
Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)
Visual :
Geraldine Ricardo
.
.
.
"Terimakasih untuk tumpangannya, Mr.Lorwerth" ucap Irene seraya melepas seat beltnya dan turun dari mobil.
Zean hanya diam sambil menatap punggung Irene dari kaca mobil. Setelah punggung Irene benar-benar menghilang dari pandangannya, ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Irene.
Irene melewati dapur, di sana ada Alice yang tengah sibuk menyiapkan makan malam. Alice yang menyadari kehadiran Irene menghentikan kesibukannya dan beralih menatap adiknya itu.
"Kau datang lebih awal dari dugaanku" ucap Alice sambil melirik jam dinding di dekat ruang makan, saat ini baru pukul 06.25 pm.
"Aku akan ganti pakaian dan membantumu"
"Tidak usah, aku hampir selesai. Kau pergi mandi dan dandan yang cantik. Kekasihku akan tiba satu jam lagi" titah Alice pada Irene yang mengangguk patuh lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Irene menghempaskan tubuh mungilnya itu di atas ranjang king size sambil menatap langit-langit kamarnya.
Hampir semua sudut otaknya dipenuhi oleh kata-kata Zean, setiap lembar ingatannya berisi Zean yang menciumnya berulang kali dan setiap Irene memejamkan mata, ia selalu terbayang wajah Zean yang menatapnya lembut. Ada apa dengan Irene? Kenapa ia jadi memikirkan orang asing brengsek yang menyebalkan dan juga gila itu?
Tiba-tiba ponsel Irene bergetar membuyarkan lamunannya. Ia mengecek ponselnya, ada satu panggilan dari nomor tak di kenal.
'Nomor siapa ini?' batin Irene bertanya lalu ia mengangkat telpon itu.
"Hallo" ucapnya.
"Apa kau merindukanku, Irene?" ucap orang itu di seberang telepon.
Astaga! Suara ini, Irene sangat mengenalnya. Suara maskulin yang berat ini, suara yang selalu membuat jantungnya berdebar. Siapa lagi kalau bukan Arzean Lorwerth.
"Mr.Lorwerth?" ucap Irene meyakinkan.
"Hm"
"Kenapa kau selalu mengangguku? Apa tidak cukup untuk hari ini? Untuk kemarin? Dan untuk selama ini kerjaanmu hanya mengangguku bahkan baru beberapa menit kita berpisah sekrang kau malah menelponku dan bertanya 'apa kau merindukanku, Irene?' pertanyaan macam ap-"
"Hentikan ocehanmu, Irene. Aku menelpon sebagai atasanmu. Bersiaplah, aku akan menjemputmu pukul sepuluh malam ini" potong Zean lalu memutuskan sambungannya.
"Hallo"
"Hallo" ucap Irene lalu melihat layar ponselnya, sambungannya terputus, Zean menutup teleponnya.
"Ada apa dengannya? Apa dia marah karena aku selalu mengoceh padanya?" ucap Irene entah pada siapa lalu ia menyimpan nomor Zean dengan nama 'stranger'
Irene tak ingin ambil pusing dengan sikap aneh Zean. Irene memutuskan untuk mandi dan segera turun karna Alice pasti sudah menunggunya di ruang makan.
🍂🍂🍂
Di ruang makan.
Benar saja. Alice sudah menunggunya tapi dia tidak sendiri, Alice bersama seorang pria.
Irene menatap ke arah mereka yang tengah duduk berama di meja makan itu. Alice terlihat cantik dengan dress mini coklat yang melekat sempurna di badannya. Sedangkan pria yang bersama Alice benar-benar pria yang tampan dan penuh kharisma. Tapi tetap saja lebih berkharisma dan lebih tampan Zean.
"Sampai kapan kau akan berdiam diri dan menatap kami terus" ucap Alice membuyarkan pikiran Irene.
Kekasih Alice yang menyadari kehadiran Irene kini beralih menatap Irene. Tak dipungkiri, kekasih Alice benar-benar menatap Irene begitu intens bahkan tak sedikitpun tatapannya berpaling dari Irene. Begitupun dengan Irene yang menatapnya balik, tatapan mereka seolah saling bicara.
"Ohh c'mon! Kalian menyakitiku dengan saling menatap seperti itu" goda Alice berusaha mencairkan suasana.
Irene mengalihkan tatapannya lalu duduk di samping Alice.
"Irene perkenalkan ini adalah Gerald, Geraldine Ricardo. Dia adalah anak pertama dari keluarga Ricardo yang memiliki perusahaan Ricardo Golden Group" ucap Alice, ia sedikit kecewa karena Gerald masih tetap menatap Irene.
"Nice to meet you, Gerald. I'm Irene Banner" ucap Irene memperkenalkan diri.
Gerald masih tetap menatap Irene, dia tak menghiraukan ucapan Irene padanya.
"Ohh c'mon, darling! Kenapa kau menatap adikku seperti itu?" tanya Alice frustasi.
Alice tak mengerti dengan tatapan itu, tatapannya terlihat begitu dalam bukan sebuah tatapan terpesona. Tatapan ini lebih melukiskan tatapan kerinduan.
Gerald memejamkan mata sesaat lalu mengalihkan pandangannya dari Irene.
"Ahh.. tidak, tidak. Irene hanya mirip dengan seseorang yang ku kenal" ucap Gerald.
"Benarkah?" tanya Irene.
"Siapa seseorang yang mirip dengan Irene?" tanya Alice cemburu.
"Aku tebak, dia pasti mantan kekasihmu yang sulit kau lupakan hingga kau menatapku seperti tadi" ucap Irene sengaja memancing amarah Alice.
Benar saja, Alice kini menatap Irene dengan wajah murkanya.
"Irene!" seru Alice.
Gerald tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Just kidding, sister" Irene terkekeh kecil.
"Jadi berapa usiamu, Irene?" tanya Gerald.
"22" jeda Irene. "Bagaimana dengan kau? Apa usiamu 30th? 40th? 50- ”
"Kita seusia, Irene. Aku dan Gerald berusia 27th" sela Alice.
Irene membulatkan mulutnya seperti berkata "O"
Mereka mulai menikmati hidangan makan malam, semua makanan ini dibuat oleh Alice. Alice adalah tipe wanita mandiri, dia adalah kakak sekaligus seorang ibu bagi Irene.
"Bagaimana hari pertamamu, bekerja?" tanya Alice membuka obrolan.
"Tentu menyenangkan" ucap Irene tentunya berbohong.
Irene tidak mungkin menceritakan semua kegilaan yang Zean lakukan terhadapnya, Irene tidak ingin membuat Alice khawatir dan di sisi lain Irene ingin kakaknya itu merasa senang dan bangga karena Irene bisa berkerja di Lorwerth Corporation sesuai dengan harapan Alice.
"Kau sudah bekerja? Di-"
"Kapan rencana tunangan kalian? Apa sudah menentukan tanggal? Tempat? Dekorasi? Undangan?" potong Irene cepat, ia tak ingin membahas masalah pekerjaannya, yang ada akan membuatnya kembali teringat pada pria asing itu.
Ya, pertanyaan yang terlontar dari mulut Irene benar-benar membantunya, karena Alice begitu semangat menyusun rencana untuk pesta pertunangannya. Makan malam ini hanya membahas seputar pertunangan Alice dan Gerald.
Membosankan, bukan?