The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 84: ADU STRATEGI



Situasi di perbatasan utara Jiangzhou begitu kacau. Dari puncak pegunungan, Wei Linglong menyaksikan banyak bangkai senjata dan kuda yang tergeletak di sana-sini. Bau anyir sisa pertarungan begitu menyengat, terbawa angin musim gugur hingga berkilo-kilometer jauhnya. Dari atas sini, dia bisa menyaksikan betapa getirnya peperangan tersebut.


Musuh yang sedang dia hadapi tidak sederhana. Berdasarkan sejarah, bangsa Mongolia menyerbu Dinasti Yuan dan mendirikan dinasti baru. Itu terjadi akibat adanya pemberontakan dari para kaum petani yang bersatu karena tidak puas dan sengsara akibat kekaisaran. Tetapi, Wei Linglong tidak tahu mengapa di dunia ini, dunia yang berbeda dengan sejarah tersebut, kejadian pahit itu juga terjadi.


“Nyonya, kami terpaksa memindahkan markas ke atas gunung. Jika tidak, semuanya bisa musnah,” ujar Jenderal Yang, sang jenderal pemimpin perbatasan utara.


“Berapa banyak pasukan yang gugur?”


“Karena serangannya begitu mendadak, kami tidak punya banyak persiapan. Lima ratus prajurit gugur dalam pertempuran pertama,” Sang Jenderal menjelaskan.


Wanita itu menghela napas. Musim gugur sudah tiba, namun malah membawa petaka peperangan yang mengerikan. Ketika dia tiba, beberapa prajurit berpangkat yang menjadi bawahan Jenderal Yang dan Jenderal Jin merasa keberatan dan protes karena Kaisar Mingzhu malah mengirimkan seorang wanita, juga seorang selir untuk berperang. Mereka berpikir bahwa sang kaisar pasti sedang bercanda.


Namun setelah dijelaskan bahwa Wei Linglong bukan hanya seorang selir, tetapi juga seorang menteri pengawas rahasia, mereka yang protes mulai menerima. Apalagi setelah mereka mengetahui kalau Wei Linglong adalah putri Jenderal Yun yang telah pensiun. Pikiran mereka yang kalut menjadi jernih, dan berpikir bahwa Kaisar Mingzhu tidak mungkin mengirimkan orang sembarangan untuk menangani situasi perang.


“Bagaimana dengan rakyat? Apakah di pusat kota dan sepanjang aliran sungai Jiangzhou sudah ditangani?” tanya Wei Linglong. Dia teringat bahwa di sini masih ada rakyat yang beberapa bulan lalu dia bina bersama Murong Qin.


“Para prajurit telah berjaga di gerbang kota. Kami juga memperkuat basis pertahanan di sana. Saya yakin rakyat akan aman,” jawab sang jenderal.


“Baik. Kita kembali ke markas.”


Wei Linglong dan Jenderal Yang kembali ke kamp militer. Di sana, beberapa prajurit tengah beristirahat, menikmati makan siang mereka yang singkat di tengah situasi perang tersebut. Sebagian dari mereka berjaga, ada juga yang berlatih. Tenda-tenda prajurit berdiri kokoh dan saling berdekatan. Dari pemandangan ini, Wei Linglong menyimpulkan kalau markas ini memang dibangun di saat darurat.


Di dalam tenda paling besar dan paling kokoh, Wei Linglong memanggil enam jenderal pemimpin yang ada. Jenderal Yang sebagai pemimpin membawahi lima jenderal muda, yakni Jenderal Jin, Jenderal Kong, Jenderal Sui, Jenderal Fu dan Jenderal Cui. Mereka berdiri mengelilingi sebuah meja yang di atasnya terdapat peta tiga dimensi terkait kondisi dan trek di perbatasan ini.


Wei Linglong ingat, dulu sebelum menjadi menteri pengawas rahasia, Murong Qin pernah mengajarinya strategi militer. Sang kaisar yang dulunya seorang pangeran prajurit yang hebat tentu sangat menguasai hal tersebut. Jika tidak, dia tidak mungkin menjadi seorang kaisar yang kuat seperti sekarang ini. Murong Qin berkata bahwa elemen terpenting dari sebuah peperangan adalah bagaimana bertarung tanpa melukai diri sendiri. Dia juga mengajarkan bahwa perang adalah kondisi militer, tidak boleh sampai melibatkan rakyat. Di medan perang, pedang tidak memiliki mata.


Kondisi geografis di daerah ini didominasi pegunungan dan lembah. Sungai hanya ada satu, jaraknya lima ratus kilometer dari markas militer. Tanahnya lembab, jika terkena hujan bisa basah. Kalau tanah basah, maka kuda-kuda dan kereta perang akan sulit melintas. Namun, melihat kondisi musim saat ini, kemungkinan untuk turun hujan sangat kecil.


“Berapa banyak pasukan yang tersisa?” tanya Wei Linglong.


“Dua puluh ribu pasukan, Nyonya,” jawab Jenderal Cui.


“Ditambah dengan pasukan yang kubawa, totalnya menjadi tujuh puluh ribu pasukan. Jumlah ini belum cukup. Apa sudah ada kabar dari Jenderal Yongning?”


Sejenak, para jenderal tertegun. Mereka lupa kalau sang putri Jenderal Yun membawa token perintah militer yang mengendalikan lima puluh ribu pasukan. Meskipun sangat membantu, namun jumlah tersebut masih kalah jauh dengan pasukan musuh yang membawa seratus ribu pasukan dalam pertempuran kali ini.


Masih kurang tiga puluh ribu pasukan jika ingin mengimbangi kekuatan mereka. Meskipun Jenderal Yongning datang, dia hanya bisa membawa dua puluh ribu pasukan. Totalnya mejadi sembilan puluh ribu pasukan. Masih kurang sepuluh ribu lagi. Ditambah lagi, jumlah tersebut tidak akan bisa masuk ke medan perang semua karena ada yang harus berjaga di gerbang kota dan memperkuat basis pertahanan militer di sana.


“Jenderal Yongning akan tiba dua hari lagi. Namun, kita tidak tahu apakah dua hari ke depan, kita masih di sini atau tidak. Situasi di dalam perang tidak bisa ditebak, perubahan bisa terjadi dalam waktu yang singkat,” Jenderal Kong menimpali. Tidak dipungkiri kalau dia juga sangat khawatir. Bertahun-tahun berperang bersama kaisar, baru kali ini dia mendapat serangan dari musuh yang sangat barbar.


“Kalau jumlah kita tidak cukup, maka gunakan otak saja,” ujar Wei Linglong.


Para jenderal saling berpandangan. Mungkinkah wanita ini punya solusi untuk mengatasi situasi tersebut?


“Apa persenjataan utama musuh?” tanya Wei Linglong.


“Apa nyonya punya ide?” tanya Jenderal Fu, jenderal yang terkenal karena kecerdasannya. Dulu dia pernah berperang bersama Murong Qin mengalahkan seribu pasukan sendirian.


“Meriam adalah senjata pemusnah massal. Satu kali tembakan bisa membunuh lima ribu pasukan. Musuh kita kuat, mereka telah mempunyai persiapan yang matang. Kita tidak akan menang,” jawab Wei Linglong.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Jenderal Sui.


“Tapi kita punya otak. Jika tidak bisa melawan dengan fisik, maka kita bisa melawan menggunakan taktik,” tambah Wei Linglong.


“Maksud nyonya?” Kali ini Jenderal Jin yang sedari tadi diam memperhatikan yang bertanya. Dia penasaran ide apa yang dimiliki oleh satu-satunya wanita yang telah meluluhkan hati kaisar ini.


Wei Linglong kemudian menjelaskan. Untuk mengantisipasi serangan mendadak, dia menyuruh Jenderal Cui memimpin seribu prajurit untuk menjaga markas militer. Baik siang atau malam, pasukan tersebut harus menjalankan patroli secara bergantian. Kemudian, untuk mengantisipasi kemungkinan berperang di lembah, Wei Linglong menyuruh Jenderal Sui membangun parit-parit di sekitar pegunungan, menggali tanah sedalam sepuluh dan membuat jebakan, lalu menutupnya kembali dengan rumput. Untuk melakukan pekerjaan itu, Jenderal Sui memimpin dua ribu pasukan.


Selain itu, Wei Linglong juga menyuruh Jenderal Kong untuk memimpin tiga ribu prajurit, lalu membasahi jalan sekitar yang kemungkinan menjadi jalan utama peperangan. Hal tersebut bertujuan untuk melembabkan tanah hingga basah, hingga ketika pasukan musuh bergerak, mereka akan terjebak dan tidak bisa bergerak.


Untuk memperkuat basis pertahanan di kota Jiangzhou,Wei Linglong menyuruh Jenderal Jin memimpin dua puluh ribu pasukan untuk berjaga. Lalu, Wei Linglong memerintahkan Jenderal Fu memimpin lima ratus pasukan untuk menyusup ke markas musuh di malam hari dan menghancurkan persenjataan mereka. Sementara itu, Jenderal Yang sebagai jenderal utama tetap berada di markas bersamanya, memimpin dan melatih puluhan ribu pasukan yang tersisa.


Jenderal Jin yang lebih dulu mengenal Wei Linglong kagum. Tidak disangka, otak wanita ini sangat cerdas. Mungkin, sang kaisar telah mendidiknya menjadi sebuah senjata yang bisa menyerang kapan saja dan dalam situasi apa saja. Sang jenderal muda juga berbangga karena dia bisa memimpin lebih dari sepuluh ribu pasukan saat ini.


“Jenderal Fu, kau berangkat malam ini. Oh, tambah lagi lima ratus pasukan,” ucap Wei Linglong pada Jenderal Fu. Jenderal Fu mengangguk. Di akhir kalimatnya, Wei Linglong membisikkan sesuatu kepada Jenderal Fu yang membuat sang jenderal tercengang bukan kepalang.


Jenderal Yang juga tidak luput dari kekaguman. Sungguh, baru kali ini dia melihat seorang wanita yang seharusnya ada di istana dan bermanja-manja bersama kaisar justru mempertaruhkan nyawa kecilnya di militer yang keras. Latar belakangnya memang dari keluarga militer, namun Jenderal Yang tahu betul bahwa kawannya, Jenderal Yun, sangat memanjakan putrinya dan tidak pernah membiarkannya masuk ke dalam dunia militer.


Kaisar Mingzhu memang sangat cerdas. Dia mendapatkan seorang wanita yang tidak manja, tidak hidup dalam kemewahan dan cinta, tetapi mendapatkan wanita tangguh yang kekuatan dan kecerdasannya hampir sebanding dengan kaisar itu sendiri. Betapa bagusnya jika dia menjadi permaisuri, mungkin keadaan di dalam istana tidak akan dipenuhi persaingan yang mengerikan seperti yang terjadi selama bertahun-tahun ini.


Ketika kelima jenderal bawahan pergi menjalankan tugas masing-masing, Wei Linglong masih berkutat dengan pikirannya. Di ruangan temaram yang hanya ditemani cahaya lampu dari lilin, wanita itu duduk menopang dagu. Hatinya gelisah bukan karena situasi perang, tetapi karena mengkhawatirkan situasi di istana yang tengah bergejolak. Wei Linglong tidak tahu apakah Murong Qin berhasil menangani para menteri menyebalkan itu atau tidak.


“Nyonya?” Jenderal Yang menghampiri.


“Ya?”


“Apa nyonya punya keluhan?”


“Tidak. Aku hanya tidak tahu apakah Yang Mulia bisa mengatasi kekacauan di istana dan pengadilan atau tidak.”


Jenderal Yang tersenyum. Sudah sejauh ini pun, wanita ini masih memikirkan kaisarnya.


“Yang Mulia adalah orang yang hebat. Dia pasti bisa mengatasinya.”


“Ya, aku harap juga begitu.”


...***...