Stranger's In Love

Stranger's In Love
86 THE CALL



Zean menatap steak sirloin yang hampir lima belas menit dihidangkan di hadapannya. Zean merasa sangat lapar, tapi saat makanan sudah di depan mata ia malah enggan memakannya. Zean tidak nafsu makan karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya setelah berdebat panjang dengan istrinya semalam.


Akhir-akhir ini Zean merasa dirinya sedikit egois. Ia selalu merencanakan sesuatu dan bertindak dengan sendirinya tanpa pernah bertanya atau meminta pendapat pada Irene. Semalam Zean menyewa satu kamar hotel untuk dirinya. Di kamar itu dia merenungkan dirinya yang egois ini. Zean juga sempat menelepon Ms.Harper untuk membatalkan kontrak program bayi tabung karena Irene sepertinya benar-benar tidak setuju.


“Morning, honey,” ucapan selamat pagi dari seorang wanita yang kini mencium pipi Zean.


Zean tersenyum saat menyadari Irene. “Morning, beautiful,” sapanya kemudian.


“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Irene seolah tidak ada perdebatan yang terjadi di antara mereka.


“Maafkan aku, Irene. Maaf membuatmu marah dan kecewa,” ucap Zean mengabaikan pertanyaan Irene. Zean merasa tidak nyaman jika terus seperti ini rasanya begitu canggung.


Irene menghela napas sejenak lalu tersenyum seraya menatap suaminya. “Tidak apa, Zean. Aku mengerti, kau hanya ingin memberikan yang terbaik untuk hubungan kita.”


Zean menggenggam tangan Irene seraya mengelusnya. “Aku ingin berjuang demi hubungan kita, demi ultimatum dan demi cinta kita. Aku tidak mau menikah dengan wanita lain, aku juga tidak bisa mencintai wanita lain, dan aku juga tidak bisa mengesampikan ultimatum Keluarga Lorwerth terlebih hanya aku penerus satu-satunya. Maaf jika aku berpikir dan bertindak secara sepihak tanpa bertanya apapun padamu,” jelas Zean.


Irene mengangguk paham. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang tidak mengerti dengan keadaan, aku-” ucapan Irene terhenti ketika Zean mencium punggung tangannya.


“Aku mencintaimu, Irene. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, hentikan semua perdebatan ini. Tidak ada yang salah, kita berdua sama sama ingin berjuang hanya cara dan pemikirannya saja yang berbeda,” ucap Zean mampu membuat Irene bungkam dengan mata berkaca-kaca yang sebentar lagi siap menumpahkan air mata.


“Aku juga mencintaimu, Zean.”


Setelah sarapan mereka pergi ke rumah sakit untuk segera memulai program bayi tabungnya karena semakin cepat semakin baik untuk mereka.


“Ms. Harper kau sudah sarapan pagi?” tanya Zean pada gadis yang duduk di bangku mobil belakang.


“Sudah, aku mengambil breakfast in room.”


“Ah iya, Mr and Mrs.Lorwerth bisakah kalian memanggilku dengan nama Mia saja?” pinta gadis itu. Dia merasa kurang nyaman dengan panggilan Ms. Harper.


“Tentu saja, Mia.”


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit dan segera melakukan proses konsultasi dan pemeriksaan hormon pada Mia Harper dan Zean serta melakukan rentetan prosedur lainnya. Irene menunggu dengan cemas di luar ruangan, ia sangat berharap proses bayi tabung ini bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Tiba-tiba ponsel Irene berdering menampilkan satu panggilan masuk dari Tae-O. Irene menjawab panggilan itu seraya berpindah tempat mencari tempat menjauh dari ruang pemeriksaan itu.


“Apa semua baik-baik saja, Tae-O?” tanya Irene ketika sambungan telepon itu terhubung.


Tae-O belum menjawab pertanyaan Irene, di seberang telepon hanya terdengar hembusan napas memburu yang semakin lama semakin terengah-engah.


“Tae-O? Kau baik-baik saja?” tanya Irene lagi, tapi belum ada jawaban dari Tae-O


“Jawab aku, Tae-O!”


Masih belum ada jawaban dari Tae-O selain suara hembusan napasnya. Irene menjadi panik, pikirannya mulai menjalar jauh memikirkan hal yang tidak-tidak.


“Kumohon, Tae-O! Jawab aku!” pinta Irene frustrasi.


“Huffttt…. Noona,” ucap Tae-O akhirnya.


“Ada apa Tae-O? Kenapa kau hanya diam saja?” tanya Irene panik.


“Aku… aku… aku kehabisan napas,” ucap Tae-O susah payah karena napasnya masih terengah-engah.


“Apa yang terjadi?” tanya Irene kini penuh kecemasan.


“Noona,” Tae-O masih kesulitan mengatur napasnya.


Irene menunggu Tae-O menyampaikan ucapannya dengan cemas, jauh di lubuk hati Irene berdoa semoga tidak terjadi hal buruk di sana.


“Noona, aku tidak kuat,”


“Kenapa, Tae-O? Apa yang terjadi di sana?” tanya Irene, matanya mulai memanas, rasa cemas dan khawatir ini telah merasuki dirinya.


“Aku tidak kuat berlari di Treadmill, rasanya kaki ini sangat lemas dan aku kesulitan mengatur napas setelah berlari sekitar empat puluh lima menit. Hufftttt…” ungkap Tae-O akhirnya.


Irene bersandar di dinding seraya menghela napas kasar, menyebalkan sekali Tae-O. Di sini Irene sudah merasa sangat khawatir, ia memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi mengingat Tae-O dan Cassandra tengah menyelidiki bisnis dan data-data Lee Da Museum.


“Hahaha…. Noona, kenapa kau diam saja?” tanya Tae-O karena seketika Irene hening, tak ada reaksi apa pun.


“Apa ini sebuah lelucon bagimu, Tae?” tanya Irene terdengar serius dan kesal.


“Hm….. Mianhae, Noona,” ucap Tae-O menyesal (Mianhae, Noona artinya maaf, kakak).


“Apa kau bersenang-senang di sana?”


“Noona, aku benar-benar tidak bermaksud begitu, aku–” ucapan Tae-O terputus karena Irene mengakhiri panggilan itu.


Menyebalkan sekali, kenapa Tae-O harus bergurau di saat seperti ini? Irene benar-benar kecewa dengan sepupunya itu.


***


“Karena hasil pemeriksaannya berjalan baik jadi besok sudah bisa dimulai program awal bayi tabung ini,” ucap Zean membuka topik pembicaraan disela-sela makan malam.


Mia mengangguk mantap. “Aku senang dengan hasil pemeriksaan hari ini, karena kedua hormon sangat stabil dengan tingkat kesuburan yang tinggi aku yakin sekali jika program bayi tabung ini akan berhasil.”


Irene diam sejenak menatap Zean dan Mia bergantian lalu ia tersenyum. “Yeahh, ini adalah awal yang baik,” ucap Irene sambil bertepuk tangan.


“Are you okay, honey?” tanya Zean yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah istrinya itu.


“Yes, I’m okay, I’m fine and I’m good, honey,”


Zean meraih kedua tangan Irene lalu mencium punggung tangan wanita itu.


“Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Zean pada Irene yang sepertinya enggan untuk bicara.


Di situasi seperti ini Mia Harper merasa sangat canggung dan merasa tidak semestinya ia berada di sini.


“Hm… Mr and Mrs Lorwerth, aku tidak ingin mengganggu perbincangan kalian. Sebaiknya aku pergi saja ya, lagi pula aku sudah selesai makan malam,” ungkap Mia yang merasa tidak enak jika menguping pembicaraan intens sepasang suami istri itu.


Zean menatap Mia sejenak lalu mengangguk sebagai jawaban, gadis itu pun pergi meninggalkan Zean dan Irene.


“Ada apa, Irene? Dari yang aku lihat seperti kau sedang memikirkan sesuatu?” tebak Zean.


Irene menunduk sejenak lalu kembali menatap mata indah milik Zean. “Zean,” panggil Irene lembut.


“Yes, honey,” sahut Zean.


“Apa kita tidak bisa kembali saja ke Praha?” tanya Irene ragu-ragu.


Zean mengerutkan dahi, ini bukan kali pertama Irene meminta agar mereka kembali ke Praha. Zean penasaran apa sebenarnya yang membuat Irene sangat ingin kembali ke Praha.


“Ada apa dengan Praha, sayang?” tanya Zean kali ini terdengar sangat serius.


“Hm,” Irene berpikir, mencoba mencari alasan kuat agar Zean setuju untuk kembali ke Praha.


“Why, honey?” tanya Zean lagi.


“Entahlah, Zean. Aku sendiri tidak tahu, jujur aku sangat menyukai pemandangan Kota Praha. Rasanya aku betah tinggal di sana, Praha sudah seperti rumah impianku,” jawab Irene akhirnya.


“Really, honey?” tanya Zean mencoba meyakinkan apa yang ia dengar barusan.


Irene mengangguk mantap sebagai jawaban. “Maaf, mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku tiba-tiba jatuh cinta pada kota itu. Saat ini aku ingin tinggal dan menetap di sana, sayang.”


Zean terkekeh dengan permintaan Irene yang baginya ini cukup lucu. “Secinta itu kah kau dengan Kota Praha, sayang?”


“Yes, honey!” 


“Baiklah, akan aku bicara besok dengan Dokter Kelly. Untuk sekarang aku tidak bisa berpindah tempat sesukaku, kita juga harus mempertimbangankannya karena program bayi tabung ini,” ucap Zean.


“Hm… baiklah, Zean. Kita bisa membahasnya besok lagi,” ucap Irene.


Irene sudah menyiapkan rencana, jika Dokter Kelly tidak mengijinkan perpindahan negara ini karena alasan perawatan program bayi tabung maka Irene akan berusaha agar Zean mengijinkannya kembali ke Praha sendiri meski hanya sebentar. Irene hanya ingin segera menyelesaikan teka-teki Lee Da Museum itu.


“Apa kau sangat ingin kembali ke Praha karena kau menyukai kota itu?” tanya Zean lagi, ia ingin memastikan sekali lagi.


“Iya, Zean sayang suamiku tercinta. Aku sangat menyukai Kota Praha,” jawab Irene seraya memeluk suaminya itu.


Namun, tiba-tiba Zean menguraikan pelukan itu, “Ponselmu berdering, Irene.”


Irene melirik ponselnya, sudah tertera tujuh panggilan masuk dari Tae-O. “Biarkan saja, Zean.”


“Why, honey?”


“Itu telepon dari Tae-O, apa kau yakin mengabaikannya begitu saja?”


Irene mengangguk sebagai jawaban. “Biarkan saja, tadi siang juga dia sempat menelponku hanya sekedar usil. Mungkin sekarang dia menelepon lagi untuk meminta maaf padaku.”


Zean tertawa, “Dasar bocah nakal.”