Stranger's In Love

Stranger's In Love
48|LOVES STORY



Malam semua, author udah update lagi yaa


Jangan pernah bosan menunggu yaaa, happy reading :))


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


The Griffin Bar, Seoul 09.00 pm


Keluarga Ricardo berkumpul, duduk memenuhi empat kursi dengan satu meja kaca besar yang di atasnya sudah di suguhkan beberapa menu makanan terbaik dari tempat ini. Pemandngan indah Kota Seoul jelas terlihat dari atas balkon tempat ini, sungguh suasana malam yang romantis dan indah.


Ainsley tak henti-hentinya tersenyum bahagia malam ini, akhirnya ia bisa melihat keluarganya berkumpul kembali. Rasanya malam ini sudah terasa cukup untuk menebus semua sedih, kesal, resah dan kecewa yang selama bertahun-tahun ini ia rasakan. Ainsley selalu belajar untuk ikhlas atas semua takdir yang sudah semesta torehkan untuknya. Ainsley tahu, apapun yang terjadi di masa lalu dapat merubah segalanya di masa mendatang. Sama seperti saat ini, masa lalu telah mengubah keluarga kecilnya yang sangat ia cintai menjadi terpisah seperti ini. Tetapi semesta masih sempat menorehkan sedikit kisah manis untuk keluarga kecil ini, semesta masih mengijinkan malam yang indah ini terjadi untuk Ainsley dapat merasakan kembali hangatnya kasih sayang dalam keluarga kecilnya.


Pandangan Ainsley muram, ia memejamkan mata dan bulir air menetes tanpa aba-aba. Daniel, Irene dan Gerald yang menyadari Ainsley menngis pun langsung terdiam menatap Ainsley bersamaan.


"Heyy, apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel lembut seraya menggenggam tangan Ainsley.


Ainsley menunduk, ia terisak.


Gerald dan Irene saling melempar tatapan bingung.


"Mom" panggil Irene, namun Ainsley masih menunduk.


"Apa mom tidak menyukai semua ini?" tanya Irene.


Ainsley tidak menjawab, ia masih terisak dalam tangisnya.


"Maafkan kami untuk semua ini, mom. Maaf jika semua ini membuatmu sedih, kami hanya ingin keluarga ini bisa kembali seperti dulu" ucap Gerald yang benar-benar menyesal melihat ibunya yang menangis seperti ini.


"Kamsahamnida" ucap Ainsley lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap kedua anaknya dan juga Daniel. (Kamsahamnida bahasa korea artinya terimakasih)


Ainsley tersenyum, ia menangis bukan karena sedih melainkan bahagia. Ainsley merasa sangat beruntung bisa berkumpul kembali dengan kedua anaknya dan juga Daniel, pria yang sangat ia cintai walau pria itu sempat menyakitinya di masa lalu.


"Aku sangat bahagia malam ini, kalian membuatku menangis karena terlalu bahagia. Aku senang kita bisa berkumpul seperti ini, walau tidak untuk waktu yang lama, tetapi terimakasih, aku mencintai kalian" ucap Ainsley tulus.


Irene terharu, ia bangga pada ibunya yang begitu kuat dan tegar sebagai seorang wanita, istri dan ibu. Ainsley benar-benar wanita yang hebat.


"Jadi, apa saja yang kau lakukan selama ini?" tanya Daniel mulai mengihkan pembicaraan.


Ainsley tersenyum lalu memotong steaknya.


"Tentu saja aku mengobati pasien, aku seorang dokter, Daniel. Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan? Memperbaiki mesin mobil yang rusak? Kau pikir aku seorang montir" Ainsley menjawab pertanyaan Daniel dengan candaanya. Sontak itu membuat Irene, Gerald dan Daniel tertawa.


Gerald meneguk segelas winenya.


"Mom kau selalu mempunyai jawaban yang mampu membuat kami tertawa seperti ini. Kenapa tidak menjadi pelawak saja?" komentar Gerald sambil tertawa.


"Tidak ada pelawak secantik diriku, Gerald" sahut Ainsley.


Daniel menatap Ainsley, wanita itu benar-benar cantik, penyayang dan lucu. Daniel kembali menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita yang ia cintai.


"Dad, kenapa kau menatap mom seperti itu?" tanya Irene yang menyadari ayahnya menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ainsley menatap Daniel, namun dengan segera Daniel memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Ainsley.


Ainsley tertawa. "Kenapa kau bersikap seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta di hadapan anak-anak kita, Daniel" goda Ainsley.


Bahagia rasanya dengan suasana dan obrolan-obrolan ringan seperti ini. Tuhan, jika ada kesempatan lagi tolong ijinkan setiap malam menjadi seperti malam yang bahagia ini bagi Keluarga Ricardo.


"Oh ya, Gerald. Kapan kau akan mengenalkan Alice padaku?" tanya Ainsley.


Gerald terdiam, menatap Ainsley bingung. Bagaimana ibunya bisa tahu tentang Alice?


Irene menepuk bahu Gerald.


"Jangan tegang seperti itu, bodoh" jeda Irene lalu tertawa kecil, karena melihat ekspresi wajah Gerald yang begitu syok.


"Aku telah bercerita banyak pada mom. Mom sudah tahu jika Alice yang sudah menolongku lalu mengangkatku sebagai adik tirinya dari keluarga Banner dan Alice Banner adalah tunanganmu" lanjut Irene.


"Jadi kalian sering bertemu?" tanya Daniel dan Gerald bersamaan.


Ainsley dan Irene saling bertatapan lalu tersenyum lebar. "Tentu" jawabnya bersamaan.


Gerald menepuk jidat Irene. "Dasar kau adik yang licik, kau tidak memberitahuku apa-apa" kesal Gerald pada adiknya itu.


Ainsley dan Daniel terkekeh melihat tingkah kedua anaknya itu.


Hening. Mereka menghabiskan semua makanan lalu meneguk winenya hingga tandas, kecuali Irene yang hanya diperbolehkan minum air karena dia sedang hamil, itu pesan Zean padanya.


"Irene" panggil Daniel.


Irene menatap ayahnya itu. "Yes, dad" sahutnya.


Daniel menghela napas perlahan.


"Apa kau dan Zean benar-benar saling mencintai?" tanya Daniel.


Irene tersentak kaget mendengar pertanyaan dari ayahnya itu. Sedangkan Ainsley dan Gerald hanya diam menunggu jawban Irene.


Irene masih menatap ayahnya itu, lalu tersenyum.


"Tentu, dad. Aku dan Zean, kami saling mencintai. Walau banyak hal sulit yang sebelumnya kami lewati, itu sama sekali tidak merubah perasaan kami" jawab Irene mantap.


Daniel hanya mengangguk pelan. Lalu ia beralih menatap Gerald.


"Gerald" panggil Daniel.


Kali ini giliran Gerald. "Yes, dad" sahutnya.


"Apa kau benar-benar mencintai Alice Banner?" tanya Daniel.


Jujur Gerald merasa aneh dengan pertanyaan ayahnya ini.


"Tentu, dad. Aku sangat mencintai Alice lebih dari aku mencintai diriku" jawab Gerald tulus.


Daniel mengganguk lagi mendengar jawaban Gerald.


Ainsley menatap Daniel yang juga merasa aneh dengan pertanyaan Daniel.


"Kenapa kau bertanya seperti itu pada anak-anak, Daniel?" tanya Ainsley.


Daniel terdiam sesaat, ia menghela napas pelan lalu menatap Ainsley dan menggengam tangannya.


"Pertahankah dan jaga cinta kalian. Aku tidak ingin kalian melakukan hal bodoh seperti yang aku lakukan di masa lalu. Kalian mungkin bisa pergi dan berkencan dengan siapa saja, tetapi hati kalian tidak bisa berbohong jika kalian hanya mencintai satu orang di hati kalian. Jangan lakukan hal bodoh sepertiku yang melukai wanita yang paling aku cintai" ucap Daniel lalu mencium punggung tangan Ainsley.


Daniel benar-benar menyesal untuk apa yang telah ia lakukan di masa lalunya. Tetapi saat ini ia juga bersyukur, karena setidaknya Ainsley masih mau berbicara padanya dan bersikap seolah baik-baik saja malam ini.


Ainsley tersenyum, jujur hatinya pedih berada dimomen menyedihkan seperti ini. Ketika luka lamanya kembali terkoyak karena ketulusan Daniel meminta maaf malam ini di depan anak-anaknya.


"Mom, Dad, sudahlah. Kalian berperan lebih buruk dari Romeo and Juliet" goda Gerald.


Ainsley dan Daniel terkekeh.


"Oh ayolahh, kenapa tidak bertanya soal pernikahanku besok?" Irene mencoba mencairkan suasana.


"Apa itu penting?" sindir Gerald.


Irene mendelik. "Baiklah, aku akan melaporkanmu pada Alice bahwa kau tidak berbicara sopan padaku" ancam Irene.


Ainsley dan Daniel kembali terkekeh dengan tingkah anak-anaknya ini. Mereka masih bertingkah seolah anak remaja yang berusia tujuh belas tahun. Bahagia rasanya malam ini, terimakasih.