
Zean terus mencoba menghubungi Irene, namun gadis itu tak pernah menjawab. Zean selalu berusaja untuk bisa kembali ke Korea, namun semua sia-sia. Zean diberi pengawasan ketat kali ini. Apa Zean sudah kalah? Apa Zean sudah menyerah untuk memerjuangkan cintanya pada Irene? Bagaimana jika Irene telah benar-benar membencinya?
Saat ini Zean benar-benar merindukan Irene. Ia rindu pada setiap ocehan panjang gadis itu, rindu pada setiap sentuhan hangat dari tangannya dan rindu pada setiap kecupan saat mereka bercumbu. Kali ini Zean tidak akan membiarkan rindu datang leluasa masuk dan menyiksa dirinya. Zean harus menemui gadisnya itu, ia bahkan ingin sekali mencium perut datar Irene yang sedang mengandung buah hatinya.
"Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya akan membuatmu semakin sulit melupakan wanita itu" ucap Rebecca yang masuk tanpa ijin ke ruangan Zean.
Zean menatap tajam sekilas Rebecca lalu kembali menatap MacBooknya. Wanita itu berjalan mendekati Zean.
"Pernikahan kita semakin dekat, sayang. Jangan pergi ke kantor, ada banyak hal yang perlu kita siapkan" Rebecca merangkul Zean yang duduk di kursi kerjanya.
Zean mengelak, mencoba menjauhkan wanita itu dari dirinya. Zean benar-benar muak dengan semua permainan Rebecca, entah apa yang sedang dia rencanakan.
"Menjauh dariku, jalang!" ucap Zean.
Rebecca cemberut. "Aku calon istrimu! Bahkan aku sedang mengandung anakmu, kau tega menyebutku wanita jalang"
Zean menghela napas lalu mengalihkan pandangannya.
"Aku tingan ingin menikah denganmu, Rebecca Hillton" ucap Zean dengan penekanan di setiap katanya.
Rebecca menyentuh wajah tampan Zean lalu dengan cepat ia mengecup bibir Zean. Jelas terlihat Zean tidak menyukai kecupan itu.
"Kenapa?" tanya Rebecca yang menyadari Zean tidak menyukai saat ia menciumnya.
"Aku tidak mencintaimu, Rebecca" ucap Zean entah yang keberapa ratus kalinya setiap ia berbicara pada Rebecca.
Rebecca tersenyum kecut.
"Tidak bisakah kau belajar untuk mencintaiku?" tanya Rebecca.
Zean hanya diam, ia bosan dengan pertanyaan Rebecca itu.
"Andai kau tahu, Zean. Betapa sakitnya aku yang mencintaimu dan selalu kau abaikan. Tidak bisakah kau melihatku, sebentar saja" lanjut Rebecca, ia menangis, air mata sudah membanjiri kedua pipinya.
"Aku tidak bisa. Cinta tidak bisa dipaksakan, Rebecca. Kau tidak akan pernah tahu rasanya cinta jika kau terus memilih untuk mencintaiku yang jelas-jelas tidak mencintaimu" Zean mencoba menyadarkan Rebecca.
"Apa aku harus menyingkirkan wanitamu agar kau bisa belajar mencintaiku?" tanya Rebecca dengan senyum jahatnya.
PLAK!!! satu tamparan mendarat tepat di pipi Rebecca. Zean sudah tidak tahan, ia selalu berusaha sabar agar tidak menggunakan kekerasan terhadap wanita tapi Rebecca benar-benar iblis.
Rebecca menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan Zean.
"Jaga ucapanmu, jalang!" bentak Zean.
Rebecca mengepalkan tangan kuat-kuat. Zean selalu bicara dan bersikap seenaknya tanpa memikirkan perasaan Rebecca.
"Kau yang seharusnya menjaga ucapanmu dan jaga sikapmu, Zean" Rebecca memperingati.
Zean menaikkan sebelah alisnya menatap Rebecca.
"Untuk apa aku menjaga ucapan dan sikapku pada wanita iblis sepertimu?" tanya Zean.
"Baiklah. Kau benar bahwa aku adalah wanita jalang, maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada wanitamu dan bayi yang sedang di kandungnya itu" ancam Rebecca.
Bagaimana Rebecca tahu bahwa Irene sedang hamil? Rahang Zean mengeras rasanya ia benar-benar ingin mencabik wajah cantik Rebecca.
Zean mencekal kasar kedua pipi Rebecca hingga dia meringis kesakitan "Jangan berani kau sentuh mereka!"
Rebecca mencoba melepaskan tangan Zean yang mencekal kasar pipinya.
"Kau menyakitiku, Zean!" ucap Rebecca sambil menyentuh kedua pipinya yang terasa perih akibat ulah Zean.
"Bahkan aku akan lebih menyakitimu jika kau sampai berani menyentuh mereka!" ancam Zean beranjak pergi meninggalkan Rebecca di ruangan itu.
Rebecca menatap punggu Zean yang perlahan menghilang lalu tersenyum miring.
"Lihat saja nanti, akan ada kejutan untukmu" ucap Rebecca entah pada siapa.