Stranger's In Love

Stranger's In Love
67|URGENT MATTER



Setiap orang memiliki kisah pilu dan rasa bersalahnya masing-masing, begitu pun Irene saat ini. Irene yang selalu merasa bersalah karena tidak bisa memberi Zean keturunan, Irene yang selalu merasa sedih mengingat apa yang pernah ia lalui di masa lalu, sedih dengan semua perjuangannya dan juga perjuangan Zean dalam mempertahankan cinta mereka.


Irene mengingat kisah yang diceritakan Cassandra tadi. Wanita itu pasti merasa sesak disetiap helaan napasnya saat mengingat Bram, laki-laki yang ia cintai itu. Memperjuangkan cinta iru memang sulit, tapi kehilangan cinta itu sangat menyakitkan.


“Apa yang kau pikirkan, Irene?” tanya Zean memeluk Irene yang berdiri di balkon menatap langit dengan taburan bintang yang membuat malam ini terlihat indah.


“Cassandra,” jawab Irene jujur.


Zean menguraikan pelukannya lalu menatap Irene.


“Dia wanita yang kuat. Kita percayakan saja padanya, suatu saat dia pasti akan menemukan bahagianya,” ucap Zean mengelus pucuk kepala Irene, ia tahu wanitanya itu sedang mengkhawatirkan Cassandra saat ini.


Irene menghela napas sejenak. “Lalu bagaimana dengan kita, Zean?”


“Kapan kita akan menemukan bahagia kita?” Irene menyerang Zean dengan pertanyaannya. Zean hanya diam, sepertinya dia paham ke mana akan larinya arah pembicaraan ini.


“Oh ya, kata supir tadi kau pergi ke Alkohol.cz. Apa kau tidak membeli sesuatu untukku?” Zean mengalihkan pembicaraan.


Irene mendelik kesal, ia hendak pergi saja dari haadapan Zean. Namun, dengan segera Zean menahan lengan Irene.


“Kumohon, jangan seperti ini, Irene,” pinta Zean dengan suara lembutnya.


Irene menatap Zean dengan tatapan nanar, sebentar lagi bulir bening siap menetes dari mata indah miliknya. Namun, Irene mencoba tegar, menahan air matanya.


“Cepat atau lambat, mau tidak mau, kita harus segera membahas hal ini, Zean,” ucap Irene parau.


Setiap hari Irene terbangun dari tidurnya bersama Zean, ia merasa bahagia, tetapi di saat bersamaan pun ia merasa takut dan juga khawatir. Bagaimana dengan masa depan Zean? Bagaimana pun juga Zean harus memiliki seorang ahli waris nantinya.


Zean wajah cantik Irene dengan kedua tangannya. “Ayo, kita coba pergi ke yayasan.”


Raut wajah Irene berubah drastis, matanya langsung berbinar dan seulas senyum terukir indah.


“Benarkah?” tanya Irene meyakinkan kembali ucapan Zean.


“Tentu.”


Irene mengecup singkat bibir pria itu. “Terima kasih, Zean.”


Kemudian mereka menghabiskan malam yang panjang sambil berbincang tentang rencana mereka yang hendak mengadopsi anak di temani sebotol Rummy yang Irene beli di Toko Alkohol.cz tadi.


...***...


Zean masih meringkuk di bawah selimut tebalnya, ia menutup kedua telinganya dengan bantal. Suara bising ponselnya yang berdering menganggu tidur nyenyaknya. Dengan kesal Zean terbangun dari tidurnya, ia beranjak malas menuju meja di dekat jendela untuk menjawab teleponnya. Sejenak Zean menatap sekeliling, tidak ada Irene di kamar. Kemudian Zean melirik jam di dinding, saat ini pukul lima pagi.


Fokus Zean kembali pada ponselnya, tertera satu panggilan masuk dari Grissham Lorwerth, Ayahnya.


“Halo, Ayah,” ucap Zean saat panggilan itu terhubung.


“Percepat urursan bisnis di Praha. Kau harus segera kembali karena ada hal mendesak di sini,” ucap Grissham to the point.


Zean menghela napas sejenak. “Tidak bisa, Ayah. Program bisnis di sini sudah ditentukan selama dua minggu.”


“Kalau begitu tolong kembalilah sebentar, ada hal penting yang sangat mendesak. Ayah harap pengertian darimu, nak,” pinta Grissham pada putranya itu.


“Baiklah, Ayah,” sahut Zean terpaksa karena hal mendesak yang dimaksudkan Ayahnya sepertinya benar-benar hal yang tidak dapat ditunda.


Zean berpikir, kira-kira hal mendesak seperti apa yang sampai mengharuskannya kembali secepatnya untuk membahas hal tersebut, sedangkan program kerja di sini juga tak kalah pentingnya demi kesehatan keuangan dan saham Lorwerth Corporation.


“Kau sudah bangun?” tanya Irene yang datang tiba-tiba dan langsung memeluk Zean.


Zean masih belum bereaksi, pikirannya masih jauh memikirkan percakapan dengan Ayahnya tadi.


“Zean,”


“Zean,” panggil Irene lagi.


“Ah, iya,” sahut Zean akhirnya, ia kembali ke dunianya.


Irene memicingkan mata menatap Zean curiga. “Apa yang sedang kau pikirkan?”


Zean menggeleng. “Tidak ada.”


Zean menarik Irene ke dalam pelukannya lalu mengelus kepala wanita itu.


“Iya, benar sayang.”


“Kenapa kau bangun pagi sekali?” tanya Zean menguraikan pelukannya.


“Aku dan Cassandra berolahraga,” jawab Irene.


Zean hanya mengangguk lalu beranjak hendak ke kamar mandi. “Aku akan mandi dan berangkat lebih pagi hari. Tolong minta pelayan siapkan bacon egg, aku ingin sarapan itu.”


Irene tersenyum seraya sedikit membungkuk seolah memberi hormat. “Baik Yang Mulia Arzean Lorwerth, hamba yang akan membuatkannya untukmu,” goda Irene.


Zean terkekeh geli dengan tingkah wanitanya itu.


“Cepat pergi sana,” usir Zean.


Irene tertawa seraya beranjak pergi dan Zean pun bergegas mandi.


Beberapa menit kemudian Zean beres mandi, ia segera turun ke ruang makan dengan setelan jas yang rapi. Namun, belum menggunakan dasinya. Di ruang makan sudah ada tiga porsi bacon egg lengkap dengan susu segar. Irene dan Cassandra sudah duduk lebih dulu menanti kedatangan Zean.


Irene beranjak dari duduknya saat menyadari kehadiran Zean yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Namun, tidak dengan dasi yang masih ada di genggamannya.


“Biar aku pasangkan untukmu,” Irene mengambil alih dasi Zean lalu memamsangkannya pada kerah kemeja pria itu.


“Seharusnya aku menyewa apartemen dan tinggal sendiri saja, muak sekali rasanya melihat kemesraan kalian setiap hari,” sindir Cassandra.


Irene dan Zean tertawa menanggapi itu. Irene sudah selesai memasangkan dasi dan mereka pun langsung duduk untuk bergabung sarapan bersama.


“Cassandra,” panggil Zean.


Cassandra menatapnya sebagai tanggapan.


“Kau tidak boleh pergi ke mana pun, karena aku akan memintamu menemani Irene,” ungkap Zean tiba-tiba.


Irene spontan menatap Zean. “Apa maksudmu, Zean?”


Zean meraih kedua tangan Irene.


“Aku harus kembali sebentar ke Boston karena ada hal mendesak yang in gin ayah sampaikan padaku. Aku tidak ingin kau lelah diperjalan Irene, jadi aku memutuskan kembali sendiri saja. Lagi pula di sini ada Cassandra yang akan menemanimu,” tutur Zean.


Irene cemberut. “Kau benar-benar orang yang super sibuk.”


“Berapa kau akan menggajiku untuk menjaga istrimu?” tanya Cassandra bergurau.


Zean mendelik menatap Cassandra. “Ternyata kau cukup licik ya, Cassandra.”


“Hei, aku bergurau! Kenapa kau serius sekali?” tawa Cassandra melempar kentang gorengnya pada Zean.


Irene hanya menggeleng melihat tingkah dua orang di depannya ini, hanya dengan teman-temannya Zean bersikap seperti anak kecil. Saat dengan Irene, Zean mendadak jadi pria romantis dan super manja. Saat di depan rekan bisnisnya, dia terlihat sebagai pria tampan yang dingin dan genius.


“Selesai,” seru Zean setelah selesai menghabiskan sarapannya.


“Kau akan berangkat sekarang?” tanya Irene pada Zean yang sudah beranjak dari duduknya.


Hari ini dan untuk beberapa hari ke depan Zean meminta Irene untuk membuat laporan di rumah saja. Zean tidak ingin Irene mengikutinya ke sana ke mari karena Zean selalu saja merasa kesal dan ingin menghantam setiap mata pri lain yang memandang tubuh indah istrinya, menyebalkan sekali rasa cemburunya itu.


“Kerjakan laporanmu tepat waktu setelah itu langsung kirimkan ke surelku,” pesan Zean pada Irene seraya mengelus pucuk kepala wanita itu.


“Stop! Hentikan dulu!” seru Cassandra beranjak dari duduknya, ia hendak segera kabur dari sana sebelum menonton pertunjukkan drama romantis antara Irene dan Zean.


Irene dan Zean tertawa geli melihat tingkah lucu Cassandra yang kini sudah berlari naik ke lantai dua.


"Sudah sana pergi," usir Irene.


Zean mengecup singkat bibir Irene.


"Sampai nanti," ucap Zean berlalu pergi.