
Zean tiba di Boston dan langsung menemui ayahnya di ruang keluarga. Di sana ada Grissham, Rihanna, Rebecca dan James. Mereka sudah duduk menunggu kedatangan Zean.
“Di mana Irene? Kenapa kau tidak bersamanya?” tanya Grissham menyambut kedatangan Zean.
Zean belum menjawab, ia malah duduk di sofa dengan santainya. “Aku meninggalkannya di Praha,” jawab Zean akhirnya.
Sebenarnya Zean sengaja tidak membawa Irene ikut bersamanya karena Zean tahu hal penting apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya ini. Apa lagi jika bukan ultimatum keluarga Lorwerth.
“Kau seharusnya mengajak istrimu, Zean,” komentar James.
“Untuk apa menikah jika setelah menikah kau bahkan malu mengajaknya pergi bertemu keluargamu,” sindir Rebecca.
“Jaga ucapanmu, Rebecca!” Zean menatap tajam wanita itu.
“Jangan membentak istriku, Zean!” James beranjak dari duduknya hendak mendekati Zean, tapi Grissham menghalanginya.
“Kenapa malah ribut seperti ini!” ucap Grissham menengahi ke dua putranya itu.
“Sudah. Hentikan keributan ini,” Rihanna akhirnya angkat bicara, ia tidak tahan melihat kedua putranya ini bertengkar hanya karena hal kecil.
Hening, untuk beberapa saat. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Grissham kembali bicara.
“Mari kita bahas mengenai Ultimatum Keluarga Lorwerth ini,” ucapnya.
Fokus semua orang di ruangan itu beralih pada Grissham. Grissham mulai menjelaskan garis keturunan dan ketentuan dari isi ultimatum itu. Dalam sejarah Keluarga Lorwerth anak pertama merupakan ahli waris yang utama, tetapi hak waris ini bisa digulingkan ke anak berikutnya apabila ahli waris yang utama tidak mempunyai keturunan, mengidap penyakit serius dan atau meninggal dunia.
Ahli waris utama sudah pasti jatuh pada Arzean Lorwerth karena dia merupakan anak pertama, tetapi sayang istrinya tidak dapat memberikan keturunan karena telah menjalani operasi pengangkatan rahim dan keluarga sudah tahu itu. Otomatis hak waris jatuh pada anak berikutnya yaitu James Lorwerth, akan tetapi James bukanlah anak kandung dari garis keturunan Keluarga Lowerth. James hanyalah anak angkat yang digunakan untuk melindungi ahli waris utama dari incaran orang-orang yang ingin menghancurkan Keluarga Lowerth.
“Sungguh berat Ayah membuat sebuah keputusan, tetapi kita hanya memiliki dua pilihan,” ucap Grissham setelah selesai menjelaskan isi Ultimatum itu.
Grissham menatap James dengan tatapan serius. “Teruntuk James Lorwerth. Apabila kau masih tetap ingin menjadi bagian dari Keluarga Lorwerth maka tetaplah bekerja di Lorwerth Corporation dengan gajih tiga kali lipat dan aku juga sudah memberimu rumah beserta fasilitas mewah. Namun, kau sama sekali tidak mendapat warisan apa pun dariku.”
Rebecca sontak membulatkan mata penuh, kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh ayah mertuanya itu.
“Bagaimana bisa, Ayah? Jadi, selama ini James bukanlah anak kandung kalian? James hanyalah anak angkat? Astaga kenapa bisa aku menikahi pria tidak berguna ini! Bagaimana nasib anakku nanti,” Rebecca mengacak rambutnya frustrasi.
James langsung beranjak dari duduknya kemudian merangkul Rebecca untuk menenangkan wanita itu.
“Tenang, Rebecca. Aku akan berusaha keras untuk anak kita. Lagi pula Ayah masih mengijinkanku bekerja di kantornya dengan gajih tiga kali lipat dan rumah dan fasilitas mewah. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan,” ucap James lembut pada istrinya itu.
Rebecca menepis tangan James yang merangkulnya itu.
“Bagaimana kau bisa setenang ini menerima keputusan bodoh keluargamu!”
Rebecca langsung pergi begitu saja, tanpa pamit pada Grissham dan juga Rihanna. Jujur, jauh di lubuk hati Rihanna kecewa pada Rebecca ternyata wanita itu tidak sesuai dengan ekspektasi Rihanna bahkan Rihanna merasa malu pada putranya Zean yang dulu sempat meminta Zean bertunangan dengan wanita itu.
“Rebecca!” seru James hendak mengejar istrinya itu.
“Abaikan dia, James!” Bentak Grissham menghentikan langkah kaki James.
Meski pun James itu tipe pria pemain, terlihat brengsek dan arogan, tapi kalau sudah berhadapan dengan keluarga Lorwerth dia akan seperti anak anjing yang menurut pada majikan. James tidak berani menentang Keluarga Lorwerth karena dia sangat berterima kasih pada keluarga yang sudah mengadopsinya sejak kecil.
“Baik, Ayah,” James kembali duduk.
Kini tatapan Grissham beralih menatap putra sematawayangnya itu.
“Tidak, Ayah. Apa pun keputusan yang sudah Ayah buat untukku, aku akan menentangnya,” ucap Zean seolah paham ke mana arah pembicaraan ini nantinya.
“Jangan seperti itu pada Ayahmu, Zean.” Rihanna memberi peringatan pada Zean.
Grissham mendekati Rihanna lalu mengelus pucuk kepala wanita yang duduk di kursi roda itu. “Tenang, sayang. Biar aku bicara dengannya.”
Grissham kembali menatap Zean, kali ini tatapannya berubah dingin.
“Ayah tahu pilihanmu, Zean. Sudah pasti kau akan memilih wanita yang kau cintai itu, kau tidak akan peduli dengan harta kekayaan terutama menyangkut warisan ini,” ucap Grissham menebak pikiran putranya itu.
“Kau tidak harus menikah lagi, Zean. Kau hanya perlu menemukan wanita yang bisa memberimu keturunan karena mau tidak mau kau harus tetap melanjutkan garis keturunan Lorwerth. Ingat kau adalah ahli waris utama, jika tidak semua kekayaan Keluarga Lowerth akan di donasikan pada yayasan-yayasan dan saham serta aset-aset harus dilelang. Pikirkan, Zean. Pikirkan juga bagaimana perjuangan kakek buyutmu dalam mendirikan Lorwerth Corporation,” ungkap Grissham pada Zean yang masih belum bereaksi.
Zean beranjak dari duduknya, ia hendak segera pergi dari sana. Zean tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
“Tunggu, Zean! Jika kau menolak untuk melanjutkan garis keturunan keluarga ini lalu tidak akan ada Lorwerth lainnya di dunia ini. Coba kau pikiran lagi, apa Irene akan mendukung keputusanmu ini?” ucapan Grissham kali ini berhasil membuat Zean berpikir sepuluh kali lipat. Tentu jika Irene tahu tentang ultimatum ini Irene akan sangat mendukung Zean untuk bisa melanjutkan keturunan Lorwerth dan mendapatkan hak warisnya. Namun, membayangkannya saja Zean tidak bisa. Bagaimana dia akan tidur dengan wanita lain sedangkan dia sangat mencintai Irene? Bisa gila hanya dengan memikirkannya saja.
“Ayah benar, Zean. Kau harus memikirkan ini dengan kepala dingin jangan hanya menggunakan hatimu yang jelas mencintai Irene. Cobalah minta pengertian pada istrimu, sebagai seorang wanita ibu yakin Irene pasti akan mengerti,” ucap Rihanna mencoba membuat Zean membuka pikirannya.
James beranjak dari duduknya beralih pindah duduk di samping saudara angkatnya itu.
“Ayolah, bung! Jangan buat keputusan sepihak, aku yakin Irene adalah wanita yang pengertian,” ucap James mencoba memberi dukungan pada Zean karena akan sangat disayangkan sekali perjuangan kakek buyut Keluarga Lorwerth jika akhirnya seluruh warisan dan harta kekayaan ini di sumbangkan cuma-cuma.
Zean memijit kepalanya yang mulai pusing, ia mulai memikirkan ucapan semua orang di sini. Zean tidak tahu keputusan apa yang harus ia perbuat sekarang. Di sisi lain jujur Zean juga ingin bisa melanjutkan kembali garis keturunan Keluarga Lorwerth dan ia juga tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan kakek buyutnya dalam mendirikan perusahaan besar ini. Namun, di sisi lain juga ia sangat memikirkan perasaan Irene nantinya. Sekali pun Irene setuju dan pasti akan mendukungnya, tapi tetap saja wanita mana yang sanggup melihat suaminya bercinta dengan wanita lain untuk mendapat keturunan.
Tiba-tiba Zean beranjak dari duduknya, ia hendak pergi dari sana. Zean butuh waktu sendiri untuk memikirkan hal ini, dia juga harus segera kembali dan mendiskusikan hal ini dengan Irene.
“Aku harus kembali ke Praha. Aku butuh waktu untuk memutuskan hal ini,” ucap Zean berlalu pergi dengan tatapan kosongnya.
Grissham, Rihana dan James menatap prihatin kepergian Zean. Mereka pun merasa berat dengan putusan ini, tapi hal ini semestinya memang harus terjadi karena ini sudah menjadi ultimatum Keluarga Lorwerth.