
Di tenda kekaisaran, Permaisuri Yi memarahi semua pelayan yang menyajikan makanan untuknya. Dia memarahi semuanya satu persatu sampai puas, kemudian melemparkan peralatan makan beserta isinya ke tanah. Makanan-makanan hangat itu tumpah berserakan.
Permaisuri Yi lagi-lagi dipermainkan oleh Wei Linglong.
Rivalnya itu sengaja menyapkan makanan tawar berupa sayur wortel tanpa garam, sup lobak mentah, sawi setengah matang, mie tanpa rasa, telur rebus, tomat hijau, dan beberapa sayuran mentah yang lain. Tidak ada daging lezat, yang ada hanya menu untuk seorang biksuni!
“Permaisuri, Selir Chun berkata kalau semua makanan untuk keluarga kerajaan sama. Dia berkata bahwa keluarga kekaisaran sangat menghargai rakyat, jadi ingin menyiapkan makanan rakyat,” ucap seorang pelayan, kemudian dia didorong hingga terjengkang oleh Permaisuri Yi.
“Siapa yang mengizinkanmu bicara untuknya? Kau tidak ingin hidup lagi? Pengawal, seret pelayan ini dan pukul dia sampai mati!”
Permaisuri Yi begitu berapi-api. Pelayan tadi dibawa keluar dari tenda, lalu dipukuli di bawah guyuran hujan hingga mati. Pelayan lain yang melihat temannya dihukum perlahan mundur. Mereka tidak ingin berakhir tragis seperti pelayan tadi. Lebih baik, mereka membiarkan Permaisuri Yi melampiaskan amarahnya sendirian di dalam tenda.
Saat Permaisuri Yi sedang memarahi pelayan habis-habisan, Murong Yu berlari dari tendanya menuju tenda Kaisar. Dia menerobos penjaga dan masuk begitu saja. Ketika sampai di depan kursi Murong Qin, Murong Yu langsung berlutut sembari menangis.
“Ayahanda, Ananda mohon bantulah Ananda,” ucap bocah kecil itu sambil menangis. Pakaiannya basah terkena hujan.
Murong Qin yang sedang duduk seketika memapah putranya, membimbingnya untuk berdiri. Anak itu lari di bawah hujan deras dan menerobos masuk, maka sudah dipastikan terjadi sesuatu yang buruk. Murong Qin mensejajarkan tinggi badannya, lalu berbicara pelan-pelan pada Murong Yu.
“Ada apa?”
“Ayahanda, bibi Chun menghilang. Ananda mohon temukanlah bibi Chun.”
“Hilang?”
“Tadi ada seorang pelayan masuk lalu membawa keluar bibi selir, tapi belum kembali sampai sekarang. Ayahanda, hari sudah malam, jalan gelap dan hujan, bagaimana jika bibi Chun terjatuh? Ayahanda, Ananda mohon bantu Ananda, pinjamkan beberapa orang untuk mencarinya.”
Murong Qin mencoba menenangkan putranya. Di luar, hujan masih sangat deras. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Murong Yu, maka saat ini Wei Linglong memang berada dalam bahaya. Hutan di belakang area ladang kekaisaran adalah sarang binatang buas. Jalan sangat licin, jika tidak hati-hati mungkin bisa jatuh ke dalam jurang.
“Tunggulah di sini. Ganti pakaianmu. Aku akan menemukan Selir Chun,” ujar Murong Qin. Dia meminta Liu Ting untuk menjada Murong Yu, sementara dirinya pergi mencari Wei Linglong bersama Bu Guanxi dan beberapa pengawal.
Murong Qin menyusuri hutan di sekitar tenda. Setelah tidak menemukan petunjuk, pencarian dilanjutkan ke area yang lebih tinggi. Jalan yang licin membuat pasukan pengawal kesulitan bergerak hingga beberapa orang terjatuh dan berguling ke bawah dalam keadaan terluka.
Selain membawa pengawal biasa, Murong Qin juga mengirim beberapa penjaga rahasia kerajaan ke dalam hutan untuk ikut mencari. Hari sudah gelap, penerangan dengan obor pun tidak berguna karena api tersiram air hujan. Di saat seperti ini, suasana begitu mencekam.
“A-Ling, di mana kau?”
“Apa kau tidak tahu kalau Murong Yu menangis memohon padaku untuk mencarimu? Wanita bodoh, mengapa bisa tertipu pelayan?”
Murong Qin terus menerus bertanya pada angin, pada pohon, dan pada semua objek yang dia lihat. Lagi-lagi dia dibuat khawatir oleh Wei Linglong. Saat hendak berbelok ke kanan menuju jurang, Murong Qin tiba-tiba melihat jejak kaki kecil yang tercetak di genangan lumpur.
Dia melihatnya lebih dekat. Jejak kaki itu mengarah ke atas, ke hutan lebat. Murong Qin mengikuti jejak tersebut. Dia menemukan genangan darah yang tercampur dengan air hujan di daun-daun yang berjatuhan. Murong Qin juga melihat sebuah anak panah tertancap di tanah.
Saat hendak mencabut anak panah itu, telinganya dikejutkan dengan suara denting pedang yang beradu tak jauh dari lokasi tersebut. Lantas, dia mencoba mencari sumber suara. Murong Qin sangat terkejut ketika dia melihat seorang wanita yang pakaiannya kotor tengah dikeroyok beberapa pria berpakaian hutan di bawah guyuran hujan.
“Dia juga bisa bela diri?”
Murong Qin melompat ke arena pertarungan. Saat datang, dia melihat seorang pelayan tergeletak dengan darah di keningnya. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung ikut menyerang sekelompok pria berbaju hitam dengan pedangnya. Para pembunuh tampak terkejut ketika seorang pria bergabung ke arena pertarungan.
Wei Linglong juga menolehkan kepalanya. Syukurlah, Murong Qin sudah datang. Dia tidak perlu lagi melawan para pembunuh keras kepala ini lagi. Tenaganya juga hampir habis. Lebih baik, dia membereskan sesuatu yang harus dia bereskan, sementara para pembunuh ini akan dia serahkan pada Murong Qin.
“Karena Yang Mulia sudah datang, maka aku serahkan orang-orang menyebalkan ini kepadamu!”
“Wanita bodoh! Mengapa kau begitu percaya pada orang?”
“Yang Mulia, bukan saatnya membahas itu. Kau bereskan dulu mereka, aku akan mengurus pelayan sialan itu!”
Dengan segala kemampuannya, Wei Linglong berhasil keluar dari arena pertarungan. Dia langsung mengikat pelayan yang telah menipunya dengan kain, lalu menyandarkannya di pohon. Setelah yakin kalau ikatan itu sudah kuat, Wei Linglong langsung duduk di depannya, menyaksikan pertarungan antara Murong Qin dengan para pembunuh.
“Seharusnya mereka datang tiga puluh detik lagi,” seloroh Wei Linglong.
Benar saja, tiga puluh detik kemudian sekelompok pengawal rahasia kerajaan datang membantu raja mereka. Para pembunuh jadi kalah jumlah, tetapi mereka tetap tidak gentar sedikitpun. Sebaliknya, para pembunuh itu semakin bersemangat karena menemukan lawan yang seimbang.
“Aku sudah bilang kalian tidak perlu mempertaruhkan nyawa. Lihat sekarang kalian kena batunya bukan?” teriak Wei Linglong.
Para pembunuh yang sedang berusaha mati-matian terganggu. Seandainya tadi mereka menuruti perkataan korban dan pergi, mereka mungkin tidak perlu bertarung sampai seperti ini. Saudara-saudaranya juga tidak perlu mati di
tangan pria itu dan pasukannya.
Yang tidak mereka sangka adalah identitas sebenarnya dari target mereka, yang ternyata seorang selir Kaisar Mingzhu yang belakangan menjadi topik perbincangan dan digadang-gadang akan menggeser posisi Permaisuri Yi. Mereka lebih tidak menyangka kalau mereka akan menghadapi Kaisar Mingzu dan pasukan rahasianya secara langsung.
Satu persatu pembunuh mati. Kini hanya tinggal dua orang saja. Murong Qin hendak menangkap mereka hidup-hidup, tetapi para pembunuh itu menelan racun di bawah lidah dan mati bunuh diri.
“Sayang sekali, aku tidak bisa bermain detektif karena kalian malah mati. Pembunuh sialan, aku bahkan belum tahu siapa yang telah memerintahkan kalian!”
“A-Ling, apa kau baik-baik saja?” tanya Murong Qin setelah memastikan semua pembunuh mati.
“Aku baik-baik saja.”
Murong Qin menatap lengan kiri Wei Linglong yang terbungkus kain, yang kini sudah berwarna merah. Dia masih bisa melihatnya meskipun cayaha di hutan sudah sangat redup. Wanita ini memang bodoh, bagaimana bisa dia mengatakan baik-baik saja sementara lengannya terluka?
“Lenganmu terluka!”
“Ini hanya tergores sedikit. Yang Mulia, apa kau bisa menyuruh prajuritmu membawa wanita ini kembali? Aku ingin memberinya pelajaran,” pinta Wei Linglong. Murong Qin menyetujuinya.
Dia berjongkok, lalu meminta Wei Linglong naik ke punggungnya.
“Jalanan sangat licin. Yang Mulia, bagaimana jika kita terpeleset dan masuk ke jurang?”
“Kau masih takut? Lalu mengapa kau begitu percaya pada perkataan pelayan ini tanpa takut apapun?”
“Itu karena dia meminjam namamu.”
Murong Qin langsung terdiam.
Wei Linglong dan Murong Qin kembali ke tenda kekaisaran saat malam sudah hampir larut. Hujan sudah berhenti. Tenda-tenda bersinar seperti lentera. Para prajurit yang berjaga menyalakan api di atas tanah yang basah untuk menghangatkan diri.
Orang yang menyambut kedatangan mereka adalah Murong Yu dan Liu Ting, kemudian disusul beberapa menteri, pangeran dan putri, lalu Permaisuri Yi dan Ibu Suri. Mereka menanyakan apa yang terjadi hingga Kaisar pulang sangat larut sambil menggendong Selir Chun.
Murong Yu langsung memeluk Wei Linglong begitu dia turun dari gendongan Murong Qin. Wei Linglong sempat meringis karena Murong Yu menyenggol area lukanya, tetapi dia tidak bisa menunjukkannya di hadapan Murong Yu. Dia takut bocah kecil itu akan kembali menangis.
“Panggil tabib!”
“Yang Mulia, apa Nyonya Chun terluka?”
“Kau tidak lihat gulungan kain memerah di lengan kirinya?”
Liu Ting langsung keluar dari area tenda untuk mencari tabib. Baiklah, tuannya sedang marah karena selir kesayangannya terluka. Biarkan tabib menanganginya terlebih dahulu, baru dia akan menyanyakan yang lain dengan jelas. Bagaimanapun, kejadian ini tidaklah sederhana.
Pelayan penipu tidak ikut dibawa ke tenda, melainkan langsung dibawa pulang ke istana dan dipenjara di penjara rahasia. Pasukan pengawal rahasia yang membawanya sudah memeriksanya, memastikan tidak ada racun di bawah lidah yang bisa ditelan untuk bunuh diri. Mereka juga sudah memastikan tidak ada senjata yang disembunyikan di dalam tubuh pelayan penipu itu.
Bagaimanapun, Wei Linglong tetap selamat. Wanita itu tetap menang satu langkah dibandingkan dengan yang lain. Luka di tangannya sudah selesai diobati. Wei Linglong mendapatkan empat jahitan untuk menutup kembali bekas sobekan yang diakibatkan anak panah itu. Setelah selesai diberi obat, lukanya langsung diperban dengan kain kasa.
“Bu Guanxi!”
“Ya, Yang Mulia.”
“Selidiki markas pembunuh itu! Pastikan mereka membayar harga atas robeknya lengan Selir Chun!”
Genderang perang di hati Murong Qin bertalu-talu, genderang perang di hati Wei Linglong juga berdebum. Kelak, mereka pasti akan memperhitungkannya dengan baik!
...***...