Stranger's In Love

Stranger's In Love
14|SHE LOVES HIM



Irene berada di ruangannya, duduk di kursi kerjanya sambil mengerjakan berkas dokumen yang harus diajukan dan ditandatanganin segera oleh Zean. Sudah setengah harian gadis itu fokus pada pekerjaannya, namun sesekali pikirannya melenceng dari pekerjaan. Ia memikirkan Zean terutama setelah kejadian semalam, pria itu tidak menghubunginya lagi.


Jujur, Irene merasa bersalah dengan pernyataannya semalam bahwa ia tidak mencintai Zean. Seperti ada yang salah dari ucapannya itu, hati Irene seolah tak setuju dengan kalimat yang ia lontarkan semalam. Perasaan aneh kembali muncul, mengganggu hati dan pikiran Irene, semua ini karena Zean. Apa Irene mencintainya? Atau ini hanya sebuah perasaan bersalah karena ia tidak bisa membalas perasaan Zean?


Irene menghela napas lalu memejamkan mata sejenak, ia penat. Kemudian ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, pukul 01.00 pm. Irene memutuskan untuk pergi makan siang. Ia keluar dari ruang kerjanya berjalan menuju lift, ia memicingkan matanya mencoba meyakinkan penglihatannya dari dua orang pria yang berdiri di depan lift. Ya, itu Zean dan seorang pria yang tidak asing baginya.


"Irene!" sapa pria itu yang melihat Irene berjalan mendekati lift.


Senyum Irene mengembang, ia mempercepat langkahnya dan langsung memeluk pria itu.


"Hans" ucap Irene yang sudah memeluknya.


Pria itu adalah Hans, Hans Nicolas. Hans adalah teman dekat Irene ketika ia tinggal di Tokyo dan Hanslah yang mengajari Irene mengemudi serta menguasai teknik-teknik drift. Dan, iya, Hans juga seorang Hashiriya.


Mereka menguraikan pelukannya dan menatap Zean bergantian. Zean menatap mereka dengan wajah datarnya yang tidak terkejut sedikit pun melihat kedekatan Hans dan Irene. Karena sejak awal Zean memang sudah mengetahui ini.


"Apa kau dan Mr.Lorwerth saling mengenal?" tanya Irene.


"Iya" jawab Hans.


"Apa kau bekerja di sini?" tanya Hans.


"Iya, aku sekretaris Mr.Lorwerth" jawab Irene sambil menatap Zean yang tak menatapnya balik.


"Zean kenapa kau tidak memberitahuku jika Irene bekerja di perusahaanmu?" tanya Hans.


Irene menautkan alisnya, bingung. Apa Zean tau jika Irene dan Hans berteman dekat?


Zean menatap dingin Hans. "Apa itu penting?"


Hans terkekeh dengan tingkah Zean, sudah pasti Hans tahu jika Zean sedang tidak baik-baik saja.


"Apa kau sedang datang bulan?" tanya Hans pada Zean.


Zean mendelik lalu menekan tombol lift dan lift terbuka, dengan segera ia masuk tanpa menghiraukan Hans dan Irene yang masih mematung. Detik kemudian Zean menekan tombol di dalam lift dan pintu lift tertutup.


"Ada apa dengannya?" ucap Irene tiba-tiba.


Hans beralih menatap Irene dengan senyum jahilnya.


"Apa kau memikirkan Zean? Sepertinya kau sangat peduli dengan perubahan sikap Zean, apa kau menyukainya?" Hans menyerang Irene dengan pertanyaan-pertanyaannya.


Irene memutar bola mata malas.


"Apa kita bisa pergi makan siang? Aku sangat lapar, bahkan aku ingin memakanmu sekarang juga, Hans!" ucap Irene mendahului pergi, yang diikuti Hans dengan tawa gelinya.


Irene dan Hans duduk di sebuah kafe yang letaknya berseberangan dengan gedung Lorwerth Corporation.


"Jadi, kau dan Zean saling mengenal?" tanya Irene membuka obrolan.


Hans memotong daging steaknya.


"Iya, bahkan dia juga mengenalmu, Irene"


"Bagaimana bisa dia mengenalku? Sedangkan aku tidak mengenalnya" Irene bingung.


"Zean adalah anak dari rekan kerja ayahku, dan kami mulai dekat sejak Zean dan ayahnya datang ke Tokyo untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan ayahku. Aku dan dia menjadi dekat,kita menceritakan banyak hal terutama soal balap mobil, dan Zean tertarik" Hans mengehela napas sejenak.


Irene hanya diam menunggu Hans melanjutkan ucapannya.


Irene mengangguk-ngangguk paham.


"Lalu, kau mengenal Zean karena bekerja di perusahaannya?" tebak Hans.


Irene menggeleng sambil menyedot milkshakenya.


"Bukan karena itu" ucap Irene lalu ia menceritakan semuanya secara menyeluruh, ia menyampaikan sangat detil kepada Hans bagaimana pertama kali ia mengenal Zean. Pertama kali ia kembali menginjakan kaki di Boston, pergi ke night club sampai akhirnya dikejar oleh mobil patroli polisi dan berakhir di penjara lalu Zean yang membantunya keluar dari penjara sialan itu.


Hans tertawa lepas sambil menyentuh perutnya yang mulai terasa kram karena tertawa berkepanjangan.


"Jangan menertawaiku, pretty boy!" Irene kesal melihat Hans yang tertawa karena mendengar ceritanya.


Hans mulai menenangkan diri dan mengatur napasnya.


"Lucu sekali, hahahaha..." Hans memberi jeda ucapannya.


"Jika aku menjadi Zean, aku tidak akan membantumu. Agar kau tahu rasanya bermalam di penjara dan mendapat ocehan dari Alice" lanjutnya.


Irene mendengus kesal. "Sialan, kau!"


Hans terkekeh kecil sambil menatap gadis di hadapannya ini.


"Hans! Menurutmu apa alasan Zean menolong ku waktu itu?" tanya Irene serius.


Hans bergeming, nampak berpikir.


"Sudah pasti karena dia mengenalmu. Atau karena dia menyukaimu, tapi tidak mungkin dia menyukaimu" jawab Hans.


Irene merasa sedih dengan jawaban Hans yang mengatakan jika tidak mungkin Zean menyukinya, jelas-jelas semalam Zean sendiri yang mengatakan jika Zean mencintai Irene. Apa Irene harus menceritakan kejadian semalam kepada Hans? Ah, sepertinya memang harus.


"Dia menyukai ku, Hans. Bahkan dia sendiri yang mengatakan padaku semalam, jika dia mencintaiku" Irene menceritakan kejadian semalam, ketika Zean tiba-tiba datang ke rumahnya dalam kondisi setengah mabuk hingga akhirnya pria itu mengatakan bahwa dia mencintai Irene.


Hans mebulatkan mata penuh dengan mulut yang sedikit terbuka, ia kaget.


"Tidak mungkin, Irene" sergah Hans.


Irene menautkan alis bingung dengan reaksi Hans.


"Tidak mungkin, karena Zean akan bertunangan dengan Rebecca beberapa hari lagi" lanjut Hans.


Detik itu juga, dunia Irene runtuh. Sakit dan sesak menyerang hatinya, tubuhnya melemas. Wajahnya berubah pucat, Hans yang melihat perubahan pada wajah Irene pun mulai khawatir.


"Irene" panggil Hans pada Irene yang menatap ke depan dengan tatapan kosongnya.


Irene mendengar Hans yang memanggilnya namun ia enggan menjawab, kepalanya terasa pusing karena memori otaknya terus memutar ingatan akan Zean. Pria itu akan bertunangan dengan wanita yang bernama Rebecca? Mata Irene memanas, ia bisa merasakan bulir air yang mulai jatuh membasahi kedua pipinya. Tidak mungkin, tidak mungkin jika ia baru menyadarinya sekarang, gadis itu mencintai Zean.


"Irene" panggil Hans lagi. Kali ini Irene menoleh, menatap Hans.


"Apa kau mencintai, Zean?" tanya Hans yang khawatir jika benar gadis itu mencintai Zean.


Irene menyeka air matanya, lalu beranjak dari duduknya. Dengan segera Hans mencekal tangan Irene.


"Mau kemana?" tanya Hans.


"Menemuinya, karena aku mencintainya" jawab Irene, disaat bersamaan Hans melepas tangan Irene dan membiarkan gadis itu pergi, mengejar cintanya sebelum terlambat.