Stranger's In Love

Stranger's In Love
56|RETEROGATE AMNESIA



"*Ayo nak, buka mulutnya" Irene mengayunkan sendok kecil itu masuk ke dalam mulut mungil bayinya.


"Sepertinya bayi kita sangat menyukai masakanku" Irene menatap Zean dengan mata berbinar melihat bayi mereka makan dengan lahap.


"Tentu, dia sangat menyukainya" Zean mengelus pucuk kepala Irene*.


Zean mengerjapkan matanya saat cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden. Zean membuka mata perlahan. Ia mulai mengumpulkan mesadarannya, ia bermimpi lagi. Beberapa minggu terakhir ini Zean kerap kali bermimpi tentang Irene dan seorang bayi perempuan yang di mimpi itu merupakan anak mereka.


Zean memijit lehernya yang pegal, semalaman Zean tertidur dengan posisi duduk sambil menelengkupkan kepala di tepi ranjang. Zean tidak pernah lelah, ia tidak pernah bosan selama enam bulan ini tidur dengan posisi seperti itu.


Di sinilah Zean saat ini. Zean masih duduk, tepatnya di sini, di sisi ranjang tempat Irene terbaring lemas dengan infus dan ventilator yang membantunya untuk tetap bernapas. Ya, Irene koma. Setelah kecelakaan tragis itu, Irene koma.


Selama enam bulan ini, Zean bekerja di ruangan ini. Ruangan yang menjadi saksi tidur panjang seorang Irene Banner yang sudah berlangsung enam bulan lamanya. Zean tidak pernah lelah, ia tidak pernah bosan memandangi wanita cantiknya yang masih tertidur tenang hingga saat ini.


"Kapan kau akan menatapku lagi, Irene?" Zean tersenyum kecut memandang wajah pucat Irene.


Zean menggenggam lembut tangan Irene, tangannya sangat lemas lalu Zean menciumnya sambil memejamkan mata ia berdoa. Hampir setiap hari di pagi hari seperti ini Zean berdoa tulus di dalam hatinya berharap Irene akan bangun dari tidur panjangnya. Zean tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang mulai lelah menunggu Irene. Bagi Zean, enam bulan ini tidak seberapa bahkan sepuluh tahun pun akan Zean tunggu demi wanita yang sangat ia cintai ini.


"Zean"


Situasi seperti ini memang nyaris membuatnya gila, bahkan Zean kini mendengar suara Irene yang memanggilnya.


Zean masih mencium tangan Irene dengan mata terpejam.


"Zean"


Lagi, Zean mendengar Irene mengucapkan namanya. Sepertinya halusinasi Zean semakin tinggi.


"Zean"


Ini yang ketiga kalinya, Zean spontan membuka mata. Jantung Zean berdetak kencang, ia tercengang, terdiam sesaat. Mata Zean bertemu dengan tatapan mata Irene yang sangat ia rindukan. Irene sudah sadar.


Zean tak dapat membendung harunya, ia langsung memeluk Irene. Zean sangat, sangat, sangat merindukan Irene.


"Kau membuatku sesak napas, Zean" protes Irene yang merasa risih pada Zean yang tiba-tiba memeluknya seperti ini.


Zean melepas pelukannya.


Karena dari raut wajah Irene, jelas menunjukan ia sangat bingung.


Irene nampak berpikir. Pertama, kenapa ia bisa berada di ruangan ini? Bukankah jelas ini adalah rumah sakit? Kedua, kenapa ia tidak bisa mengingat alasan ia bisa ada di sini? Ketiga, kenapa ia merasa seluruh tubuhnya lemas, bahkan sangat lemas? Keempat, kenapa Zean bereaksi seperti ini setelah ia bangun dari tidurnya?


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Irene tidak yakin.


Zean terlihat memaksakan senyum di wajahnya.


"Sebentar ya, lebih baik aku memanggil dokter terlebih dahulu" Zean keluar untuk menemui dokter.


Dokter Anthonio yang selama ini menangani Irene pun segera menuju kamar Irene. Dokter Anthonio tersenyum ramah ketika Irene menatapnya, Irene pun tersenyum kaku padanya.


Dokter Anthonio langsung mengecek kondisi Irene yang sudah koma selama kurang lebih enam bulan ini.


"Apa kau mulai mengingat sesuatu, Ms.Banner?" tanya Dokter Anthonio setelah mengecek kondisi Irene.


Irene menggeleng sebagai tanggapan tidak.


Dokter Anthonio menatap Irene sekilas lalu menatap Zean kemudian mengangguk sebagai isyarat lalu melenggang pergi dari ruangan itu, Zean mengikuti Dokter Anthonio dari belakang.


Irene merasa aneh dengan situasi itu, tapi ia memilih untuk tidak peduli karena seluruh tubuhnya masih terasa lemas. Irene meraih remote di atas nakas lalu menyalakan TV di ruangan itu.


"Apa Irene hilang ingatan, dok?" Zean khawatir jika Irene benar-benar hilang ingatan, tapi sepertinya tidak. Karena Irene masih mengingat Zean, bahkan ia juga ingat namanya Irene Banner.


"Tidak sepenuhnya, Mr.Lorwerth" Dokter Anthonio sibuk melihat rekam medis Irene.


Zean diam, menunggu Dokter Anthonio melanjutkan ucapannya.


"Ms. Banner mengalami reterogate amnesia yang dapat terjadi karena kerusakan otak dari benturan di kepala pada saat kecelakaan berlangsung, atau dapat juga merupakan keinginan untuk melupakan kejadian yang mengarah pada pengalaman traumatic" jelas Dokter Anthonio.


Zean bernapas legas, setidaknya ini akan lebih baik untuk saat ini jika Irene bisa melupakan kejadian tragis di malam itu.


"Aku tidak menyarankan, tapi sebaiknya karanglah cerita karena Ms. Banner pasti akan bertanya alasan dia terbaring di rumah sakit. Untuk saat ini biarkan dia pulih dan jangan mencoba untuk membuatnya berpikir keras apa lagi membuatnya mengingat kecelakaan tragis itu, karena itu bisa mempengaruhi kondisi dan kinerja otaknya" Dokter Anthonio menepuk pundak Zean lalu melenggang pergi.


Zean mengerti ini pasti sulit untuk Irene, terlebih akan ada banyak tangis jika Irene tahu apa saja yang sudah Zean alami selama enam bulan ini tanpa dirinya.