The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 57: RAHASIA TUJUH TAHUN



Dikatakan bahwa Wei Hongxue yang bergelar Permaisuri Hong adalah permaisuri pertama Kaisar Mingzhu yang meninggal setelah melahirkan Pangeran Sulung. Semua orang di Dinasti Yuan hanya tahu kalau dia meninggal karena kekurangan banyak darah saat kelahiran pangeran, hingga nyawanya tidak tertolong lagi.


Itu adalah kebenaran yang mereka ketahui. Akan tetapi, tidak ada yang tahu kebenaran asli dari kematian tersebut selain sang Kaisar Mingzhu itu sendiri. Ada banyak rahasia yang tersembunyi dalam kematian tersebut sehingga kematian itu bukanlah kematian biasa. Sang Kaisar Mingzhu yang agung memilih merahasiakannya selama ini.


Di hadapan Wei Linglong, rahasia yang dipendam selama tujuh tahun itu akhirnya terungkap. Dengan penuh kejujuran, Murong Qin menceritakan semua kejadian yang terjadi pada hari itu, pada hari kelahiran Murong Yu ke dunia ini. Pria itu memberitahukan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui olehnya saja.


Permaisuri Hong tidak meninggal karena kekurangan banyak darah. Beberapa saat setelah melahirkan Murong Yu, Permaisuri Hong malah mengalami batuk darah yang parah. Tabib yang bertanggungjawab menanganginya saat itu diam-diam memberitahu Murong Qin perihal ini. Ketika diperiksa, muntahan darah dari organ dalam Permaisuri Hong ternyata mengandung racun.


Saat itu, tabib berkata bahwa Permaisuri Hong masih bisa diselamatkan dengan menekan beberapa titik vital di tubuhnya untuk menekan racun. Kondisi tubuhnya saat itu begitu lemah sehingga hanya mampu berbicara pelan sekali dan hanya bisa menggerakkan jarinya. Ada beberapa pelayan yang ketakutan dan menangis di dalam tempat persalinan.


Normalnya ketika seseorang terkena racun, orang itu akan berusaha mencari penawar terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, Permaisuri Hong justru menolak pengobatan yang hendak diberikan oleh tabib itu. Katanya, biarkan saja racun itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan membunuhnya. Dia juga mengatakan kalau dia meninggal, tabib itu harus membutnya seolah-olah meninggal karena persalinan yang sulit.


Tabib yang tidak tahu apa-apa itu langsung panik karena perkataan Permaisuri Hong begitu tidak masuk akal. Dia adalah seorang ibu negara, seharusnya hidup dengan baik, bukan malah ingin mati. Tabib tersebut memaksa Permaisuri Hong untuk diobati, tetapi Permaisuri Hong terus menerus menolaknya hingga batuk darah berkali-kali.


Dalam kondisi tubuh yang sangat lemah setelah melahirkan dan terkena racun, Permaisuri Hong sekarat. Sebelum nyawanya melayang, dia sempat menitipkan sesuatu kepada tabib tersebut. Dia memberikan sebuah kunci kecil dan pelat anggrek kepada tabib itu, lalu memintanya menyerahkan dua benda tersebut kepada Murong Qin.


Permaisuri Hong menyuruhnya mengantarkan itu langsung kepada sang Kaisar, tidak boleh sampai di tangan orang lain terlebih dahulu. Dia tahu akan sulit mempertahankan nyawanya pada malam itu. Kemudian, beberapa saat setelah Permaisuri Hong menyerahkan dua benda itu, dia menghembuskan napas terakhirnya dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


Tabib dan pelayan yang saat itu membantu persalinan menangis dan berlutut atas kepergian Permaisuri Hong. Saat itu, hujan turun sangat deras dan petir menyambar-nyambar. Di istana tempat Permaisuri Hong, suara tangisan tertahan memenuhi seluruh ruangan, tetapi para pelayan itu sadar bahwa mereka tidak dapat mengeluarkan suara mereka.


Kunci kecil dan pelat anggrek peninggalan Permaisuri Hong diserahkan langsung saat itu juga kepada Murong Qin. Tabib itu berlari dari istana Permaisuri Hong menuju Istana Yanxi. Tidak ada penjaga atau pelayan dari istana lain yang melihatnya karena saat itu mereka telah terlelap dan hujan sangat deras.


Murong Qin kebetulan masih terjaga karena saat itu dia tahu kalau Permaisuri Hong sedang melahirkan. Kedatangan tabib ke istananya dengan kesedihan dan ketakutan membuatnya bertanya apa yang telah terjadi. Kemudian, sambil berlutut, tabib itu menangis sembari memohon ampun karena tidak bisa menyelamatkan Permaisuri Hong.


Saat mendengarnya, Murong Qin juga terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau wanita yang membuatnya sangat marah telah pergi. Tabib itu kemudian menyerahkan dua benda peninggalan Permaisuri Hong kepada Murong Qin dan mengatakan bahwa Permaisuri Hong ingin sang Kaisar menemukan sebuah kotak di istananya yang dia letakkan di sebuah tempat yang hanya diketahui oleh pelayannya. Dengan menunjukkan pelat anggrek, pelayan yang tahu akan langsung membantunya.


Meskipun masih belum mengerti apa maksudnya, Murong Qin tetap menerima kedua benda tersebut. Malam itu juga, dia pergi ke istana Permaisuri Hong tanpa diikuti oleh Liu Ting atau orang Istana Yanxi yang lain. Ketika dia sampai, dia melihat tubuh Permaisuri Hong yang sedang terbaring sudah memutih. Wajahnya sudah sangat pias.


Kain yang tersampir di tubuhnya ternoda noda darah. Bibirnya membiru. Tetapi dari pemandangan mengenaskan itu, wajah yang ayu yang telah tidak berdarah itu justru terlihat sangat damai. Seolah-olah, seluruh beban dunia yang ada di pundaknya telah terangkat semua sehingga hanya menyisakan kedamaian dan ketenangan bagi pemiliknya.


Dengan kematian itu, Murong Qin tahu Permaisuri Hong tidak perlu lagi berpura-pura di depannya. Semua bentuk sandiwara yang dimainkan olehnya selama ini telah berakhir, telah menemui titik akhir. Wanita itu tidak perlu lagi menguras tenaganya untuk berusaha bersikap baik dan patuh di hadapannya.


Murong Qin juga melihat sisa darah di lantai yang berwarna hitam. Dia bertanya pada tabib darah apa itu, kemudian tabib mengatakan bahwa itu adalah darah dari dalam tubuh Permaisuri Hong yang dimuntahkan beberapa kali sebelum meninggal. Tabib tersebut juga mengatakan bahwa Permaisuri Hong menolak diobati. Tabib menceritakan semua kejadian itu dengan jujur.


Dalam sekilas, Murong Qin langsung tahu kalau istri sahnya itu meninggal karena diracuni. Dia kemudian mengeluarkan pelat anggrek, seorang pelayan kemudian melihatnya dan membantunya. Sebuah kotak segi empat dari kayu diberikan kepada Murong Qin malam itu juga.


“Lalu apa isi kotaknya?” Wei Linglong menyela pembicaraan.


“Sebuah surat.”


“Surat?”


“Ya.”


“Surat apa?”


Murong Qin kemudian melanjutkan ceritanya. Isi kotak yang berupa selembar surat itu kemudian dia bawa ke tempat yang lebih terang. Di sana, Murong Qin mulai membacanya dengan teliti. Sesekali dahinya berkerut, kemudian wajahnya tampak memerah menahan marah.


Permaisuri Hong juga berkata bahwa selama ini dia tidak pernah ingin bekerja sama dengan Ibu Suri. Dia ditekan dan diperalat oleh wanita tua itu setiap saat sehingga seluruh pergerakannya diketahui olehnya. Karena tidak ada pilihan lain, dia hanya bisa menuruti perintahnya dari hari ke hari, dan menerima kebencian yang tumbuh diam-diam dari orang lain.


Pada saat dia mendengar berita kalau Murong Qin hendak mencopot gelarnya dan menurunkannya dari takhta permaisuri, Permaisuri Hong sudah mempersiapkan diri karena selama ini itulah  yang dia inginkan. Tetapi, takdir justru berkata lain. Langit telah menitipkan sebuah roh kecil yang tumbuh di perutnya sehingga dia memikirkan ulang semuanya.


Ibu Suri pernah menyuruhnya menggugurkan kandungan itu. Permaisuri Hong mengaku pernah dipaksa meminum racun, namun tidak berhasil karena Pangeran Yan saat itu baru kembali ke istana. Nyawa kecilnya dan nyawa kecil di perutnya berhasil diselamatkan.


Saat kandungannya membesar, Permaisuri Hong harus mengkonsumsi dua jenis obat sekaligus secara berkala untuk mempertahankan bayi di kandungannya dan untuk menahan racun yang diam-diam masuk ke tubuhnya. Dia tahu Ibu Suri tidak akan pernah berhenti sampai di situ. Wanita jahat itu akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan calon pangeran di rahim Permaisuri Hong.


Saat bayi dalam rahimnya lahir, racun yang ada di dalam tubuh Permaisuri Hong berkumpul di titik vital hingga membuatnya muntah darah. Permaisuri Hong sudah memprediksinya dari jauh, sehingga dia memikirkan sesuatu yang mungkin bisa dia lakukan untuk melindungi buah hatinya di akhir hidupnya.


Dalam surat itu, Permaisuri Hong merasa bahwa jika dia tidak mati, maka Ibu Suri akan terus mencari cara untuk melenyapkan Pangeran Sulung, atau kembali menekannya dan memperalatnya seperti dulu. Hanya jika dia mati, maka posisi Pangeran Sulung akan aman di dalam istana. Ibu Suri hanya akan mencari pengganti permaisuri, tetapi tidak akan bisa mengganti posisi seorang pangeran pertama kekaisaran.


Di akhir suratnya, Permaisuri Hong mendoakan Kaisar Mingzhu agar kelak bisa menemukan seseorang yang menggerakkan hatinya, meruntuhkan dinding es di dalam hatinya dan membuatnya hangat kembali. Permaisuri Hong berharap suami kaisarnya bisa menemukan wanita yang membuatnya memiliki rasa kembali, bukan seperti kepada dirinya.


Inilah rahasia yang dipendam oleh Murong Qin selama tujuh tahun. Kebenaran di balik kematian Permaisuri Hong hanya diketahui olehnya. Tabib dan pelayan yang menjadi saksi pada masa itu mengundurkan diri dan telah bersumpah tidak akan pernah mengungkit kejadian tersebut sampai mati.


Ini juga menjadi alasan mengapa gelar permaisuri tidak dicabut setelah Permaisuri Hong. Dengan pemertahanan tersebut, meskipun ada permaisuri baru, tingkatannya masih tidak setinggi Permaisuri Hong, bahkan permaisuri baru itu harus memberi hormat ketika mengunjungi makam Permaisuri Hong.


“Sudah aku duga, kakak sepupuku tidak bersalah. Oh, Xiao Yu-ku yang malang,” seloroh Wei Linglong ketika Murong Qin menyelesaikan ceritanya.


“Tampaknya, keluarga Wei akan menjeratku selamanya.”


Wei Linglong turut merasa sedih pada nasib tragis kakak sepupu pemilik tubuh ini, juga merasa kagum dengan kisah heroiknya yang rela mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan putranya. Ibu Suri benar-benar penyihir yang jahat. Wei Linglong benar-benar dibuat geram oleh wanita kejam itu.


Ini juga tidak mudah untuk Murong Qin. Selama tujuh tahun ini dia menyimpan rahasia sebesar ini dengan rapat. Jika saja ada bukti yang menunjukkan bahwa Permaisuri Hong sebenarnya diracuni, Murong Qin bisa langsung menjatuhkan Ibu Suri. Tetapi, bukan hanya bukti yang tidak ada, namun keseimbangan di dalam harem dan pengadilan istana juga dipertaruhkan.


“Yang Mulia memendamnya selama tujuh tahun. Aku turut merasa kagum.”


“Sebenarnya cukup lega ketika aku memberitahukan ini pada seseorang yang aku percaya.”


“Haish, harem dan permainan istana sangat kejam. Nyawa manusia seperti bulu  binatang yang bisa dihambur-hamburkan.”


“Menurut aturan dan statusmu saat ini, Pangeran Sulung seharusnya memanggilmu dengan sebutan ibu, bukan bibi,” ucap Murong Qin.


“Aku terlalu muda untuk dipanggil ibu. Terserah Xiao Yu saja mau memanggilku apa. Selama dia nyaman, aku bisa  menerimanya.”


“Dia sangat beruntung bisa bertemu denganmu.”


“Dia bisa lebih beruntung kalau ayahnya menyayanginya.”


“Kau menyindirku lagi, A-Ling.”


Wei Linglong hanya tertawa.


...***...