Stranger's In Love

Stranger's In Love
51|INCHEON



Irene bisa merasakan sekujur tubuhnya lemas, ia tertunduk duduk di kursi. Irene mengerjap-ngerjapkan mata saat kesadaran mulai menghampirinya. Irene masih merasakan perih di sudut bibirnya akibat tamparan supir tadi.


Irene membuka lebar kedua matanya, namun gelap. Ini bukan karena mati lampu, tetapi karena kain hitam yang menutupi kepalanya. Irene hendak menyingkirkan kain hitam itu dari kepalanya, namun tangan Irene tidak bisa bergerak, tangannya diikat kebelakang mengunci senderan dari kursinya. Ia juga tidak bisa menggerakan kedua kakinya, rasanya seperti ada tali yang mengikat kedua kakinya.


“Apa aku benar-benar diculik?” batin Irene bertanya.


Apa yang harus Irene lakukan? Saat ini Irene merasa benar-benar sangat lemas, sudut bibirnya masih terasa perih begitu juga sekarang dengan kaki dan tangannya yang mulai terasa pegal karena diikat seperti ini.


“Siapa pun tolong lepaskan aku!” seru Irene dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini.


Irene masih bisa bicara, mulutnya tidak dibekap seperti adegan penculikan dalam film-film yang sering ia tonton.


“Kau sudah sadar?” tanya seseorang.


Irene tidak menjawab, ia berusaha menajamkan pendengarannya, suara itu, suara orang itu, tidak asing baginya.


“Kenapa kau tidak menjawabku?” tanya orang itu lagi.


Irene masih diam, ia terus menerka siapa orang itu dari suaranya.


Orang itu menghela napas, putus asa karena Irene tidak menjawabnya. Lalu orang itu menunjuk salah satu dari tiga orang pria lainnya yang berada di ruangan itu.


“Hey! Cepat lepaskan ikatannya!” perintah orang itu.


“Baik, bos” sahut salah satu pria yang berjalan mendekati Irene lalu melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Irene.


“Apa kau baik-baik saja, Irene?” tanya orang itu tepat ketika Irene dibebaskan. Jelas terlihat memar yang membekas pada tangan dan kaki Irene akibat ikatan dari tali tadi.


Orang itu mendekati Irene lalu mensejajarkan kepalanya tepat di kuping Irene.


“Sepertinya orang-orangku terlalu kasar padamu, dan aku juga lupa memberitahu mereka untuk berhati-hati saat membawa wanita hamil” bisik orang itu.


Irene semakin yakin jika orang ini adalah orang yang ia kenal begitu baik, tapi tidak saat ini. Bagaimana bisa dia berubah menjadi iblis seperti ini. Irene sama sekali tidak pernah berpikir jika dia akan melakukan hal seperti ini, lagi pula atas dasar apa dia melakukan ini pada Irene?


Irene benar-benar kesal, lebih kesal lagi setelah mengingat dirinya tengah hamil saat ini. Irene harus kuat, begitu juga dengan anak yang dikandungnya, mereka harus tetap aman. Irene hendak menyingkirkan kain hitam yang masih menutup kepalanya, namun dengan segera tangannya ditahan oleh orang itu.


“Aku sudah berbaik hati melepaskanmu dari ikatan itu, jadi jangan coba-coba untuk melepas penutup kepalamu. Aku tidak ingin kau menatapku dalam situasi seperti ini” pinta orang itu lalu mencium punggung tangan Irene.


“You such a jerk!!” umpat Irene kesal.


Orang itu tertawa geli mendengar umpatan kekesalan Irene.


“Kau bisa mengatakan apapun padaku, aku sangat memberimu akses untuk itu. Tapi ingat, jangan coba-coba untuk melepas penutup kepala ini atau aku akan mengikatmu dan menyakitimu lagi” ancam orang itu.


Irene tidak peduli dengan ancaman orang itu, ia hanya perlu memastikan jika indra pendengarannya salah, jika orang yang namanya dalam pikiran Irene saat ini adalah bukan orang psycho yang sedang menculiknya saat ini. Dengar segera ia melepas penutup kepalanya dan ...


PLAK !!! Satu tamparan mendarat di pipi Irene tepat setelah ia melepas penutup kepalanya. Lalu orang itu meyentuh pipi Irene yang ditamparnya tadi.


“Maafkan aku, Irene. Aku sudah memperingatimu untuk tidak melepas penutup kepalamu, tapi kau tidak mau mendengarkanku” lirih orang itu sambil mengusap lembut pipi Irene.


Irene hanya diam menatap nanar orang di hadapannya ini, ia masih tidak percaya bahwa indra pendengarannya sangat baik. Orang yang saat ini berada di hadapannya, orang yang telah merencanakan penculikan ini dan orang yang baru saja menamparnya adalah orang yang sangat ia percaya, yang menjadi satu-satunya teman dekat yang ia miliki, Hans Nicolas.


“Why you so damn beautiful in white?” tanya Hans dengan suara seraknya.


Hans benar-benar benci melihat kecantikan gadis di hadapannya ini dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang melekat sempurna di tubuhnya, Irene sangat cantik.


Irene masih diam, ia memejamkan mata lalu bulir air menetes, ia menangis. Kenapa harus Hans?


“Irene” panggil Hans lembut.


Irene tetap diam menatap Hans dengan penuh kekecewaan. Irene tidak mengerti atas dasar apa Hans melakukan semua ini, bukankah mereka berteman. Tapi kenapa Hans bertindak sejauh ini? Apa Hans membenci Irene? Apa Irene pernah melakukan kesalahan?


“Caramu menatapku, sedikit berbeda hari ini. Apa kau marah padaku, Irene?” tanya Hans.


Irene tersenyum kaku. “Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan saat ini, Hans?”


Hans tertawa karena  pertanyaan Irene itu. “Apa aku terlihat seperti orang mabuk?” tanya Hans.


Irene mulai merasa takut pada Hans, ia melangkah mundur namun Hans menarik pinggang kecilnya hingga tubuh mereka saling berdekatan.


“Apa kau takut, Irene?” bisik Hans.


Irene hampir tak bernapas saat Hans bertanya, karena Hans berbeda. Hans yang ia kenal tidak seperti ini, hari ini ia merasa seolah bertemu Hans dengan jiwa yang berbeda. Ada apa denganmu, Hans?


“Apa yang kau inginkan, Hans?” tanya Irene sambil berusaha mendorong Hans agar menjauhinya, tapi Hans justru memeluknya, erat.


Irene terus berusaha mendorong Hans agar melepaskan pelukannya, namun percuma, Hans begitu kuat.


“Kau menyakitiku, Hans” ucap Irene putus asa.


Hans tersenyum dan akhirnya Hans menguraikan pelukannya, lalu menatap Irene dengan tatapan dingin yang membuat Irene takut.


“Katakan, Irene. Sesakit apa rasanya?” tanya Hans.


Irene bergeming, ia tidak harus harus bersikap seperti apa untuk menghadapi Hans yang membuatnya gugup dan merasa takut. Jujur, Irene sangat mengkhawatirkan kehamilannya saat ini. Apa anaknya akan baik-baik saja? Apa Hans akan melukainya lebih dari ini?


“Apa kau tidak bisa melihat kondisiku saat ini, Hans?” tanya Irene lirih.


Hans menunduk, tatapannya jatuh pada kedua kaki Irene yang lecet lalu tatapannya beralih naik pada gaun putih yang sudah kotor itu dan kini Hans menatap tangan gadis itu hingga beralih menatap ke wajah cantik Irene yang terdapat memar di pipi dan luka di sudut bibirnya.


“Kau benar. Aku begitu menyakitimu, Irene” ucap Hans lalu beralih menatap anak buahnya.


“Cepat ambilkan kotak P3K” titah Hans pada anak buahnya.


“Baik, Boss” sahutnya.


Menit kemudian anak buah Hans memberi kotak P3K padanya, lalu Hans membuka kota itu dan mulai mengobati luka gadis itu. Sejujurnya Hans tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Hans benci dan ingin sekali rasanya melukai gadis di hadapannya ini, namun ketika gadis itu terluka justru Hans tidak tega dan ia malah sangat ingin melindungi Irene.


“Aww” pekik Irene saat Hans memberi alkohol pada lukanya.


Hans menatap Irene yang menahan perih dari lukanya yang terkena alkohol.


“Aku benar-benar sudah menyakitimu, Irene” ucapnya sedikit menyesal.


Irene menarik napas panjang seraya memejamkan matanya sesaat, ia sangat bingung dengan Hans saat ini. Untuk apa Hans menyakitinya lalu sekarang pria itu malah mengobatinnya dan menyesali perbuatannya?


“Ada apa denganmu, Hans?” tanya Irene lirih.


Baru saja Hans hendak bicara, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera sebuah panggilan masuk dari Arzean. Hans tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada Irene.


“Lihat, romeomu meneleponku” ucap Hans seraya memperlihatkan ponselnya pada Irene.


Irene langsung bersemangat, ini kesempatan untuknya saat Hans menjawab telepon Zean, ia bisa berteriak agar Zean tahu jika dirinya ada bersama Hans. Namun,


“Bekap mulutnya !!” titah Hans lalu anak buahnya membekap mulut Irene.


Pupus sudah harapan gadis itu.


“Halo, Zean” ucap Hans.


“Irene diculik, Hans. Aku butuh bantuan orang-orangmu untuk mencarinya” Zean to the point.


Hans melirik Irene yang berusaha keras melawan anak buah Hans agar dia bisa bicara.


“Tentu, tentu aku akan membantumu, Zean” ucap Hans dengan santai.


“Hubungi aku jika kau sudah menemukan sesuatu” titah Zean lalu sambungan terputus.


Hans mengantongi kembali ponselnya lalu mendekati Irene dan memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepaskan gadis itu.


“Brengsek kau, Hans!!” umpat Irene kesal lalu melempar kotak P3K itu pada Hans.


Hans tertawa melihat kekesalan gadis di hadapannya itu lalu ia mendekat wajahnya di kuping Irene.


“Kita lihat saja nanti. Romeomu yang akan datang menjemputmu atau aku yang akan membawamu pergi lebih jauh lagi?” bisik Hans.