Stranger's In Love

Stranger's In Love
29|MY PREGNANCY



Irene menyentuh perutnya yang masih datar. Ia tidak menyaka dirinya tengah mengandung empat minggu saat ini, pantas saja akhir-akhir ini ia sering merasa pusing dan mual di pagi hari ternyata ia mengalami morning sickness. Irene senang, ia tengah mengandung anak dari pria yang ia cintai yaitu Arzean Lorwerth. Tapi di sisi lain, tidak bisa ia lupakan jika Zean sudah bertunangan dengan Rebecca Hilton. Sakit, sesak rasanya mengingat cinta dan hubungan yang salah ini. Irene mengelus-elus perutnya, detik kemudian air mata jatuh membasahi kedua pipinya hingga turun mengenai perut datarnya, ia menangis sambil menunduk menatap perutnya itu.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampakkan Zean yang kini berjalan mendekati Irene yang duduk di bibir ranjang. Dengan segera Irene menghapus jejak air mata di pipinya.


"Are you okay?" tanya Zean, ia kaget melihat mata Irene yang terlihat sembab.


"Kenapa kau menangis, Irene?" tanyanya lagi.


Irene tersenyum lalu menggeleng. "Aku tidak menangis"


Zean menatap Irene dengan tatapan serius, ia tahu gadisnya ini sedang berbohong.


"Kau sedang hamil, aku ingin anak kita tetap baik-baik saja. Tolong jaga kondisimu jangan sampai stres atau kelelahan" pinta Zean.


Irene tersenyum miris lalu menyentuh perutnya dan menatapnya sekilas lalu kembali menatap Zean.


"Dia tidak akan menjadi anak kita, dia hanya anak ku. Kau sudah bertunangan, Zean. Jangan menyakiti Rebecca dengan cara seperti ini. Aku juga seorang wanita, aku tidak ingin menyakitinya karena kehamilanku ini. Kau harus kembali padanya, Zean. Tinggalkan aku, aku tidak akan membebanimu, aku akan mengurus anakku sendiri. Kau tidak usah khaw-" ucapan Irene terpotong karena tiba-tiba Zean menciumnya.


Zean benci ketika Irene seperti ini, ia selalu memikirkan pertunangan sialan itu. Zean sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan pertunangannya itu karena ia mencintai Irene maka ia akan memperjuangkan gadisnya itu.


Zean melepas ciumannya, lalu menatap Irene lembut.


"Tolong jangan katakan itu, jangan memintaku untuk pergi meninggalkanmu. Itu adalah hal bodoh yang sering kau ucapkan padaku, Irene" ucap Zean.


Irene memejamkan mata sesaat dan bulir air kembali jatuh. Irene mencintai Zean, tapi ia tidak bisa egois karena ia masih memikirkan perasaan Rebecca.


"Kita tidak bisa seperti ini, Zean. Bahkan aku yakin, anak dalam kandunganku pun tidak menginginkan hubungan yang rumit ini. Aku-" ucapan Irene terpotong karena Zean kembali menciumnya.


Irene berusaha mendorong tubuh Zean agar melepas ciumannya. Tapi Zean terlalu kuat, pria itu malah melingkarkan tangannya di pinggang kecil Irene.


"Berhenti menciumku!" Irene mulai kesal pada Zean yang selalu memotong pembicaraannya dengan cara menciumnya.


"Aku tidak akan berhenti menciummu jika kau terus mengatakan omong kosong. Ini adalah hukuman, Irene" Zean mengancamnya.


Irene kesal, ia beranjak namun dengan segera Zean memeluknya.


"Lepaskan aku, Zean!" pinta Irene.


Zean mempererat pelukannya. "Tidak"


Irene mendengus kesal. "Aku lelah, apa yang kau inginkan, Zean" Irene mulai putus asa pada pria ini.


"Jangan pergi, Irene" Zean semakin mempererat pelukannya.


"Dan jangan memintaku untuk pergi meninggalkanmu" lanjut Zean lalu kembali


mencium gadisnya itu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Malam ini Zean akan kembali ke Boston untuk memutuskan pertunangannya dengan Rebecca. Zean sudah memikirkan ini, ia akan menikah dengan gadis yang ia cintai yaitu Irene Banner. Sebelum ke bandara Zean mengantar Irene pulang ke rumah Kim. Irene enggan untuk kembali ke Boston karena ia memilih untuk tinggal di Korea bersama Ainsley, ibunya itu.


"Apa kau mau mampir sebentar?" tanya Irene sambil melepas seatbeltnya.


Zean menoleh, menatap Irene sekilas lalu menatap arloji yanh melingkar di tangan kirinya. "Tidak, aku harus segera ke Boston" ucapnya.


Irene mengangguk lalu menatap Zean. "Kabari aku jika kau sudah tiba di Boston" pesan Irene.


Zean tersenyum, senang rasanya Zean tidak menyangka Irene akan mengatakan hal itu.


"Tentu, Ms.Lorwerth" ucap Zean, sengaja memanggil Irene dengan nama Ms.Lorwerth.


Irene melotot tak percaya lalu mencubit kecil lengan kekar Zean. "Aku adalah Ms.Banner bukan Ms.Lorwerth" keluhnya.


Blushh, pipi Irene memerah seperti kepiting rebus.


Zean tersenyum melihat pipi Irene yang memerah lalu mengacak rambut Irene.


"Kau terlihat lucu dengan pipi merah seperti ini" ledek Zean.


Dengan segera Irene menyentuh kedua pipinya, berusaha menutupinya dari Zean.


"Sialan kau, Zean!" ucap Irene membuka pintu mobil lalu turun dan segera beranjak memasuki rumah.


Zean terkekeh melihat tingkah gadisnya itu, lalu ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Kim. Zean harus kembali ke Boston untuk menyelesaikan urusannya dengan Rebecca.


Irene melewati ruang tengah, di sana ada Kim, Alice dan Geraldine. Tunggu! Tunggu dulu! Ada Alice dan Geraldine? Kenapa mereka bisa ada di Korea?


"Irene!" Alice langsung memeluk adik angkatnya itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Alice sangat khawatir. Karena Kim sempat menelepon Gerald dan mengatkan bahwa Irene hilang di pantai. Kim menyuruh supir untuk menjemput Irene di Pantai tapi Irene menghilang, lalu Kim sulit untuk menghubungi gadis itu.


Alice menguraikan pelukannya lalu menatap Irene khawatir.


"Kenapa kau tidak menghubungiku, Irene?" kini giliran Gerald yang meluapkan kekhawatirannya.


"Dan siapa pria yang menjawab teleponku, Irene?" Kim juga ikut menyerangnya dengan pertanyaan.


Irene terdiam menatap Alice, Gerald dan Kim bergantian. Oh, tamat sudah riwat gadis itu. Apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin ia mengatakan jika Zean yang menculiknya di pantai lalu membawanya secara paksa ke apartemen dan di pagi hari Irene mengalami morning sickness% karena ia tengah mengandung empat minggu.


"Jawab, Irene!" bentak Gerald. Oke, sisi seorang kakak mulai muncul pada Gerald, ia benar-benar khawatir pada adiknya itu.


"Gerald" Alice mencoba menyadarkan kekasihnya untuk tidak terlalu keras kepada Irene.


"Dia membuat kita semua khawatir, Alice" Gerald beralih menatap Alice.


"Aku bertemu dengan teman SMA ku dulu lalu kami berbincang hingga larut malam dan aku memutuskan untuk bermalam di rumahnya. Lagi pula, aku sangat dekat dengan keluarganya jadi tidak usah khawatir jika menginap di sana" Irene berbohong sambil menatap Kim, karena ia takut jika Kim mengatakan apa yang dia dengar di telepon kemarin.


Kim hanya diam, ia seolah tak ingin mengacaukan drama bohong yang sedang Irene perankan. Kim ingat betul percakapannya di telepon kemarin. Irene mengatakan bahwa Kim adalah calon suaminya lalu kemudian ada suara seorang pria yang mengatakam bahwa pria itu tidak akan menyakiti Irene karena dia mencintai Irene.


Alice tersenyum lalu kembali memeluk Irene. "Tidak apa, yang terpenting saat ini kau baik-baik saja" ucapnya.


"Jangan seperti ini lagi, Irene. Kau membuat semua orang khawatir" ucap Gerald lalj beranjak pergi.


"Gerald" panggil Alice lalu mengikuti Gerald.


Kini tinggal Irene dan Kim di ruang tengah, saling menatap penuh tanya.


"Jadi, kau berbohong" ucap Kim.


Irene menunduk. "Mianhae" ucapnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa pria yang bersamamu saat itu?" tanya Kim penasaran.


"Tidak ada yang terjadi dan dia hanyalah temanku. Itu saja, jangan bertanya lagi, ku mohon" jawab Irene.


Kim menatap Irene dengan penuh keraguan, ia tahu ada yang Irene sembunyikan. Tapi Kim memilih diam, ia enggan menginterogasi sepupunya ini.


"Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak peduli selama itu demi kebaikanmu, Irene" ucap Kim mengalah.


Irene tersenyum lebar lalu memeluk Kim. "Kau adalah sepupu terbaik yang aku miliki di muka bumi ini" ucapnya.


Irene lega, setidaknya Kim tidak terlalu ingin tahu permasalahannya walau pria itu terlihat penasaran setengah mati. Untuk saat ini Irene masih aman. Tapi ini tidak akan berlangsung lama, bagaimana gadis itu akan menyembunyikan kehamilannya ini? Dan tidak mungkin juga ia menceritakan semuanya, Alice, Gerald dan Kim pasti akan sangat kecewa. Dan soal mom, Irene masih belum sempat untuk menceritakannya pada Gerald.