Stranger's In Love

Stranger's In Love
16|BROKEN HEART



Zean mencoba fokus mendengar presentasi seseorang di depan, kini ia berada di ruang rapat. Semua orang yang memenuhi kursi di ruangan itu fokus pada presentasi di depan. Namun, pikiran Zean menjalar jauh memikirkan gadis yang melihatnya bercumbu dengan Rebecca kemarin, ia memikirkan Irene. Zean merasa berasalah, ia merasa telah mematahkan hati gadisnya. Apa yang Irene rasakan setelah melihat kejadian kemarin?


Zean tidak tahan lagi, pikirannya di penuhi oleh bayang-bayang Irene. Ia benar-benar ingin bertemu dan berbicara pada Irene, mengatakan bahwa ia sangat merindukan gadisnya itu.


"Oke, kita cukupkan" ucap Zean tiba-tiba, dan semua orang di ruangan itu menatap Zean bingung.


"Atur ulang rapat ini besok" titah Zean lalu beranjak pergi.


Zean berjalan menuju ruangan di sebelah ruang kerja Zean, ya, itu ruangan Irene. Zean membuka pintu ruangan itu, sepi. Tidak ada Irene di sana, kemana gadis itu? Apa dia tidak datang ke kantor hari ini? Apa dia baik-baik saja? Jujur, Zean merasa khawatir kepada Irene. Gadis itu sangat mengganggu pikirannya.


"Aku mencarimu, ternyata kau ada di sini" ucap seorang wanita di belakang Zean.


Mendegar suara wanita itu saja mampu merusak moodnya, ya siapa lagi, wanita itu Rebecca Hillton.


Zean berbalik, menatap sekilas Rebecca kemudian berlalu pergi melewatinya begitu saja.


"Arzean Lorwerth!!" panggilnya kesal pada Zean yang mengabaikannya.


Rebecca mengikuti langkah kaki Zean yang kini menuju ruangan kerjanya. Zean duduk di kursi kerjanya sambil memijit kepalanya yang tak pusing. Rebecca mendekat, menyentuh bahu Zean. Zean menoleh, menatap Rebecca dengan tatapan dingin. Rebecca tersemyum lalu tangannya beralih menyentuh wajah tampan Zean.


"Kemarin kau membiarkan ku menciummu, tapi hari ini kau kembali mengabaikanku. Apa kau mencoba mengujiku, Zean" ucap Rebecca.


Zean memutar bola mata malas lalu menepis tangan Rebecca dari wajahnya.


"Menjauhlah dariku" ucapnya dingin.


Rebecca cemberut, menatap Zean dengan puppy eyesnya.


"Sayang, kau harus bersikap manis pada calon tunangan mu" ucap Rebecca sambil bergelayut manja di lengan Zean.


Zean mendelik, ia tidak peduli. Zean tidak mencintai Rebecca, apa lagi menyukainya. Ingin rasanya Zean membekap mulut wanita ini lalu mencekiknya hingga kehabisan napas, benar-benar menyebalkan.


"Dengar!" ucap Zean yang sudah muak dengan sikap Rebecca.


"Lihat saja nanti, kau yang akan mengemis cinta padaku. Aku yang akan menaklukkan pria angkuh sepertimu, Arzean Lorwerth" ucap Rebecca menatap tajam punggung Zean yang berjalan menjauh.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Alice tiba di rumah, setelah beberapa hari ini mengurus pertemuan bisnisnya di luar kota. Alice heran melihat Irene yang sedang bermalas-malasan di ruang tengah padahal hari ini adalah hari kerja. Gadis itu duduk di sofa dengan beberapa bungkus cokelat dan sibuk memindahkan saluran televisi dengan remotenya.


"Irene" panggil Alice.


Irene menoleh lalu beranjak berjalan mendekati Alice dan langsung memeluk kakaknya itu. Sejak melihat Zean bercumbu dengan wanita lain kemarin, rasanya Irene benar-benar rapuh, ia butuh seseorang yang bisa menguatkannya dengan pelukan.


"Aku merindukanmu, Alice" ucapnya manja.


Dalam pelukan Alice, Irene membayangkan memeluk pria yang ia cintai. Irene ingin, sangat-sangat ingin memceritakan semua kepada Alice, berbagi rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Tapi, itu tidak mungkin, ia tidak ingin Alice khawatir. Irene memejamkan matanya lalu bulir air jatuh membasahi pipinya, detik kemudian tubuhnya bergetar, ia terisak dalam tangisnya yang pecah dalam pelukkan Alice.


"Are you okay, Irene?" tanya Alice khawatir, ia menguraikan pelukannya dan terkejut melihat mata sembab Irene.


Irene tak menjawab, ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Jika tidak menceritakannya dengan kata-kata, air mata ini sudah cukup menggambarkan betapa kecewa, sakit dah sedihnya Irene.


"Apa yang terjadi? Apa ada yang menyakitimu, Irene?" Alice bertanya lagi dengan penuh kekhawatirannya.


Irene menyeka air matanya sambil mengatur napasnya mencoba menenangkan diri.


"Tidak, Alice. Aku hanya merindukanmu" jawab Irene jelas berbohong.


Alice merasa jika Irene sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tidak biasanya Irene menangis seperti ini, apa lagi alasannya menangis hanya karena merindukan Alice.


Alice kembali memeluk Irene lalu mengelus punggung gadis itu. Alice tahu, Irene sedang tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan dan ada sakit yang sedang ia rasakan.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik" ucap Alice, detik kemudian tanggis Irene kembali pecah.


Tidak ada penawar dari sakit yang Irene rasakan saat ini, hanya pria itu, Arzean Lorwerth lah penawar dari segala sakit, pedih dan kecewa yang ia rasakan. Mungkin saat ini Irene tengah mencoba belajar untuk kembali membenci Zean, karena mencintainya adalah yang paling menyakitkan yang pernah Irene rasakan. Dari awal Irene memang tidak percaya pada cinta, baginya cinta hanyalah racun yang menjalar dari otak hingga ke hati yang akan membuat setiap manusia mati rasa bahkan enggan mengenal cinta, kembali. Irene membeci semua ini, membenci pria yang mengenalkannya pada cinta hingga akhirnya ia harus berteman baik dengan kecewa. Dan membenci semua rasa yang bernama cinta, karena telah mengajarinya arti patah yang sesungguhnya.