Stranger's In Love

Stranger's In Love
9|WHERE ARE YOU?



Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)


.


.


.


Melbourne 07.35 am


Irene menyipikan mata ketika secercah cahaya matahari masuk melaluicelah-celah gorden yang masih tertutup, tidak sampai rapat. Irene sedikit beranjak dengan sikut kiri yang menumpu tubuhnya, dan tangan kanannya melindungi wajah dari cahaya matahari. Ia diam sejenak, mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadarannya lalu beranjak duduk sepenuhnya.


Irene melirik nakas di sebelah ranjangnya, di atas nakas ada sepiring sandwich dan segelas susu serta ada sebuah note yang diselipkan di bawah piring, note itu bertuliskan "Jadi, apa kau sangat mengkhawatirkan ku?"


Tanpa Irene sadari kedua sudut bibirnya melengkung, ia tersenyum. Detik kemudian Irene tersadar, dasar bodoh kenapa ia tersenyum hanya karena membaca sebuah kalimat dari note yang Zean tuliskan.


Irene beranjak dari ranjang menuju sebuah cermin besar yang terletak di dekat lemari. Ia melihat pantulan dirinya di cermin.


"Ada apa denganmu Irene? Kau tersenyum seperti orang bodoh hanya karena sebuah note!" ucap Irene pada pantulan dirinya di cermin.


Ingatan Irene kembali memutar kejadian saat menuju bandara malam itu. Jujur, sebenarnya ada ribuan pertanyaan di benak Irene saat ini. Siapa sebenarnya Arzean Lorwerth? Kenapa ada yang mengincarnya dan ingin membunuhnya? Lalu bagaimana bisa Zean selamat malam itu? Siapa yang membantunya? Apa ada seseorang yang lain yang tengah mengawasi Zean atau menjaga Zean dari jarak jauh? Atau apa atau kenapa dan atau bagaimana?


'Tok...tok...' suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Irene, lalu pintu terbuka, ada seorang wanita dengan pakaian pelayan yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatap Irene yang juga menatap wanita itu dengan tatapan bingung.


"Selamat pagi, nona" sapa wanita itu berjalan mendekati Irene.


Irene bergeming, ia bingung, siapa wanita ini? Dan sebenarnya dimana Irene saat ini?


"Perkenalkan saya Linzy, pelayan di rumah ini, nona" ucap wanita itu memperkenalkan diri.


Irene menautkan alisnya.


"Dimana Zean?"


"Mr.Lorwerth ada pertemuan rapat presdir. Dan saya ditugaskan untuk menjaga dan mengurus semua keperluan nona selama di Melbourne" jelasnya.


Tunggu dulu, apa kata pelayan tadi? Zean ada pertemuan rapat presdir? Sedangkan Irene yang notabennya sekretaris Zean malah sedang bermalas-malasan bahkan baru saja bangun dari tidur beberapa menit yang lalu. Sekrestaris macam apa Irene.


"Aku harus bersiap dan menyusulnya ke pertemuan itu" ucap Irene.


Pelayan itu tersenyum lalu menggeleng pelan.


"Tidak, nona. Yang harus nona lakukan hanya tetap diam di rumah ini dan tunggu hingga Mr.Lorwerth kembali. Itulah yang Mr.Lorwerth sampaikan kepada saya, sebelum Mr.Lorwerth pergi" ucap pelayan itu.


Irene semakin tidak mengerti, jika Zean pergi ke pertemuan itu tanpa dirinya lalu untuk apa Irene ada di sini sebagai sekretarisnya?


"Tunggu dulu, aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Linzy, perlu kau ketahui aku adalah sekretatisnya Mr.Lorwerth. Bagaimana bisa dia pergi ke pertemuan itu tanpa diriku? Lalu untuk apa aku ada di sini sebagai sekretarisnya" jelas Irene.


"Maaf, nona. Tetapi Mr.Lorwerth meminta saya untuk menjaga nona karena nona adalah kekasih Mr.Lorwerth. Dan ya, bahkan Mr.Lorwerth sempat membuatkan nona sepiring sandwich sebelum Mr.Lorwerth pergi" ucap Linzy.


Irene membuka mulut tak percaya dengan apa yang dikatakan Linzy barusan. Zean mengatakan bahkan Irene adalah kekasihnya? Dan apa barusan, Zean membuatkannya sandwich untuk Irene?


"Apa pria itu benar-benar sudah gila?!" seru Irene.


Kini giliran Linzy yang menatapnya bingung.


"Ada apa, nona? Apa ada yang salah?" tanya Linzy.


"Tentu, tentu ada yang salah. Linzy jangan perlakukan aku seperti ini, aku bukan kekasih Mr.Lorwerth" jelas Irene.


"Tapi, nona-"


"Aku harus menelpon pria itu" potong Irene seraya mengambil ponselnya.


Irene menatap layar ponselnya, mencari kontak seseorang yang ia berinama 'Stranger' lalu mengklik panggilan. Irene berusaha menelpon Zean namun tak ada jawaban. Irene terus mencoba beberapa kali namun Zean tak mengangkat teleponnya.


Irene menghela napas, memijit kepalanya yang tak pusing sedangkan Linzy masih menatapnya bingung.


"Kenapa dia tidak menjawab teleponku" ucap Irene frustasi lalu beralih menatap Linzy yang sedari tadi bergeming.


"Linzy kau bisa pergi, aku butuh waktu untuk sendiri. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan sesuatu" ucap Irene.


Linzy mengangguk patuh lalu beranjak pergi meninggalkan Irene di kamar itu.


Irene kembali menatap layar ponselnya, kini ia mencari kontak Alice, mengingat ia tidak sempat berpamitan sebelum ia tahu jika Zean menjemputnya untuk pergi ke Melbourne.


"Halo, Alice" ucap Irene.


"Oh my god! Aku sangat merindukanmu, berapa lama kau akan berada di Melbourne?" sahut Alice di seberang telepon.


Irene bergeming, menautkan alisnya bingung.


Alice tahu jika Irene saat ini berada di Melbourne?


"Alice, bagaimana kau bisa tahu? Bahkan aku tidak sempat memberitahumu" tanya Irene.


"Mr.Lorwerth sendiri yang menelponku dan mengatakan bahkan kalian ada perjalanan bisnis di Melbourne, dan pria itu meminta ijin dari ku. Dia juga mengatakan dia akan selalu memastikan kau baik-baik saja, agar aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu di sana" jelas Alice.


Mendengar itu, Irene terdiam mencerna setiap kalimat yang ia dengar. Jadi, Zean sendiri yang menelpon Alice? Kenapa Zean bersikap seperti ini, meminta ijin kepada Alice dan bahkan mengatakan dia akan menjaga Irene.


"Halo, Irene" ucap Alice di seberang telepon.


"Apa kau mendengarku" ucapnya lagi memastikan.


Irene tersadar dari pikirannya yang menjalar liar memikirkan sikap Zean.


"Iya, aku mendengarmu, Alice" sahut Irene.


"Baiklah, kau bisa menelponku lagi nanti. Aku harus segera bersiap untuk rapat. Dan ya, jaga dirimu baik-baik, aku percaya dan yakin Arzean Lorwerth adalah pria yang baik"


"Hm" ucap Irene lalu menutup telepon itu.


Sejenak tanpa Irene sadari, ia selalu berhasil tersenyum oleh semua sikap Zean dan perasaan gadis itu semakin tak menentu, Zean telah membangkitkan sebuah rasa aneh pada benak Irene. Perasaan macam apa ini?


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Zean memijit kepalanya yang sedikit pusing, ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, pukul 23.45 pm. Seharian ini Zean sibuk dengan rapat pertemuan presdir dan setumpuk beban pekerjaan dari perusahaannya yang di Melbourne ini. Grissham Lorwerth, ayah Zean, memang sudah menyerahkan kekuasaan penuh terhadap Zean untuk mengelola seluruh perusahaannya yang hampir tersebar di seluruh penjuru dunia, terutama di kota-kota besar.


Zean beranjak dari duduknya berjalan menuju jendela besar di ruangan, Zean menatap indah pemandangan Kota Melbourne malam ini. Seketika ingatannya kembali pada gadis yang ia buatkan sarapan pagi tadi, ya siapa lagi gadis itu, sudah pasti Irene Banner. Zean mengambil ponselnya untuk menghubungi gadis yang sangat ia rindukan itu.


Zean menautkan alisnya lalu tersenyum menatap layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Irene, sekitar pukul delapan pagi. Bukannya sengaja Zean tak menjawab panggilan dari Irene, tetapi memang seharian ini Zean hanya terfokus pada pekerjaannya walau sesekali pikirannya kacau dan teringat pada wajah cantik Irene dan bibir pinknya yang selalu mengoceh pada Zean.


"Jadi, dia berusaha menghubungiku tadi pagi" ucap Zean pada dirinya sendiri.


Zean ingin mengklik panggilan untuk menghubungi gadis itu, namun ia mengurungkan niatnya. Biarlah tetap seperti ini, untuk saat ini Zean membiarkan rindu leluasa masuk menyiksa dirinya, ia memilih untuk secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya dan dengan segera akan menebus ribuan detik waktu bersama Irene yang terbuang karena harus mengurus bisnisnya. Zean berjanji setelah semua urusan bisni ini selesai, ia akan menemui gadisnya, Irene Banner.