
Hari yang paling ditunggu oleh penduduk Dinasti Yuan di musim semi sudah tiba. Pembajakan musim semi akan dimulai beberapa jam lagi.
Para penduduk yang berprofesi sebagai petani berbondong-bondong datang ke lahan pertanian kekaisaran di sebelah timur istana, ingin menyaksikan prosesi upacara tahunan yang diadakan tahun ini.
Selain dapat menyaksikan upacara dan melihat keluarga kerajaan, mereka yang hadir pada upacara tersebut juga akan diberi hadiah berupa bibit tanaman varietas unggul dan makanan serta bahan sandang untuk dibawa pulang. Nenek moyang berkata bahwa tujuannya untuk berbagi kebahagiaan di musim semi dan agar para penduduk itu menjadi semangat dalam bertani.
Rombongan keluarga kerajaan sudah tiba di lokasi satu jam yang lalu. Mereka berangkat dari istana di pagi buta menggunakan kereta. Arak-arakan pengiring istana seperti sebuah pawai pertunjukan di jalan, memanjang dengan bendera-bendera kekaisaran berkelebat di angkasa.
Kalau semua orang bergembira, lain halnya dengan Wei Linglong. Sejak keberangkatan tadi, dia terus menekuk wajahnya hingga kikuk. Wei Linglong merasa kesal karena dia pikir setelah semuanya dipersiapkan, dia bisa bebas. Nyatanya, mimpi indahnya pagi tadi harus terputus karena Liu Ting datang menggedor pintu istana, menyuruhnya bersiap untuk ikut ke lokasi upacara.
“Seharusnya aku tidak mempercayai pria busuk itu!” geram Wei Linglong. Di sisinya, Murong Yu duduk diam sambil menatapnya.
“Bibi, apa ayahanda mengerjaimu lagi?”
“Benar, Xiao Yu. Dia membuatku seperti pelayan.”
“Tapi, penanggungjawab upacara memang harus ikut dalam upacara. Itu sudah menjadi adat di setiap tahun.”
“Lalu kenapa Xiao Yu ikut?”
“Aku bosan di istana. Kalau bibi ikut, aku juga ikut. Ayahanda juga tidak melarang.”
Benar, karena pria itu mungkin merasa bersalah atas sindiranku tempo hari, ucap Wei Linglong dalam hati.
Hal yang membuat dia malas mengikuti acara seperti ini tidak lain karena ada Ibu Suri dan Permaisuri Yi, juga beberapa selir lain yang ikut dalam upacara. Wei Linglong sudah mengibarkan bendera perang kepada kedua wanita itu. Tidak akan ada hari damai ketika mereka berjumpa, termasuk dalam upacara kekaisaran seperti ini.
Baru saja Wei Linglong berhenti berpikir, matanya sudah dibuat sakit ketika melihat Ibu Suri dan Permaisuiri Yi datang. Dua wanita penguasa itu duduk di seberang kursinya, tepat di sebelah kursi Murong Qin. Angkuh dan sombong. Permaisuri Yi sempat mendelik kepada Wei Linglong, kemudian
memalingkan wajahnya kepada Ibu Suri.
Tidak jauh dari tempat duduk kedua wanita itu, terdapat tempat duduk untuk Selir Pei, Selir Ou, dan Selir Han yang dulu sempat mendemo Istana Fenghuang dan berakhir di papan pukulan. Mereka juga datang rupanya. Wei Linglong yakin kalau ketiga selir itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkannya.
“Karena kalian sangat perhatian pada rakyat, maka aku akan berbaik hati membantu kalian,” ucap Wei Linglong untuk dirinya sendiri.
Dia sudah menyiapkan kejutan untuk mereka, juga untuk para menteri yang hadir di upacara kali ini. Kejutan yang sudah dia siapkan sangat luar biasa hingga tidak akan bisa dilupakan oleh siapapun. Tunggu pada saat upacara selesai, mereka akan mengetahuinya.
Seorang menteri yang entah siapa namanya kemudian berteriak pada semua orang, memberitahu bahwa upacara akan segera dimulai. Teriakannya seperti seekor burung gagak yang serak di telinga Wei Linglong. Menteri itu pasti tidak pernah memeriksa suaranya sendiri. Dia pasti merasa kalau suaranya sebagus penyanyi terkenal.
Setelah menteri itu berteriak, dia kemudian memberikan sedikit sambutan dengan menjelaskan tujuan upacara yang mungkin sudah dihapal di luar kepala oleh orang-orang. Oh, masa bodoh saja, Wei Linglong hanya ingin upacara ini segera berakhir dan dia bisa segera pulang untuk tidur di Istana Fenghuang.
Murong Qin sebagai kaisar kemudian maju ke depan. Gaya bicaranya sebagai seorang politikus begitu bagus. Dia pandai berdialektika. Retorikanya cukup hebat, hingga penduduk yang hadir di sana hampir menangis. Setelah selesai berbicara, Murong Qin kemudian turun ke ladang tanpa alas kaki.
Seorang petani kemudian memberinya alat bajak sawah. Murong Qin mengerahkan tenaganya untuk mendorong alat tersebut. Pembajakan ladang secara tradisional seperti ini akan memakan waktu cukup lama. Jika bukan karena tanah masih basah bekas musim dingin, sampai akhir musim semi pun tidak akan selesai. Tidak akan ada tanaman yang berhasil ditanam.
Wei Linglong mengomentari setiap gerakan yang dilakukan oleh pria itu. Kebanyakan komentarnya adalah negatif, menyebut pria itu belum makan, kurang tenaga, tidak gagah, bahkan sampai menyebutnya ‘lemah’. Padahal di mata penduduk, apa yang sedang dilakukan oleh Murong Qin terlihat begitu jantan dan perkasa.
Murong Qin tampak kesulitan ketika alat bajak yang dia dorong tersandung batu. Murong Qin sekuat tenaga mendorongnya, namun alat bajak itu malah terjebak. Melihat suami tidak sahnya kesulitan, Wei Linglong akhirnya berhenti berkomentar. Dia diam beberapa saat untuk melihat apakah pria itu bisa atau tidak.
Setelah dirasa tidak bisa, Wei Linglong melepas sepatu dan kaus kakinya. Dia beranjak dari kursi tempatnya duduk, kemudian melompat dari panggung kecil setinggi satu meter. Kaki telanjangnya mendarat di tanah dengan tegak. Ujung pakaiannya sempat terangkat karena adanya tekanan angin.
Perilakunya langsung menjadi sorotan publik, terutama Permaisuri Yi dan Ibu Suri. Kedua wanita yang sedang duduk di singgasana memicing, ekspresi mereka sangat kesal dan terkejut. Apa yang akan dilakukan pengacau itu? Apa dia sengaja ingin mencuri perhatian?
“Kubantu kau,” ucap Wei Linglong kepada Murong Qin yang terus berusaha mendorong alat bajak.
“Kenapa kau turun?”
“Untuk membantu memberimu muka.”
“Hah?”
“Alat ini berat, akan lebih mudah jika didorong berdua.”
Melihat seorang wanita turun dari panggung kecil tanpa alas kaki dan membantu Kaisar, seorang pemuda kemudian bertanya pada pemuda di sampingnya, “Siapa wanita itu?”
Pemuda yang ditanya kemudian menjawab,
“Katanya dia adalah Selir Chun.”
“Siapa Selir Chun?”
“Dia putri Jenderal Yun.”
“Oh, wanita yang ditinggalkan Tuan Muda Nuo saat hari pernikahan itu?”
“Hei hati-hati dengan bicaramu, kau tidak lihat bagaimana interaksinya dengan Yang Mulia?”
Seorang pemuda lain yang kebetulan mendengar kemudian menambahkan,
“Sekarang dia adalah orang penting di sisi Yang Mulia.”
“Upacara kali ini pun dia yang mengurusnya.”
“Cukup mengagumkan. Telanjang kaki menginjak tanah yang kotor dan mendorong alat bajak, itu adalah pemandangan yang langka.”
Di tengah padatnya pada penduduk yang menyaksikan upacara dan pemuda yang bergosip, ada seorang pemuda yang menyelinap menyaksikan kegiatan tersebut sambil tersenyum. Sejak dia datang, senyumnya tak pernah berhenti tersungging.
“Adikku memang hebat. Aku sudah bisa tenang,” ucap pemuda itu. Setelah puas melihat, dia kemudian pergi meninggalkan area upacara.
Sementara itu, alat bajak yang didorong oleh Wei Linglong dan Murong Qin akhirnya keluar dari jebakan batu. Helaan napas lega dibarengi peluh yang bercucuran membuat keduanya tersenyum senang. Tidak sia-sia mereka mengerahkan begitu banyak tenaga.
Murong Qin menatap Wei Linglong dengan senyuman yang belum pernah diberikan kepada siapapun. Wei Linglong telah membantunya sangat banyak. Pakaian wanita itu sampai kotor oleh tanah, persis seperti saat di Istana Fenghuang beberapa hari yang lalu. Tetapi, si pemiliknya justru malah merasa senang-senang saja, tidak mempedulikan penampilannya yang kotor.
“Kau sangat kotor.”
“Tanah ini bukan apa-apa. Aku bahkan pernah mandi lumpur saat masih awal menjadi mahasiswa.”
“A-Ling, terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih. Yang Mulia cukup memberiku peti berisi uang, itu sudah cukup.”
Langit yang semula cerah, kini mulai mendung. Awan hitam bergumul di atas tanah ladang. Tempat yang semula terang kini mulai gelap. Tidak lama setelah itu, rintik-rintik air dari langit mulai berjatuhan. Semakin lama, rintiknya semakin banyak dan besar. Beberapa orang yang anti air menyingkir, mencari tempat untuk berteduh.
“Langit memberkahi Yuan, Langit memberkahi Kaisar,” ucap menteri bersuara sumbang tadi.
Wei Linglong dan Murong Qin yang masih berada di tengah ladang kebasahan. Rintik-rintik air menggenangi area sekitar, membasahi tanah yang sudah basah, menggenangi lubang-lubang kecil dan mengguyur bebatuan dan dedaunan. Sejuk, udara begitu sejuk meski hujan deras.
Hujan membasahi wajah Wei Linglong. Rambutnya yang hitam digerai sudah sangat basah. Pakaiannya jadi semakin kotor karena cipratan air mengenai lumpur. Namun, itu semua tidak menjadi masalah. Wei Linglong justru menengadahkan kepala, membiarkan air hujan menjatuhi wajah putihnya.
“Hujan pertama musim semi,” ucap Murong Qin sambil menengadahkan tangan, menangkap butiran air dengan telapak tangannya.
“Hujan pertamaku! Ini sangat seru!” seru Wei Linglong.
Liu Ting hendak turun, namun isyarat tangan Murong Qin membuatnya kembali ke tempatnya. Jarang-jarang kebasahan seperti ini, kata Murong Qin dalam hati. Jarang pula kebasahan ditemani seorang wanita yang membuat jantungnya sering berdebar kencang. Jadi, biarkan dia menikmati momen langka ini dengan baik.
Penduduk yang melihat Kaisar Mingzhu kehujanan lalu ikut bergembira. Mereka meloncat-loncat di atas tanah becek, menciprati yang lain hingga semuanya sama-sama terkena air. Kegembiraan seperti ini jarang ada. Hujan di awal musim semi dan di saat upacara, merupakan pertanda keberuntungan untuk mereka.
Permaisuri Yi mengepalkan tangan kanannya. Wajahnya memerah karena marah. Hujan di awal musim semi membuat darahnya naik lagi. Tidak, dia marah karena Wei Linglong kebasahan bersama Murong Qin. Cemburu sudah pasti, bahkan hatinya semakin sakit.
Mengapa wanita itu bisa begitu dekat dengan Yang Mulia sementara dirinya malah dianggap tidak pernah ada?
...***...