Stranger's In Love

Stranger's In Love
37|HANEUL PARK



Daniel duduk di bangku besi taman yang dingin itu, ia duduk sambil menatap langit untuk segera menanti temaram datang kemudian pergi jikala malam tiba tuk berganti. Taman Haneul di Kota Seoul ini adalah tempat kali pertama ia bertemu dengan Ainsley, wanita yang sangat ia cintai bahkan hingga detik ini perasaannya sedikit pun tak berubah


terhadap wanitanya itu. Daniel ingat betul, saat pertama kali bertemu dengan Ainsley, wanita itu sedang menangis duduk di bangku taman ini.


flashbackon


Seperti biasa, saat sore hari telah tiba, Daniel selalu pergi ke taman untuk sekadar berjalan santai untuk merilekskan otat-ototnya yang tegang setelah seharian bekerja. Sebagai seorang CEO muda di perusahaan ayahnya, Daniel tidak pernah bersantai layaknya anak dari pemilik perusahaan, ia selalu berusaha keras untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan.


Daniel mulai berlari mengelilingi taman, tiba-tiba seseorang mengalihkan perhatiannya. Daniel menghentikan


langkahnya saat mendengar suara tangisan seseorang. Ada seorang wanita yang duduk di bangku taman dengan jas putihnya, sepertinya wanita itu seorang dokter. Wanita itu menangis tanpa menghiraukan tempatnya berada saat ini. Daniel tidak tahan, ia merasa iba melihat wanita itu menjadi tontonan setiap mata orang yang melintas di depannya. Daniel merasa geram setiap kali melihat beberapa dari orang-orang itu malah mencibir bahkan menganggap wanita yang sedang menangis itu adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit.


"Gwaenchanseumnikka?" Tanya Daniel dalam bahasa formal korea yang artinya (apa kau baik-baik saja?).


Wanita itu menoleh, lalu menatap Daniel dengan mata sembabnya dan detik kemudian wanita itu tersenyum. “Nee, gwaenchana” ucapnya dalam bahasa korea artinya (iya, baik-baik saja).


“Kau bisa bahasa korea?” wanita itu bertanya pada Daniel.


Daniel tersenyum. “Sedikit”


Wanita itu menghapus jejak air mata di pipinya, matanya terasa perih dan panas akibat menangis.


“Apa aku bisa duduk di sini?” Tanya Daniel, sepertinya ia sedikit penasaran pada wanita ini.


Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban iya.


“Maaf, aku hanya bisa bertanya apa kau baik-baik saja, aku bukan pria seperti di film-film yang akan memberimu tisu atau saputangan untuk menghapus air matamu” ucap Daniel polos.


Wanita itu tersenyum, Daniel begitu manis dengan ucapannya. “Kamsahamnida, ahjussi” ucapnya. Ahjussi dalam bahasa korea artinya paman.


Daniel tertawa lalu mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Daniel, dan aku bukan Ahjussi” ucapnya.


Wanita itu tersenyum lalu menjabat tangan Daniel. “Aku Ainsley”


Deg! Perasaan macam apa ini? Daniel tidak pernah seperti sebelumnya, apa dia menyukai Ainsley? Ah tidak, tidak mungkin. Bahkan mereka baru saja saling mengenal.


“Apa kekasihmu membuatmu menangis di taman seperti ini?” Tanya Daniel yang sedari tadi penasaran.


Ainsley mengehela napas perlahan, lalu beralih menatap langit. “Tidak”


Daniel hanya menganggukan kepalanya, sepertinya Ainsley tidak ingin bercerita padanya.


“Aku seorang dokter bedah, Daniel” ucap Ainsley tiba-tiba.


Daniel membenahi posisi duduknya dan kini beralih menatap Ainsley, sepertinya wanita itu akan bercerita.


Ainsley mengalihkan pandangnnya menatap Daniel, ia terkejut karena Daniel sudah lebih dulu menatapnya.


“Aku kecewa pada diriku sendiri” ucap Ainsley lalu ia menunduk dan bulir air kembali menetes, ia menangis.


Daniel hanya diam, ia memberi waktu hingga Ainsley tenang dan kembali bercerita.


“Ini adalah operasiku yang entah sudah kesekian kalinya namun, ini adalah kali pertama dalam hidupku sebagai seorang dokter aku telah gagal menyelamatkan pasienku di ruang operasi. Aku seorang pembunuh, aku sudah berusaha semaksimal mungkin tapi aku tidak bisa menyelamatkannya, aku tidak pantas−” ucapannya terhenti karena Ainsley tidak kuat menahan sesak di dadanya akibat tangisnya yang pecah.


Tangan Daniel tergerak menyentuh kepala Ainsley lalu mendekapnya hangat. Jujur, Daniel sendiri tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba melakukan itu, yang ada di pikirannya saat ini adalah ia tidak ingin melihat wanita itu menangis.


Ainsley menangis dalam dekapan Daniel, wanita itu merasa nyaman berada dalam dekapan Daniel bahkan sedikit pun ia tidak merasa bahwa Daniel adalah orang asing.


“Kau sudah melakukan yang terbaik, tetapi Tuhan berkehendak lain” ucap Daniel mencoba menenangkan Ainsley.


“Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik, kau sudah melakukan tugasmu sebagai seorang dokter, Ainsley” ucap Daniel lagi.


Ainsley masih tak merespon, menangis dalam dekapan Daniel benar-benar membuatnya merasa jauh lebih baik.


Banyak pasang mata yang melihat mereka di taman itu, tetapi Daniel tidak peduli. Ainsley menangis dalam dekap Daniel hingga kaos yang ia gunakan basah oleh air mata wanita itu, tapi tetap saja Daniel tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah menenangkan wanita itu.


Ainsley menguraikan pelukannya. “Daniel, maafkan aku” Ainsley panik saat melihat kaos Daniel yang basah karenanya.


Daniel tersenyum melihat reaksi wanita itu. “Tidak apa, jangan khawatir”


“Tapi aku−”


“Tidak apa, Ainsley” potong Daniel.


Ainsley menunduk malu, ah bodoh apa yang ia lakukan? Kenapa dia menangis dalam pelukan pria asing dan membuat kaosnya basah? Sial, Ainsley baru menyadarinya!


“Aku akan mengantarmu pulang, Ainsley” ucap Daniel tiba-tiba.


Ainsley salah tingkah, ia tidak pernah dekat dengan pria manapun sebelumnya.


“Hm… Tidak usah, Daniel. Aku tidak ingin merepotkanmu” ucapnya.


Daniel beranjak lalu mengulurkan tangannya. “Kau tidak merepotkanku, ayo!” Daniel menarik tangan Ainsley.


“Baiklah” ucap Ainsley lalu mereka beranjak pergi.


Namun tiba-tiba Ainsley menghentikan langkahnya.


“Ada apa, Ainsley?” Tanya Daniel.


Ainsley tak merespon Daniel, ia mengalihkan pandangannya saat merasakan ada sesuatu yang kecil dan


dingin mengenai wajahnya. Ia menatap langit, banyak butiran kecil berwana putih yang berjatuhan, ya itu salju.


“Daniel, lihat!” ucap Ainsley sambil mengulurkan tangannya di udara.


Daniel mengalihkan pandangannya menatap langit, itu salju.


“Ini adalah kali pertamaku melihat salju pertama yang turun hari ini” ucap Ainsley sambil tersenyum, ia sangat senang bisa melihat salju pertama yang turun hari ini.


Fokus Daniel teralihkan, menatap wajah dengan senyum  yang mengembang pada wanita yang berdiri di hadapannya itu. Aneh, hanya dengan melihat Ainsley tersenyum itu sudah sangat membuat Daniel ikut tersenyum.


flashbackoff


Daniel tersenyum mengingat momen pertama kali saat bertemu dengan wanitanya itu. Di Taman Haneul ini,


tempatnya bertemu dengan cinta pertama yang hingga saat ini tidak bisa ia lupakan.


Daniel memejamkan matanya, berusaha untuk membayangkan kehadiran wanita yang sangat ia rindukan itu.


 “Maafkan aku, Ainsley. Aku masih mencintaimu dan sangat merindukanmu” ucap Daniel tulus dari hatinya.


Daniel benar-benar masih mencintai Ainsley, andai saja waktu dapat diputar kembali Daniel pasti tidak akan melakukan hal bodoh seperti di masa lalu itu. Dan sekarang pikiran Daniel kembali pada putrinya−Caroline, yang saat ini ia kenal sebagai Irene Banner. Gerald dan Alice sudah menceritakan semua yang terjadi kepada Irene. Putrinya itu harus mengalami hal sulit seperti ini karena Daniel yang tidak becus dalam menjaga anak-anaknya. Kenyataan pahit harus ia rasakan saat mengetahui putrinya tengah mengandung anak dari seorang Kim Tae Young dan sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Karma apa yang sedang menimpa keluarga Ricardo, semua ini kesalahan Daniel.


“Maafkan Dad, Caroline” ucap Daniel dengan penuh penyesalan, hatinya sakit, ia benar-benar terpukul.