
Keesokan harinya, Wei Linglong dan Murong Qin berkumpul bersama penduduk desa. Di tempat yang agak lebih tinggi, keduanya berdiri menatap para penduduk yang lusuh. Di sekeliling kedai, salju bekas semalam menggunung. Cuaca tidak sedingin hari kemarin.
Lu San berdiri tak jauh dari keduanya. Dengan setelan musim dingin sederhana, pria berumur tiga puluh tahunan itu berbicara lantang tanpa pengeras suara pada penduduk, memberitahukan bahwa dua orang yang ada di depan mereka adalah utusan kekaisaran yang datang untuk mengatasi bencana.
Reaksi mereka sungguh di luar dugaan. Kebanyakan penduduk mengerutkan kening, menatap Wei Linglong dan Murong Qin dengan tajam. Tatapan itu menyiratkan sebuah ketidakpercayaan yang telah mengakar sejak lama. Ekspresi mereka bahkan berubah dari biasa saja menjadi ekspresi meremehkan yang membuat Wei Lingong terlihat marah, namun ditahan sebisa mungkin.
“Utusan kekaisaran? Tuan Lu, mengapa kau tidak sekalian menyebutkan kalau mereka adalah Kaisar Mingzhu dan simpanannya saja?” ucap seorang penduduk berusia dua puluh lima tahun.
“Benar. Kulihat, pria kecil itu tidak seperti pria. Bagaimana bisa kau mempercayai mereka?” ucap yang lain.
“Bahkan jika mereka benar utusan kekaisaran, memangnya kenapa? Bukankah setiap tahun mereka hanya menumpang makan dan tidur tanpa bekerja? Pada akhirnya, penduduk desa tetap kesulitan menghadapi bencana!”
Jadi, mereka meremehkan dia dan Murong Qin? Bahkan jika dia adalah perancang terburuk di dunia pun, mereka tidak berhak menatapnya seperti itu!
“Tahan dirimu,” ucap Murong Qin menenangkan.
“Mereka meremehkan kita!”
Murong Qin menahan Wei Linglong. Jangan sampai wanita itu membuat keributan di sini. Semuanya baru saja dimulai. Murong Qin mulai menduga, bahwa selama ini, utusan kekaisaran yang dikirimkan pengadilan istana mungkin hanya sekadar formalitas dari Kementrian Kesejahteraan sebagai bentuk mematuhi perintah Kaisar. Jika benar seperti yang dikatakan oleh penduduk itu, maka selama ini dia telah dibohongi oleh pejabatnya sendiri.
Tidak mungkin para penduduk berbicara tanpa dasar. Apa yang dikatakan orang biasanya bercermin dari apa yang dia alami. Apalagi, Murong Qin melihat bahwa orang-orang ini tidak sedang berbohong. Ketidakpercayaan mereka bisa saja bersumber dari kekecewaan yang tidak pernah dia ketahui selama ini.
“Baik. Kalian boleh tidak percaya pada kami,” ujar Wei Linglong setelah berusaha mengendalikan diri.
“Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika pembangunan benteng berhasil, kalian harus bersujud dan memohon maaf pada kakakku.”
“Bagaimana jika gagal?”
“Kalau gagal, tulis namaku dengan huruf terbalik!”
Lu San membantu Murong Qin dan Wei Linglong berbicara. Dia yang dihormati di sini menerangkan bahwa ada rancangan yang sudah dibuat oleh kedua utusan ini.
Semuanya bisa dicoba terlebih dahulu baru bisa menilai keberhasilannya. Masalah bencana banjir setelah musim dingin lebih penting daripada bertengkar memperdebatkan kebenaran identitas kedua utusan.
Kali ini, mereka mencoba percaya. Para penduduk setuju melakukan pekerjaan membangun benteng berdasarkan rancangan yang dibuat oleh Murong Qin dan Wei Linglong.
Keraguan masih tersisa di hati mereka, tetapi apa yang dikatakan oleh Lu San memang masuk akal. Mereka tidak bisa menunda masalah pencegahan bencana lebih lama lagi.
Para penduduk laki-laki, usia dua puluh hingga empat puluh lima tahun, diminta pergi ke hutan sekitar desa untuk menebang kayu. Mereka dipimpin oleh Lu San. Murong Qin memberikan kriteria tersendiri untuk kayu-kayu yang akan digunakan nanti.
Hanya kayu dari pohon berusia puluhan tahun yang diameternya seukuran dengan pelukan orang dewasa yang boleh ditebang. Untuk memudahkan pengangkutan, para penduduk desa membawa kereta kecil yang kerap digunakan untuk mengangkut barang.
Sementara itu, Wei Linglong memimpin para penduduk perempuan untuk memasak. Dia meminta beberapa orang mendirikan dapur umum di dekat kedai yang kebetulan halamannya luas. Tungku-tungku api mulai memanas dan asap mulai mengepul. Para wanita sibuk mengiris sayuran, menumbuk bumbu dan menyiapkan bahan makanan lain.
“Bukankah kau seorang pria? Mengapa kau memasak?” tanya seorang wanita pada Wei Linglong.
“Aku? Apa pria tidak boleh memasak?”
Karena pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan, wanita itu langsung kesal. Dia tidak lagi berbicara. Raut wajahnya menggelitik hati Wei Linglong. Ini sudah hari kedua, tetapi para penduduk ini masih belum menyadari bahwa orang yang ada di tengah-tengah mereka adalah seorang wanita, bahkan seorang selir raja.
Saat semuanya sedang sibuk di dapur umum, seorang anak kecil menerobos masuk entah dari mana. Anak kecil itu berteriak keras memberitahukan ada seorang wanita dan dua orang pria yang baru datang menanyakan dua orang lain yang telah datang lebih dulu ke desa ini.
“Nak, pelan-pelan. Coba ceritakan apa yang terjadi,” ucap Wei Linglong. Anak kecil itu kemudian berbicara pelan-pelan hingga semua orang di sana mengerti.
“Ada tiga orang, satu wanita dan dua pria, mereka menunggu di perbatasan desa.”
Wei Linglong meminta seseorang untuk menjemput mereka. Tidak lama kemudian, ketiga orang yang dimaksud sampai di depan kedai. Saat melihat Wei Linglong, wanita di antara pria itu langsung berteriak dan berlari, kemudian memeluk Wei Linglong dengan erat.
“Nyonyaaaa! Akhirnya aku menemukanmu!”
Teriakan itu membuat para penduduk wanita yang semula sibuk menjadi diam. Apa katanya tadi? Nyonya? Dia memanggil pria ini dengan sebutan nyonya?
“Xiaotan, mengapa kau lama sekali?”
“Pria itu menahanku. Perjalanan kami jadi tertunda beberapa hari.”
Wei Linglong melirik dua pria di belakang Xiaotan yang tengah menampilkan senyum lebar. Mereka adalah kusir kuda, satunya lagi adalah Komandan Bu. Rupanya, pengawal pribadi Murong Qin juga ikut kemari.
“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku seorang pria,” jawab Wei Linglong ringan. Dia memang tidak pernah mengkonfirmasi kalau dia seorang pria. Para penduduk ini yang justru menganggapnya pria.
“Lalu, kakakmu?” tanya wanita itu lagi.
“Kakak? Nyonya, apa Tuan Adipati Jing juga kemari?”
Wei Linglong membekam mulut Xiaotan dengan tangannya. Jangan sampai para penduduk ini tahu identitas dia dan Murong Qin yang sebenarnya. Xiaotan begitu bodoh, dia polos dan tidak bisa memikirkan situasi secara keseluruhan. Kalau sampai dia berkata sembarangan, penyamarannya dengan Murong Qin akan sia-sia.
“Ah, pelayanku berkata sembarangan. Nyonya, kakakku laki-laki sejati. Dia bukan wanita yang menyamar menjadi pria.”
Setelah mendengar penjelasan Wei Linglong, wanita itu tidak bertanya lagi. Syukurlah, rasa penasaran wanita tersebut tidak mengakar sampai ke dalam. Wei Linglong menyuruh seseorang untuk mengantarkan Xiaotan ke kediaman persinggahan, sementara dirinya melanjutkan pekerjaannya.
Komandan Bu kemudian bertanya dengan suara pelan,
“Nyonya, di mana Yang Mulia?”
“Dia membantu penduduk menebang kayu.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Hei, bisakah raut wajahmu biasa saja? Bu Guanxi, dia memang seorang Kaisar. Apa membantu rakyat dengan menebang kayu adalah sebuah pantangan? Coba kau sebutkan undang-undang mana yang mengaturnya?”
Komandan Bu langsung terdiam. Wei Linglong tidak habis pikir mengapa aturan di dunia ini begitu aneh. Seorang Kaisar apakah bukan seorang rakyat? Hanya karena dia lahir di keluarga kerajaan, dia tidak boleh melakukan pekerjaan rakyat jelata? Apa perbedaan status telah menciptakan jurang yang begitu lebar antara bangsawan dengan rakyat biasa?
Doktrin kehidupan modern yang memandang bahwa semua manusia itu sama dan setara tentu sudah mengakar kuat di dalam dirinya. Baginya, baik seorang presiden, perdana menteri, kaisar, bahkan hamba sahaya, semuanya masih manusia. Saat terjun ke tengah masyarakat, status dan kedudukan sebenarnya telah dianggap hilang. Mereka harus membaur dengan keadaan sekitar.
“Daripada kau berdiam diri di sini, lebih baik kau membantu Kaisarmu itu. Dia mungkin kekurangan orang untuk mengangkut kayu-kayu itu.”
Komandan Bu kemudian menyusul tuannya. Berbekal petunjuk dari penduduk, dia sampai ke hutan gundul yang tengah ditebang kayu-kayunya. Setelah mencari, Komandan Bu akhirnya menemukan sosok Murong Qin. Pria itu tengah berdiri di pinggir hutan, mengawasi pekerjaan para penduduk yang tengah mengayunkan kapak dan memangkas reranting dari pohon yang sudah tumbang.
“Yang… Tuan!” teriak Komandan Bu. Murong Qin menoleh.
“Kau sudah tiba,” ucap Murong Qin.
“Perjalanan kami tertunda karena badai salju di hutan perbatasan.”
“Bagaimana situasi di istana?”
“Semuanya baik-baik saja. Ibu Suri tidak banyak bertindak sejak kejadian terakhir kali. Pangeran Yan juga hanya berdiam di istananya, sesekali pergi ke perpustakaan. Para pejabat ditangani dengan baik.”
“Bagaimana dengan Pangeran Sulung?”
Komandan Bu agak terkejut dengan pertanyaan terakhir. Kaisarnya bertanya tentang putranya? Keajaiban dari mana ini? Luar biasa! Ini pertama kalinya Komandan Bu mendengar tuannya menanyakan putra yang selama tujuh tahun ini hampir dianggap tidak ada. Angin apa yang telah membuatnya seperti ini?
“Ah, Pangeran juga baik-baik saja. Dia hanya sesekali datang ke gerbang Istana Yanxi, menanyakan apakah bibinya ada di sana atau tidak pada Kasim Liu.”
“Lalu apa jawabannya?”
“Kasim Liu mengatakan kalau bibinya sedang berlibur.”
“Oh. Baguslah.”
“Tuan, apakah Nyonya Chun tidak mempersulitmu? Apa dia berbuat macam-macam? Apa dia menyusahkanmu?”
“Bu Guanxi, jika kau bertanya lagi, aku akan menyuruhmu mengangkut semua kayu-kayu ini sendirian!”
Ancaman Murong Qin membuat Komandan Bu terdiam. Lebih baik, dia tidak bertanya apapun lagi.
"Pergilah. Awasi Gubernur Jiangzhou untukku," perintah Murong Qin kemudian.
Setelah itu, Komandan Bu kemudian pergi.
...***...
...Ayo tebak skema apa yang ada di balik gubernur Jiangzhou! ...