
Wei Linglong menepati perkataannya. Wanita itu keluar dari istana, mendatangi beberapa tempat yang sekiranya bisa memberikan informasi yang mendukung pekerjaan rahasianya. Dengan ditemani Xiaotan, Wei Linglong menyamar menjadi gadis biasa layaknya para nona yang ada di ibukota.
Pelat pemberian Murong Qin ternyata sangat berguna. Selain bisa memberinya kebebasan keluar masuk istana, pelat itu ternyata bisa digunakan untuk mengakses beberapa tempat yang dijaga ketat. Tempat-tempat itu digunakan sebagai tempat bertukar informasi.
Menghilangnya semua dana yang dikorupsi oleh Gubernur Qian di Jiangzhou belum menemui kejelasan. Wei Linglong sudah mengawasi semua kementrian dengan ketat, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Dia jadi berpikir jika di semua kementrian tidak ada, maka ada orang lain yang mendalanginya. Orang seperti ini, yang tidak tersentuh, pastilah seseorang yang berkuasa besar.
Tetapi siapa yang bisa melakukan itu tetapi tidak bisa ditemukan?
Wei Linglong hampir putus asa. Dia merasa kesal karena pekerjaannya tidak tuntas. Menjadi pengawas rahasia seperti menjadi detektif, memerlukan ketelitian dan kecepatan serta kemampuan berpikir yang kritis. Kalau Wei Linglong kalah cepat, penjahat yang sebenarnya akan menang.
Di sebuah restoran, dia tengah duduk memesan makanan. Restoran itu ramai di siang hari. Layaknya seorang petugas pemerintah di dalam drama, Wei Linglong diam-diam mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Mungkin, di antara semua gossip yang mereka bicarakan dia menemukan suatu petunjuk.
“Eh, kudengar Sekretaris Shi yang mempekerjakan para bangsawan tidak kompeten ditangkap pengawal istana dan dijebloskan ke penjara,” ucap seorang pengunjung yang duduk di belakang meja Wei Linglong, pria.
“Tuan Yu si kepala pengawal brengsek itu juga ditangkap,” tambah seseorang yang lain.
Wei Linglong menoleh ke belakang untuk mengetahui orang-orang yang tadi berbicara. Di belakangnya, ada beberapa pemuda tengah duduk sambil makan, sambil bergosip juga. Mendengar bahwa mereka membicarakan para pejabat itu, dia diam-diam tersenyum.
“Benar, aku juga mendengarnya. Syukurlah, para penjahat serakah itu sudah tidak akan menyengsarakan kita lagi,” ujar seseorang yang lain.
“Menurutmu, apa rumor adanya pengawas rahasia itu benar? Jika tidak, dengan kinerja Kementrian Hukum, sembilan kasus dalam tiga minggu tidak akan terungkap semudah itu.”
“Aku juga menebaknya,” tambah yang lain.
“Apa Kaisar diam-diam telah menunjuk seseorang?”
“Mungkin. Jika rumor itu benar, maka orang itu sangat hebat dan berani.”
Hei, orang yang kau bicarakan ada di depanmu, teriak Wei Linglong dalam hati.
Wei Linglong memutar cangkir tehnya. Tidak disangka, rumor itu menyebar cepat. Ada banyak pasang mata dan telinga di dunia ini. Wei Linglong sedikit kagum dengan kemampuan orang-orang ini. Mereka mampu menilai mana benar mana salah, tetapi masih tertarik pada rumor. Sungguh lucu.
“Kalau aku menjadi pejabat di masa depan, aku akan berlaku bersih. Aku tidak mau ditangkap oleh pengawas rahasia itu,” seseorang lainnya kembali berbicara.
“Meskipun hebat, tetapi kudengar belum ada petunjuk mengenai kasus Gubernur Qian dari Jiangzhou itu. Katanya, dana yang dikorupsinya semuanya hilang tanpa jejak.”
“Pasti ada setan yang iri lalu mengambilnya.”
“Maksudmu, setan istana?”
“Asal kau tahu, dua wanita itu pasti tidak bisa diam. Aku yakin mereka ada hubungannya dengan ini.”
Para pemuda di belakang Wei Linglong tertawa. Sejak dulu, permasalahan internal keluarga istana adalah lelucon masyarakat. Mereka menertawakan setiap konflik yang terjadi di dalam istana, menjadikannya sebuah cerita yang menarik untuk diperbincangkan setiap saat.
Wei Linglong tiba-tiba teringat sesuatu. Dua wanita? Benar, dua wanita itu! Hanya mereka yang bisa melakukan ini dengan bersih. Itu pasti mereka! Dia harus melaporkan ini! Mulut manusia memang sumber informasi yang paling cepat!
Tepat saat Wei Linglong hendak berdiri, seorang pelayan pengantar makanan datang. Pelayan itu meletakkan piring dan mangkuk di atas meja, lalu memandang Wei Linglong. Aneh, mengapa pelayan ini menatapnya? Berdasarkan aturan, seorang pelayan tidak boleh menengadahkan kepala, apalagi menatap mata seorang majikan atau pelanggan dengan berani.
“Nona, Yang Mulia memintamu segera kembali,” ucap pelayan itu setelah meletakkan piring terakhir.
“Kau?”
Wei Linglong langsung tahu kalau pelayan ini adalah orangnya Murong Qin. Tidak heran jika dia sampai berani menatap matanya. Wei Linglong selalu penasaran mengapa orang-orang rahasia yang menjadi bawahan Murong Qin begitu misterius. Mungkin, pelayan ini adalah salah satu bawahan misterius itu. Pengaturannya bagus sekali, tampil sebagai pelayan di luar namun sebenarnya menyembunyikan pedang di balik pekerjaan rendahnya.
Wei Linglong hanya mengangguk. Dia menyuruh Xiaotan membayar makanan yang belum tersentuh secuil pun, lalu mengajaknya kembali ke istana. Murong Qin pasti punya hal mendesak hingga mengutus orangnya untuk menyampaikan pesan. Kebetulan, dia juga punya hal mendesak yang mau disampaikan kepada pria itu.
Jalan ibukota yang lengang membuat kereta kuda yang ditumpangi Wei Linglong sampai lebih cepat. Dia melompat dari kereta, lalu segera berlari menuju Isttana Yanxi. Pakaian panjangnya digulung dan roknya diangkat. Tingkahnya ini seperti wanita yang tidak bermoral. Beberapa pelayan istana yang berpapasan dengannya membicarakannya, tetapi Wei Linglong tidak peduli.
Ketika dia sampai di Istana Yanxi, Wei Linglong langsung berteriak memanggil Murong Qin. Pria itu menyambutnya, lalu membantunya menenangkan diri. Napas Wei Linglong terasa sesak, jantungnya berdetak kencang karena berlari terlalu jauh. Murong Qin memapahnya, lalu jongkok.
Pria itu menyeka keringat di dahi Wei Linglong dengan jubah lengannya. Dia juga mengusap pelan wajah Wei Linglong sambil menatapnya pasrah.
“Yang Mulia, kau sangat hebat mengatur orang! Jadi, apa ada hal yang mendesak yang ingin Yang Mulia katakana kepadaku?”
Sebelum menjawab, Murong Qin menarik napas dan menghembuskannya lebih dulu.
“Pelayan yang mencelakaimu saat upacara pembajakan musim semi adalah orang suruhan Permaisuri Yi,” ucap Murong Qin tenang, namun sebenarnya dia sedang menahan amarah.
“Ternyata, dia tidak pernah berhenti ya! Setelah gagal membunuhku sekali, dia mencobanya sekali lagi! Sungguh seorang permaisuri yang hebat!” seru Wei Linglong. Nada bicara wanita itu terkesan mengejek, namun jelas-jelas dia sedang sangat marah.
“Dia juga pernah ingin membunuhmu sebelumnya?” tanya Murong Qin penasaran.
“Orang yang mendorongku masuk ke dalam Danau Dongting adalah pelayan miliknya. Dia juga mencoba mencuri laporan perjalanan Jiangzhou,” jawab Wei Linglong dingin.
Murong Qin langsung berdiri. Dia sungguh tidak menyangka kalau Permaisuri Yi akan bertindak sejauh ini. Dia mencoba melenyapkan Wei Linglong ketika wanita itu sedang tidak bisa melihat? Dia juga ingin mencuri buku laporan perjalanan berisi sketsa itu? Dia juga menyuruh pelayannya yang lain untuk mencelakai Wei Linglong lagi?
Permaisuri Yi benar-benar keterlaluan!
“Benar-benar tidak bermoral!” teriak Murong Qin.
Wei Linglong lebih marah lagi. Sudahlah jika gagak betina itu mencoba melenyapkannya sekali, tetapi bisakah mengirim seseorang yang lebih berkelas ketika mencoba membunuhnya untuk yang kedua kalinya? Wei Linglong dijebak oleh pelayan sebanyak dua kali berturut-turut!
“Apa langkah Yang Mulia selanjutnya?”
Wei Linglong ingin mengetahui sikap apa yang akan diambil pria itu. Murong Qin berjalan menjauh, kembali ke kursi kerjanya. Walau sudah sampai, pria itu malah berdiri di samping, membelakangi Wei Linglong. Terdengar helaan napas yang panjang darinya.
“Dengan pengakuan seorang pelayan, kita tidak bisa menjatuhkan Permaisuri Yi dengan mudah. Permaisuri Yi selalu menerima perintah dari Ibu Suri. Wanita tua itu pasti akan melindungi menantu kesayangannya dengan baik. Kita masih perlu menemukan bukti yang lebih kuat.”
Jadi, inikah keputusan Murong Qin? Wei Linglong benar-benar tidak menduganya. Berdasarkan perkataannya, itu berarti Murong Qin tidak akan bertindak pada Permaisuri Yi. Pria itu memilih melepaskannya, tidak menangkapnya atau menginterogasinya. Padahal, pengakuan dari pelayan itu sudah cukup membuktikan bahwa gagak betina tersebut bersalah.
Jika ingin bukti yang lebih kuat, Murong Qin bisa menangkap pelayan pria yang mendorong Wei Linglong saat itu. Kebetulan, orangnya juga masih hidup dan tinggal di istana. Namun, pria itu memilih tidak bertindak. Inilah alasan pria itu memintanya kembali ke istana?
“Ternyata, inilah keputusan Yang Mulia. Baik, karena nyawaku tidak berharga, maka biarkan saja Permasuri Yi bermain-main lagi. Jadi, ketika besok atau lusa datang pembunuh lagi, aku tidak akan melarikan diri,” ucap Wei Linglong penuh kecewa. Hatinya tiba-tiba terasa sakit.
Murong Qin seketika terkejut. Dia langsung berbalik, berlari lalu memegang tangan Wei Linglong.
“A-Ling, bukan begitu!”
Wei Linglong memalingkan wajah. Wanita itu melepaskan tangan Murong Qin, kemudian mengusapnya perlahan. Ekspresinya sangat tidak senang. Dia kecewa, dia juga marah. Di mata Murong Qin, posisi Permaisuri Yi mungkin lebih penting untuk menjaga kedudukannya sebagai kaisar. Wei Linglong yang hanya seorang selir ini tidak akan mampu mengubah fakta itu.
“Posisi Kaisar ternyata begitu rumit. Bahkan ketika permaisurinya melakukan kejahatan pun, dia tidak bisa bertindak. Baik, Yang Mulia, aku sudah mengerti. Kelak, jangan bicarakan ini lagi. Anggap saja aku sedang terkena sial hingga ada orang yang mencoba melenyapkanku.”
Sungguh, bukan itu maksudnya! Murong Qin mendesah frustasi. Ada beberapa alasan mengapa dia tidak bisa bertindak pada Permaisuri Yi untuk saat ini. Murong Qin sama sekali tidak bermaksud meremehkan nyawa dan keselamatan Wei Linglong, dia hanya tidak ingin wanita itu terseret arus yang sangat berbahaya.
Murong Qin tahu betul bagaimana situasi di dalam istana. Keadaan bisa berubah kapan saja. Kalau dia bertindak gegabah, Permaisuri Yi bisa saja membalikkan tuduhan dan melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Di belakangnya juga masih ada Ibu Suri dan beberapa menteri yang mendukungnya.
“A-Ling, beri aku waktu!”
“Yang Mulia, aku lelah. Aku akan pergi.”
Wei Linglong tidak bisa menangis meskipun dia merasa kecewa. Air matanya tidak bisa jatuh semudah itu. Karena Murong Qin telah memutuskannya, bukan berarti dia akan menerimanya begitu saja. Wei Linglong paling tidak suka
tertindas. Tidak apa-apa jika pria itu tidak mau bertindak. Wei Linglong bisa bertindak sendiri. Dia tidak akan melibatkan orang lain untuk mencampuri urusan ketidakadilan yang dia terima
“Pria brengsek! Aku seharusnya tidak mempercayaimu! Menyukaiku? Aku pikir kau hanya sedang penasaran saja!” teriak Wei Linglong.
Dia meneriakkan semua kemarahan dan kekesalannya dengan mengumpati Murong Qin sambil berdiri di atas jembatan Danau Dongting. Untung saja Xiaotan sudah kembali ke Istana Fenghuang terlebih dahulu hingga pelayan itu tidak perlu mendengar semua umpatan kasarnya.
“Murong Qin, kau pria yang tidak seperti pria!”
...***...