merasa harga dirinya hilang karena Wei Linglong sama sekali tidak berbicara kepadanya. Seratus selir dan tujuh puluh Nona Kekaisaran yang ada di harem semuanya berebut untuk mendapatkan hatinya, tetapi Wei Linglong justru mengabaikannya seperti kain tak terpakai.


Untung saja kekesalan kedua raja itu sedikit teralihkan oleh beberapa urusan kenegaraan yang dibahas bersama. Jika tidak, kedua raja itu akan benar-benar menghukum istri mereka dengan tegas karena telah berani mengabaikannya. Para menteri tinggi Dinasti Yuan juga merasa kalau raja lebih banyak memendam emosi dibanding beberapa minggu lalu.


Demi menyenangkan tamu agung, Murong Qin memberikan izin secara khusus kepada Wei Linglong, yang membebaskannya keluar dari istana untuk menemani Ratu Li bermain. Izin tersebut sempat mendapat pertentangan dari Permaisuri Yi, karena secara hierarkis posisinya lebih tinggi dari Selir Chun. Pertentangan tersebut berhasil dihilangkan oleh Li Anlan, karena dia yang mengatakan bahwa dia hanya ingin ditemani oleh Wei Linglong saja.


Saat suami mereka tidak ada, kedua wanita itu keluar dari istana, mengelilingi ibukota, berjalan-jalan, lalu menikmati wisata kuliner dari restoran ke restoran. Hampir semua tempat mereka kunjungi, kecuali satu tempat: Rumah bordil. Wei Linglong tidak ingin mengunjungi tempat seperti itu mengingat kejadian yang menimpanya dan Paviliun Baihua beberapa bulan yang lalu.


Li Anlan hanya tertawa ketika mendengar kisah tersebut. Baginya, Wei Linglong memang sungguh polos dan bodoh. Dia terlalu banyak membaca buku di perpustakaan dan bergelut dengan lab dan lahan pertanian hingga tempat hiburan seperti itu pun tidak tahu. Li Anlan juga tertawa terbahak-bahak saat dia mengetahui alasan mengapa Wei Linglong bisa sampai di tempat seperti itu.


Kini, tiba bagi tamu agung pulang ke negaranya. Semua urusan kenegaraan sudah selesai dan waktu kunjungan mereka juga sudah habis. Di  aula Istana Yanzhi yang digunakan sebagai tempat pengadilan, para  menteri tinggi Dinasti Yuan mengucapkan selamat tinggal kepada Raja Long dan Ratu Li beserta kedua anak mereka agar selamat sampai tujuan dan hubungan kedua negara semakin baik.


Selepas pengadilan bubar, Murong Qin secara pribadi mengantar tamunya ke gerbang istana. Di sana, beberapa kereta kuda berbendera Kerajaan Dongling terparkir berjajar. Ada beberapa kereta yang penuh, isinya adalah beberapa barang hadiah dan oleh-oleh dari kekaisaran. Beberapa kereta lagi difungsikan untuk kendaraan bagi para pengikut, kemudian kereta paling mewah dan paling besar adalah kereta untuk raja dan ratu.


Wei Linglong juga ada di sana.


Dia berlari dari Istana Fenghuang ke gerbang utama yang jaraknya hampir setengah kilometer. Alhasil, ketika sampai di sana, dia seperti ikan yang kehabisan napas. Dadanya turun naik dan kembang kempis. Keringatnya bercucuran di keningnya yang seputih giok.


“Kakak, hati-hati di jalan!” ucapnya sembari memeluk Li Anlan, yang membuat para menteri yang ikut mengantar tercengang. Ratu Li berpelukan dengan Selir Chun?


“Kau ini! Kelak kau harus berhati-hati dan jadilah lebih pintar. Ingat perkataanku. Kalau kau memerlukan bantuanku, kirimlah surat ke Kerajaan Dongling. Aku pasti akan membantumu.”


“Ya ya ya, aku tahu. Apa suamimu tidak marah? Kita sepertinya telah membuat mereka kesal akhir-akhir ini.”


“Aku datang untuk bersenang-senang, jadi kau tidak perlu khawatir. Sebaliknya, kau yang harus menjaga suamimu. Jangan sampai orang lain merebutnya!”


“Dia tidak membunuhku saja aku sudah sangat senang.”


Berat bagi Li Anlan meninggalkan teman lamanya di sini. Teman bodohnya itu susah diberitahu dan bertindak tanpa berpikir. Tetapi jika dia terus ikut campur, Li Anlan khawatir Wei Linglong tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri, selain itu juga bisa membahayakan kedua negara. Untungnya, dia sudah memberikan peringatan di awal kepada Permaisuri Yi dan Ibu Suri dinasti ini, sehingga setidaknya mereka tidak akan macam-macam untuk sementara.


Murong Qin menjabat tangan Long Ji Man. Kunjungannya kali ini begitu spesial, saking spesialnya hingga membuat keduanya makan hati setiap hari. Setelah perpisahan ini, entah kapan mereka akan bertemu kembali. Murong Qin hanya berharap Long Ji Man dan Li Anlan sampai ke Dongling dengan aman sentosa.


“Kau harus menghargai Selir Chun dan menjaganya. Dia adalah orang yang sangat istimewa. Kelak, kirimkanlah utusan jika kau membutuhkan bantuan kami,” ucap Long Ji Man disambut dengan pelukan ringan.


“Istimewa? Apa maksudnya?”


“Kelak kau juga akan tahu. Ayo, Huang An, kita sudah harus kembali.”


Long Ji San dan Long Ji Shi memeluk Wei Linglong, kemudian berjabat tangan dengan Murong Yu. Kedua bocah kembar itu juga berpamitan pada Murong Qin, mengatakan bahwa mereka akan sering bermain ke Yuan. Murong Yu memegang erat tangan Wei Linglong, tampak jelas bahwa dia tidak rela kedua teman barunya pulang ke negeri asal.


Dua minggu seperti dua hari. Murong Yu baru kali ini merasa punya teman yang banyak. Umurnya dan umur anak kembar itu hampir sama, jadi mereka bisa memiliki hobi dan pikiran yang sama. Sekarang, sudah harus berpisah jauh. Rasanya istana ini akan kembali sepi seperti sebelumnya.


Tepat saat Li Anlan dan Long Ji Man hendak menutup pintu kereta kudanya, seseorang berteriak dari kejauhan. Di jalan tengah istana, seorang pria berpakaian sutera biru muda berlari sambil membawa gulungan kain yang disampirkan di bahunya.


“Murong Yan?” ucap Wei Linglong tanpa sadar.


Murong Yan mendapat kabar kalau Raja Long dan Ratu Li akan pergi hari ini. Dia berlari dari istananya setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dia gunakan saat bepergian keluar istana. Para pelayannya tidak tahu ke mana tujuan pangeran merea kali ini karena Murong Yan tidak memberitahu mereka.


“Raja Long, Ratu Li, apa aku boleh ikut dengan kalian?”


Semua orang tercengang. Apa maksud Pangeran Yan ini? Apa dia ingin pergi bersama dengan Raja Long dan Ratu Li? Oh, yang benar saja. Dia baru saja kembali tiga bulan lalu setelah satu tahun tidak pulang, sekarang dia ingin pergi lagi? Dia benar-benar pangeran yang berjiwa bebas.


“Ya. Kakak Kaisar, aku sudah bosan dengan istana. Kebetulan, aku belum pernah pergi ke Dongling. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam atau mencoreng nama baik Yuan. Aku hanya ingin bertamasya dan bermain.”


“Kaisar Mingzhu, bagaimana pendapatmu?” tanya Long Ji Man.


“Adikku ini suka bermain. Jadi, hanya bisa merepotkan Raja Long dan Ratu Li.”


Setelah mendapat izin dari kakaknya, Murong Yan langsung naik ke kereta kuda tempat Long Ji Man dan Li Anlan. wajahnya dipenuhi kebahagiaan yang membuncah. Dia sudah tidak sabar ingin melihat seperti apakah negeri Dongling, yang walaupun kecil tetapi begitu makmur dan berdaulat.


Murong Qin melepas kepergian tamu agung beserta adiknya dengan pandangan mata. Kepergian Murong Yan kali ini pasti akan membuat Ibu Suri kesal, dan itu akan sangat menyenangkan untuk Murong Qin. Tidak disangka, kedatangan tamu agung dari Dongling kali ini membawa begitu banyak keberuntungan untuknya.


“Linglong, sampai jumpa lagi!” seru Li Anlan sebelum menutup pintu kereta.


“Anlan, sampai jumpa lagi!”


...***...


Istana Tian Yue, di waktu yang sama.


Permaisuri Yi berjalan mondar-mandir di hadapan Ibu Suri. Perasaannya begitu tak karuan. Ancaman secara tidak langsung yang dilontarkan Ratu Li beberapa hari lalu sukses menciptakan ketakutan dan kekhawatiran yang menghantuinya setiap malam. Dia takut ucapan Ratu Li menjadi kenyataan.


Ibu Suri juga memiliki kebingungan yang sama. Tadinya, dia ingin memanfaatkan Wei Linglong kembali, meskipun wanita itu berkali-kali menolaknya. Tidak ada yang lebih penting daripada mendapatkan token perintah militer yang ada di tangan Murong Qin. Bagaimanapun, dia harus mendapatkannya. Dengan begitu, dia bisa membangun kekuatan untuk menggulingkan Murong Qin.


Rasa tidak adil dan tidak terima atas takhta yang menghilang dari tangannya begitu saja ternyata tidak pernah hilang. Kebencian dan dendamnya mengakar selama bertahun-tahun. Meskipun dia tidak melawan Murong Qin secara langsung dan terang-terangan, dia merencanakan semuanya dengan baik di belakang layar. Sayang sekali, Murong Qin terlalu kuat hingga dia berkali-kali mengalami kekalahan.


Pada umumnya, seorang Kaisar baru akan memenjarakan siapapun yang masih ada kaitannya dengan masa lalu, terutama mereka yang menentangnya secara keras. Kaisar itu bisa mengurung para pangeran dari ayahnya yang berpotensi mengancam posisi takhta yang didudukinya, atau memenjarakan wanita-wanita yang berpotensi menjadi musuhnya di masa depan.


Murong Qin tidak melakukan itu. Dia tetap membiarkan Ibu Suri hidup dengan baik di harem dan tidak mencopot semua kekuasaannya, padahal Murong Qin jelas tahu kalau Ibu Suri akan menjadi musuh terbesarnya. Dia melakukan itu untuk menghormati ayahnya, mendiang Kaisar terdahulu yang begitu mencintai Ibu Suri. Dia juga tidak mengurung Murong Yan dan membiarkannya hidup dengan bebas.


Sayangnya, Ibu Suri tidak puas dengan perolehannya. Ambisinya adalah menjadi penguasa tertinggi, Kaisar yang harus duduk di atas takhta haruslah pangeran yang lahir dari rahimnya sendiri. Murong Qin, seorang anak selir malah menjadi penguasa tertinggi, itu membuatnya tersiksa selama bertahun-tahun. Ibu Suri sakit hati. Dia menjadi rakus dan tamak akan kekuasaan hingga mengorbankan banyak hal, mati-matian melawan Murong Qin.


Segalanya menjadi lebih sulit sekarang. Selir Chun atau Wei Linglong yang digadang-gadang bisa dia manfaatkan ternyata adalah seekor harimau betina yang menyembunyikan taring dan cakarnya. Wanita itu tidak hanya menolak dan melawannya, bahkan memiliki dukungan yang kuat di belakangnya: Ratu Li dari Kerajaan Dongling!


Baru sekadar ancaman halus saja sudah membuat mereka ketar-ketir, apalagi jika sampai menjadi kenyataan. Untuk saat ini, Ibu Suri harus memikirkan cara terbaik agar dia bisa mencapai keinginannya tanpa menimbulkan masalah, tetapi betapa sulitnya menemukan cara tersebut.


“Utus seseorang ke Istana Fenghuang secara diam-diam. Pastikan agar dia tidak ketahuan!” perintah Ibu Suri pada Permaisuri Yi.


“Yang Mulia, Anda ingin melakukan apa?”


“Ada sesuatu yang harus diambil dari istana itu.”


Permaisuri Yi langsung pergi ke istananya. Dia memerintahkan seorang pelayan pria untuk pergi ke Istana Fenghuang dan memintanya untuk berhati-hati. Setelah itu, dia kembali ke Istana Tian Yue untuk melaporkan urusannya. Ibu Suri tersenyum misterius. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang melapor.


“Yang Mulia, Pangeran Yan pergi ke Kerajaan Dongling bersama Raja Long dan Ratu Li.”


Ibu Suri langsung melemparkan gelas dan poci porselen di mejanya hingga pecah. Dia sangat marah.


“Dasar anak durhaka!”


...***...


POV Li Anlan:


Terima kasih Mak Otor yang sudah membiarkan aku bertemu dengan teman lamaku. Terima kasih juga sudah mempertemukan aku dengan para pembaca kisahku yang tercinta. Li Anlan pamit dulu ya, kapan-kapan aku bakal sering main kalau Mak Otor ngizinin. Dadah!