
Kim menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, ia pusing mencerna cerita dari Gerald dan Irene.
“Jadi, kalian adalah saudara?” tanya Kim mencoba meyakinkan.
Irene dan Gerald mengangguk bersamaan.
“Irene adalah Caroline, adikku yang hilang malam itu” ucap Gerald untuk yang kesekian kalinya.
Gerald dan Irene bergantian menceritakan kejadian malam itu, tepatnya tujuh tahun yang lalu saat usianya dua puluh tahun dan usia Irene baru menginjak lima belas tahun.
#flashbackon
Boston, AS 05.35 pm.
Tujuh tahun yang lalu,
Seorang gadis berusia lima belas tahun asyik bermain sepatu roda sambil bergandeng tangan dengan seorang wanita yang juga menggunakan sepatu roda. Mereka menikmati indahnya langit senja di taman sore itu.
“Mom, aku ingin mencoba berjalan sendiri tapi aku takut terjatuh” ucap gadis itu, ia selalu bergandeng tangan menggunakan sepatu roda dengan wanita itu yang tidak lain adalah ibunya.
Mereka menghentikan langkahnya, wanita itu menatap anaknya lembut.
“Caroline” panggil wanita itu seraya menyentuh lembut wajah anaknya.
“Why, mom?” tanya Caroline.
“Jatuh itu tidak menyakitkan” ucap wanita itu.
Caroline menautkan alis bingung, setahunya hal yang paling menyakitkan adalah terjatuh apalagi sampai berdarah itu akan membuat nyeri.
“Jatuh itu sakit, mom. Caroline pernah jatuh bermain sepeda bersama Gerald, lutut Caroline terluka dan itu sakit sekali. Caroline tidak mau bersepeda lagi” sergah Caroline yang tidak setuju dengan pendapat ibunya jika jatuh itu tidaklah menyakitkan.
Wanita itu tersenyum menatap anaknya yang polos ini.
“Saat kau tumbuh menjadi gadis dewasa nanti, kau akan tahu bahwa ada hal yang lebih menyakitkan dari pada terjatuh” ucapnya.
“Apa yang lebih menyakitkan dari terjatuh, mom?” tanya Caroline penasaran.
“Kau harus tumbuh menjadi dewasa dulu, baru kau bisa tahu” jawab wanita itu sambil mengacak rambut Caroline.
Caroline cemberut, ibunya selalu berhasil membuatnya terkena penyakit penasaran akut.
“Jangan cemberut, kau terlihat jelek!” goda wanita itu.
Caroline hanya diam menunduk menatap kedua kakinya yang menggunakan sepatu roda itu.
“Ayo, mom akan mengajarimu bersepatu roda sendiri. Jika suatu saat mom tidak bisa menemanimu, kau bisa bermain sepatu roda sendiri” ucap wanita itu.
“Tidak, mom. Caroline takut jatuh” tolak Caroline.
Wanita itu kembali menatap Caroline mencoba meyakinkan anaknya agar mau belajar bersepatu roda sendiri.
“Jangan takut, ada mom di sini. Jika kau jatuh dan terluka mom yang akan mengobatimu” wanita itu mencoba meyakinkan anaknya.
Caroline nampak berpikir, detik kemudian ia mengangguk patuh.
“Ayo kita coba, mom” ucap Caroline.
Wanita itu membantu Caroline dengan menggandeng tangannya lalu perlahan wanita itu melepas gandengannya dan Caroline berhasil, gadis itu mampu berjalan sendiri dengan sepatu rodanya.
“Look at me, mom. I can do this” seru Caroline sambil bersepatu roda, berlari, berputar-putar, ia sangat senang bisa melakukannya sendiri tanpa harus bergandeng tangan dengan ibunya lagi.
“Yay, Caroline!!” teriak wanita itu menyemangati anaknya.
Caroline asyik bermain sepatu roda, tiba-tiba “BRRUKK...!”
Caroline terjatuh akibat batu di depannya, lututnya berdarah dan ia menangis. Ibunya dengan segera berlari ke arah Caroline.
"Aku terjatuh, sakit, mom" rengek Caroline.
“Tidak apa, kau hebat, jangan menangis putri kecilku” ucap wanita itu, memeluk Caroline sambil meniup-niup luka kecil di lutut anaknya.
Caroline meringis dalam pelukan ibunya. “Sakit, mom”
“Ayo kita pulang dan mengobati lukamu” wanita itu beranjak mencoba memapah Caroline.
Caroline mencoba berdiri, ia mengalihkan pandangannya saat merasakan ada sesuatu yang kecil dan dingin mengenai wajahnya. Ia menatap langit, banyak butiran kecil berwana putih yang berjatuhan, ya itu salju.
“Lihat, mom!” Caroline menunjuk langit, lalu ibunya mengalihkan pandangannya menatap langit.
“Salju pertama turun hari ini. Indah sekali, aku menyukainya, mom” Caroline masih menatap langit, ia tersenyum merasa sangat bahagia bisa melihat salju pertama yang turun.
“Mom, ini adalah pertama kalinya Caroline melihat salju pertama yang turun di musim dingin. Apa mom juga?” tanya Caroline.
“Tidak. Mom pertama kali melihat salju pertama yang turun di musim dingin adalah ketika mom bertugas di Korea” jawab wanita itu.
“Benarkah? Apa seindah ini?” Caroline penasaran.
Wanita itu tersenyum melihat anaknya yang begitu antusian, baru saja wanita itu akan menjawab Caroline sudah berbicara lebih dulu.
“Mom, aku juga ingin melihat salju pertama di Korea” ucap Caroline dengan puppy eyesnya.
“Cepatlah dewasa dan temui mom di Korea” ucap wanita itu, namun ada perubahan raut wajah pada ibunya Caroline.
Caroline bingung, ia bisa melihat perubahan di raut wajah ibunya yang terlihat sedih.
“Kenapa tidak pergi bersama? Apa mom tidak akan kembali ke rumah?” tanya Caroline polos.
Ya, karena yang ia tahu sudah hampir tiga bulan ini ibunya tidak pulang ke rumah. Caroline tahu jika ibunya sering bertugas ke luar negeri tapi pasti akan kembali ke rumah dan tinggal bersama Gerald dan ayah. Jujur, Caroline semakin tidak mengerti karena ada seorang wanita yang sering datang ke rumahnya dan mengaku-ngaku akan menjadi ibu baru Caroline.
Ibu Caroline tersenyum mengelus pucuk kepala Caroline. “Ada hal yang tidak bisa kau pahami saat kau masih menjadi putri kecilku seperti sekarang. Berjanjilah untuk tumbuh menjadi seorang gadis dewasa dan temui mom untuk melihat salju pertama di Korea”
Caroline cemberut.
“Apa ini semua karena tante yang sering datang ke rumah?” tanya Caroline yang sepertinya paham jika hubungan mom dan dad sudah tidak harmonis lagi.
Ibu Caroline menghela napas perlahan. “Ayo pulang sebentar lagi gelap”
🍂🍂🍂
Caroline melirik jam dinding di kamarnya, sudah pukul 11.00 pm. Tadi ia diantar pulang oleh ibunya dan tiba di rumah sekitar pukul 07.25 pm. Ibunya berjanji akan datang kembali untuk menginap sebelum besok ibunya harus pergi ke Praha, namun ini sudah larut malam dan ibunya tak kunjung datang. Caroline terus menghubungi ibunya tapi nomornya tidak aktif lalu ia mencoba menghubungi Gerald tapi kakaknya itu mengatakan jika dia sedang sibuk lembur. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, seorang wanita berpakaian seksi masuk ke kamar Caroline.
“Hai, calon anakku” sapa wanita itu. Namanya Carla Darbost–wanita ini adalah calon istri Daniel Ricardo–ayahnya Caroline dan Geraldine.
“Caroline bukan anak tante” bantah Caroline.
Carla terkekeh kecil sambil menggeleng kini menatap Caroline dengan tatapan tajamnya.
“Dengar, bocah! Ibumu si jalang itu tidak akan datang karena dia sudah pergi meninggalkanmu se-la-ma-nya” ucap Carla memberi penekanan diakhir katanya.
Mendengar itu, Caroline menjadi sedih, hatinya sakit. Matanya mulai memanas dan detik kemudian buliar air menetes membasahi pipi chubby gadis itu.
“Tante bohong, mom akan datang nanti”
“Kau tidak percaya?” tanya Carla.
Caroline menggeleng kuat-kuat. “Caroline benci tante, Caroline tidak percaya!”
Carla tersenyum melihat api amarah yang mulai berkobar pada gadis dihadapannya ini.
“Pergi saja ke bandara dan temui ibumu sebelum terlambat” ucap Carla.
Caroline menjadi panik, pikirannya kosong, ia tidak ingin kehilangan ibunya. Selama ini ibunya selalu tugas ke luar negeri tapi ibunya tidak pernah mengingkari janji seperti sekarang ini, bahkan ibunya menghilang tanpa kabar. Caroline berlari keluar rumah mengikuti langkah kaki yang entah kemana. Di pikirannya saat ini adalah ia harus menemui ibunya, ia ingin ikut bersama ibu.
#flashbackoff
Irene juga menceritakan insiden penembakan yang ia alami dan kebaikan Alice yang menolongnya.
“Maafkan aku, Caroline. Aku adalah kakak yang buruk” ucap Gerald memeluk adiknya itu.
“Jangan memanggilku Caroline. Aku sudah memutuskan tidak akan kembali menjadi Caroline Ricardo, itulah alasanku pura-pura hilang ingatan agar aku bisa ikut dengan Alice. Caroline Ricardo sudah mati tujuh tahun yang lalu” ucap Irene.
Kim mengangguk semakin paham dengan permasalahan yang terjadi.
“Jadi bisa ku tebak alasanmu ke Korea adalah untuk menemui ibumu?” tanya Kim.
Irene tersenyum, lalu mengangguk. “Nee” ucapnya (dalam bahasa korea artinya iya)
“Kau tidak akan menemukannya” ucap Gerald tiba-tiba.
Irene cemberut menatap Gerald. “Kenapa?”
“Dia bukanlah seorang ibu. Bahkan tidak pantas dipanggil ibu setelah dia meninggalkan kita tanpa kabar dan membiarkan dad menikah dengan si Carla jalang itu” jelas Gerald.
Irene terkejut, jadi ibunya benar-benar pergi meninggalkan anak-anaknya? Tapi, Kenapa? Kenapa ibu seperti ini? Apa ibunya tidak menyanyangi anak-anaknya?
“Bahkan aku hidup hanya menjadi boneka untuk seorang Daniel Ricardo. Aku hanya seseorang yang dialahirkan untuk menjadi penerus bisnis Keluarga Ricardo. Tanpa tahu arti dari keluarga yang sesungguhnya” lanjut Gerald.
Irene melemas, dadanya sesak, matanya memanas. Kenapa ayah dan ibu yang sangat ia sayangi seperti ini? Ada yang sebenarnya terjadi pada Keluarga Ricardo?