
“Sekarang apa kau meragukanku?” tanya Zean.
“Apa kau masih pantas untuk dipercaya?” Irene balik bertanya.
Zean menghela napas perlahan, sakit, sesak rasanya melihat gadis dihadapannya yang kini menangis karena dirinya dan sekarang gadis itu juga kembali meragukan cintanya.
"Tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal?" tanya Zean sambil menyeka air mata gadisnya itu.
Irene menepis kasar tangan Zean. Apa Zean sudah gila? Bukankah dia sudah menikah dengan Rebecca Hillton?
Irene mengalihkan pandangannya menatap jari manis tangan kanan Zean, tidak ada cincin, Zean tidak menggunakan cincinnya.
"Dimana cincin pernikahanmu? Apa kau melepasnya sebentar hanya untuk kembali padaku lalu menyatakan cinta dan kemudian pergi tanpa aba-aba? Bagaimana bisa aku harus mengenal pria brengsek sepertimu, Zean?" Irene menghela napas perlahan, ia butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya, ia butuh tenaga untuk mengeluapkan semua isi hatinya.
"Jangan seperti ini, Zean. Ku mohon, ini benar-benar membuatku gila. Tidak seharusnya kita seperti ini, kau adalah kesalahan tanpa nama yang selalu aku benarkan. Tidakkah kau berpikir, aku yang terlalu lugu hingga kau bisa mendapatkan cintaku dengan mudahnya? Dan aku terlalu bodoh karena jatuh hati pada mu yang jelas-jelas hanya kau permainkan" Irene menyeka air matanya, ia tidak bisa tegar, saat ini ia tidak peduli betapa lemahnya ia terlihat dimata Zean. Irene hanya ingin meluapkan semua kekesalannya pada Zean selama ini, ia tidak tahan untuk menahannya lebih lama lagi.
Zean hanya diam, ia memberi Irene kesempatan untuk berbicara sesukanya. Jelas terlihat gadisnya itu sangat marah dan kecewa padanya. Irene benar-benar mencintai Zean. Dan sepertinya Irene belum tahu soal pernikahannya dengan Rebecca yang batal karena James sudah menjelaskan semuanya dan dialah yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Rebecca karena James adalah ayah dari bayi itu.
"Bisakah kita berhenti sekarang? Sebelum semua terlambat dan semakin jauh lalu kita hanya akan berakhir dengan saling menyakiti satu sama lain. Dan—" Irene tidak sanggup melanjutkan ucapannya, tubuhnya bergetar dan air mata mengalir deras, ia benar-benar rapuh saat ini.
Zean menatap nanar gadisnya itu, rasanya ia juga ingin menangis bersama. Zean kembali menyeka air mata gadis itu lalu menariknya kedalam pelukannya, namun Irene menggelak, ia mencoba untuk mendorong Zean agar tidak memeluknya. Zean tidak peduli, ia justrus memperkuat pelukannya.
"Lepaskan aku, brengsek!" umpat Irene kesal.
Zean tidak peduli, ia masih memeluk gadisnya itu.
"Aku membencimu, Zean" ucap Irene yang mulai tenang dalam pelukan Zean.
"Hm" Zean mengusap lembut pucuk kepala Irene.
"Aku tidak akan memaafkanmu" Irene kembali terisak dalam pelukan Zean.
"Aku tahu itu" sahut Zean.
"Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi" ucap Irene disela-sela tangisnya.
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi" sahut Zean lalu menguraikan pelukannya lalu menatap gadisnya itu.
Zean menatap mata sembab Irene yang memerah karena terlalu lama menangis.
"Dengar, Irene" Zean memberi jeda pada ucapannya lalu menyentuh wajah Irene agar ia bisa menatapnya.
"Aku tidak menikah dengan Rebecca, dan aku tidak akan menikah dengan wanita manapun selain dirimu. Seseorang datang menemuiku dan mengatakan bahwa dia percaya, kalau aku sangat mencintai putrinya" jeda Zean.
Irene hanya diam menunggu Zean melanjutkan ucapannya dan mencerna setiap kata yang Zean ucapkan tadi.
"Dia benar, karena aku mencintaimu maka aku harus memperjuangkanmu" lanjut Zean lalu mengecup singkat bibir Irene.
Irene mencoba untuk tetap tenang, walau saat ini rasanya jantungnya akan meledak. Irene begitu senang mendengar semua ini, ia memalingkan wajahnya dan mencoba untuk menyembunyikan senyumnya. Ini semua pasti berkat Ainsley, ibunya. Terimakasih, mom.
"Maafkan aku untuk semua air mata yang kau buang karena diriku" ucap Zean lalu memeluk gadisnya itu.
"Aku mencintaimu, Irene Banner" ucap Zean tulus.
Irene diam-diam tersenyum dalam pelukan Zean.
"Tapi aku membencimu, Arzean Lorwerth" sahutnya berbohong.
Zean menguraikan pelukkannya lalu menatap gadisnya itu, Zean tahu Irene pasti berbohong. Gadisnya itu memang sulit ditaklukan, tapi Zean sangat mencintainya.
"Aku tidak peduli" ucap Zean lalu mencium Irene.
Selamat pagi, my lovely reader's
Wawwawaww ga nyangka ni bakal nyapa reader's pagi-pag gini hehee...
Nah ini dia ni lanjutan eps yang ngegantung kemarin xoxoxo...
Author ga tega ngegantungin terlalu lama, udah kayak jemur baju di musim hujan ga kering-kering jadi lama digantungin hehe...
Udah itu aja, happy reading !!!