Stranger's In Love

Stranger's In Love
76|GUEST



Beberapa menit kemudian Tae-O akhirnya berhasil mengakses lebih dalam lagi hingga meretas seluruh keamanan dark web itu. Mereka menemukan sebuah katalog online seperti foto produk atau barang dagangan di GRD Gallery.


“Tidak mungkin!” seru Irene dan Tae-O bersamaan.


Dalam katalog GRD Gallery terdapat foto produk-produk random seperti mantel bulu harimau, kalung gading gajah, minyak ikan hiu, dan yang paling mengejutkannya adalah saat menyelami lebih dalam lagi GRD Gallery ini juga menjual organ tubuh manusia seperti mata, ginjal, hati hingga jantung.


“Siapa sebenarnya Geraldine Ricardo? Dia kakak kandungku tapi seperti orang asing bagiku,” gumam Irene.


Tae-O menggeleng heran. “Aku juga sebagai sepupu yang tidak mengenal Geraldine dengan baik,” tambahnya.


Tae-O dan Irene terus menggali informasi yang bisa mereka dapat dari situs web gelap itu, mereka terus mencari sampai menemukan fakta-fakta mengerikan tentang GRD Gallery yang ternyata menjalankan bisnis ilegal melalui jejaring internet gelap.


“Kita harus bisa menyadapnya untuk mengetahui bagaimana alur bisisnya bekerja,” Irene memikirkan cara untuk bisa menyadap kakaknya itu tanpa curiga.


“Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mendekatinya, Noona,” saran Tae-O.


Irene mengangguk setuju kemudian ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Gerald.


“Halo, Gerald,” sapa Irene saat telepon itu terhubung.


“Ada apa adikku?” tanya Gerald, tumben sekali Irene menelepon seperti ini.


“Aku ingin mengunjungimu dan aku juga sangat ingin bertemu dengan Alice, apa kau bisa meluangkan waktu?” tanya Irene berharap Gerald mau bertemu dengannya.


Hening sejenak sepertinya Gerald sedang berpikir.


“Bagaimana?” tanya Irene lagi karena masih belum ada jawaban dari kakanya itu.


“Kau boleh mengunjungiku kapan saja, tapi aku sedang tidak bersama Alice karena aku masih di Praha,” jawab Gerald akhirnya.


Sebenarnya Irene masih terus berpikir kenapa Gerald tidak mengajak Alice ikut dengannya ke Praha. Saat di pesta grand opening itu Gerald mengatakan bahwa Alice hamil, tapi kenapa Alice tidak mengabari Irene tentang kehamilannya? Dan akhir-akhir ini Alice hanya berkirim pesan, biasanya sesekali Alice meneleponnya bahkan melakukan panggilan video. Selain itu, kenapa Daniel Ricardo, Ayahnya tidak menghadiri pesta tersebut? Bukankah pesta grand opening itu harusnya menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang Ayah atas keberhasilan anaknya? Coba pikir bahkan Gerald tidak mengundang Irene datang padahal Irene adalah adiknya. Apa pesta itu diselenggarakan untuk orang-orang tertentu saja?


“Halo, Irene,” ucap Gerald di seberang telepon menyadarkan Irene dari lamunannya.


“Ah, iya. Sampai bertemu di Praha,” sahut Irene lalu menutup panggilan itu.


Irene langsung menatap Tae-O dan menyampaikan kejanggalan-kejanggalan dari pemikirannya tadi.


“Ah, Noona. Coba kau tanyakan pada temanmu si Cassandra. Siapa saja tamu undangan di pesta Grand Opening hotel itu, nanti aku akan mencari informasi pribadi setiap tamu,” saran Tae-O.


“Oke.”


Irene langsung menghubungi Cassandra. Melalui telepon, Cassandra memberi beberapa informasi terkait pesta itu. Tamu yang datang ke pesta itu hanyalah orang-orang yang satu bisnis dengan Gerald dan sama sekali tidak ada orang asing di pesta itu kecuali Irene karena Cassandra yang mengajaknya datang tanpa undangan.


“Apakah ini yang menjelaskan penembakan Cassandra hari itu?” pikir Irene setelah mendapat seluruh informasi terkait tamu undangan.


Tae-O menjentikan jarinya saat ada pikiran yang terlintas di otaknya. “Jadi alasan penembakan itu adalah karena Cassandra mengajak Noona datang ke pesta itu sebagai tamu yang tak diundang, begitukah?”


“Ini benar-benar gila, hanya karena hal seperti itu sampai melakukan penembakan,” Irene meluruh duduk di sofa, ia syok dengan fakta ini.


Sedangkan Tae-O masih berusaha menggali informasi pribadi setiap tamu undangan.


“Aku menemukannya, Noona. Setiap tamu undangan yang datang semuanya berlatar belakang konglomerat, mereka adalah orang-orang kaya berstatus VVIP. Bahkan temanmu si Cassandra itu memiliki sebuah museum barang antik bernama ‘Lee Da Museum’ di dark web dan itu juga berstatus ilegal,” ungkap Tae-O.


Irene menggeleng tidak percaya dengan semua fakta mengejutkan ini, bisnis apa yang sebenarnya mereka jalankan?


“Aku tidak tahan lagi, kita harus segera ke Praha,” putus Irene.


“Ayo, Noona. Aku juga sudah sangat penasaran.”


Lalu mereka membereskan barang dan pelaran yang nantinya akan di butuhkan untuk meretas data dan menyadap Geraldine Ricardo.


“Aneh, kenapa Irene mendadak menanyakan soal tamu undangan di pesta Grand Opening Mr. Ricardo, ya?” gumam Cassandra bingung saat setelah menutup panggilan dari Irene tadi.


Allan yang awalnya berdiri menatap jendela di kamar itu kini beralih mendekati Cassandra yang duduk di sisi ranjang.


“Sejak kapan kau berbisnis dengan, Geraldine Ricardo?” tanya Allan menatap Cassandra dengan tatapan yang mengintimidasi.


“Itu bukan urusanmu, Allan,” sahut Cassandra ketus, ia seolah kesal ditanyakan hal itu.


“Kenapa kau jadi berubah begini? Aku hanya menanyakan hal sepele kan,” sergah Allan.


Cassandra mendelik. “Hal sepele katamu? Bisnis itu bukan hal sepele, Allan! Bisnis itu privasi! Privasi! Pri-va-si!”


Allan tertawa renyah seraya beralih duduk di samping Cassandra. “Privasi?”


“Mana ada bisnis privasi, justru bisnis itu harus terbuka agar orang lain tahu,” ucap Allan lagi.


Cassandra menghembuskan napas kasar, ia mulai kesal. Namun, ia mencoba menahan amarahnya. “Sudahlah! Kau tidak mengerti lebih baik kau diam saja!”


Allan mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dengan Cassandra, wanita itu menelan ludah susah payah karena tatapan Allan yang begitu mengintimidasinya. Cassandra hendak menjauh, tapi tubuhnya terlalu lemah akibat efek luka tembak ini.


“Menjauh dariku, Allan!” seru Cassandra.


Allan tidak peduli, ia masih mendekatkan dirinya dengan Cassandra hingga jidat mereka saling bersentuhan bahkan mereka bisa merasakan hembusan napas yang saling menerpa wajah mereka.


“Apa yang kau smebunyikan dariku, Cassandra?” tanya Allan kemdian masih dengan posisinya.


Cassandra mencoba menjauhkan kepalanya, tapi tangan Allan menahan kepala belakangnya jadi wanita itu masih tetap pada posisinya.


“Apa yang sedang kau lakukan, Allan!” Cassandra mulai frustrasi menghadapi Allan yang mendadak aneh ini.


Allan menyunggingkan seulas senyum lalu detik kemudian aksi Allan sungguh di luar dugaan, pria itu menghapus jarak di antara keduanya.


“Menciummu,” ucap Allan sesaat sebelum mengecup singkat bibir Cassandra.


“Kau gila! Kenapa kau ̶ ” ucapan Cassandra terhenti karena Allan menciumnya lagi.


Cassandra dengan sisa tenaga yang ia miliki berusaha untuk mendorong Allan, tapi sia-sia ia terlalu lemah saat ini. Cassandra pun pasrah hingga akhirnya Allan berhenti menciumnya.


PLAK! Cassandra langsung menampar Allan, ia benar-benar kesal dengan aksi Allan tadi.


“Kau kelewatan, Allan! Kau pikir aku wanita seperti apa, hah!”


Allan hanya diam seraya menatap wanita dihadapannya yang sangat kesal padanya saat ini.


“Apa yang ada dipikiramu, bodoh!” ketus Cassandra.


Allan masih menatap wanita itu. “Aku ingin mengenalmu lebih jauh, aku ingin melewati batasan denganmu, aku ingin berbagi rahasia denganmu, aku ingin kau, Cassandra Lee Damora.”


Deg! Seketika jantung Cassandra berpacu tak menentu, ada perasaan senang di hatinya saat mendengar ucapan Allan tadi.


“Apa maksudmu, Allan?” tanya Cassandra ragu.


Allan menggeleng pelan. “Entahlah, aku sendiri baru menyadarinya. Saat mendengar kabar kau tertembak, rasanya seperti sebagian dari diriku hancur. Saat menunggumu di luar ruang operasi, rasanya seperti aku hampir gila. Saat melihatmu terbaring lemas dengan mata terpejam, rasanya seperti aku akan mati. Dan saat merawatmu selama di rumah sakit, rasanya aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin menjaga dan menyayangimu sebagai wanitaku, Cassandra.”


Cassandra menatap Allan dengan mata berkaca-kacanya ia terharu dengan ketulusan Allan ini, belum pernah ada pria yang mengungkapkan perasaan yang begitu tulus padanya, kecuali Bram Scoot, pria yang pernah menjadi orang yang paling Cassandra cintai sampai akhirnya maut yang memisahkan mereka.


“Allan,” Cassandra mencoba mengatakan sesuatu, tapi Allan mendahuluinya.


“Aku tidak ingin dengar jawaban darimu sekarang. Kau bisa menjawabnya saat kau sudah benar-benar membaik. Untuk sekarang, mari kita fokus mencari pelaku penembakanmu,” ucap Allan kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Cassandra sendirian di kamarnya. Allan ingin memberi Cassandra waktu sendiri, wanita itu pasti kaget dengan perubahan sikapnya.