
Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)
.
.
.
Zean memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah yang terkenal mahal di kota itu, lalu ia turun dan membuka pintu mobil untuk Irene. Restoran itu sangat sepi, tak ada satupun orang yang duduk untuk menikmati hidangan di restoran itu.
"Apa restoran ini sudah tutup?" tanya Irene, kini mereka sedang berjalan masuk ke restoran itu.
"Belum. Aku memboking semuanya, karena kita akan dinner di sini" jawab Zean dengan entengnya.
Irene melotot tak percaya, hanya karena makan malam? Apa makan malam bersamanya sangat penting hingga pria asing ini harus memboking restorannya?
Ahh, tidak! Tidak! Dia pasti sudah gila, berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk semua ini?
"Apa yang kau pikirkan, Irene?" tanya Zean pada Irene yang sedang sibuk bergulat dengan pikirannya.
"Tadi kau bilang apa? 'Diner?' Bukankah kau hanya ingin kita membicarakan soal pekerjaan ke-"
"Jangan mulai ocehanmu, Irene" potong Zean yang dibalas tatapan dingin.
Mereka disambut oleh pelayan restoran lalu mempersilahkannya duduk dan memberinya buku menu lalu mereka memesan beberapa makanan dan minuman lengkap dengan dessert. Irene akui dirinya benar-benar lapar, sedari tadi dia hanya makan cokelat, cokelat, cokelat, cokelat dan cokelat.
Beberapa menit kemudian pelayan restoran itu kembali datang dengan membawa beberapa hidangan dengan aroma yang menggiurkan itu.
"Selamat menikmati. Mr.Lorwerth and Ms.Banner" ucap pelayan itu dengan senyum ramah yang menggembang lebar.
"Terimakasih" ucap Irene ramah sambil tersenyum hangat.
Zean hanya diam dan menatap dingin gadis di hadapannya itu, entah kenapa Zean benci ketika melihat Irene tersenyum pada pelayan tadi.
"Kau tidak perlu berterimakasih pada pelayan itu-"
"Aku lapar, Mr.Lorwerth. Aku butuh makan saat ini, sebelum berdebat lagi denganmu" potong Irene cepat, Zean memutar bola mata malas.
Mereka menikmati hidangan itu dalam diam, namun sesekali Irene menangkap basah Zean yang menatapnya terang-terang sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
Oh sungguh pria ini !
"Selesai" seru Irene sambil meletakkan pisau dan garpunya.
"Bisa kita langsung ke inti saja?" tanya Irene tak sabaran.
Zean menatap Irene sejenak lalu menatap pria yang sedari tadi berdiri di belakang Irene tanpa dia sadari. Zean menatapnya seolah memberi kode, lalu pria itu mengganguk patuh.
"Ms.Banner, ini kontrak kerja yang harus anda tanda tangani sebagai bukti bahwa anda telah menyetujui isi dari pada kontrak ini" jelas pria itu sambil menaruh map di atas meja dan memberi pulpen kepada Irene.
Irene membaca isi dari kontrak itu dengan seksama, ia mengerutkan keningnya.
Kontrak itu berisi bahwa Irene akan bekerja sebagai sekretaris pribadi yang akan mengurusi perjalanan bisnis Arzean Lorwerth, jadi dimanapun perjalanan bisnisnya Irene harus ikut bersamanya. Dan disitu tertulis jelas bahwa Irene Banner tidak hanya bekerja sebagai sekretaris pribadi, ia juga akan merangkap sebagai supir pribadi Arzean Lorwerth bila mana diperlukan. Dan Arzean Lorwerth akan menggajihnya dengan selembar cek yang nominalnya bisa ditulis sendiri oleh Irene.
Ya, itu terdengar pekerjaan mudah dengan gajih yang menggiurkan.
Tunggu!
Apa barusan?
Seorang Irene Banner akan bekerja sebagai sekretaris pribadi dan merangkap sekaligus sebagai supir pribadi?
"Apa kau sudah gila, Mr.Lorwerth?" tanya Irene tak percaya.
"Kau ingin aku menjadi sekretaris pribadimu dan sekaligus merangkap sebagai supirmu? Dan ya, kau akan menggajihku dengan selembar cek yang nominalnya bisa ku tulis sendiri?" ucap Irene meyakinkan isi dari kontrak tersebut.
"Ya" ucap Zean tanpa pikir panjang.
Irene membuka mulut tak percaya lalu memijit kepalanya yang tak pusing.
"Apa kau sadar? Kau bahkan tidak mengenalku! Baru kemarin aku dipenjara dan izin mengemudiku dicabut sementara karena menyetir dalam keadaan mabuk, bahkan kemarin kau yang membebaskanku. Dan tadi, kau mengetahui fakta bahwa aku seorang Hashiriya. Apa kau bisa dengan mudah mempercayaiku?" ucap Irene panjang lebar.
Zean hanya diam sambil menatap gadis yang sedang mengoceh panjang, sepanjang sungai nil. Irene terlihat cantik ketika sedang tersenyum, marah bahkan saat dia mengocehpun bagi Zean gadis di depannya ini tetap terlihat cantik.
Ketika mulut Irene terbuka untuk berbicara ingin sekali rasanya Zean menyumpal mulut gadis itu dengan mulutnya, agar dia berhenti mengoceh layaknya burung di pagi hari.
"Aku memang tidak mengenalmu dan aku juga tidak mudah mempercayaimu. Tapi aku yakin kau seorang pengemudi yang handal" ucap Zean sambil menatap Irene.
"Ucapanmu terdengar lebih menginginkan aku sebagai supirmu" sinis Irene.
Zean tersemyum miring.
"Good girl! Secara tidak langsung, aku memang mengharapkanmu menjadi supirku. Ini alasan kenapa aku membantumu kemarin"
"Apa!!" jeda Irene.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau menandatangani kontrak ini. Apa yang akan ku katakan pada Alice jika aku bekerja sebagai supir dengan gelar sarjanaku? Ini gila!!" sambungnya.
"Kau sekretaris ku, Irene. Hanya dalam keadaan mendesak, aku baru membutuhkanmu sebagai supir--"
"Keadaan mendesak? Seperti apa?" potong Irene penasaran.
"Not your business, pretty girl!" ucap Zean.
Irene menatap tajam Zean, rasanya Irene ingin mencakar wajah tampan Zean dengan pisau dan garpu yang ada di atas meja.
"Kau hanya punya dua pilihan, Ms.Banner" jeda Zean.
"Pertama kau akan bekerja untukku jika menandatangani kontrak ini dan mengikuti semua perintahku atau pilihan kedua. Kau bisa menolak pekerjaan ini, tapi aku akan menjamin tak ada perusahaan lain yang akan menerimamu bekerja. Kau tau kan betapa berkuasa dan berpengaruhnya aku dalam dunia bisnis ini" jelas Zean.
Irene menghembuskan napas gusar lalu memejamkan mata sesaat dan melempar tatapan tajam pada Zean.
"Itu bukan pilihan, Mr.Lorwerth! Itu terdengar seperti paksaan dan ancaman!" sergah Irene kesal.
Zean menaikkan sebelah alisnya dengan smirk khasnya.
"Jadi, mau tidak mau kau harus tandatangani kontrak ini, Irene" ucap Zean.
"Huuffttt" desah Irene menghembuskan nafas kasar.
"Aku akan membencimu, seumur hidupku, Mr.Lorwerth!!" ucap Irene dengan terpaksa dia menandatangani kontrak sialan yang dibuat oleh iblis berwajah tampan yang begitu kejam ini.
Zean tersenyum penuh kemenangan, dunia ini begitu mudah untuk ditaklukkan olehnya.