
“Hentikan! Jangan kejar lagi!”
Suara teriakan Murong Qin menggema pada siang hari itu. Sudah tiga puluh menit dia berlari mengelilingi halaman Istana Fenghuang, tetapi belum bisa berhenti. Di belakangnya, Wei Linglong terus mengejar dengan menjulurkan tangannya, bersiap ingin mengoleskan tanah yang basah di tangannya ke jubah Murong Qin.
Wanita ini!
Ada saja akalnya. Kali ini dia ingin mengerjai Murong Qin. Tanah-tanah basah yang seharusnya dipakai untuk menanam bunga malah dipakai untuk mengerjai orang. Salah Murong Qin sendiri yang telah mengganggu hobinya dan berdebat dengannya. Siapa suruh pria itu menghalangi pekerjaannya.
“Yang Mulia, cepat berhenti! Kalau kau berhenti berlari, aku pasti akan berbelas kasih!”
“Kau pikir aku bodoh? Jangan mengejarku lagi!”
“Tidak sebelum Yang Mulia minta maaf padaku!”
“Memangnya apa salahku?”
“Kau sudah menunda pekerjaanku!”
“A-Ling kau sudah gila!”
Seluruh pakaian Wei Linglong sudah sangat kotor. Dia seperti seseorang yang baru tercebur ke dalam lumpur. Wajah, kaki, tangan dan ujung bajunya dipenuhi noda dari tanah yang basah. Dia tidak akan menyerah sebelum dia mendapatkan Murong Qin dan mengotori jubahnya.
Para pelayan Istana Fenghuang yang menyaksikan adegan kejar-kejaran antara Selir Chun dan Kaisar Mingzhu tersenyum penuh arti. Di seluruh dunia ini, mungkin hanya Selir Chun yang berani memperlakukan seorang Kaisar Mingzhu seperti itu, bahkan mengerjainya habis-habisan. Hanya Selir Chun satu-satunya wanita yang membuat Yang Mulia mereka menahan jengkel karena perilakunya.
“Nyonya, jangan kejar Yang Mulia lagi! Bagaimana jika Yang Mulia jatuh?”
Tepat saat Kasim Liu mengakhiri pembicaraannya, Murong Qin yang sedang melarikan diri dari Wei Linglong menginjak ujung jubahnya sendiri. Keseimbangannya langsung terganggu dan dia hendak jatuh telungkup ke tanah. Dengan ilmu bela dirinya yang sangat tinggi, Murong Qin langsung memutar tubuhnya hingga bersiap jatuh dalam posisi telentang.
Sayang, belum sempat dia bernapas lega, Wei Linglong yang juga hendak terjatuh karena menyandung batu langsung menabraknya sekaligus. Tubuh Murong Qin dan tubuh Wei Linglong beradu dan dalam waktu satu detik, keduanya jatuh berbarengan dengan posisi Wei Linglong menindih Murong Qin, sementara Murong Qin sedikit meringis karena punggungnya menyentuh tanah pekarangan.
Wei Linglong memejamkan matanya. Dia belum sadar kalau dia jatuh di atas tubuh Murong Qin. Tangannya yang kotor seperti sedang menyentuh sesuatu. Hangat dan halus. Dia juga merasakan udara yang berhembus di wajahnya, begitu memburu seperti api yang membara. Kemudian, Wei Linglong membuka matanya.
Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui kalau objek yang dia pegang adalah… wajah Murong Qin! Tidak hanya itu, Wei Linglong juga semakin terkejut ketika tahu bibirnya yang merah muda menyentuh bibir pria itu. Seketika pandangan mata keduanya bertemu, sama-sama terkejut dan tidak percaya.
Jantung keduanya berdegup seperti deburan ombak di laut yang datang silih berganti. Wei Linglong dan Murong Qin sama-sama terdiam, saling memandang satu sama lain. Para pelayan yang menyaksikan adegan kecelakaan tersebut langsung membalikkan tubuh, tidak ingin melihat pemandangan di depan mereka.
“Ekhem..”
Wei Linglong kembali ke kesadarannya ketika suara Kasim Liu memecah keheningan. Wei Linglong mengangkat wajahnya, kemudian kembali menatap Murong Qin dengan tatapan yang sama. Kosong dan bingung. Murong Qin juga kembali menatapnya.
“Wei Linglong, apa kau sudah puas mengerjaiku?”
Wei Linglong tergagap.
“Ah?”
“Singkirkan tangan kotormu dari pipiku dan menyingkirlah dari tubuhku!”
Wajah dan jubah Murong Qin yang semula bersih langsung kotor. Lihat, tidak perlu Wei Linglong kotori, pria itu mendapatkan karmanya sendiri. Tetapi, kenapa dia juga harus ikut terseret? Bahkan malah secara tidak sengaja jatuh di atas tubuhnya dan mencium pria itu!
Benar-benar membuat orang sakit kepala!
“Y-Yang Mulia, karena pakaian dan wajahmu kotor, sebaiknya kau kembali ke Istana Yanxi.”
Murong Qin ingin sekali marah, tetapi tidak bisa. Wajahnya yang tampan dipenuhi noda tanah basah dari telapak tangan Wei Linglong. Pada akhirnya, Murong Qin hanya bisa menghela napas, menahan emosinya dengan memejamkan mata sesaat. Setelah sedikit lega, dia akhirnya berbicara.
“Mengapa?”
“Karena di sini tidak ada pakaian pria. Kecuali,”
“Kecuali apa?”
“Kecuali Yang Mulia mau memakai pakaian wanita, aku bisa meminjamkan beberapa potong pakaianku.”
Bodoh, pikir Murong Qin.
“Apa kau lupa siapa pemilik istana ini sebelumnya?”
Tanpa menunggu jawaban, Murong Qin melengang masuk ke dalam Istana Fenghuang. Dia yang membuat istana ini, dia adalah pemilik sesungguhnya dari istana ini. Jadi, mana mungkin tidak ada sesuatu miliknya di sini. Dia tahu semua isi dan bagian dari istana ini karena istana ini adalah tempat tinggal keduanya sebelum diberikan pada wanita itu.
Wei Linglong mengikutinya dari belakang. Kali ini, dia pikir Murong Qin akan menghukumnya, tapi nyatanya tidak. Entah apa yang hendak dilakukan oleh pria itu sekarang. Wei Linglong terus mengikutinya seperti seekor anak bebek tunggal yang berjalan di belakang ekor induknya.
Saat Wei Linglong melihat Murong Qin berjalan ke dekat lemari, memutar sebuah guci porselen putih yang lucu, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
Celaka! Dia pasti tidak akan selamat!
“Yang Mulia, jangan-”
Wei Linglong tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Guci porselen itu diputar, kemudian beberapa saat kemudian terdengar suara pintu seperti dibuka secara otomatis. Dinding di dekat lemari terbuka, menampilkan sebuah ruang rahasia yang berkilau seperti emas.
Ruangan tersebut cukup luas dengan bentuk persegi. Di dalamya terdapat beberapa buah lemari dan benda-benda berharga seperti guci porselen, pot mahal, pembakar dupa, relik dewa, lukisan, buku kuno, kendi-kendi arak ratusan tahun dan lain-lain.
“-dibuka…”
Wei Linglong tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. Celaka, dia pasti akan dihukum kali ini. Murong Qin berjalan mendekat ke salah satu lemari. Tangan putihnya yang pernah memegang pedang berlumur darah menggeser kunci lemari tersebut, kemudian membukanya. Tetapi, isi lemari tersebut justru membuatnya terkejut bukan main.
“WEI LINGLONG, DI MANA SEMUA PAKAIANKU?”
“Itu.. di sana,” ucap Wei Linglong ragu. Dia menunjuk sebuah peti kayu yang besar di pojok ruangan.
“Aku pikir kau sudah tidak membutuhkannya. Kebetulan, pakaianku banyak, jadi aku memasukannya ke dalam sana.”
Dia berkata seolah-olah itu adalah hal biasa. Wei Linglong mengabaikan ekspresi Murong Qin yang sudah sangat kesal. Betapa tidak, ini adalah ruang rahasia tempat dia menyimpan pakaian lain dan beberapa hartanya dan malah diubah menjadi lemari pakaian wanita.
“Bagaimana caramu menemukan ruangan ini?”
“Kalau aku bilang aku menemukannya secara tidak sengaja, apa Yang Mulia akan percaya?”
“Menurutmu?”
“Sungguh! Aku berkata jujur! Aku menemukannya secara tidak sengaja!”
“Oh?”
“Aku sedang menata ulang ruangan dan memindahkan beberapa hiasan. Yang Mulia, aku berkata jujur.”
“Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, dari mana datangnya semua pakaian itu?”
“Pakaian yang mana?”
“Tentu saja yang kau gantung di lemariku!”
“Aku membuatnya.”
“Sungguh?”
“Benar, Yang Mulia. Tenang saja, aku tidak mengorupsi kain milikmu. Itu adalah kain-kain hadiah yang kau berikan padaku beberapa bulan yang lalu.”
Murong Qin berpikir sejenak. Kain yang mana?
“Hadiah setelah perjamuan?”
Wei Linglong mengangguk.
Murong Qin mengambil salah satu pakaian Wei Linglong. Jahitannya rapi, potongannya juga pas. Motif sulaman yang digambar juga beraneka dan sangat unik. Pakaian ini dibuat dengan begitu teliti, hampir seperti pakaian yang dibuat oleh Biro Jahit Istana.
Pria itu mengambil yang lainnya dan memeriksanya seperti tadi. Semuanya sama. Dia tidak menyangka selirnya memiliki keterampilan seperti ini. Kain warna-warni yang berupa lembaran dirubah menjadi pakaian bagus yang lembut, keterampilannya bukan seperti gadis biasa.
“Kapan kau membuatnya? Bukankah saat musim dingin kau ada bersamaku?”
“Aku membuatnya saat waktu senggang.”
“Ya, kau sangat-sangat senggang sehingga bisa membuat pakaian sebanyak ini.”
Pujian bermakna sindiran itu dilontarkan begitu ringan. Ya, Wei Linglong akui kalau dia sangat senggang, tidak seperti selir lain yang setiap hari punya pekerjaan berdebat dengan sesama selir atau saling menyindir satu sama lain. Dalam kata lain, Wei Linglong adalah selir pengangguran seperti yang pernah dia katakana sebelumnya.
Padahal, dia hanya mencoba memanfaatkan kain-kain sutera itu sekalian mengasah kembali kemampuannya. Wei Linglong pernah belajar mendesain pakaian dan menjahitnya sendiri lima tahun lalu. Karena malas, dia akhirnya tidak menekuni kegiatan itu lagi.
“Yang Mulia, aku juga membuatkan satu untukmu,” ujar Wei Linglong.
Wanita itu membuka lemari yang lain, mengambil satu set pakaian Kaisar lengkap dengan jubahnya. Perpaduan warna yang ada pada pakaian itu sangat sempurna. Desainer istana saja sepertinya akan kalah. Suteranya lembut, benangnya kuat, sulaman motif naga dan sayap elang rapi. Ukurannya juga pas dengan tubuh Murong Qin.
“Kenapa kau punya keterampilan ini?”
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya mencoba sesuatu yang telah kupelajari dulu.”
Murong Qin kemudian mengambil satu set pakaian lain yang ukurannya lebih kecil – pakaian untuk anak-anak. Motifnya lebih sederhana, namun tampak elegan jika dipakai.
“Itu untuk Xiao Yu.”
“Kau membuatnya juga?”
“Ya. Aku rasa aku harus membuat satu untuknya juga.”
“Kau sangat perhatian rupanya.”
“Apa aku tidak boleh perhatian pada seorang bocah kecil? Xiao Yu itu sangat malang. Dia sudah kehilangan ibunya sejak kecil, ayahnya juga jarang berbicara padanya. Dia lahir di keluarga kerajaan, tetapi hidupnya tidak berbeda dengan seorang yatim yang kesepian. Kalau Hongxue mengetahuinya, entah dia akan sedih atau bahagia karena anak yang dilahirkan tidak sengaja dan telah membuat nyawanya melayang mengalami hal ini.”
Perkataan Wei Linglong menusuk ulu hati Murong Qin. Sudah tujuh tahun berlalu rupanya. Wanita itu berani mengungkit nama Permaisuri Pertama, rasanya sungguh mengesalkan. Seandainya saja dia bukan Wei Linglong, Murong Qin pasti akan membunuhnya.
Sindiran tersebut memang sangat menusuk. Murong Qin mengakui kalau dia bukan ayah yang baik. Bagaimanapun, Murong Yu tidak bersalah. Dia lahir juga karena perbuatan Murong Qin. Setelah tahu anak itu dekat dengan Wei Linglong, Murong Qin mulai merasakan sesuatu di hatinya. Dia perlahan mulai memperhatikan Murong Yu meskipun jauh dari kata ‘benar-benar perhatian’.
Wei Linglong sungguh tidak bermaksud menyindirnya. Dia hanya mengungkapkan isi hatinya yang selalu menggelitik perasaannya. Mungkin karena terlalu lama mengeraskan hati dan bersikap tidak peduli, Murong Qin sulit untuk menerima Murong Yu. Tetapi, Wei Linglong yakin kalau suatu saat hati keras pria itu akan luluh. Harimau tidak pernah memakan anaknya seganas apapun dia. Murong Yu adalah darah daging Murong Qin, tidak mungkin jika pria itu tidak merasakan ikatan batin.
Suasana tiba-tiba berubah. Murong Qin mengambil pakaian yang dibuat Wei Linglong, kemudian berkata,
“Aku ingin membersihkan diri.”
...***...
...Bentar ya, Author mau senam jari dulu, baru lanjut up... ...