
Sudah beberapa hari ini, Irene menghabiskan waktu di rumah. Ia tidak datang ke kantor untuk bekerja setelah kejadian dimana Zean bercumbu dengan wanita lain. Alice selalu bertanya, kenapa Irene tidak pergi ke kantor. Gadis itu mengatakan pada Alice bahwa Zean memberinya cuti panjang karena Zean tidak ada perjalanan bisnis untuk sebulan ini.
Malam di hari ini adalah acara pertunangan Zean dan Rebecca. Irene mendapat undangannya, bahkan Alice juga sempat mengajaknya untuk datang bersama, namun Irene menolak dengan alasan tidak enak badan dan akhirnya Alice pergi bersama Gerald. Tidak lupa, Hans pun menawarinya untuk datang bersama tapi Irene juga sama menolaknya, ia mengatakan alasan yang sama.
Irene duduk di balkon, menatap nanar langit gelap dengan taburan bintang yang menghias langit indah. Sepertinya alam pun mendukung acara pertunangan itu, malam ini berbeda, malam ini begitu indah. Irene tersenyum mengingat saat Zean yang dengan seenaknya menciumnya dulu. Irene merindukan Zean, rindu dengan ucapannya, rindu pada setiap sentuhannya bahkan ia rindu dengan aroma wangi tubuh Zean yang selalu membuatnya nyaman. Irene memejamkan mata dan memeluk dirinya sendiri, bisa ia rasakan hembusan angin yang ikut memeluk dirinya.
"Damn! I miss u so bad, Arzean Lorwerth" ucapnya lalu kembali membuka matanya.
Irene muak, benar-benar muak dengan rasa yang sedang menyiksanya saat ini. Rindu terlalu lancang, datang dan leluasa masuk menguasai dirinya. Saat ini, hanya satu yang ia inginkan, memutar kembali waktu sebelum ia mengenal Zean. Karena sebelum Zean masuk ke dalam hidupnya, Irene tidak pernah merasakan sakit yang sesakit ini. Tidak ada cinta yang menyiksanya, seperti cinta yang dikenalkan Zean.
Irene beralih menatap layar ponselnya, ia menatap angka yang menunjukkan pukul 10.00 pm. Kemudian jarinya mengklik menu kontak, mencari nama seseorang, lalu mengklik panggilan.
"Halo, Hans" ucap Irene.
"Ada apa, Irene? Apa kau baik-baik saja?" tanya Hans khawatir di seberang telepon.
"Aku ingin pergi ke club, tapi aku tidak ingin pergi sendiri malam ini" ucap Irene.
"Pergilah. Setelah acara ini selesai, aku akan menyusulmu" ucap Hans lalu memutus panggilannya.
Irene menghela napas lalu melebarkan senyum, mencoba menenangkan dirinya lalu bersiap untuk pergi ke club. Irene sempat berpikir tadi, ia tidak boleh terus seperti ini. Hidup masih panjang, jika ia berhenti pada Zean maka dunianya akan runtuh.
πππ
Zean bediri dengan setelan jas formalnya di hadapan seorang wanita dengan gaun yang membalut indah tubuhnya, ya, wanita itu Rebecca. Mereka saling berpegang tangan, bertukar cincin. Beberapa kali Zean menepis paksa pikirannya yang terus memutar bayang-bayang Irene, ia membayangkan jika gadis yang ia cintailah yang sedang berdiri di hadapannya, menggunakan gaun yang senada dengan jas formalnya dan bertukar cincin mengikat hubungan sebelum mengikrarkan janji cinta di pernikahan suatu hari nanti.
Rebecca tersenyum ketika Zean selesai menyematkan cincin di jari manisnya. Tepuk riuh tamu undangan seolah menggema di ruangan yang di dekorasi serba elegant itu setelah mereka selesai bertukar cincin. Rihanna merasa sangat bahagia di hari ini, akhirnya putra semata wayangnya bertunangan dengan Rebecca Hillton putri dari pasangan Monica Hillton dan Patrick Hillton. Rihanna bisa bernapas lega, karena sebentar lagi ia hanya perlu memikirkan acara pernikahan putranya. Rihanna berharap Zean bisa bahagia dengan Rebecca, karena ia yakin putri dari sahabatnya itu adalah wanita yang baik. Sedangkan Grissham, ayah Zean, tidak terlalu ambil pusing soal Zean. Grissham memberi kebebasan pada Zean untuk menentukan pilihan hatinya, asalkan Zean tetap menjadi penerus bisnisnya.
Rihanna dan Monica bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Zean dan Rebecca memang sudah dikenalkan dari dulu. Bahkan mereka sering diminta untuk keluar bersama, tapi Zean sering menolak dengan alasan sibuk mengurus pekerjaannya. Rihanna adalah supermom yang bisa dibilang perfeksionis, ia sangat menyayangi Zean dan selalu mengarahkan Zean untuk menurutinya. Dan ya, Zean selalu menuruti keinginan Rihanna terlebih karena keadaan ibunya yang lumpuh karena kecelakaan yang mereka alami, Zean selalu merasa bersalah.
"Selamat ya, kalian adalah pasangan yang sangat sangat sangat sangat serasi" ucap Monica memberi selamat pada mereka.
Zean beranjak pergi menjauh dari riuh ruangan itu, lalu menjawab panggilan dari Hans.
"Ada ap-"
"Kau harus cepat ke club! Aku tidak bisa mengatasinya sendiri, dia benar-benar gila karena mu" potong Hans di seberang telepon lalu memutus sambungan telepon itu.
Deg! Zean khawatir, tanpa ragu ia pergi meninggalkan acara yang memang sudah selesai pada acara inti yaitu bertukar cincin.
Zean memarkirkan mobilnya sembarang, dengan segera ia memasuki club itu. Dentuman musik dan aroma minuman menyambut kedatangannya. Pandangan Zean sibuk menyapu seisi club, mencoba mencari keberadaan Hans. Ia memicingkan matanya pada pemandangan di atas dance floor ada seorang gadis yang tak asing baginya. Gadis itu dengan lincah menari mengikuti alunan musik tanpa menghiraukan puluhan pasang mata yang leluasa menatap intens setiap lekuk tubuh indah gadis itu.
Rahang Zean mengeras, saat itu juga ia ingin mengahantan puluhan pasang mata yang sedang menatap gadis itu. Zean cemburu, marah, kesal atau lebih tepatnya ia tidak rela, gadis itu menjadi tontonan banyak orang. Ya, gadis itu, Irene Banner. Zean berjalan menerobos kerumunan orang yang menghalangi jalannya. Bisa ia lihat di sana juga ada Hans yang susah payah berusaha menurunkan Irene dari atas dance floor, tapi Irene mengelak, ia tidak sadar, ia mabuk.
"Irene, ayo turun! Kau terlihat seperti gadis bodoh di atas sana!" ucap Hans untuk yang kesekian kalinya. Tapi Irene tidak peduli, pengaruh alkohol lebih kuat dari kepeduliannya akan harga dirinya yang sedang menjadi tontonan saat itu.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Zean dengan suara cukup keras seperti berteriak karena suara musik yang kencang, kini ia berada di belakang Hans.
Hans menoleh, begitu juga Irene yang akhirnya menghentikan aksinya setelah mendengar suara pria yang begitu ia rindukan. Irene tersenyum menatap Zean dengan tubuh gontai, kepalanya pusing akibat pengaruh alkohol.
"Zean" panggil Irene manja sambil mengulurkan kedua tangannya seolah ingin memeluk Zean, ia benar-benar mabuk.
Zean meraih memeluk Irene, lalu menggendongnya alay bridalstyle. Irene langsung mengalungkan tangannya di leher Zean, berpegangan karena ia benar-benar mabuk.
"Sepertinya dia hanya menginginkanmu. Aku sedari tadi menjerit hingga pita suaraku hampir putus, tapi Irene tidak peduli" keluh Hans.
"Aku akan menjaganya" ucap Zean beranjak pergi.
"Bawa Irene kemana saja, asal jangan bawa dia pulang. Karena Alice bisa murka jika melihat Irene seperti ini" pesan Hans kepada Zean, pria itu mengangguk lalu pergi meninggalkan club itu.