
Irene duduk di bangku taman menunggu kedatangan Ainsley, tadi ibunya menelpon mengatakan ingin bertemu dengannya. Irene duduk sambil mengelus perutnya yang masih datar, mengingat hari pernikahannya yang akan
berlangsung sekitar lima hari lagi. Irene tidak pernah menyangka jika akhirnya ia akan menikah dengan Kim, sepupunya sendiri. Kim benar-benar mengambil keputusan gila dan mengorbankan masa depannya demi menyelamatkan Irene dan bayi yang dikandungnya.
“Kau benar-benar gila, Kim” ucap Irene seolah menjawab pikirannya.
Irene menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia mencoba untuk tersenyum saat ini ingatnnya kembali pada seorang pria yang ia cintai dan sangat ia rindukan saat ini. Tapi dengan segera ia menepis ingatannya itu, karena pria itu mungkin saat ini sudah hidup bahagia bersama wanita yang dia cintai yaitu Rebecca Hillton.
Irene tidak pernah menyesali untuk semua kenangan dan hal-hal indah yang pernah ia lakukan bersama Zean. Namun, perasaan bersalah masih menghantuinnya hingga saat ini. Bagaimana bisa ia memaafkan dirinya sendiri yang pada malam itu tidur bersama Zean yang sudah bertunangan? Perasaan itu rumit jika dijelaskan dengan logika dan akal sehat.
Irene harus bisa ikhlas dan merelakan Zean yang jelas-jelas tidak mencintainya. Seseorang yang menyatakan cinta padamu, sekali atau berkali-kali pun, belum tentu orang itu benar-benar mencintaimu. Irene selalu berpikir, jika benar Zean mencintainya, mengapa dia pergi? Mengapa dia menikah dengan Rebecca? Dan bagaimana bisa Rebecca tengah mengandung anaknya?
“Damn!! Kau berhasil mengacaukan ku hingga menjadi wanita menyedihkan seperti ini, Arzean Lorwerth” ucapnya entah pada siapa dan air mata kembali membasahi pipinya.
Sulit sekali rasanya mengontrol perasaan ini, sering kali Irene ingin menyerah pada perasaannya terhadap Zean. Melupakannya saja terasa berat sangat sulit apa lagi mencoba untuk berhenti mencintainya, ini benar-benar menyiksa Irene. Tetapi, Irene tidak boleh egois, jika terus memikirkan Zean seperti ini bisa membuatnya stress dan ini akan berdampak buruk pada kehamilannya.
Irene menunduk menyentuh perutnya lalu mengusapnya lembut, ia seolah mencoba berbicara dengan bayi di perutnya. “Maafkan aku yang sering membuatmu stress” ucap Irene pada perut datarnya.
“Jika ada yang harus meminta maaf dan memperbaiki semuanya, itu adalah ayahnya” ucap seseorang yang sudah berdiri di depan Irene.
Deg! Mendengar suaranya saja mampu membuat Irene melemah, suara ini, aroma maskulin ini, sudah lama ia rindukan. Apa Irene sedang berkhayal? Apa rasa rindu yang menjalar liar ini mengantarkannya pada dunia halusinasi? Irene ragu pada kesadarannya, apa Zean ada di sini?
“Sampai kapan kau akan menunduk seperti itu, Irene?” tanya orang itu lalu menarik lembu dagu Irene agar ia bisa menatapnya.
Deg! Irene menatap orang itu, ini nyata, dia adalah Arzean Lorwerth. Pria yang sangat ia rindukan selama ini, kini sedang berdiri di depannya, menatapnya dan menyentuh wajah cantiknya dengan sentuhan dari tangan hangatnya itu.
Irene mencoba menyadarkan pikirannya, ingat, Zean tidak benar-benar mencintaimu. Irene menepis tangan Zean yang masih menyentuh wajahnya.
“Jangan menyentuhku, aku bukan wanitamu yang bisa kau sentuh sesukamu” Irene memperingati Zean.
Zean tersenyum sekilas lalu beralih duduk di samping gadisnya itu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Zean.
Irene mendelik, bisa-bisanya Zean bertanya bagaimana kabarmu?
Setelah dia meninggalkan Irene begitu saja, tiba-tiba dia datang kembali dan bertanya bagaimana kabarmu?
“Bagaimana kabarku?” Irene mengulang pertanyaan Zean.
Zean menoleh lalu mengangguk mantap sebagai jawaban iya.
“Baik, tentu kabarku baik. Bahkan aku akan segera menikah, aku harap kau bisa hadir di acara pernikahanku” sahut Irene.
Irene berbohong, ia terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Jujur, saat Zean bertanya bagaimana kabarmu? Yang ingin Irene katakan adalah aku hancur begitu kau pergi dan mendapat kabar bahwa Rebecca hamil dan kau akan segera menikah dengannya. Aku tidak tahu harus melakukan apa ketika semua orang sudah tahu bahwa aku tengah mengandung entah anak siapa. Aku kaget dengan tingkah heroik Kim yang begitu gila dan diluar dugaan, dia tidak memikirkan masa depannya, dia ingin menolongku dengan pernikahan ini agar aku dan bayi ini tetap baik-baik saja.
Irene berusaha keras untuk tidak menangis, ia harus tegar di hadapan Zean, ia tidak boleh lemah.
“Berhentilah berpura-pura, Irene” ucap Zean tiba-tiba.
Kini Zean beralih menatap Irene, namun gadis itu mengalihkan pandangannya dari Zean.
“Kenapa kau tidak berani menatapku?” tanya Zean.
Irene mengepalkan tangan kuat-kuat, jika ia seperti ini Zean akan tahu bahwa Irene sangat lemah pada tatapannya itu. Irene mengalihkan pandangannya, kini ia beralih menatap Zean yang masih menatapnya, mereka saling bertatapan dalam diam.
“Maafkan aku, Irene” Zean membuka suara.
“Untuk apa?” Irene bertanya seolah ia melupakan semua hal sulit yang ia lalui karena Zean yang pergi meninggalkannya tanpa aba-aba.
“Maafkan aku karena pergi meninggalkanmu begitu saja, maafkan aku karena tidak pernah mencoba untuk menghubungimu, maafkan aku untuk kabar pernikahanku—”
Zean hanya diam, menunggu Irene melanjutkan ucapannya.
“Tempatmu bukan di sini, bahkan mungkin saja saat ini Rebecca sedang meunggu di rumah. Sudah cukup, jangan mempermainkan dua hati sekaligus. Kau sudah menikah dan kau—”
Zean mencium Irene begitu lembut, inilah yang ingin Zean lakukan saat pertama kali melihat Irene yang begitu menyiksanya dalam rindu. Zean tidak peduli untuk semua ocehan yang akan ia dengar dari gadisnya itu. Yang Zean tahu saat ini adalah mereka sama-sama merindu.
Zean melepas ciumannya dan memberi Irene kesempatan untuk mengatur napasnya lalu Zean kembali menciumnya. Irene mencoba untuk menghentikan Zean yang masih menciumnya tapi Zean tidak bisa dengan mudah untuk dihentikan begitu saja, Irene mengutuk akan mengoceh pada pria ini nantinya.
“Kau boleh memarahiku, kau boleh mengoceh—”
PLAK!! Satu tamparan mendarat tepat di pipi Zean.
Zean menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan Irene. “Aku memang pantas mendapatkannya” ucap Zean.
Irene mencoba mengatur napasnya untuk menahan emosinya, Zean benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia mencium Irene seperti itu? Dasar brengsek.
“Kenapa kau kembali?” tanya Irene dengan suara paraunya, ia menangis.
Irene sudah tidak sanggup lagi menahan semua pedih rasa sakit dan kekecewaannya terhadap Zean.
Tangan Zean tergerak untuk menghapus air mata yang membasahi pipi gadisnya itu.
“Karena aku mencintaimu” jawab Zean.
Irene tertawa lirih mendengar jawaban Zean.
“Seseorang yang mengatakan cinta, belum tentu dia benar-benar mencintai” sindir Irene.
Jujur, Zean sedih meliat gadisnya yang begitu rapuh saat ini. Zean menyesal untuk semua air mata yang sudah Irene habiskan karena dirinya.
“Sekarang apa kau meragukanku?” tanya Zean.
“Apa kau masih pantas untuk dipercaya?” Irene balik bertanya.
Selamat malam, my lovely reader's :))))
Gimana nih eps SIL kali ini?
Jadi eps 43 ini nanti bakal ada part2 nya, sengaja aku gantung gini biar reader's makin kepo, hihihi jahat ya authornya...
gpp jahat, yang penting bisa bikin hati kalian cenat cenut, pikiran menjalar liar nebak-nebak alur SIL :p
Happy reading ya !!!