
Pernikahan mendadak antara Kaisar Mingzhu dengan Selir Chun, betapapun tidak masuk akalnya itu, merupakan sebuah kenyataan yang hanya diketahui oleh orang-orang di Istana Yanxi dan Istana Fenghuang. Hanya mereka yang ada di dua istana itulah yang mengetahui kebenaran tentang pernikahan tersebut.
Jika para menteri tinggi mengetahui kaisar mereka telah mengadakan upacara pernikahan dengan seorang selir tanpa sepengetahuan mereka, mereka pasti akan sangat marah. Bagaimana bisa seorang kaisar menikah tidak di hadapan pejabat kekaisaran, tanpa disaksikan keluarga kekaisaran?
Meskipun menikah dengan seorang selir, seorang kaisar hanya perlu mengumumkannya saja, meminum arak lalu menghabiskan malam bersama tanpa harus mengadakan upacara pernikahan layaknya sepasang suami istri sah.
Entah status apa yang disandang oleh Wei Linglong sekarang. Yang jelas, dia hanya tidak tahan pada Permaisuri Yi yang terus memprovokasinya dengan posisinya. Wei Linglong tidak tahan jika wanita licik itu terus-terusan menekannya tanpa henti. Wei Linglong tidak suka wanita itu yang terus menerus berusaha mendapatkan Murong Qin dengan berbagai cara.
Malam ini, Istana Yanxi dikunci. Penjagaan di sana diperketat. Liu Ting dan Xiaotan menunggu di depan pintu masuk, menjaga majikan mereka dan mencegah seseorang masuk tanpa izin. Kedua bawahan tersebut ingin menciptakan kedamaian yang mengantarkan kedua majikannya melewati malam yang panjang tanpa gangguan apapun.
“Kasim Liu, apa ini masuk akal? Apa nyonya akan baik-baik saja ditinggal di dalam bersama Yang Mulia?” tanya Xiaotan yang masih polos.
“Aih, kau ini tahu apa. Malam kebahagiaan Yang Mulia, mana mungkin nyonyamu akan menderita,” jawab Liu Ting sembari menahan senyum.
Selama hidupnya, selama dia menjadi seorang kasim yang melayani Murong Qin dari kecil, baru kali ini dia merasa begitu bahagia. Baru kali ini Liu Ting menyaksikan wajah rajanya yang biasanya dingin seperti es tampak begitu hangat.
Saat upacara pernikahan dadakan yang sederhana itu pun, dia melihat bahwa kaisarnya terus tersenyum tanpa henti, meskipun mereka sama-sama tahu ini melanggar aturan.
Liu Ting hanya berharap dia bisa menyaksikan kaisarnya tersenyum bahagia walaupun hanya sekali seumur hidupnya. Kini, kesempatan tersebut telah datang.
Dia ingin menciptakan momen romantis yang tidak terlupakan untuk kaisarnya beserta wanita yang dicintainya. Jadi, dia berusaha agar malam yang disinari purnama ini bisa dilewati oleh keduanya dengan aman tanpa gangguan.
Sementara itu, Wei Linglong dan Murong Qin kini saling terdiam. Keduanya sudah berbaring bersebelahan di atas ranjang sambil menatap kosong ke udara, ke langit-langit kamar yang dihiasi untaian kain sutera emas. Murong Qin sudah mengganti pakaiannya dengan jubah tidur, sementara Wei Linglong masih mengenakan pakaian yang sama.
Bingung, takut, gugup, itulah yang dirasakan keduanya. Di malam pengantin ini, apa yang harus mereka lakukan? Malam masih panjang, namun mereka bahkan tidak memiliki sepatah kata untuk diucapkan hanya untuk sekadar mengisi kesunyian yang tercipta dari kekosongan ini.
Wei Linglong bergelut dengan pemikirannya sendiri. Dia membayangkan sesuatu akan terjadi. Wanita itu membayangkan jika malam ini, dia dan Murong Qin akan melakukan itu. Dia yang seorang selir yang masih perawan kini tidur satu ranjang dengan kaisar yang sudah beranak satu, bagaimana mungkin pikirannya bisa jernih? Wei Linglong bahkan berpikir kalau dia sangat bodoh sekarang!
Murong Qin juga bingung harus melakukan apa. Ini pertama kalinya dia tidur satu ranjang dengan seorang wanita dalam keadaan sadar. Meskipun dia pernah tidur dengan pria itu, namun itu karena dirinya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar. Keadaannya jelas berbeda sekarang.
“A-Ling,” panggil Murong Qin.
“Hm?”
“Aku tidak menyangka kau akan senekat ini,” ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari angkasa.
“Aku hanya tidak tahan pada wanita itu.”
“Jika para menteri tahu, mereka mungkin sangat marah,” tambah Murong Qin.
“Karena itu Yang Mulia jangan memberitahu mereka atau membiarkan mereka tahu,” tukas Wei Linglong.
Wanita itu tahu kalau tindakannya memang bodoh di mata orang. Namun, wanita mana yang akan diam saja ketika suami mereka terus menerus dikejar oleh wanita lain, meskipun wanita itu adalah istrinya yang lain?
Wei Linglong tidak tahan ketika Permaisuri Yi berbicara empat mata dengan Murong Qin, dia tidak tahan ketika wanita itu berusaha menawarkan harga agar Murong Qin berbalik kepadanya.
“Apa kau cemburu?” tanya Murong Qin.
“Aku? Cemburu? Untuk apa aku cemburu?” Wei Linglong malah bertanya balik, meskipun hatinya tidak mengatakan demikian. Dia hanya tidak tahu apakah seperti itu rasanya cemburu atau bukan.
“Haha. Aku tahu kau akan mengatakan ini. A-Ling, biar kutanya sekali lagi. Apa kau juga menyukaiku?”
“Entahlah. Aku hanya tidak tahu cara menjelaskannya,” ucap wanita itu kemudian.
“Aku hanya tidak suka melihatmu berinteraksi dengannya. Meskipun kalian bermusuhan, dia adalah istri sahmu. Aku sungguh tidak suka, rasanya aku ingin langsung menceburkan kalian ke dalam danau,” tambah Wei Linglong.
Murong Qin tersenyum. Dia merubah posisinya hingga menyamping, memandangi Wei Linglong yang berbaring telentang. Tangan kanannya menyangga kepala sementara tangan kirinya diletakkan di atas pinggang.
“Sudah aku duga, kau juga menyukaiku. A-Ling, kau itu sedang cemburu.”
“Aku tidak! Aku tidak-”
Perkataan itu terputus karena Murong Qin menekan bibir Wei Linglong dengan telunjuknya, meminta agar wanita itu tidak banyak bicara. Pandangan mata mereka bertemu, sebuah panah bagai melesat menusuk hati masing-masing. Mata tajam itu kini menatapnya dengan lembut.
Entah mengapa Wei Linglong merasa kalau wajah yang biasanya dingin dan datar itu sekarang berubah jenaka dan hangat. Dia tak lagi menemukan Murong Qin yang mendominasi dan otoriter. Yang dia lihat malam ini adalah Murong Qin yang hangat, yang selalu membuat jantungnya berdebar setiap kali jarak antara mereka menipis.
“Tidak perlu dikatakan,” kata Murong Qin.
Wei Linglong tidak ingin kalah. Dia memegang tangan yang menempel di mulutnya, lalu menghempaskan Murong Qin sekuat tenaga hingga pria itu kembali telentang. Wei Linglong kini setengah berbaring, memandangi Murong Qin sambil menekan dada pria itu dengan tangannya.
Tatapan keduanya kembali bertemu. Sadar akan hal itu, Wei Linglong langsung mengalihkannya pada yang lain. Perlahan, kepalanya mulai bersandar di dada Murong Qin.
Wei Linglong bisa mendengar suara detak jantung pria itu, yang begitu berdebar tak beraturan. Tangan kanan Murong Qin bergerak merangkul tubuh wanita itu, lalu mengusap lengan atasnya dengan lembut.
“Memangnya kenapa kalau aku menyukaimu? Apa Yang Mulia akan memberhentikanku dari jabatanku dan mengurungku di istanamu, menjadikanku seperti hewan peliharaan?” tanya Wei Linglong.
Usapan itu terhenti. Murong Qin membalikkan posisinya, setengah mengunci Wei Linglong.
“Apa kau bilang? A-Ling, coba katakan sekali lagi!” pintanya.
“Aku hanya bertanya.”
Tanpa aba-aba, Murong Qin langsung mencium wanita itu. Itu terlalu mendadak bagi Wei Linglong hingga dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bibir itu begitu hangat, ada getaran yang terasa ketika bibir Murong Qin menyentuh bibirnya. Wei Linglong menatap kosong, dia masih terkejut.
Murong Qin melepas ciumannya, namun tidak mengikis jarak di antara wajah mereka.
“Apa itu artinya perasaanku terbalas?” tanya pria itu.
Dengan ragu Wei Linglong menjawab, “Ya.”
Murong Qin langsung mencium kembali wanita itu. Air matanya jatuh mengenai pipi Wei Linglong. Dengan mata terpejam, Murong Qin menikmati ciuman yang dia berikan pada Wei Linglong.
Setelah menunggu sekian purnama, dia akhrinya tahu kalau wanita yang dia cintai juga mencintainya. Kebahagiaannya begitu besar melebihi kebahagiaan ketika dia menang dalam peperangan.
Wei Linglong juga menangis. Setelah sekian purnama, dia juga baru mengetahui isi hatinya sendiri. Sepasang manusia itu sekarang diliputi perasaan haru dan bahagia yang tiada tara. Jantung mereka sama-sama menderu, napas mereka sama-sama memburu.
“A-Ling, aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya!”
...***...
...Ayo tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!...