The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 34: MENGAKHIRI PERJALANAN



Di hutan gundul yang dipenuhi hamparan salju putih, beberapa orang tengah berkelahi. Suara pedang beradu membuat suasana malam di hutan itu menjadi riuh. Kedua kubu mengeluarkan kemampuan bela dirinya masing-masing, menyerang, bertahan, menyerang, lalu bertahan lagi.


Entah berapa puluh kali pedang yang tajam dan berkilat mengayun menyasar tubuh kedua kubu. Mereka sama-sama kuat. Suara perkelahian itu begitu keras. Anehnya, satu kubu justru bertambah semakin kuat dan semakin banyak. Bala bantuan sepertinya datang dengan cepat.


Mereka yang berkelahi adalah para bawahan Wei Shiji yang ditugaskan untuk mengejar pembunuh, dan pihak lainnya adalah para pelaku kejahatan yang telah membuat tebing salju runtuh dan hampir membuat Murong Qin, Wei Linglong, serta tiga orang lainnya mati. Kemampuan pasukan yang ada di bawah kendali Wei Shiji begitu hebat hingga mampu menemukan mereka secepat ini.


Ketika mereka menemukan para pelaku, mereka langsung menyerang dengan brutal. Perkelahian tidak terhindarkan. Bercak-bercak darah yang menetes dari luka-luka akibat perkelahian dan sabetan pedang telah merubah warna salju yang semula putih menjadi merah.


Tiba-tiba, beberapa orang bersegaram khusus datang. Mereka adalah pasukan elite yang ditugaskan Murong Qin untuk mengikutinya dari jauh dan mengatasi orang-orang yang hendak mencelakainya. Dengan keterampilan khusus dan seni bela diri yang sangat tinggi, mereka mampu menemukan lokasi orang-orang jahat ini dengan cepat. Mereka tidak menduga kalau para bawahan Adipati Jing alias Wei Shiji juga datang.


Orang yang baru datang tersebut sedikit heran melihat perkelahian antara bawahan Wei Shiji dengan pasukan penjahat. Setelah menelisik beberapa saat, mereka langsung bergabung dalam perkelahian, membantu bawahan Wei Shiji mengatasi para penjahat yang jumlahnya semakin banyak ini. Para bawahan Wei Shiji kebingungan karena pasukan misterius tiba-tiba membantu mereka.


“Kita berada di kapal yang sama,” ucap salah seorang pasukan misterius.


Mendengar hal tersebut, para bawahan Wei Shiji tidak banyak berpikir lagi. Mereka kembali menyerang dengan brutal hingga para penjahat itu tumbang satu persatu. Setelah dipastikan semuanya sudah mati, pasukan misterius langsung menghilang dari lokasi kejadian dengan cepat, meninggalkan para bawahan Wei Shiji bersama tumpukan mayat penjahat.


“Laporkan ini pada Tuan!”


Para bawahan Wei Shiji kemudian pergi meninggalkan mayat-mayat penjahat di tengah hutan. Mereka bergegas kembali ke penginapan pinggir hutan untuk melaporkan hasil kerja mereka serta melaporkan bantuan dari pasukan misterius yang tiba-tiba datang.


Saat para bawahannya melaporkan hal tersebut, Wei Shiji hanya tersenyum kecil sambil berkata: Dia mengatasinya dengan sangat baik!


...***...


Perjalanan dinas rahasia yang dilakukan Murong Qin dan Wei Linglong dilanjutkan keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, tiga ekor kuda jantan yang gagah dan kuat sudah ada di depan gua. Kuda-kuda itu dikirim oleh pasukan elit Murong Qin malam tadi, tepat setelah mereka mengatasi para penjahat bersama para bawahan Murong Qin. Pasukan elitnya juga melaporkan bahwa Wei Shiji mengawasi mereka dari jauh dan mengirimkan beberapa orang untuk memantau keadaan Wei Linglong dan dirinya.


Setelah bersiap, dia mengajak Wei Linglong untuk segera berangkat. Mereka segera meninggalkan gua dengan kecepatan tinggi. Perjalanan panjang mereka ditempuh secara bertahap dari desa ke desa.


Di setiap desa, Murong Qin dan Wei Linglong akan melakukan hal yang sama, yakni membangun benteng di sepanjang aliran sungai. Karena sebelumnya sudah mengetahui konsep dari rancangannya, maka Murong Qin hanya perlu menjelaskan sekali kemudian menyuruh tetua desa untuk mengelolanya.


Dia akan tinggal di desa tersebut selama satu atau dua hari, kemudian pergi lagi ke desa lain. Di samping Murong Qin, Wei Linglong juga membantu para penduduk wanita mengasah keterampilan.


Dia mengajari para penduduk wanita cara mengolah beberapa bahan makanan menjadi makanan kering yang bisa digunakan untuk bertahan di musim dingin selagi bantuan dari istana belum tiba.


Wanita itu menuangkan semua ilmu pertanian yang dia pelajari di perguruan tinggi kepada masyarakat. Dengan kemampuannya yang unik, Wei Linglong telah mendapat posisi di hati masyarakat. Dia juga mengajari anak-anak membaca dan menulis meskipun waktunya singkat.


Setiap malam, dia tidur lebih larut karena menyiapkan bahan pembelajaran sederhana untuk diajarkan kepada anak-anak selepas selesai membantu penduduk wanita. Murong Qin dan Wei Linglong tidak menemui kesulitan seperti saat pertama kali karena desa-desa lain yang mereka datangi menerima mereka dengan tangan terbuka.


Para penduduk desa di sepanjang aliran sungai beku memanggil mereka dengan sebutan “Tuan dan Nona Pahlawan”.


Tampaknya, tindakan yang mereka berdua lakukan menjadi sangat heriok. Keduanya dihormati dan disegani. Banyak penduduk desa yang datang ke pos persinggahan mengantarkan makanan khas dan benda-benda berharga dari desa mereka.


Sepasang suami istri kekaisaran itu menghabiskan seluruh musim dingin yang tiba lebih awal di desa-desa sepanjang aliran sungai beku. Perjalanan mereka kemudian berlanjut ke pusat prefektur Jiangzhou, ke tempat yang


seharusnya mereka datangi sedari dulu. Murong Qin dan Wei Linglong kembali menyamar menjadi rakyat biasa ketika mereka sampai di pintu gerbang Jiangzhou.


Situasi di dalam kota Jiangzhou cukup terkendali. Musim dingin tidak begitu berpengaruh karena sebagian besar penduduk di sini bekerja sebagai pedagang. Anehnya, laporan yang sampai ke istana justru mengatakan kalau penduduk di sini sengsara.


Murong Qin dan Wei Linglong bertanya pada beberapa penduduk selagi mereka menikmati makanan atau berjalan. Informasi yang mereka dapatkan dari mulut para penduduk di sini sudah cukup untuk membuat kesimpulan bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pemerintahan di prefektur ini.


Dahulu, kota ini adalah sebuah kota perbatasan yang suram karena setiap tahun selalu terjadi peperangan antara kekaisaran dengan negara luar. Rakyat di sini begitu miskin dan menderita.


Untung saja saat itu Murong Qin berhasil mengalahkan musuh dan memukul mundur mereka hingga tidak berani kembali lagi. Jiangzhou ditata kembali dan kehidupan rakyatnya berangsur-angsur membaik. Mereka yang menderita kerugian diberi kompensasi besar dari kekaisaran.


Murong Qin dan Wei Linglong beserta Xiaotan bergegas menuju restoran paling terkenal di Jiangzhou. Di sana, Komandan Bu sudah menunggu mereka. Komandan Bu telah menyiapkan sebuah ruangan VIP khusus di lantai dua untuk menyambut kedatangan raja beserta selirnya ke kota ini.


“Yang Mulia, tebakan Anda benar. Ada yang salah dengan gubernur yang satu ini,” ujar Komandan Bu saat Murong Qin selesai makan.


“Apa yang salah? Apa dia korupsi?” tanya Wei Linglong.


“Bukan hanya itu, Nyonya. Gubernur Qian juga memaksa para rakyat yang miskin dan tidak mampu membayar pajak menjadi budak dan dijual ke luar kota.”


“Ckckck…. Pejabat bajingan!”


“Yang Mulia, berdasarkan penyelidikan, Gubernur Qian menambah kekayaan pribadi dengan cara illegal. Dia mengambil keuntungan dari proses transaksi sepihak dari pembelian lahan pertanian dan pembangunan kanal bendungan yang merugikan masyarakat.”


“Lalu bagaimana dengan dana bantuan dari istana?”


“Gubernur Qian menyuruh orang untuk meletakkan bubuk mesiu di bawah geladak kapal pengangkut dana bantuan. Saat melewati sungai, bubuk mesiu itu akan meledak dan kapal akan hancur, sementara peti-peti berisi uang bantuan tenggelam, lalu diambil setelah beberapa hari.”


“Sudah selicik itu, tapi masih berani mengirimkan laporan ke ibukota? Benar-benar punya nyali!”


Pejabat korup yang kurang ajar perlu dihajar. Setelah mendengar penuturan Komandan Bu, Wei Linglong langsung tersulut emosi. Penduduk di sepanjang aliran sungai beku harus mengalami bencana dan kekhawatiran setiap musim dingin dan awal musim semi, mereka bahkan tidak tahu apakah hari esok masih ada untuk mereka atau tidak. Akan tetapi, gubernur yang seharusnya melindungi mereka justru malah sibuk memperkaya dirinya sendiri!


Kalau dia bertemu orang itu, dia akan memukulinya sampai puas!


Hukuman terbaik untuk pejabat korup adalah hukuman mati. Gubernur Qian, gubernur Jiangzhou tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri kali ini karena Komandan Bu telah mengumpulkan bukti yang kuat yang bisa menjatuhkan orang jahat itu dalam satu kata.


Bukti-bukti itu didapat dari beberapa orang yang merasa sakit hati akibat tindakan Gubernur Qian hingga mereka memilih berpihak pada kekaisaran. Setelah bukti diserahkan, Murong Qin lantas bergegas menuju kantor gubernur untuk melakukan inspeksi.


Komandan Bu pergi untuk memanggil pasukan. Tidak lama setelah itu, seluruh kota digemparkan dengan peristiwa penangkapan Gubernur Qian. Dia diarak di jalan kota dalam kerangkeng kayu. Di depan sana, Murong Qin dan Wei Linglong menaiki kuda, memimpin jalan. Di belakang kerangkeng, pasukan Komandan Bu mengawal mereka dengan gagah.


Orang-orang bertanya, siapakah sepasang laki-laki dan perempuan di depan sana yang tampak begitu hebat dan menawan? Mereka seperti pasangan legendaris dalam dongeng yang sering diceritakan di jalanan. Ditambah lagi, pasukan yang mengikutinya berseragam khusus, persis seperti seragam yang dipakai oleh para prajurit istana.


“Akhirnya, penjahat itu ditangkap juga! Aku akan mengadakan perjamuan untuk merayakan ini!”


“Benar! Tapi, siapakah kedua orang yang ada di barisan paling depan itu? Mereka tampak sangat hebat! Bahkan bisa menangkap ular jahat itu dalam waktu singkat!”


Komandan Bu tertawa kecil, kemudian berbaik hati memberitahu mereka,


“Mereka adalah Yang Mulia, Kaisar Mingzhu dan Selir Chun.”


Orang-orang yang bergosip terdiam. Semuanya mematung seperti sudah disambar petir. Sayang, Murong Qin dan Wei Linglong sudah keluar dari gerbang kota dan tidak melihat ekspresi orang-orang itu. Jika melihatnya, Wei Linglong sudah pasti tertawa sampai berguling-guling.


“Yang Mulia, ke mana kita kali ini?”


“Pulang.”


“Sungguh?”


“Ya.”


...***...


...Yeay akhirnya mereka pulang ke istana! Nah, akan ada kejutan nih setelah mereka kembali ke istana. Mau tahu? Stay tune terus ya, jangan lupa tulis pendapat kalian di bawah! ...