The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 37: TAMU DARI NEGERI LAIN



Sepuluh hari berlalu seperti angin di dataran Dinasti Yuan. Musim semi yang hadir menghangatkan seluruh kota kekaisaran dengan sapaan berupa mekarnya bunga dan menguarnya harum dari setiap kuncup yang mekar di ujung jalan dan setiap halaman rumah. Sisa-sisa es musim dingin sudah hampir tidak bersisa.


Istana Yuyang, istana khusus yang dibangun untuk perjamuan penting sudah sibuk sejak lima hari lalu. Meja-meja, cangkir, poci, kain-kain satin penutup jendela, semuanya ditata dengan rapi dan hati-hati. Para pelayan berseragam merah muda hilir mudik membawa beberapa peralatan pembersihan.


Kasim-kasim tua penguasa istana berseragam biru tua memegang cambuk halus tanda peringkat memerintah di sana-sini, memastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat. Tiang-tiang marmer yang kokoh dilap hingga mengkilap, seolah tidak boleh ada debu sekecil apapun yang hinggap di dalam istana tersebut.


Bagaimana tidak, perjamuan agung akan dilaksanakan esok hari. Tamu yang datang kali ini bukanlah pejabat perbatasan atau utusan, melainkan raja dan ratu dari negeri tetangga yang telah bersahabat lama dengan kekaisaran Dinasti Yuan. Kunjungan mereka kali ini adalah yang pertama kali setelah sepuluh tahun sejak Kaisar Mingzhu naik takhta.


Semua keperluan untuk menyambut tamu tersebut harus tersedia dengan baik mulai dari makanan, tempat istirahat, bahkan sampai kakus pun harus dipersiapkan dengan baik. Tamu terhormat tersebut merupakan pemimpin sebuah negeri, yang tentunya tidak bisa dijamu dengan perjamuan biasa.


Murong Qin sengaja mempersiapkan semua ini agar tamu yang datang merasa nyaman. Sejak dia menerima surat pemberitahuan beberapa hari lalu, pikirannya langsung terbagi antara pemerintahan dan penyambutan tamu. Beberapa hal jadi tertunda karena Murong Qin lebih memproritaskan penyambutan tamu agung. Untungnya, para pejabat juga memikirkan hal yang sama.


Mengetahui Kaisar mereka telah membuka kembali pengadilan istana di awal musim semi, para menteri langsung bergegas menghadiri rapat di pagi hari. Jubah-jubah mewah mereka berkibar seperti lambaian sutera yang lembut.


Saat Murong Qin tiba, mereka langsung disambut dengan pemberitahuan akan datangnya tamu negara tetangga dalam beberapa hari ke depan, kemudian meminta mereka mengeluarkan pendapat.


Hari ini, pengadilan istana sedang riuh oleh suara perdebatan yang terjadi antara beberapa menteri tinggi. Pembicaraan mereka mengarah pada cara menyambut tamu agung ketika mereka tiba di dataran Dinasti Yuan. Di saat seperti ini, mereka sebisa mungkin menjaga muka agar tetap tenang dan tampak berkuasa agar wibawa kekaisaran tidak menurun.


Murong Qin hanya menatap menteri-menterinya dengan malas. Dia sudah mengatur semuanya dengan baik, para pejabat itu seharusnya tidak perlu khawatir. Yang terpenting dalam menyambut tamu adalah persiapan dan tempat penyambutan. Jika sudah diatur dengan baik, maka tidak perlu takut apapun lagi.


Pikirannya justru jatuh pada sosok Wei Linglong yang belum dia temui selama sepuluh hari ini. Sejak kembali ke Istana Fenghuang, dia belum berbicara dengan cara yang baik pada wanita itu. Terakhir kali saat dia didorong keluar oleh Wei Linglong, Murong Qin belum sempat menjelaskan apapun.


Murong Qin membiarkan Wei Linglong memulihkan matanya terlebih dahulu. Selain itu, dia juga memerintahkan prajurit elitnya untuk mengawasi dan menjaga Istana Fenghuang secara diam-diam untuk mencegah penjahat masuk dan mencelakainya kembali. Sampai saat ini, Murong Qin belum mengetahui motif mengapa mereka menyerang dan mengincarnya pada hari itu.


Dia tiba-tiba berpikir apa jadinya jika Wei Linglong yang diberikan tanggung jawab dalam perjamuan kali ini. Ide-idenya yang tidak terduga pasti bisa membuat tamu agung terkesan dan merasa dihargai begitu tinggi. Ingin sekali dia melakukan semua itu, namun hanya menjadi angan-angan karena dia sama sekali tidak bisa memaksanya. Wanita itu sudah membantunya begitu banyak hingga terluka, tidak baik jika terus menerus merepotkannya.


Apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu sekarang? Apakah kesehariannya berjalan menyenangkan ketika semua pandangan yang biasanya terang dan dipenuhi warna menjadi gelap gulita seperti malam tanpa cahaya? Rasanya mungkin berat karena Murong Qin pernah merasakannya saat berperang belasan tahun yang lalu. Matanya pernah terluka karena panah beracun yang melesat merobek keningnya.


“Lapor!”


Jenderal Jin, jenderal bawahan Jenderal Yun yang masih muda berteriak sambil berlari. Suaranya mengalahkan para menteri tinggi hingga perdebatan langsung berhenti dan semuanya langsung mengalihkan fokus pada pria berjubah militer yang tengah berlari di tengah aula. Pedang di tangannya ikut bergerak seirama dengan langkah kaki besarnya.


“Yang Mulia, mereka sudah sampai di gerbang istana,” lapor Jenderal Jin sambil berlutut. Seketika, semua orang langsung terkejut. Murong Qin bahkan sampai berdiri dari kursi naganya.


“Persilakan mereka masuk!”


Jenderal Jin segera meninggalkan aula untuk menjemput orang yang dimaksud. Di kursi naganya yang tinggi, Murong Qin menghela napas. Dia tidak pernah menyangka kalau mereka akan datang secepat ini. Dia pikir, besok atau lusa mereka mungkin akan sampai, namun perkiraannya ternyata salah besar.


Beberapa saat kemudian, Jenderal Jin sudah kembali. Di belakangnya, seorang pria gagah berjubah emas dan bermahkota berjalan bersama seorang wanita muda yang sangat cantik. Pakaiannya berwarna biru tua bersulam benang perak yang indah dan panjang. Mahkota di kepala wanita itu juga terbuat dari emas murni yang beratnya mungkin mencapai setengah kilogram.


Para menteri tinggi terpana. Mereka menatap dua orang dengan aura yang sangat terang dan kuat dengan saksama. Inikah… inikah tamu agung yang sedang mereka tunggu dan mereka perdebatkan mengenai cara penyambutannya beberapa saat yang lalu?


“Kami memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar Mingzhu. Semoga negara senantiasa aman dan damai,” ucap dua orang itu secara bersamaan.


“Sudah lama tidak bertemu, Raja Long.”


Suara Murong Qin dan suara kedua orang itu membuat atmosfer di dalam aula pengadilan menjadi sedikit mencekam. Ada keagungan tercipta dari tiga sosok dengan kemuliaan setinggi langit memenuhi seluruh ruangan. Para menteri merasakan kehadiran dua naga dan satu phoenix langit yang agung hadir di tengah-tengah mereka.


Murong Qin tersenyum kecil sambil menatap dua orang agung yang berdiri di depan kursi singgasananya. Benar saja, semuanya sesuai dengan yang ia duga. Dua sosok ini merupakan tamu agung yang sudah lama tidak dia jumpai. Terakhir, mereka berjumpa di medan perang ketika bekerja sama melawan bangsa asing di kawasan utara.


“Kaisar Mingzhu ternyata tidak pernah berubah.”


“Tentu saja. Apakah perjalanan kalian menyenangkan, Raja Long dan Ratu Li?”


Sungguh tidak pernah disangka-sangka bahwa Raja Long dan Ratu Li dari Kerajaan Dongling datang ke dataran Dinasti Yuan. Para menteri tinggi sudah sering mendengar kisah heroik pasangan raja dan ratu tersebut selama beberapa tahun.


Mereka juga sering mendengar kisah romantis tentang cinta dari kedua orang itu yang bertahan hingga kini, tentang kesetiaan dan kekuatan yang telah menyeimbangkan seluruh kerajaan dengan kemampuan mereka.


Kerajaan Dongling tidak kalah berjayanya dengan kekaisaran Dinasti Yuan. Meskipun wilayahnya kecil, tetapi rakyat di sana begitu makmur dan sejahtera. Kerajaan Dongling adalah kerajaan yang memiliki kedaulatan tersendiri, hingga bisa berdiri dengan kukuh di tengah kerajaan-kerajaan besar yang lain.


“Menteri-menteriku, Raja Long, Long Ji Man dan permaisurinya, Ratu Li, Li Anlan dari Kerajaan Dongling telah berada di tengah-tengah kita.”


Serentak, para menteri memberi salam dan hormat. Tamu agung ini benar-benar sangat agung. Di dalam aula pengadilan yang luas nan mewah tersebut, dua raja dari dua negara yang berbeda dengan keagungan yang sama-sama besar tengah bersua setelah tahun-tahun berlalu. Kekaisaran Dinasti Yuan dan Kerajaan Dongling seperti sedang berbincang satu sama lain lewat pertemuan kedua raja ini.


...***...


Istana Fenghuang, pukul dua siang.


Wei Linglong baru saja selesai memangkas daun-daun tanaman hias yang ada di sekitar halaman dengan guntingnya. Meskipun matanya tertutup, tetapi instingnya tentang bagian-bagian tumbuhan begitu kuat hingga dia bisa merapikannya tanpa merusak bagian yang memperlihatkan keindahan dari tanaman tersebut.


Selama sepuluh hari ini, dia seperti dikurung di dalam sangkar. Murong Qin memang tidak melarangnya keluar, tetapi dengan keadaannya yang seperti ini, dia tidak bisa bepergian jauh. Bahkan untuk keluar dari kamar pun, dia masih memerlukan Xiaotan untuk membimbingnya.


Tabib Yin berkata bahwa sebentar lagi matanya akan sembuh. Sisa racun Tujuh Warna di retinanya perlahan menghilang seiring dengan bekerjanya obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya. Xiaotan dengan telaten membantu merawatnya, memasak obat dan mengganti kain penutup matanya secara berkala.


Kata-kata kasarnya keluar begitu saja dari mulutnya yang kecil seperti air bah yang menerjang dengan keras. Wei Linglong ingin sekali menumbuk orang-orang itu di dalam tumbukan beras lalu melemparkannya ke kolam ikan.


Pendengarannya menangkap suara ribut anak kecil dari kejauhan yang perlahan mendekat. Dia seperti mengenal suara itu, tetapi dia tidak mengenal suara lainnya yang begitu asing. Satu suara dia tahu Murong Yu, tetapi yang lainnya, dia sungguh tidak tahu.


“Xiao Yu, apa itu kau?” tanya Wei Linglong memastikan.


“Bibi! Dua anak ini menjahiliku!”


“Dua anak? Siapa? Apa mereka adalah saudaramu?”


“Aku adalah anak tunggal Ayahanda Kaisar. Aku tidak punya saudara.”


Wei Linglong merasakan kalau Murong Yu menggenggam erat tangannya. Tangan kecil bocah itu ia raih, kemudian dia pegang dengan erat. Telinganya menangkap suara langkah kaki yang berlari terburu-buru menuju ke arahnya. Tidak lama kemudian, suara anak laki-laki dan perempuan kemudian menyapa gendang telinganya dengan pertanyaan,


“Bibi cantik, apa kau adalah seorang biarawati?”


“Matamu ditutup dengan kain putih. Itu artinya kau sudah tidak mempedulikan dunia lagi. Apa kau benar-benar biarawati?”


“Sayang sekali masih muda sudah menjadi biarawati.”


“Hei, kita tidak tahu kebenarannya. Kakak, mengapa kau tetap bodoh sampai sekarang?”


“Ibunda bilang tidak apa-apa bodoh, asal bisa bermain trik. Adik, kau terlalu banyak meniru ayahanda!”


Sungguh, Wei Linglong tidak mengetahui siapa dua bocah kecil yang datang ke istananya dan mengapa mereka bisa masuk kemari. Setahunya, hanya Pangeran Sulung, Murong Yu, yang bisa berkeliaran dengan bebas. Dua bocah asing ini bisa lolos dari penjagaan dan sampai ke Istana Fenghuang, bahkan berdebat dan ribut di depannya, identitasnya pasti tidak biasa.


“Hei Nak, apa yang kalian ributkan?”


“Bibi Chun, tadi mereka mengejarku,” ucap Murong Yu.


“Ah? Apa itu benar?”


Bocah kecil laki-laki kemudian menjawab,


“Kami hanya ingin bermain dengannya.”


“Oh. Kalau begitu, kalian bermainlah di sini. Xiao Yu, mereka ingin berteman denganmu.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Siapa nama kalian?”


“Aku Long Ji San, ini adalah adikku.”


“Aku Long Ji Shi. Siapa kau?”


“Aku Murong Yu. Ini adalah Bibi Chun, bibiku yang baik hati.”


“Mengapa dia menutup matanya dengan kain putih?”


“Bibiku terkena racun Tujuh Warna. Tabib Yin bilang dia harus menutup matanya sampai sembuh.”


“Oh, bibi cantik yang malang.”


Apa bocah ini baru saja mengejekku? Tanya Wei Linglong dalam hati. Cara bicara Long Ji San dan Long Ji Shi tidak biasa. Mereka seperti telah terlatih sejak kecil hingga bisa berkata dengan begitu lancar dan tajam.


Wei Linglong menduga bahwa mereka berasal dari keluarga istimewa, bukan keturunan rakyat biasa. Terlebih, mereka bisa berkeliaran di istana yang pengawalannya sangat ketat.


Sudahlah, karena mereka ingin bermain dengan Murong Yu, maka biarkan saja. Dengan begitu, keponakan kesayangannya tidak terlalu sedih karena dirinya tidak bisa menemani bermain.


Dia membiarkan ketiga bocah itu bermain di halaman Istana Fenghuang yang indah dan luas. Awalnya terasa ribut, tetapi lama-kelamaan suara mereka sedikit menjauh. Mungkin, mereka bermain ke halaman belakang.


Tiba-tiba, sebuah suara wanita muda mengejutkan Wei Linglong dengan pertanyaan,


“Permisi, Nona. Apakah kau melihat sepasang bocah kembar berjalan kemari?”


...***...


...Yeay! Ini dia kejutannyannya! Author sengaja menghadirkan Li Anlan di sini untuk memperkuat ceritanya, biar kalian juga bisa ketemu lagi sama Li Anlan. Oh ya, buat para pembaca kesayangan yang belum tahu kisah Li Anlan, boleh baca dulu di The Little Consort ya! Semoga kalian suka! ...