
Zean dapat melihat jelas di depannya ada sebuah mobil buggati merah yang ia kenali sebagai mobil Hans. Zean langsung menekan-nekan klakson, memberi kode pada mobil di depannya untuk segera menepi. Tetapi mobil itu malah melaju lebih kencang.
Kedua mobil itu akhirnya sama-sama melaju kencang dan saling mengejar. Satu lintasan jalan ini terasa begitu panjang, hujan turun sangat lebat. Zean semakin antusias, wanita yang ia cintai ada di depannya, ia harus bisa menghentikan mobil di depannya.
Zean terus menekan klakson dan menambah kecepatan. Mobil Hans melaju semakin jauh darinya, Zean mulai khawatir saat ini jalanan sngat licin akibat hujan. Detak jantung Zean berdetak lebih cepat ketika mobil Hans mulai terlihat tidak terkendali dan ...
Brak !
Bugatti merah itu akhirnya berhenti karena menabrak pembatas jalan di tepi jurang dan detik kemudian mobil itu perlahan merosot jatuh ke jurang.
"Tidak !!!" teriak Zean spontan mengerem mendadak.
Dunia berputar lima kali lebih cepat, Zean melemas menyaksikan kecelakaan tragis itu. Di mobil itu ada wanita yang sangat ia cintai yang sedang mengandung cabang bayinya.
Zean histeris turun dari mobil, ia melihat ke dasar jurang yang curam itu. Terlihat bugatti merah yang mewah itu sudah ringsek tak berbentuk diselimuti asap yang mengepul.
Tuhan, kumohon selamatkan dia. Selamatkan dia dan anak ku. Aku mencintainya, Irene Banner....
Zean terus berkata di dalam hatinya.
***
Di sini lah Zean saat ini, duduk sambil menutup mata dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada. Ia berdoa di depan patung yessu di Gereja ini. Tubuhnya bergetar namun ia tetap berusaha tegar. Air mata tak henti-hentinya mengalir bebas di kedua pipinya, ia terlihat sangat payah.
Zean tidak peduli lagi dengan penampilannya, saat ini ia hanya ingin menatap mata wanita yang ia cintai, menatap mata wanita yang sangat ia rindukan. Mungkinkah itu akan terjadi?
Zean masih berdoa jauh di dalam hatinya, ia tak pernah lelah meminta satu hal ini secara terus menerus. Zean yakin Tuhan akan mendengarnya, untuk pertama kalinya Zean meminta dengan sungguh-sungguh. Zean tidak main-main, bukan hanya sekadar ucapan ataupun permintaan. Tapi Zean berteriak dalam doanya, berteriak dengan sangat keras pada Tuhan yang ia yakini mendengar dan melihatnya saat ini.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Gerald menepuk pundak Zean.
Gerald menggeleng lemah melihat Zean. Semua orang sudah lelah, semua orang sudah menyerah. Tapi tidak dengan Zean, ia memiliki keyakinan kuat, ia memiliki keyakinan yang berbeda. Suatu hari nanti, mata indah milik Irene akan terbuka dan saat itu juga Zean akan menciumnya tanpa henti.
Zean sudah selesai, ia beranjak dari duduknya lalu menatap Gerald kecewa karena Gerald sudah menyerah dan mempasrahkan semuanya.
"Kau harus ikhlas, Zean. Kita semua mencoba untuk ikhlas. Dengan kau seperti ini justru akan membuat Irene terluka jika dia mengetahuinya" Gerald mencoba berhati-hati dengan ucapannya.
Zean sangat sensitif akhir-akhir ini semenjak kecelakaan tragis malam itu yang menimpa kekasihnya dan juga Hans. Zean masih sulit untuk kembali pada dunianya, Zean sangat kacau.
"Berhenti bersikap seolah dia sudah mati. Dia akan segera kembali, dia tidak akan meninggalkanku!" ketus Zean berlalu pergi meninggalkan Gerald di sana.
Zean melajukan mobilnya menuju Kolumbarium ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada seseorang di sana. Zean tidak membawa bunga atau apapun, ia hanya membawa rasa benci dan amarah yang tak berujung. Sampai kapan pun ia akan tetap membenci orang itu, sekali pun orang itu sudah berupa abu tapi kebencian ini masih utuh sepenuhnya.
Zean berdiri tepat di hadapan guci berisi abu yang bertuliskan Hans Nicolas. Zean tersenyum kecut, mengingat semua hal buruk yang dulu Hans lakukan pada Irene. Tidak ada yang bisa Zean lakukan terhadap Hans saat ini. Dia telah tiada, saat ini dia hanya berupa guci berisi abu.
"Dimana kau saat ini, Hans?"
"Kau tak lebih dari pecundang yang lari dari dunia ini. Kau terlalu payah untuk bertanggung jawab atas semua perbuatanmu"
"Kau membuatku terlalu banyak menangis belakangan ini. Kau membuatku terlihat semenyedihkan ini. Kau membuatku kembali harus merindukan wanitaku. Kau membuatku sangat, sangat kacau"
Zean berhenti sejenak, ia mengatur napasnya.
"Apa di sana kau sedang tertawa melihatku yang begitu kacau saat ini? Apa kau senang setelah pergi dari dunia ini?"
"Harusnya kita minum bersama dan membahas masalah perasaan antara ku, kau dan Irene. Kau tidak harus mengacaukan hari pernikahanku. Kau juga tidak perlu menculik Irene untuk menyakitinya. Dan lihat sekarang, kau telah membuatku kehilangan banyak hal dalam hidup ini. Kau membuatku gila, Hans !!"
Zean terkekeh. Lalu terdiam sejenak mencoba untuk mengontrol dirinya, Zean mencoba mencari sisa kewarasan dalam dirinya. Seperti bukan dirinya yang dulu, Zean merasa kewarasannya perlahan menghilang.