Stranger's In Love

Stranger's In Love
30|A THREAT



Boston, AS


Zean tiba di Boston sebelumnya ia sudah menghubungi Rebecca dan memintanya untuk bertemu. Zean memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Rebecca yang terlihat sepi. Rumah Rebecca selalu sepi karena kedua orang tua Rebecca sibuk mengurus bisnis keluarga Hillton.


"Rebecca cepat kenakan pakaianmu!" perintah Zean yang sudah membuka pintu kamar Rebecca dan mendapati wanita itu hanya mengenakan handuk saja, sepertinya dia baru beres mandi.


Rebecca tersenyum lalu berjalan mendekati Zean. "Kenapa, sayang? Bukannya kau datang untuk bersenang-senang" ucapnya sambil bergelayut manja di lengan Zean.


Zean mendengus kesal, ia mencoba sabar untuk menghadapi wanita seperti Rebecca ini.


"Kau ingin kita bermain-main dulu atau langsung pada intinya" goda Rebecca sedikit membuka handuk yang membalut tubuhnya.


"Menjauh dariku sebelum aku menyakitimu, Rebecca!" ancam Zean.


"Wow" seru Rebecca lalu bertepuk tangan seolah kagum dengan ucapan Zean.


Zean hanya diam menatap Rebecca dengan tatapan malasnya.


"Aku yakin, kau tidak akan menyakitiku setelah kau mendapat kejutan dariku" ucap Rebecca lalu berjalan untuk mengambil sebuah surat di atas nakas dan memberikan surat itu pada Zean.


"Kejutan, sayang!" seru Rebecca begitu antusias.


Zean meraih surat itu, ia bergeming menatap surat dengan amplop putih itu lalu membuka dan membaca isinya. Setelah itu, Zean langsung merobek surat itu dengan penuh emosi.


"Kau gila, Rebecca!" bentak Zean.


Rebecca cemberut dengan reaksi Zean yang membentaknya itu.


"Aku tidak gila, sayang. Aku hanya mencintaimu" ucap Rebecca manja.


"Dengar, Rebecca!" Zean memberi jeda pada ucapannya seraya melempar tatapan tajam pada Rebecca.


"Kau tidak mungkin hamil. Aku bahkan tidak pernah meniduri wanita jalang sepertimu. Bahkan aku berani menantangmu tes DNA untuk membuktikan bahwa aku bukan ayah dari anak yang kau kandung!" lanjut Zean, ia tidak main-main dengan ucapannya.


Surat yang Rebecca berikan kepada Zean adalah surat keterangan dari dokter bahwa Rebecca positif hamil.


Rebecca menatap nanar Zean yang menatapnya penuh kebencian, sulit sekali menaklukkan seorang Arzean Lorwerth bahkan dengan kabar kehamilannya pun tidak mampu meluluhkan hati Zean.


"Kenapa kau begitu membenciku?" tanya Rebecca parau, ia menangis, pipinya di


banjiri air mata.


"Karena aku tidak mencintaimu, Rebecca Hillton" jawab Zean dengan penekanan di setiap kata yang ia lontarkan.


Rebecca menunduk. Sakit dan sesak rasanya mendengar Zean yanh sudah ratusan kali mengatakam bahwa dia tidak mencintai Rebecca.


"Jika tidak bisa mencintaiku, setidaknya terimalah anak dalam kandunganku ini sebagai anakmu, Zean" ucap Rebecca sambil menyentuh perutnya yang masih datar.


Zean mengalihkan pandangannya, ia muak dengan semua sandiwara Rebecca. Zean beranjak namun Rebecca menghalanginya.


"Jangan pergi, Zean" pinta Rebecca lalu memeluk Zean.


"Menjauh dariku, Rebecca!" Zean mencoba menjauhkan wanita ini dari dirinya.


Zean berhasil menjauhkan Rebecca darinya, ia menatap mata sembab wanita itu.


"Jangan buang air matamu pada pria yang tidak mencintaimu" Zean menyeka air mata Rebecca.


Rebecca sedikit tersenyum dengan perlakuan manis Zean padanya.


Kini Rebecca menatap Zean dengan tatapan seolah ia lelah menyakinkan Zean bahwa anak yang ia kandung adalah anak Zean.


"Aku sudah menemui ayah dari anak yang sedang aku kandung ini. Pria itu sedang berdiri di hadapanku, pria itu adalah kau, Arzean Lorwerth. Tidak bisakah kau menerima kenyataan ini!" Rebecca kesal, sangat kesal pada Zean yang meragukan kehamilannya ini.


Zean hanya diam dengan tatapan dinginnya.


"Apa semua ini karena wanita jalang yang bernama Irene Banner itu? Apa dia telah berhasil membuatmu jatuh cinta dengan gaya murahannya itu"


PLAK!!! Zean menampar Rebecca. Sungguh ini hal di luar dugaannya. Zean mencoba sabar dengan wanita ini, tapi entah kenapa saat Rebecca menyebut Irene seorang jalang langsung membuat emosinya tak terkendali.


Rebecca menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan Zean. Namun detik kemudian wanita itu tersenyum lalu tertawa kecil. Zean bingung dengan reaksi Rebecca.


"Kau bahkan penamparku hanya karena aku menyebut wanita mu jalang" ucap Rebecca.


"Rebecca!" bentak Zean seolah menyadarkan wanita itu berhenti menghina Irene.


"Aku yakin. Saat ini dia telah membencimu, bahkan sangat membencimu" ucap Rebecca.


Zean hanya diam, ia mencoba mencerna ucapan Rebecca. Rebecca membuat Zean semakin bingung, entah sandiwara apa yang sedang dia mainkan.


"Keluarga Hillton dan Keluarga Lorwerth sudah mengetahui soal kehamilanku ini. Dan ya, tentu wanita yang kau cintai itu juga tahu bahkan aku sangat yakin, saat ini Irene sudah menerima surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa seorang Rebecca Hillton positif hamil" Rebecca memberi jeda pada ucapannya lalu mendekati Zean yang masih bergeming.


"Dan ya, satu lagi, Irene pasti telah menerima surat undangan pernikahan Arzean Lorwerth dan Rebecca Hillton yang akan berlangsung dua minggu lagi" lanjut Rebecca.


Rahang Zean mengeras, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat rasanya ingin sekali ia memberi satu pukulan tepat di wajah cantik wanita iblis Rebecca Hillton ini. Bagaimana bisa Zean akan menikahi wanita yang entah sedang mengandung anak siapa, pria mana yang meniduri Rebecca hingga Zean yang harus menikahinya, ini benar-benar gila.


"Kau benar-benar sudah gila, Rebecca Hillton!" Zean beranjak pergi namun Rebecca menghalanginnya.


"Percuma" ucap Rebecca masih menghalangi jalannya Zean.


"Kau tidak akan bisa kembali ke Korea atau pergi kemana pun, karena keluarga kita telah mengawasimu. Jadi, kau tidak akan bisa berbuat apapun sampai di hari pernikahan kita nanti" lanjutnya seolah tahu kemana arah tujuan Zean. Ya, selama ini Rebecca memata-matai Zean, Rebecca tahu dimana dan apa saja yang Zean lakukan.


Zean menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum miring menatap wanita yang menghalangi jalannya itu.


"Apa kau sedang mengancamku, Rebecca?" tanya Zean santai.


Rebecca tersenyum, lalu ia menyentuh wajah tampan Zean. Sepertinya Zean bukan tipe orang yang akan takut hanya dengan ancama kata-kata saja.


"Berhenti bermain-main denganku, kau akan kalah nantinya" ucapnya lalu mengecup pipi Zean.


Zean benar-benar muak, sepertinya Rebecca tidak main-main dengan ucapannya. Karena Zean sudah mencoba menghubungi Irene namun Irene tidak menjawab panggilannya dan tidak membalas satu pesan pun dari Zean. Sepertinya ucapan Rebecca benar, Irene kembali membenci seorang Arzean Lorwerth. Apa yang akan terjadi setelah ini? Kenapa semua semakin rumit? Apa Zean akan benar-benar menikahi Rebecca Hillton?


.


.


.


***Hai reader's....


Dukung terus ya Author tercinta kalian ini, hehe...


Jejak Author bisa ditemukan di instagram @eldiian_


Jangan ragu untuk follow, kalian tinggal dm saja nanti Author pasti follback. Dari sana kalian bisa lihat karya-karya novel Author lainnya, salam hangat ๐Ÿ’–***