Stranger's In Love

Stranger's In Love
8|AM I WORRIED ABOUT YOU?



Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)


.


.


.


Setelah makan malam itu, Irene menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang king sizenya sambil melirik jam dinding, pukul 09.45 pm.


"Bagaimana menurutmu?"


Irene tersentak kaget mendengar suara Alice.


"Apanya bagaimana?" tanya Irene balik.


Alice mengehela napas kasar. "Dasar bodoh!" umpat Alice kesal.


"Apa pendapatmu tentang Gerald? Apa dia baik? Sopan? Tampan? Keren? Atau apa?" tanyanya.


Irene diam sejenak, ia nampak berpikir sambil menatap Alice dengan tatapan serius.


"Menurutku, Gerald adalah tipe pria yang tidak bisa dengan mudah melupakan masa lalunya. Aku yakin orang yang dia katakan mirip denganku pasti mantan kekasihnya" ucap Irene dengan serius.


Raut wajah Alice berubah pucat sendu.


"Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Alice lirih.


"Tentu, tentu aku serius" jeda Irene sambil menatap Alice yang diam dengan tatapan kosongnya.


"Aku serius menggodamu, Alice" Irene terkekeh.


Alice melempar tatapan tajam lalu memukul Irene dengan bantal. "Sialan, kau!" ucapnya kesal.


"Hentikan, Alice" ringis Irene.


Alice menghentikan aksinya lalu duduk di samping Irene.


"Jadi, bagaimana pendapatmu soal Geraldine Ricardo?" Alice bertanya lagi.


"Bagiku Gerald adalah pria tampan yang baik hati, sopan, ramah dan mempesona" puji Irene.


Alice tersenyum mendengar itu lalu memeluk Irene sambil menyenderkan kepalanya di bahu Irene.


"Alice" panggil Irene.


"Hm" sahut Alice.


"Apa kau memberitahu Gerald soal aku bukanlah adik kandungmu?" tanya Irene.


"Belum--"


"Ku mohon jangan beritahu dia dulu, Alice. Aku ingin kita memberitahunya bersama" sela Irene.


Alice tersenyum hangat.


"Tentu saja, Irene. Kita akan memberitahunya bersama, tunggu waktunya saja" ucap Alice sambil memeluk adiknya itu lalu pandangannya beralih menatap ponsel Irene yang berdering, disitu tertera sebuah panggilan dari 'stranger'


Alice menguraikan pelukannya lalu dengan cepat Irene menerima panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Irene.


"Cepat keluar, aku di luar menunggumu" ucap Zean diseberang telepon.


"Hm" ucap Irene lalu sambungan itu terputus.


Irene berjalan menuju balkon diikuti Alice dibelakangnya, Irene dan Alice menatap ke bawah bersamaan. Benar saja di luar sudah ada mobil Zean yang terparkir menunggu kedatangan Irene.


"Siapa itu stranger?" tanya Alice pada Irene yang kini sibuk memilih pakaian karena Irene tidak mungkin mengenakan dress ini, Zean pasti akan berpikir ini terlalu berlebihan.


"Mr.Lorwerth" jawab Irene.


"Kau akan pergi dengannya?" tanya Alice lagi.


"Hm"


"Kalau begitu cepat keluar, Irene. Kenakan saja dress ini, kau terlihat cantik dan mempesona dengan balutan dress ini" titah Alice sambil menarik adiknya itu mendekati cermin besar di kamar itu.


"You're look like a princess, Irene" seru Alice.


Benar saja, Irene memang terlihat seperti seorang putri dengan menggunakan dress selutut berwarna maroon ditemani heels senada. So perfect!


"Tapi-"


"Tidak ada tapi tapian, cepat keluar" potong Alice lalu Irene berlalu pergi.


Di luar. Zean menunggu sambil bersandar di mobilnya, ia menunduk menatap sepatu sambil menghisap batang rokoknya.


"Maaf menunggu, Mr.Lorwerth" ucap Irene pada Zean yang masih asyik menyembulkan asap rokoknya.


Zean menjatuhkan rokoknya lalu menginjak apinya hingga padam. Kini ia beralih menatap Irene, terpaku.


Zean sungguh tak bisa mengalihkan pandangannya kemanapun selain pada Irene. Zean seolah terhipnotis oleh pesona Irene malam ini, sungguh wanita di hadapannya ini benar-benar membuatnya gila.


Zean menarik pinggang kecil Irene, lalu berbisik tepat dikuping Irene. "You're look so beautiful to night" lalu Zean mencium pipi Irene.


Blushh! Irene memanas, pipinya tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus.


Irene memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan pipi merahnya. Jantung Irene berdebar kencang dan kakinya lemas. Oh tuhan! Sekecil apapun hal yang dilakukan Zean mampu membuatnya meleleh.


"Jangan menggodaku, Mr.Lorwerth" ucap Irene tegas.


Zean menarik dagu Irene lembut agar ia bisa menatap mata indah milik wanita di hadapannya itu. Kini Irene juga menatap Zean, dua pasang mata itu saling menatap dalam diam.


"Jangan menatapku seperti ini. Kau membuatku gemetar, Irene" ucap Zean.


Irene mengerutkan alisnya.


"Gemetar seperti ap-"


"Seperti ini" potong Zean lalu mencium gadis di hadapannya itu.


Zean melingkarkan tangannya di pinggang kecil Irene. Zean tak pernah bosan dengan bibir Irene, bibir wanita itu begitu memabukkan baginya.


Zean melepas ciumannya dan memberi Irene kesempatan bernapas lalu ia mengelus pipis wanita di hadapannya itu.


"What?" ucap Irene dengan wajah 'are u kidding me?'


Astaga! Pria ini benar-benar--menyebalkan! Baru saja dia membuat Irene merasa begitu spesial dan sekarang dia malah kembali membuat wanita ini kesal.


Dengan segera Zean masuk ke mobil dan duduk di samping kursi pengemudi. Lalu ia membuka kaca mobil sambil menatap Irene yang masih mematung seperti orang bodoh.


"Cepat masuk, supir cantikku" titah Zean dengan senyum jahilnya.


"Kau benar-benar brengsek!" keluh Irene kesal.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sudah dua puluh menit Irene masih fokus menyetir dengan tujuan yang entah kemana. Sedari tadi ia bertanya pada Zean tapi tak ada jawaban, pria itu malah sibuk dengan macbook di pangkuannya.


Finish!" seru Zean sambil menutup macbooknya.


Oh akhirnya, dia berhenti menatap layar macbook sialan itu.


"Kemana tujuan kita, Mr.Lorwerth?" tanya Irene untuk yang kesekian kalinya.


"Airport" jawab Zean akhirnya.


Irene mendelik menatap Zean sekilas lalu kembali menatap jalan.


"Apa katamu? Airport?" tanya Irene memastikan.


"Ya, kita ada urusan bisnis di Melbourne. Besok siang adalah rapat pertemuan presedir" jelas Zean santai.


Baru saja Irene hendak bicara, Zean sudah mendahuluinya.


"Jangan mengoceh kali ini, dan fokuslah menyetir" titah Zean.


Irene langsung cemberut dan tak berkomentar apapun. Sejujurnya gadis itu ingin mengajukan protes kepada Zean karena urusan bisnis yang mendadak ini, Irene tidak memersiapkan apapun untuk dibawa bahkan ia juga tidak berpamitan pada Alice. Oh sungguh, menyebalkan!


"Irene" panggil Zean.


"Hm" Irene menoleh sekilas lalu kembali menatap jalanan.


"Tambah kecepatan dan kelabui dua mobil di belakang" ucap Zean tiba-tiba, ia menatap spion mobil.


Irene menyadari dua mobil itu dari tadi, tapi ia tak merasakan hal aneh sedikitpun.


"Ada apa dengan dua mobil itu? Apa mereka penguntit? Psychopath? Pembunuh bayaran? Atau ....." Irene menggantung ucapannya.


" Kau berlebihan, Mr.Lorwerth. Apa kau terlalu sering menonton film jadi seperti ini, ketakutanmu berlebih. Bisa sajakan, dua mobil itu akan pergi ke airport atau hotel atau club yang kebetulan sejalur dengan kita dan--"


"Mereka mengincarku, Irene" potong Zean terdengar serius.


Apa? Irene mencerna kalimat Zean tadi, apa katanya? 'Mereka mengincarku'


Irene menelan ludah susah payah, kini rasa takut mulai ia rasakan. Oh tuhan! Irene masih terlalu muda untuk mati konyol dengan pria asing ini. Tanpa ragu Irene langsung menambah kecepatan hingga diatas rata-rata, ia harus bisa mengelabui dua mobil itu.


"Kau benar-benar pengemudi handal yang cantik dan sexy" goda Zean.


Astaga pria ini! Dalam keadaan seperti ini masih saja bisa menggoda Irene.


"Berhenti menggodaku!!"


Irene berusaha fokus untuk tetap menatap jalan tanpa menghiraukan godaan Zean. Irene semakin yakin jika pria asing ini benar-benar gila, bagaimana tidak? Dalam keadaan hidup dan matipun pria itu masih bisa menggoda Irene.


Seketika Irene menginjak rem mobil, membuat tubuh Zean terhentak ke depqn. Untungnya ia menggunakan sabuk pengaman, Irene mengerem mendadak. Ada dua pria yang berdiri di depan sebuah mobil yang terparkir menghalangi jalanan.


"Apa kau ingin kita mati bersama dengan mengerem mendadak seperti ini" omel Zean sambil menetralkan detak jantungnya yang kaget akibat Irene yang seketika menginjak rem mobil.


Irene tidak menghitaukan omelan Zean.


"Apa yang harus kita lakukan, Mr.Lorwerth?" tanya Irene.


Kini Zean menatap Irene dengan wajah datarnya, Zean terlihat begitu santai bahkan tidak ada raut takut sedikitpun di wajah tampannya.


"Apa kau pandai berkelahi, Ms.Banner?" Zean bertanya balik.


Irene mendengus kesal, sambil memijit kepalanya yang tak pusing.


"Ku mohon! Hentikan candaanmu, Mr.Lorwerth" ucap Irene, ia benar-benar takut sekarang. Sedangkan Zean hanya terkekeh melihat raut wajah takut wanita ini, lucu sekali.


"Ayo!" ucap Zean.


Irene melotot melihat Zean yang sudah melepas sabuk pengamannya dan segera mengikuti Zean keluar dari mobil. Irene menatap Zean, tak ada rasa takut di matanya. Zean menggenggam erat tangan Irene seolah berkata 'jangan khawatir, semua akan baik-baik saja'


Irene memperhatikan gerak-gerik dua pria di hadapan mereka. Tanpa ragu kedua pria itu mengarahkan pistolnya ke arah Zean, dan...


'DOORRR!' suara tembakan begitu jelas terdengar di kuping Irene, mengalun seperti alunan musik yang sama pada kejadian tujuh tahun yang lalu ketika gadis itu tertembak di jalanan kota Boston yang gelap dan sepi.


"Mr.Lorwerth!!" seru Irene spontan memeluk Zean erat, dan detik kemudian Irene menangis dalam pelukan itu.


Saat itu juga perasaan takut akan kehilangan kembali timbul di hatinya. Sakit dan pedih mulai menyelimuti, air mata yang menetes membasahi pipi Irene terasa panas. Tuhan, tolong selamatkan Zean.


Tangan Zean bergerak mengelus kepala Irene yang tergelam di dada bidang Zean. Irene semakin mengeratkan pelukannya, tubuhnya bergetar akibat tanggisnya yang pecah setelah mendengar suara tembakan itu.


"Jadi, apa kau mengkhawatirkanku, Ms.Banner?" tanya Zean terdengar seperti ia baik-baik saja.


Irene menguraikan pelukannya lalu menatap Zean. Apa? Bagaimana bisa? Lihatlah, Zean baik baik saja. Pandangan Irene beralih menatap dua pria tadi. Dan lihatlah, kedua pria itu tergeletak bersimbah darah.


Irene nampak bingung namun ada rasa senang yang tak terbendung ketika melihat Zean baik-baik saja. Rasanya ia ingin mengutuk untuk setiap air mata yang membasahi wajah sembabnya saat ini.


"Aa...paa yang terjadi?" tanya Irene bingung.


"Aku ini orang penting, Irene. Tidak semudah itu untuk bisa membunuh seorang Arzean Lorwerth" jawab Zean.


Irene semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud dari ucapan Zean? Siap Zean sebenarnya? Kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?


"Aku akan menjelaskan semuanya nanti" ucap Zean seolah mengerti raut wajah bingung gadis itu.


Irene menatap kesal Zean, sial, pasti Irene terlihat seperti orang bodoh yang menangis karena khawatir dengan Zean. Irene sangat yakin saat ini Zean tengah teryawa di dalam hatinya melihat Irene yang menangis seperti bocah yang menginginkan lolipop. Irene hendak menghapus air matanya tapi dengan segera Zean mencekal tangan Irene.


"Lepaskan, brengsek!!" seru Irene.


Zean masih tetap mencekal tangan Irene sambil menatap mata sembab gadis di hadapannya itu. Dan detik kemudian,


'cup!' satu kecupan singkat mendarat di bibir Irene.


"Aku senang melihatmu menangis seperti sekarang, itu artinya kau mengkhawatirkanku. Terimakasih, Irene" ucap Zean.