The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 79: KEANEHAN



“Yang Mulia, kita harus segera kembali.”


Wei Linglong menarik tangan Murong Qin, memintanya agar mereka segera kembali ke istana. Saat ini, mereka tengah melakukan investigasi rahasia di sebuah restoran besar, yang diduga menjadi tempat transaksi illegal antara pejabat setempat dengan pedagang dari utara. Itu semua berawal dari keanehan tusuk rambu yang dibeli beberapa waktu lalu, yang berkembang menjadi sebuah kecurigaan besar. Murong Qin dan Wei Linglong merasa ada skema besar di balik semua ini.


“Hari ini Permaisuri Yi bebas. Dia pasti akan membalas dendam padaku,” ucap Wei Linglong sembari menarik kembali lengan Murong Qin.


“Ssssstttt…. Kau tidak ingin mendengar sesuatu yang menarik?”


Murong Qin malah tetap duduk diam. Dia sengaja melakukannya karena barusan dia mendapat informasi dari pembicaraan-pembicaraan orang-orang di sekitar mereka. Di meja yang terpisah oleh kain, beberapa pemuda tengah bersantap sambil berbincang. Perbincangan mereka begitu serius hingga menarik perhatian Murong Qin.


“Kau sudah mendengarnya? Katanya ada seorang pemuda yang hilang di desa selatan,” tanya seorang pemuda.


“Apa yang aneh dari itu? Beberapa bulan ini banyak kasus serupa. Teman dari sepupuku juga hilang tanpa jejak saat dalam perjalanan kemari.” Pemuda lain menimpali.


“Apa sudah melapor pada petugas?” tanya yang lain.


“Melapor sudah, tapi petugas juga tidak berdaya. Tidak ada petunjuk sama sekali.”


“Aneh. Yang hilang juga pemuda seumuran kita. Penculik macam apa itu?”


“Jangan salah mengira. Penculik zaman sekarang memanfaatkannya untuk dijual, dijadikan penghibur di rumah bordil.” Pemuda yang satu ini agak tersipu saat mengucapkan perkataan terakhirnya.


“Apa maksudnya?”


“Kau tidak tahu ya? Bukan hanya rumah bordil berisi wanita penghibur, rumah bordil yang berisi pria penghibur juga ada. Itu difungsikan untuk mereka, para wanita yang ingin memuaskan hasrat tanpa menikah.”


“Apa mereka hanya melayani wanita?”


“Tentu saja tidak! Mereka dipilih kalau tubuh dan rupa mereka bagus. Kau tahu, mereka kadang lebih menawan dibandingkan wanita.”


“Kau pernah melihatnya?”


“Ya. Pernah sekali.”


“Di mana rumah bordil seperti itu berada?”


“Tentu saja di luar Kota Yongji. Kau pikir para pemilik rumah bordil itu ada nyawa berapa?”


“Jadi maksdumu, rumah bordilnya illegal?”


“Bukan illegal, tapi belum ada aturan izin dari pihak pengadilan.”


Wei Linglong dan Murong Qin yang menguping pembicaraan diam-diam hanya tertegun. Ada kasus seperti ini? Ini pertama kalinya Wei Linglong mendengar kalau ada rumah bordil berisi pria. Secantik apa mereka? Tidak, seputus asa apa mereka hingga merendahkan diri menjadi penghibur yang bahkan derajatnya lebih rendah daripada pelayan?


Ini kasus langka. Mungkin Wei Linglong bodoh karena tidak suka membaca kisah seperti ini, padahal begitu banyak kisah roman yang agak menggelikan ini di dalam komik. Dia melirik Murong Qin. Dari wajahnya, Wei Linglong sudah mengetahui kalau yang menarik perhatian pria itu bukanlah perihal rumah bordil pria yang illegal, tapi tentang menghilangnya para pemuda.


Ada banyak pemuda tampan dan berbakat di Yuan. Sebagai kaisar, dia tentu tidak ingin masa depan negaranya hancur hanya karena kekurangan pemuda penerus yang jadi pilar bangsa, bukan? Kegundahannya dirasakan Wei Linglong juga. Ini memang aneh. Mengapa para penculik itu hanya menculik para pemuda? Bukankah akan lebih mudah dan menguntungkan jika menculik para nona muda?


Kedua orang itu melanjutkan sesi menguping mereka.


“Aku dengar, para pemuda yang diculik itu dari keluarga kaya dan kaum bangsawan. Menurutmu, kenapa itu bisa terjadi?”


“Mungkin penculiknya ingin uang tebusan.”


“Tidak, menurutku menculik wanita lebih menguntungkan. Pamanku yang bekerja di Biro Keamanan memberitahu kalau rata-rata pemuda yang hilang ini pernah belajar kungfu, tapi terputus karena memilih bersekolah di Akademi Kerajaan.”


“Jadi maksudmu, mereka yang hilang ini adalah para siswa di Akademi Kerajaan?”


“Ya.”


“Aih. Entah bagaimana jika pengadilan istana mengetahuinya. Kaisar pasti akan sangat marah.”


Bukan marah lagi, dia akan menghukum semua menterinya. Tidak perlu menunggu sampai dilaporkan ke pengadilan istana, sekarang pun kaisar kalian sudah mengetahuinya.


Murong Qin menahan emosinya. Tangannya terkepal. Dia sangat marah. Tidak disangka ada kasus seperti ini yang belum sampai ke pengadilan. Para menteri itu sepertinya sudah bosan hidup dan sudah kaya, ya. Kalau semua pemuda di Yuan habis, mau bagaimana nasib masa depan negara ini?


“Yang Mulia, ini aneh,” ucap Wei Linglong. Dia sangat berhati-hati karena takut Murong Qin semakin marah.


“Ya.” Pria itu hanya menjawab singkat. Dingin seperti sebelumnya.


...***...


Sore hari, halaman Istana Fenghuang tampak lengang. Beberapa pelayan sibuk mempersiapkan makanan di bagian belakang. Hanya ada Xiaotan yang sedang menemani Murong Yu bermain. Bocah itu kabur dari pelajarannya bersama Perdana Menteri Xu karena merindukan bibinya. Sayangnya, bibinya itu sedang keluar istana. Xiaotan sudah memintanya pulang, tapi bocah itu keras kepala dan malah menunggu di Istana Fenghuang hingga sore hari.


Sebagai seorang pangeran, ini memang bukan hal baik. Tapi, siapa yang bisa mencegah kemauan seorang anak kecil yang menggemaskan sepertinya? Apalagi dia putra seorang kaisar. Pelayan manapun tidak akan berani menentangnya, termasuk Xiaotan. Xiaolan, si pelayan lain, hanya memperhatikan keduanya sembari bekerja.


Wei Linglong tiba di Istana Fenghuang beberapa saat kemudian. Saat dirinya baru sampai di ambang gerbang, dia melihat Murong Yu berlari ke arahnya. Suasana hati Wei Linglong yang agak buruk mulai membaik berkat kehadiran bocah kecil itu. Wei Linglong menyambutnya dengan pelukan.


“Xiao Yu, bibi sangat rindu!” ucapnya.


“Bibi ke mana saja? Aku sudah menunggu di sini seharian!” Bocah kecil itu merajuk.


“Bibi punya tugas di luar.”


Di belakang Wei Linglong, Murong Qin berdiri menyaksikan interaksi antara putranya dengan selirnya. Begitu hangat, persis seperti seorang ibu dan anak kandung. Kehadirannya membuat Murong Yu melepas pelukannya, lalu berdiri memberi hormat kepadanya. Begitu tampak sungkan.


“Ananda memberi hormat pada ayahanda.”


Bukannya senang, Murong Qin justru merasa tercubit. Sejauh itukah hubungannya dengan putranya? Bahkan dalam hal berbicara, harus begitu formal dan sungkan. Dilihatnya putra pertamanya itu dari atas dan bawah. Wajahnya tampan, perpaduan antara wajah Murong Qin dengan Permaisuri Hong. Murong Qin seperti melihat bayangan dirinya saat kecil, ketika dia hanya seorang pangeran yang lahir dari selir.


Murong Qin memejamkan mata sesaat. Dia mengingat kembali momen ketika Permaisuri Hong meninggal setelah melahirkannya. Untuk anak seusianya, itu mungkin sangat sulit dan menyakitkan.


Hidup tanpa kekurangan di istana, berstatus mulia, namun tidak mendapat kasih sayang orang tua merupakan sebuah luka. Murong Qin baru menyadari kalau selama ini dia benar-benar tidak pernah memperhatikannya.


Kecuali sejak ada Wei Linglong. Wanita itu secara tidak langsung telah menghubungkan kembali tali yang hampir putus. Murong Qin, bagaimanapun juga adalah ayahnya dan seorang kaisar.


Dia tidak bisa membiarkan putranya tumbuh sendirian tanpa pengajaran dan didikan. Bagaimanapun, seorang pangeran kekaisaran Yuan harus tumbuh cerdas dan memiliki kehidupan yang baik.


Dia berjongkok, lalu meraih tangan kecil Murong Yu.


“Putraku, bagaimana kabarmu?”


Ditanya oleh ayahnya seperti itu, Murong Yu hanya menatapnya polos.


“Ananda baik-baik saja, ayahanda. Ayahanda, apa yang ayahanda lakukan di sini? Apa ayahanda menginap di istana bibi?” tanya bocah itu. Tatapan lugunya mencairkan hati Murong Qin. Pria itu tersenyum, senyum yang baru dilihat pertama kali oleh Murong Yu seumur hidupnya.


“Putraku, kau seharusnya memanggil Selir Chun dengan sebutan ibu, bukan bibi,” ucap Murong Qin. Perkataan itu membuat kedua mata bocah itu membulat. Dia tidak bodoh meskipun usianya masih tujuh tahun. Kalau ada selir yang harus dia panggil ibu, itu berarti selir itu sudah benar-benar menjadi milik ayahnya.


“Benarkah? Ananda boleh memanggilnya ibu?”


Murong Qin mengangguk. Bocah itu terlonjak kegirangan, lalu memeluk ayahnya dengan erat. Tubuh kecilnya berada dalam pelukan Murong Qin. Dia sudah bersalah karena menelantarkan putranya ini, terlepas dari statusnya yang seorang kaisar. Mulai saat ini, dia berjanji tidak akan membiarkan Murong Yu tumbuh sendirian. Murong Qin bahkan melupakan kemarahannya atas kasus aneh yang terjadi.


Murong Qin memangku putranya sambil memikirkan sebuah pengaturan. Di istana ini, selain dengan pengasuh, para pangeran biasanya tumbuh bersama ibunya. Namun karena Permaisuri Hong sudah meninggal dan Murong Qin tidak bisa menyerahkannya kepada Permaisuri Yi, dia harus mencari jalan lain.


Karena Wei Linglong adalah kerabat Permaisuri Hong dan sangat dekat dengan putranya, dia memutuskan untuk menyerahkan Murong Yu kepada Wei Linglong, memberi wanita itu kesempatan untuk mengasuh, mendidik dan membesarkannya.


“A-Ling, kelak, putraku akan berada dalam asuhanmu,” katanya.


“Maksud Yang Mulia, kau akan menyerahkan Xiao Yu untuk dibesarkan olehku?”


“Ya.”


Wei Linglong melompat-lompat karena terlalu senang. Akhirnya, Murong Yu akan menjadi putra asuhnya! Selama ini dia berharap bisa selalu mengawasi bocah itu dalam pertumbuhannya, namun karena situasi yang khusus, dia tidak bisa melakukan itu. Sekarang, Murong Qin telah memutuskan untuknya, bocah manis kesayangannya itu akan berada dalam asuhannya!


“Ayahanda, ibu kenapa?” tanya Murong Yu yang keheranan karena ibu barunya melompat-lompat seperti kelinci.


“Ibumu terlalu senang.”


“Oh. Apa orang dewasa selalu seperti itu ketika senang?”


“Tidak juga. Hanya ibumu yang seperti itu.”


Murong Yu menggelengkan kepalanya. Ibu barunya memang aneh.


...***...


...Ada yang tahu nggak ke mana perginya para pemuda itu? Nah, ini konfliknya udah mau ke puncak nih. Akan ada serangkaian kejadian kayak pilem yang bikin Linglong sama kaisar diuji kesabarannya berkali-kali. So, stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...