
Zean memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Kim.
Zean melepas seatbelt-nya lalu menatap Irene yang masih diam sambil menyentuh perutnya.
“Apa kau khawatir?” tanya Zean.
Irene beralih menatap Zean, lalu mengangguk lemas sebagai jawaban iya.
Hari ini Irene dan Zean mengumpulkan semua orang untuk menjelaskan semuanya. Irene tidak akan menikah dengan Kim karena anak yang dikandungnya saat ini adalah anak Zean, pria yang sangat ia cintai. Irene merasa takut dan cemas akan reaksi keluarganya nanti, saat mengetahui yang sebenarnya.
Zean melepas seatbelt Irene, lalu memeluk gadisnya itu.
“Jangan khawatir. Kita akan menjelaskan semua, dan semua akan baik-baik saja” Zean memberi jeda pada ucapannya lalu mengelus pucuk kepala Irene.
“Percayalah, Irene” lanjutnya kemudian mencium kening gadisnya itu.
Irene menutup mata perlahan, ia merasakan ciuman hangat Zean yang mendarat di keningnya mampu membuatnya merasa nyaman dan lebih tenang saat ini.
Di ruang keluarga, semua sudah berkumpul menunggu kedatangan Irene dan Zean. Irene dan Zean memasuki ruang keluarga, di ruangan itu ada Daniel, Geraldine, Alice dan Kim yang duduk di sofa menatap ke arah mereka.
Deg! Irene menelan ludah susah payah melihat tatapan semua orang yang ada di ruangan ini menatapnya dingin.
Zean menggenggam tangan Irene, ia seolah tahu betapa gugupnya Irene saat ini.
“Apa yang ingin kalian katakan?” tanya Daniel membuka suara.
Irene dan Zean saling melihat sejenak lalu mereka bergantian menatap satu per satu orang yang ada di ruangan ini. Suasana tegang mendominasi hawa di ruang tamu saat ini, entah betapa kecewa dan bingungnya mereka saat mengetahui yang sebenarnya.
“Kami akan menikah” jawab Zean.
Hening. Tidak ada yang menanggapi ucapan Zean. Semua orang di ruangan itu sibuk berkutat dengan pikirannya yang mencoba untuk mencerna ucapan Zean tadi.
Daniel melipat tangan di depan dada lalu menatap tajam ke arah Zean dan Irene. “Apa kalian sedang bergurau?” tanya Daniel.
Baru saja Zean hendak menjawab, Gerald mendahuluinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian tiba-tiba meminta kami semua untuk datang dan berkumpul, lalu kalian mengatakan kepada kami semua bahwa kalian akan menikah?” ucap Gerald.
Gerald menggeleng pelan, ia benar-benar dibuat bingung saat ini.
“Tunggu dulu, Arzean. Bagaimana bisa pernikahan kau dengan Rebecca dibatalkan begitu saja dan Rebecca malah menikah dengan adikmu, James Lorwerth?” tanya Alice yang merasa bingung dan aneh dengan semua kejadian ini.
Sedangkan Kim hanya diam saja menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya, ia masih enggan untuk membuka suara.
Irene dan Zean saling bertatapan satu sama lain, seolah memikirkan jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan itu. Semua akan begitu rumit saat dijelaskan, bahkan saat melalui semua ini pun rasanya begitu berat bagi Irene dan Zean.
Irene menghela napas perlahan, ia mencoba mengumpulkan tenaga untuk mulai menjelaskan apa yang terjadi.
“Maafkan, aku. Aku sungguh menyesal karena telah menyembunyikan semua ini dari kalian, aku tidak bermaksud tapi aku juga tidak bisa” Irene memberi jeda pada ucapannya, ia berusaha untuk berbicara dengan tenang.
Daniel, Gerald, Alice dan Kim justru semakin bingung dengan ucapan Irene. Tetapi, mereka memilih diam dan menunggu Irene melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya—”
“Irene dan aku saling mencintai” potong Zean.
Zean tahu, gadisnya itu benar-benar gugup saat ini untuk mengatakan yang sebenarnya tidaklah sulit, Irene hanya terlalu memikirkan betapa kesal dan kecewanya semua orang di ruangan itu.
“Anak yang dikandung Irene adalah anakku” ucap Zean.
Daniel mengacak rambut frustasi.
“Omong kosong apa yang kau katakan!” Daniel mulai kesal.
Bagaimana Daniel tidak kesal, dua hari lagi adalah hari pernikahan Irene dengan Kim. Dan di hari ini justru ia mendengar bahwa Zean dan Irene saling mencintai? Permainan macam apa ini?
“Tidak mungkin” lirih Alice, tubuhnya melemas lalu Gerald merangkulnya agar tidak jatuh.
Alice benar-benar syok, apa yang selama ini ia lakukan? Kenapa ia tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Irene? Jadi selama ini Irene mengalami hal-hal sulit yang Alice sendiri tidak tahu.
“Kalian benar-benar sudah gila!” kesal Gerald, rasanya ia ingin menghantam apa saja yang ada di hadapannya saat ini.
Irene menunduk, dan detik kemudian bulir air kembali menetes, ia menangis. Irene tahu, saat ini ia telah berhasil membuat semua orang di ruangan ini merasa kecewa olehnya.
Irene tersenyum saat Zean menggenggam tangannya, ia merasa sedikit lebih tenang.
Irene mengangkat kepalanya lalu kembali mengumpulkan tenaga untuk menatap semua orang di ruangan ini.
“Maafkan aku untuk semua ini, maaf sudah membuat kalian kecewa” ucap Irene tulus.
Kim tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
“Bukankah semua ini sudah selesai. Sekarang kita tahu bahkan Irene dan Zean saling mencintai dan anak yang dikandung Irene adalah anak Zean. Maka, pernikahan dua hari lagi akan tetap berlangsung, pernikahan antara Irene dan Zean” ucap Kim yang akhirnya membuka suara.
Daniel menatap Kim sekilas lalu membuat muka saat Kim menatapnya balik.
“Anak-anak seperti kalian pasti menganggap pernikahan sebagai permainan semata” ucap Daniel.
Irene tertawa lirih saat mendengar ucapan Daniel. Lucu dan sedih rasanya, ucapan itu telontar dari seorang Daniel Ricardo yang sudah bercerai dan menikah lagi.
“Apa Dad sedang bergurau?” tanya Irene pada Daniel.
Daniel menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Irene. “Apa maksudmu?” Daniel balik bertanya.
Gerald mulai menyadari, sepertinya Irene akan melewati batasannya berbicara dengan ayahnya itu.
“Jaga ucapanmu saat berbicara dengan ayah, Irene” Gerald memperingati Irene.
Irene tersenyum lirih. “Apa yang kau ketahui, Gerald?” tanya Irene.
Gerald mengepalkan tangannya kesal, namun Alice berusaha menenangkannya.
“Irene benar. Apa yang kau ketahui, Gerald? Kau bahkan tidak tahu apapun” ucap Kim seolah satu pendapat dengan Irene.
Daniel mulai bingung, kemana arah pembicaraan ini nantinya.
“Gerald” panggil Irene pada kakaknya itu.
Gerald menatap Irene dengan semua tanda tanya di benaknya.
“Mom tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, Mom meninggalkan kita karena Dad. Karena pria yang sangat ia cintai, bercinta dengan wanita lain di depan matanya. Dan wanita itu adalah Carla Darbost, yang saat ini masih resmi menjadi istrinya Dad” jelas Irene.
Deg! Daniel memejamkan mata lalu tertunduk, ia tidak pernah mengira putrinya itu mengetahui yang sebenarnya.
Gerald tercekat, napasnya sesak matanya mulai memerah. Selama ini ia berpikir bahwa Ainsley pergi meninggalkan keluarga Ricardo karena lebih memilih karir dokternya dari pada keluarga dan anak-anaknya. Gerald mengutuk dirinya untuk semu kebencian yang ia berikan kepada ibunya itu. Maafkan Gerald, Ainsley.
“Saat itu, Bibi Ainsley kembali ke Korea dan melewati hari-hari tersulitnya di rumah ini, setiap hari dia merindukan anak-anaknya dan dia selalu berharap agar kalian tidak membencinya jika suatu hari nanti kalian diberi kesempatan untuk bertemu secara sengaja atau tidak sengaja” Kim memberi jeda pada ucapannya. Matanya mulai terasa perih, hatinya pun sesak jika memingat saat-saat ia melihat Ainsley menangis sambil memeluk foto Keluarga Ricardo.
“Bibi Ainsley adalah wanita yang kuat, dia wanita yang tegar karena masih bisa bertahan hingga hari ini. Dia
selalu berharap bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya, yang bahkan sampai detik ini terasa begitu mustahil untuk jadi nyata” lanjut Kim.
Daniel mengusap matanya yang tanpa ia sadari menitikan air mata saat mendengar setiap kata yang meluncur dari mulut Kim tentang wanita yang ia cintai, Ainsley.
“Apa semua ini benar, Dad?” tanya Gerald dengan sisa tenaga yang ia miliki dari semua kekecewaan yang menamparnya saat ini.
“Maafkan, aku” ucap Daniel tulus.
Gerald menghela napas pelan lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasanya ia begitu marah pada dirinya sendiri yang selama ini telah membenci ibunya sendiri. Alice berusaha menenangkan dengan memeluk Gerald yang begitu hancur oleh kekecewaan saat ini.
“Aku ingin kita mewujudkan keluarga kita menjadi keluarga kecil yang bahagia. Aku ingin, sehari sebelum hari pernikahanku, ku mohon kembalilah walau hanya satu malam. Aku ingin keluarga kecil kita berbaikan sebelum hari terbahagiaku, ku mohon” pinta Irene.
Daniel beranjak dari duduknya, lalu merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk putra dan putrinya itu.
Irene dan Gerald saling bertatapan sejenak, kemudian mereka beranjak dari duduknya dan memeluk Daniel.
“Kadang kita harus melupakan masa lalu sejenak, untuk bisa bahagia walau sesaat” ucap Daniel pada anak-anaknya.
Hi, my lovely reader's :))
Masih setia menunggu update dari SIL?
Tentunya masih dong? hehe...
Kira-kira setelah ini apa ya yang akan terjadi? Tetep tunggu update episode selanjutnya yaaa