Stranger's In Love

Stranger's In Love
62|PRAHA



Václav Havel Airport Prague, 09.00 pm.


Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di Praha. Irene menghirup udara segar saat menginjakan kaki di depan pintu keluar bandara. Perjalanan yang cukup panjang itu membuat seluruh tubuhnya pegal. Lain halnya dengan Zean yang sudah biasa berpergian jauh, dia terlihat biasa saja.


"Apa kau lelah?" tanya Zean pada Irene yanh sibuk mengedarkan pandangannya melihat suasana di sini.


"Ah, tidak," sahut Irene berbohong. Jelas-jelas wajahnya pucat lelah begitu.


Zean merangkul istrinya itu berjalan menuju mobil mewah berwarna hitam lengkap dengan seorang supir yang sudah menanti mereka. Supir itu membuka pinti belakang lalu Zean dan Irene masuk. Kemudian supir itu duduk di kursi pengemudi dan mulai melajukan mobilnya.


"Berapa lama kita akan di sini, Zean?" tanya Irene yang tiba-tiba teringan mereka tidak membawa pakaian dan perlengkapan masing-masing.


Zean nampak berpikir sejenak. "Mungkin sekitar dua minggu," jawabnya.


"Apa?" pekik Irene kaget.


Bagaimana dia akan menghabiskan dua minggu di sini? Apa saja yang akan dia lakukan? Kalau Zean mah sudah pasti akan sibuk dengan pekerjaannya di sini. Sedangkan Irene? Dia bahkan pengangguran, apa yang akan dia kerjakan nanti.


"Kau seharusnya tidak mengajakku, Zean. Dua minggu terlalu membosanku untukku hanya berdiam diri di sini," protes Irene.


Zean menatap Irene lekat-lekat lalu tertawa dengan kerasnya sampai membuat supir sedikit kaget dengan tawa Zean itu.


"Hei, kenapa tertawa seperti itu?" Irene langsung menutup mulut Zean dengan tangannya.


Zean meraih tangan Irene lalu menggenggam kedua tangan wanita itu.


"Siapa bilang kau akan diam saja di sini? Aku mengajakmu sebagai sekretarisku, bukan sebagai istriku. Ingat, kita bahkan masih terikat kontrak. Kau masih sekretaris pribadiku, sayang," ucap Zean.


Astaga! Ternyata Zean masih mengingat kontrak gila itu.


"Aku senang kalau begitu. Aku tidak jadi pengangguran lagi," Irene memeluk Zean.


"Terima kasih, Zean."


Irene senang masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Jujur, sebenarnya Irene tidak begitu suka jika Zean melarangnya ini dan itu. Irene lebih suka bebas, tapi masih dalam batasan yang diijinkan oleh suaminya itu.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah Mansion mewah dengan gaya arsitektur khas Ceko. Irene terbelalak takjub melihat Mansion semegah dan sebesar ini.


"Apa kita akan tinggal di sini?" tanya Irene pada Zean yang sudah terbaring di ranjang king size.


"Tentu."


Irene melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul sebelas malam.


"Aku akan mandi setelah itu menyiapkan makan malam," ucap Irene. Namun, tiba-tiba Zean menariknya hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukan Zean yang masih terbaring di ranjang king size itu.


"Lepaskan, Zean," pinta Irene.


Zean memejamkan matanya sambil menggeleng.


"Sebentar saja, tetaplah seperti ini."


"Kita bisa melanjutkannya nanti. Ayo, mandi dan makan," ucap Irene.


Zean membuka mata dan dengan cepat ia mengecup bibir Irene berulang kali hingga Irene menutup mulutnya. Zean terkekeh melihat tingkah Irene yang masih jaim seperti ini.


"Kau tidak mandi?" tanya Irene.


"Aku akan mandi di ruang tamu."


Irene hanya mengangguk sambil membukatkan mulut membentuk huruf o.


"Atau mungkin kau mau kita mandi bersama, Mrs.Lorwerth?" goda Zean.


Irene langsung berlari ke kamar mandi, bisa gila jika berlama-lama bersama Zean.


Tak lama kemudian, Irene sudah siap. Ia mengenakan tanktop dres yang sudah tersedia di lemari. Sepertinya semua kebutuhan sudah disiapkan di Mansion ini.


Irene menuju taman belakang, ia agak bingung mencari jalan karena Mansion ini sangat luas.


"Mau ke taman belakang, Mrs.Lorwerth," tebak seorang wanita paruh baya yang sepertinya pelayan di Mansion ini.


"Ah, iya."


"Mari ikuti saya."


Sepertinya Irene tidak akan pernah melakukan pekerjaan rumah. Baik di rumahnya mau pun di sini karena semua tempat yang mereka tinggali memiliki pelayan masing-masing. Zean benar-benar SUMAPI, Suami Mapan Idaman.


"Sudah sampai. Mr.Lorwerth sudah menanti di sana," ucap pelayan itu setelah sampai mengantar Irene sampai di taman belakang.


Di sana ada Zean yang duduk di sebuah meja yang sudah didekorasi indah lengkap dengan hidangan cantik dan sebotol wine. Irene langsung mendekati Zean dan duduk di hadapannya.


"Apa ini kencan makan malam?" tanya Irene menyadari ini terkesan romantis.


Zean tersenyum lalu memotong daging steak untuk Irene.


"Semua ini untuk bulan madu kita, Mrs.Lorwerth."


Blush! Pipi Irene memerah. Bulan madu katanya, ah. Rasanya sudah seperti kencan buta.


Mereka sibui menyantap hidangan masing-masing sampai semua makanan habis tak tersisa. Zean menuangkan Wine pads kedua gelas mereka lalu meminta Irene bersulang dengannya.


"Bersulang,"


Ting! Gelas mereka saling beradu lalu mereka meminum wine hingga tandas.


Zean beranjak dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya pada Irene.


"Berdansalah denganku, Irene."


Irene meraih tangan Zean, mereka berdansa bersama dengan iringan dari suara merdu biola yang digesekan oleh seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di di dekat mereka. Irene benar-benar takjub, kenapa Zean jadi seromantis ini.


"Kamu benar-benar memersiapkannya dengan sempurna," bisik Irene yang mengalungkan tangannua di leher Zean.


Zean tersenyum lalu semakin menarik pinggang Irene hingga hidung mereka saling bersentuhan, detik kemudian Zean mencium dan ******* bibir wanita itu. Tangan Irene tergerak meremas belakang kepala Zean dan membalas ciuman panas pria itu.


Hingga beberapa saat mereka berhenti sejenak, mengatur napas masing-masing.


"Ayo, buat momen yang panas malam ini," bisik Zean lalu kembali menciumi wanitanya itu